Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 33


__ADS_3

Pagi ini, terlihat seorang pria baru terbangun saat penunjuk waktu mengarah pada pukul 10 siang. Ia membuka mata dengan tubuh yang terasa remuk dan kepala yang sedikit pusing.


Bagaimana tidak, pria itu sudah hampir 3 hari, 3 malam tidaak bisa menutup mata. Dia baru bisa terlelap, ketika sudah menghabiskan beberapa butir pil tidur yang di mintanya pada salah seorang teman, yang kebetulan berprofesi sebagai dokter.


Ini adalah hari ke 4 semenjak kepergian istrinya. Dan semenjak itu pulalah, Mikhail seperti kehilangan arah hidup. Dia tidak makan, tidak tidur dan bahkan tidak pergi kemanapun. Ia hanya berdiam diri di kamar yang biasa di di tempati oleh Husna selama ini.


Mikhail memeluk dan menciumi aroma sampo yang masih tertinggal di bantal. menghirup dan menikmatinya seperti orang kecanduan. Menghabiskan hari dengan berusaha tetap waras karena hatinya yang terus meronta ingin bertemu dengan wanita itu.


"Ting, tong.... ting, tong.."


Samar terdengar teriakan bel dari arah luar.


Meski ia tau ada yang tengah menunggunya membukakan pintu, namun pria itu tetap berjalan ke kamar mandi. Menyiram tubuhnya dengan air hangat, sambil berharap rasa pusing yang melanda akan segera menghilang.


"Kenapa kau tidak membukakan mama pintu?"


Kalimat pertama yang di terimanya ketika menginjakkan kaki keluar dari kamar.


"Bukankah mama punya kunci?"


Mikhail menjawab sambil melangkah ke arah dapur.


"Tapi mama sedang keberatan membawa ini!"


Nani menghentakkan rantang makanan yang di bawanya dari rumah.


"Ma, kenapa mama harus repot repot membawa ini semua?"


Mikhail kembali ke ruang tamu saat mendengar suara keras hasil dari amarah sang ibu.


"Mama tidak akan repot membawakan ini, andai saja kamu mau memakan makanan yang ada di rumah ini. Bik Sani melapor, kalau kau sudah beberapa hari tidak menyentuh makanan yang beliau sajikan."


Nani mengekor langkah sang anak menuju ruang makan.


Mikhail menaruh rantang, lalu kembali berjalan menuju lemari pendingin.


"Mikha, apa yang terjadi denganmu? Sudah 4 hari kamu tidak masuk kantor. Apa kau begitu sangat merasa kehilangan atas kepergian Husna?"


Pertanyaan sang ibu membuat tangan Mikhail terhenti ketika ingin menuang air ke dalam gelas. Ia berbalik, kemudian menatap wanita yang sudah melahirkannya itu dalam dalam. Pria itu terdiam beberapa detik, sambil terus memandang sang ibu dengan tatapan mengiba.


"Hahahaha.... apa mama datang ke sini untuk menyelidikiku?"


Mikhail tiba-tiba saja tertawa terbahak.


Nani terheran dan terdiam seribu bahasa. Ia seakan tak mengenali siapa pria aneh yang sedang terpingkal di hadapannya saat ini.


"Mah, aku tidak ke kantor karena sedang asik menikmati kebebasanku atas perginya wanita pembuat masalah itu. Aku sangat menikmati hari di mana aku kembali ke kehidupan normal, setelah 8 bulan terpaksa harus bersama dengannya setiap hari."

__ADS_1


Mikhail kembali menuang air, lalu meneguknya hingga habis. Ia merasa kerongkongannya saat ini sedang tersekat sesuatu yang membuat sesak dadanya.


"Sampai kapan kau terus membohongi dirimu Mikha?"


Nani bertanya sambil membaca gelagat sang anak.


"Apa maksud mama?"


Mikhail mengalihkan perhatian ke arah rantang untuk menghilangkan rasa gugup atas pandangan tajam dari wanita di hadapannya.


"Belum terlambat jika kau mau mengakuinya sekarang. Jangan sampai Husna menemukan pria lain yang bisa membuatnya nyaman."


Nani mendekat dan mengusap punggung pria yang tengah memaksa makanan masuk ke mulutnya.


"Bukankah sebentar lagi kami akan bercerai? Jadi tidak masalah jika dia menemukan seseorang."


Mikhail berucap dengan menelan rasa sakit di dada.


