
"Berapa kali harus ku ingatkan tentang perjanjian kita?"
Husna sudah berdiri di depan pintu sambil menatap nyalang pada pria yang tengah menyaksikan kepergian kekasihnya.
"Aku tidak menyuruhnya datang ke sini."
"Tapi dia tetap datang. Dan aku tidak suka dia menginjak rumah ini lagi. Apa perlu aku pindah ke rumah orang tuamu?"
Husna masih terdengar emosi.
"Itik tolong jangan memperkeruh suasana. Bersabarlah sedikit, akan ku pastikan dia tidak akan datang kesini lagi."
Mikhail berjalan mendekat.
"Baiklah. Ini adalah kesempatan terakhir mu mas. Ingat itu!"
Husna berjalan masuk.
"Kok jadi galakan dia dari pada aku. Bukankah tadinya aku yang sedang marah?"
Mikhail menjadi bingung dengan dirinya yang terus mati kutu dalam menghadapi sang istri.
Pagi hari seperti biasa Husna terbangun lebih dahulu. Menyiapkan keperluan pria di kamar sebelah dan kembali ke kamar untuk mempersiapkan dirinya sendiri sebelum berangkat ke tempat di mana ia mengajar.
Setelah dirasa semua sudah selesai, Husna sengaja pergi lebih pagi. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan pria yang berhasil menaikkan tekanan darahnya tadi malam.
"Buk Husna. Pulang mengajar nanti pak Andre ingin bertemu dengan ibuk, di ruangan kepala yayasan."
Dewi, salah satu rekan kerja Husna memberi tahu.
Husna mulai berfikir tentang kenapa Andre ingin menemuinya.
"Baiklah, makasih buk Dewi."
Jawab Husna dengan senyuman.
Tak lama Dewi berlalu dan Husna melanjutkan pekerjaannya kembali.
Di tempat lain terlihat seorang pria duduk dengan bersandar sambil menutup mata.
"Ayo lah Mika, tidak usah terjebak dengan wanita itu. Jika kau menyukainya, maka seumur hidup mama pasti akan terus mengendalikan dirimu, lupakan itik itu dan hidup bahagia dengan wanita pilihanmu."
Mikhail berucap dalam hati, ia yang sedari pagi membuka mata terus saja di hantui dengan bayangan Husna. Gadis yang selama ini di bencinya.
"Apa mama boleh masuk?"
Lamunan Mikhail terhenti saat tiba-tiba saja seorang wanita menerobos masuk ke ruangannya.
"Eh, masuk ma."
Mikhail langsung berdiri dan menyalami sang ibu.
"Apa yang membawa mama ke sini?"
Pria itu mulai bertanya saat sang ibu sudah duduk.
"Mama ke sini sengaja ingin menjumpai mu."
Nani, ibunya Mikhail menjawab dengan mimik wajah serius.
"Apa ada masalah ma?"
__ADS_1
"Tidak, mama cuma mau nganterin ini."
Nani menaruh 2 lembar kertas di atas meja.
Mikhail meraih dan mulai membaca.
"Apa ini mah?"
Tanyanya dengan wajah bingung.
"Itu adalah 2 tiket ke Paris. Pergilah bawa istrimu bulan madu!"
Ucap wanita paruh baya itu.
Mikhail terenyuh,
"Mama mau menyuruh kami untuk bulan madu?"
Ia mencoba meyakinkan pendengarannya.
"Iya, kalian sudah menikah hampir 6 bulan. Tapi mama belum juga mendengar kabar baik. Mungkin kalian terlalu lekah karena selalu bekerja. Untuk itu mama merencanakan semua ini agar kalian bisa memiliki waktu luang bersama."
Mikhail tersandar. Ia tak menyangka kalau sang ibu sudah berfikiran sejauh itu tentang mereka.
"Maaf ma, untuk yang satu ini Mika tidak bisa menerimanya. Kerjaan Mikha lagi sibuk-sibuknya ma, tidak mungkin untuk kami pergi dalam waktu sedekat ini."
"Soal pekerjaan, mama sudah ngomong sama Papa kamu. Jadi tidak ada masalah lagi, kamu dan Husna tinggal brrangkat dan setelahnya berikan mama cucu."
Nani berucap tanpa malu.
"Mah, Mika..."
"Udah, kamu ngomong sama Husna dan pergi. Tinggal berangkat kok repot amat."
Mikhail terdiam. Inilah hal yang membuatnya tidak boleh mencintai Husna. Pria itu menganggap kalau dirinya tidak akan bebas melakukan hal yang di inginkannya jika dia tetap terikat dengan wanita itu. Ia juga selalu merasa ibunya akan semakin mengekang dirinya jika Husna terus bersamanya.
Mikhail terdiam menatap dalam 2 tiket menuju Paris. Mencoba menimbang apa yang akan di lakukannya pada 2 benda tipis itu.
