
Aisyah mengepalkan tangan ketika melihat pipi kiri kakaknya yang lebam. Saat ini wanita itu tengah berjalan ke halaman belakang untuk membuat perhitungan pada orang yang bertanggung jawab atas insiden yang terjadi pada saudara laki-lakinya.
"Plak!"
Satu tamparan yang lumayan keras mendarat di pipi kiri Husyein. Tamparan yang di terimanya dari gadis tadi.
"Apa yang kau lakukan?"
Tanya pria itu sembari memegang pipi yang terasa berdenyut. Ia menatap heran pada wajah yang serasa samar di ingatannya.
"Tamparan itu adalah balasan atas pukulan yang mas berikan pada saudaraku!"
Husyein terdiam, dia mencoba mengingat siapa gadis yang memberikannya jari panas barusan.
"Aisyah? Apa kau benar Aisyah adiknya Mikhail?"
Tanyanya tak percaya, ia sudah sangat lama tidak pernah berjumpa dengan gadis itu. Terakhir bertemu adalah ketika Aisyah masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Bagus karena mas masih mengingat ku. Ingatlah kalau kak Mikha juga mempunyai saudara yang akan membelanya."
Aisyah menatap pria yang berdiri bengong di hadapannya.
"Aku memukul kakakmu karena dia memang salah. Jadi, tidak seharusnya kau membelanya."
Hisyein membela diri.
"Aku tidak membenarkan perlakuan saudaraku kepada kak Husna, karena aku juga membenci semua itu. Tapi aku tidak terima perlakuan mas yang semena-mena kepada kak Mikha. Dia sudah cukup menderita dengan penyesalan akan rasa bersalahnya, tidak bisakah mas hanya menasehati dirinya saja?"
Tanya Aisyah garang.
Husyein tersenyum sinis.
"Apa kau bilang, menasehati? Apakah pria berengsek seperti kakakmu itu bisa di nasehati? Kalau bisa, kenapa kau tidak menasehatinya dia dari dulu?"
Pertanyaan Husyein mampu membuat Aisyah tergagap.
"Kita hanya orang luar. Yang menjalani rumah tangga adalah mereka. Apa mas tahu apa yang mereka rasakan ketika harus menikah di saat mereka tidak saling mencintai?"
Aisyah berhasil membalikkan keadaan. Saat ini Hisyein lah yang tertegun.
"Apapun itu, tidak seharusnya kakakmu berselingkuh."
"Aku tau kak Mikha bersalah. Tapi mas tidak seharusnya bersikap sok jagoan dengan mengintimidasi dirinya."
"Tapi kau..."
Ucapan Husyein tergantung ketika suara seorang pria memanggil.
"Husyein, Aisyah. Kenapa kalian di sini?"
Shaleh menatap heran pada 2 orang yang sedang bersitegang di halaman belakang tadi.
Mereka menatap serentak, bingung harus menjawab apa. Akhirnya mereka hanya memaksakan senyum, seakan tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Apa kalian bertengkar?"
Shaleh bertanya lagi.
"Tidak abah."
Husyein berusaha meramahkan mimik wajah.
"Ya sudah. Mari kita ke ruang tamu! Semua sudah menunggu kalian."
Setelah mendengar ucapan sang ayah, Husyein mulai berjalan. Ia menatap Aisyah dengan tatapan siap berperang, sebagai penanda bahwa urusan mereka belum selesai.
Di ruang tamu, semua oramg sudah duduk di posisi mereka masing masing. Mikhail dan keluarganya, begitu juga dengan Husna.
Di sana sudah lengkap, yang tidak ada hanya Eyang, karena wanita separuh abad itu tengah menjalankan ibadah umrah di tanah suci.
"Jadi, jalan apa yang akan kamu ambil Husna?"
Shaleh bertanya pada anak gadisnya.
Husna yang duduk di apit oleh kakak dan ibunya terlihat semakin gugup. Gadis itu saat ini sedang di landa kebingungan, bimbang harus memilih antara mengikuti permintaan sang ibu yang meminta supaya mereka berpisah, atau mengikuti kata hati yang ingin kembali bersama dengan Mikhail, suaminya.
"Jawab saja nak. Insya Allah, kami akan berusaha menerima keputusanmu."
Nani memberi Husna keberanian.
Tangan wanita itu semakin dingin, seakan menggambarkan betapa gugupnya dia saat ini.