"Ingat, ucapan adalah do'a. Kejar sebelum di ambil orang. Dia wanita baik, cantik, pintar dan masih banyak kelebihan lainnya. Siapa yang tidak akan suka dengan wanita seperti istrimu itu?"


"Itu menurut penilaian mama."


Mikhail menyela.


"Semua orang pasti berpikiran sama kalau di tanya tentang Husna, termasuk dirimu. Ingat, seorang wanita perlu seseorang yang bisa membuatnya nyaman. Jadi, jangan biarkan pria lain merebut hatinya. Tahan selagi masih halal."


Mikhail terus terdiam, ia hanya mengunyah dan menelan semua makanan tanpa mengetahui apa yang tengah di nikmatinya saat ini. Pikiran pria itu hanya tertuju pada ucapan sang ibu.


"Tidak ada gunanya membiarkan rasa ego mu menang. Bagaimanapun, berpisah dengan seseorang yang di cintai pasti sangat menyakitkan. Berdamailah dengan hatimu, dan nenangkan hatinya."


Nani berjalan meninggalkan pria yang tertunduk tadi. Ia tahu jika saat ini Mikhail sedang berperang dengan batinnya sendiri.


Setelah memastikan sang ibu pergi dari rumahnya, sendok pria itu pun terjatuh. Ia bahkan tak sanggup lagi mengangkat benda itu untuk terus masuk ke mulutnya.


Tangan Mikhail berpindah ke wajah, mencoba menahan isakan yang mulai menggema. Bahu pria itu juga bergerak seirama, seakan selaras dengan suara tangisan kesedihan karena tak sanggup menahan betapa ia sangat merindukan wanita itu.


Rasa rindu yang kian menusuk relung jiwa, meremukkan hati dan raganya. Entah kenapa setiap tarikan nafas, nama Husna terus saja menari. Membuat dirinya hidup dalam penderitaan yang tak berujung.


Mikhail awalnya yakin jika setelah kepergian wanita itu, maka hatinya akan kembali seperti dulu. Hidup bahagia bersama Amanda, sang kekasih yang dulu di cintainya.


Namun ternyata apa yang di bayangkan tak terjadi sesuai dengan rencana. Justru dengan kepergian Husna, Mikhail menjadi mengetahui bahwa apa yang di rasakan selama ini adalah rasa cinta. Cinta yang sesungguhnya, pada istri yang tak diinginkan.


Namun semua sudah terlambat, wanita itu sudah pergi. Pergi meninggalkan luka berdarah di hatinya.


*****


Di tempat lain, terlihat seorang wanita baru saja masuk ke dalam kelas, di mana ia akan belajar bahasa negeri tempat ia tinggal saat ini.

__ADS_1


Husna yang terburu, tiba-tiba saja bertabrakan dengan sebuah dada bidang milik seorang pria yang kebetulan berniat keluar kelas.


"Im sorry,"


Pria itu berucap terlebih dahulu, ia dengan sigap menahan bahu Husna yang terhuyung.


"It's oke, thanks"


Husna dengan cepat melepaskan tangan pria tadi dari lengannya.


"Ape awak orang indonesia, atau Malaysia?"


Pria itu kembali berucap dengan bahasa melayu.


"Saya orang indonesia. Anda?"


Husna bertanya balik karena ia merasa sedikit senang, karena dapat bertemu dengan sesama orang asia.


"Oh, senang bersua dengan awak. Saye orang Malaysia. Nama saye Hafiz."


Pria itu mengulurkan tangan.


Husna tersenyum, ia tak membalas uluran tangan pria yang bernama Hafiz itu, namun ia melipat kedua tangannya di atas dada.


"Nama saya Husna."


Jawabnya tetap sambil tersenyum manis.


"Permisi, saya masuk dulu."


Husna menunduk dan mulai melangkah masuk.


"Silah."


Hafiz ikut tertunduk.


"Bidadari surga mane pula yang singgah di sini?"


Pria itu bergumam sambil terus menatap ke arah punggung wanita yang sudah berlalu meninggalkannya.


TBC


Terima kasih sudah menunggu. Maaf karena sudah hampir 2 minggu ini saya tidak UP.


Semua terjadi karena saya mudik untuk menghadiri pernikahan adik saya, dan di sana tidak ada sinyal internet. Maklum, kampung saya berada di balik bukit, hingga sinyal sangat susah di sana.


Terima kasih atas pengertian dan kesabaran kalian dalam menunggu novel ini UP.

__ADS_1


Salam sayang dari mak author receh.


__ADS_2