"Selamat siang pak! Apa benar bapak mencari saya?"
Husna berucap begitu masuk ke ruangan Andre.
"Betul. Silahkan duduk!"
Pria tadi mempersilahkan.
Husna mengikuti arahan, ia pun mendudukkan diri di atas sofa.
"Begini buk Husna saya sengaja mengundang ibuk ke sini karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
Andre membuka obrolan ketika mereka sudah sama-sama duduk.
"Hal penting apa ya pak?"
Husna terlihat semakin penasaran.
"Coba baca ini buk!"
Andre memberikan beberapa lembar kertas
"Progran Beasiswa tahun 2021"
__ADS_1
Itulah judul yang tertulis di lembaran yang di terima Husna.
"Apa ini pak?"
Husna makin terlihat bingung.
"Ini adalah program beasiswa yang selalu kami adakan tiap tahunnya. Saat ini adalah giliran sarjana. Kalau anda mau ikut serta, anda bisa mencobanya. Kalau terpilih, buk Husna bisa melanjutkan kuliah di luar negeri dan biayanya akan di tanggung yayasan kami."
Ucap Andre menerangkan.
Husna terkesiap, ia memang sudah lama ingin melanjutkan pendidikannya. Namun di karenakan terbentur biaya, akhirnya ia hanya bisa meraih gelar hingga D2.
Meski keluarga Mikhail sangat ingin membiayai dirinya, tapi Husna selalu menolak karena ia tidak ingin di pandang sebelah mata oleh pria yang sekarang menjadi suaminya.
"Sebelumnya terima kasih untuk kesempatan yang bapak berikan. Andai kertas ini ada di tangan saya sebelum saya menikah. Maka, mungkin saya akan langsung menyetujuinya. Tapi saat ini saya sudah mempunyai keluarga lain dan saya harus membicarakan pada mereka terlebih dahulu."
Husna berucap dengan segenap senyum indahnya.
"Baiklah. Bagaimana hasilnya kabari saya, ini adalah kesempatan yang kami berikan hanya 1 kali dalam 4 tahun. Silahkan anda pikirkan baik-baik."
Andre mengingatkan.
Husna berdiri, mengucap salam lalu berpamitan. Sepanjang perjalanan ia terus berusaha menimbang apa yang tersaji di hadapannya saat ini. Sebuah kesempatan yang sudah lama di tunggunya.
Husna sampai di rumah saat sore hari. Hal pertama yang di lakukan setelah membersihkan tubuh ialah memasak. Untuk memastikan perut suami yang tak menganggapnya itu, tak pernah kelaparan saat berada di rumah.
Hanya butuh waktu beberapa saat, akhirnya 3 menu sudah terhidang. Setelah membersihkan. seluruh ruangan, gadis itu kembali ke kamar untuk memeriksa kertas tadi. Kambali menimbang apa yang di tawarkan oleh Andre.
Lelah, akhirnya ia tertidur.
Tak lama Mikhail sampai ketika hari hamoir menjelang magrib, Pria itu terlambat dari biasanya karena ia sempat mampir ke apartemen sang kekasih. Tapi sayang sekali wanita itu tidak ada di rumah.
Hal pertama yang menyambutnya adalah ruangan yang hampir gelap.
"Apa itik belum pulang?"
Ia begumam penasaran.
Pria itu menyalakan lampu satu-persatu. Hingga langkahnya terhenti di ruangan yang di tempati oleh sang istri.
Entah apa yang mendorong pria itu hingga tanpa aba-aba ia berani membuka pintu. Mengintip perlahan untuk memastikan apakah si penghuni ada di dalam atau tidak.
"Ternyata dia sudah pulang."
Mikhail melangkah masuk dan mendudukkan diri di samping Husna. Membelai kepalanya lembut, dan mulai memperhatikan setiap detail wajah cantik yang sudah mulai berhasil menggugah imannya itu.
Hingga matanya berhenti pada sebuah kertas yang sedang di pegang oleh Husna. Perlahan Mikhail meraih dan membacanya.
"Apa dia ingin melanjutkan kuliahnya lagi?"
Mikhail bertanya heran.
Pria itu tiba-tiba mulai merasa tak nyaman saat mengetahui kalau semua itu datang dari yayasan keluarga Andre.
"Kalau dia mau kuliah, dia bisa saja membicarakannya denganku. Tapi kenapa harus lewat tangan pria ini?"
Mikhail mulai kesal dan berlalu meninggalkkan Husna di sana. Ada seberkas kekhawatiran yang mulai menguasai dadanya. Rasa khawatir takut kehilangan wanita yang dulu tidak di inginkannya.
TBC
MOHON BANTU VOTE, LIKE, BERI HADIAH DAN SILAHKAN BERKOMEN RIA.
__ADS_1
MAKASIH