"Sebelumnya, Husna ingin meminta maaf pada semua yang ada di sini. Maaf karena masalah kami, kalian semua menjadi ikut merasakan kesedihan."
"Benar kalau mas Mikha sudah melakukan kesalahan. Tapi, dalam masalah ini sebenarnya bukan mutlak salah dari mas Mikha seorang diri. Sebelum menikah, beliau sudah pernah mengatakan bahwasanya saat itu beliau tidak mencintai saya. Beliau meminta saya untuk membatalkan pernikahan supaya kami tidak saling menyakiti sesudah menikah. Tapi karena saya tidak ingin menyakiti keluarga kita, makanya saya tetap kekeh untuk melanjutkan pernikahan."
Husna menerangkan awal pertikaian mereka.
Semua orang sontak merasa terpukul dengan pengakuan Husna, mereka ikut merasa bersalah karena telah memaksa pasangan itu menikah.
"Tapi itu tidak berarti dia boleh melanjutkan hubungannya dengan wanita itu setelah kalian bersama."
Ningsih terdengar tidak terima.
"Benar Umma, itu adalah kesalahan saya. Namun saya sudah menyadari dan juga sangat menyesalinya."
Mikhail tertunduk.
"Apa kau pikir dengan penyesalan kau bisa mengobati luka batin anakku?"
Tanya Ningsih lagi.
"Umma, sabar. Beri mereka kesempatan untuk menentukan pilihan."
Shaleh kembali menangkan sang istri.
"Lanjut nak!"
__ADS_1
Titah sang abah pada Husna.
Husna yang merasa kian tak karuan mulai kesusahan menelan saliva nya.
"Maaf umma, mas Mikhail."
Wanita itu menatap ibu dan suaminya bergantian
"Saat ini, saya belum bisa memantapkan hati untuk menentukan pilihan. Tolong beri saya waktu untuk memutuskan semua ini! Karena ini bukanlah hal sepele, keputusan yang akan di ucapkan tentu saja akan merubah jalan hidup saya. Jadi, tolong paham dan sabarlah menunggu saya berfikir."
Husna yang memang sedang bimbang akhirnya meminta waktu untuk dirinya menimbang hal ini.
"Apa yang ingin kamu pikirkan lagi nak?"
Ningsih terdengar menolak.
"Umma, jangan memaksakan kehendak. Bukankah Husna sudah meminta waktu?"
Ucap Shaleh.
"Benar mbak, tolong biarkan Husna berfikir dengan matang."
Nani mengiyakan.
Sedangkan Mikhail, meski merasa di gantung dia tetap lebih lega. Setidaknya Husna tidak meminta perpisahan, dia merasa bahwa masih di beri waktu untuk kembali meyakinkan wanita itu.
Ningsih berdiri, kemudian berpamitan untuk kembali ke kamar lebih dulu. Wanita paruh baya itu merasa sangat kecewa dengan sang anak yang menunda memberi keputusan.
Melihat sang ibu yang nampak sedih, Husna pun ikut pamit untuk menyusul ibunya.
"Mas, kami sekeluarga meminta maaf secara resmi atas apa yang di lakukan oleh Mikhail. Seperti yang di sampaikan oleh Husna tadi, sebenarnya di sini bukan hanya kesalahan Mikhail. Tapi, ini merupakan kesalahan kita semua yang sudah memaksa anak-anak kita untuk bersama."
Aidhil mengambil alih percakapan.
"Iya, kamu benar."
Shaleh ikut tertunduk.
"Tidak papa, abah. Mikha yang salah di sini. Seharusnya Mikha bisa bersikap lebih tegas terhadap jalan hidup Mikha."
Mikhail semakin merasa bersalah saat melihat raut penyesalan dari wajah orang tua di hadapannya.
"Maaf, saya permisi dulu."
Husyein yang masih merasa gondok akhirnya memilih segera pergi dari sana. Namun sebelum melangkah ia menyempatkan diri menatap adik sepupunya, yaitu Aisyah.
"Urusan kita belum selesai bocah. Aku akan membuat mu membayar mahal atas tamparan yang kau berikan tadi." Gumam pria itu.
"Dasar pria kasar, dari dulu hingga sekarang kau masih sama. Aku sangat benci pria sok jagoan seperti mu."
Aisyah juga memaki dalam hati.
Setelah saling pandang dengan jurus masing masing, akhirnya Husyein berlalu meninggalkan 5 orang yang tersisa di sana.
__ADS_1
TBC