Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 40


__ADS_3

Mikhail terlihat terus menatap pada kamar tempat istrinya berdiam diri. Ia sudah seperti itu lebih dari satu jam yang lalu. Berharap wanita di dalam sana mau keluar dan membicarakan permasalahan mereka.


"Tok, tok, tok!"


Akhirnya kesabaran pria itu habis, lalu mulai mengetuk.


"Husna tolong buka pintunya."


Kali ini ketukan di barengi dengan panggilan.


"Ku mohon, bukalah! Kalau tidak aku akan mendobraknya."


Mikhail mulai mengancam.


"Husna, to..."


Panggilannya terhenti saat pintu sudah di buka.


"Apa yang mas inginkan?"


Husna bertanya tanpa menoleh.


"Aku hanya ingin kau mendengar penjelasan ku."


"Penjelasan apa? Aku rasa semuanya sudah jelas. Mas tidak mau melepas wanita itu, berarti mas sudah siap dengan perceraian kita."


Husna ingin kembali ke kamar, dan menutup pintu. Namun, kaki pria itu sudah berhasil menghalangi.


"Aku bukan tidak mau. Tapi aku hanya belum punya waktu yang pas untuk membicarakan semua itu dengannya."


Mikhail mengikuti langkah Husna masuk ke kamar.


"Mas tidak usah memaksakan semua hal itu. Lagi pula kalian saling mencintai, aku tidak mau lagi hidup dalam bayang bayang hubungan kalian."


Husna mendudukkan diri di ranjang, matanya mulai terlihat menganak sungai. Karena teringat akan hal yang menyakitkan dulu.


Mikhail berjongkok, ia meraih tangan Husna dengan lembut, menggenggamnya penuh kasih dan sayang. Lelaki itu juga menatap Husna dengan tatapan serius, tatapan yang selama ini tak pernah di berikannya.


Aksi Mikhail sontak membuat Husna gugup, jantungnya makin berdetak tak menentu, seakan senada dengan hati yang mulai di terpa angin cinta.


"Tatap mataku, dan tolong dengarkan hal yang akan ku katakan ini, dengan baik."


Mikhail memulai percakapan serius mereka.


"Husna nur haziah. Meski mungkin ini sedikit terlambat. Tapi aku tetap mau mengakuinya padamu."


Pria itu mulai mencium tangan Husna. Seakan ingin mengalirkan segenap cinta yang terasa di hatinya.


Husna kian tergagap, ia mulai menerka apa yang akan di ucapkan sang suami. Namun, wanita itu tetap berusaha berfikir waras.


"Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk membuatnya seindah mungkin. Tapi, situasi kita tidak mengijinkan untuk itu."


Mikhail kembali berucap.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin mas katakan? Langsung saja ke intinya!"


Husna mulai tak nyaman dengan perasaannya sendiri, hingga ingin segera mengakhiri situasi yang membuat dirinya gugup.


"Husna, aku tau selama ini aku sudah memperlakukan mu dengan buruk. Aku sudah menjadi suami yang zalim dan tidak bertanggung jawab. Sekarang aku sudah menyadari dan juga sangat menyesalinya. Karena itu, kalau bisa tolong maafkan aku!"


Mata Mikhail terlihat mulai berair. Dia menyesali setiap perkataan dan tindakannya yang dulu selalu menyakiti hati sang istri.


Dan aksinya ini, mampu membuat Husna kian bingung dan terbungkam.


Mikhail, menunduk untuk menghapus dan menyembunyikan bulir penyesalan yang kini semakin turun dengan derasnya.


"Kenapa mas baru menyadarinya sekarang?"


Husna ikut menangis.


"Aku sadar setelah kau pergi meninggalkan ku, aku baru tahu ketika hati ini selalu merindukanmu setiap detik waktu. Aku seakan tidak bisa bernafas semenjak kau tidak ada lagi di sisi ku."


Mikhail kembali menatap Husna dengan mata merah Nya.


"Husna, tolong beri aku kesempatan kedua untuk membetulkan semuanya. Aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu."


Pria itu terdengar memohon dari lubuk hatinya yang terdalam, bahkan Husna tidak pernah mendengarnya berkata seputus asa itu.


"Untuk apa mas. Kita sudah bersama selama 8 bulan. Dan ternyata kita tidak bisa bahagia."


Husna memcoba mengingkari hatinya.


"Itu karena aku menutupi perasaanku padamu. Dan hal itu sudah mampu membuat ku tidak waras. Tapi, sekarang aku tidak ingin melakukam kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."


"Aku mencintai mu Husna. Entah sejak kapan, tapi aku baru menyadari setelah kau pergi. Aku benar benar tidak bisa hidup tanpamu."


Mikhail tertunduk dan menumpahkan segala perasaan yang selama ini tersimpan.


Bahu pria itu naik turun seirama dengan suara tangis yang berusaha di tahannya.


Membuang semua ego dan bertekuk lutut memohon pengampunan pada wanita yang dulu yang tak pernah di hargai.


Mendengar pengakuan dari sang suami, Husna langsung terdiam. Ia bingung harus menanggapi seperti apa. Karena hal ini sungguh di luar nalar, membuatnya sulit mempercayai apa yang terjadi saat ini.


Pria yang di kenal selalu membencinya, menghina dan terus membuatnya sakit hati. Tiba-tiba hari ini mengakui rasa cinta, yang di rasa Nya mustahil.


Husna merasa tak mengenal siapa pria yang menangis di hadapannya saat ini. Di mana Mikhail khairun Paflevi yang mempunyai harga diri setinggi gunung, dimana pria yang dulu memandangnya dengan tatapan menghina, dan


apakah orang ini adalah pria yang sama? Bagitu banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya.


Sementara itu, Mikhail yang masih larut dalam penyesalan. Mulai memeluk pinggang Husna dan menumpahkan rasa rindu dan cinta yang dalam padanya.


"Mas,"


Husna meloggarkan pelukan tangan sang suami.


Mikhail yang masih berwajah sedih menatapnya, seakan menunggu jawaban.

__ADS_1


"Husna, maukah kau memberi ku kesempatan?"


Lagi, pertanyaan pria itu kembali mengudara.


Husna berdiri dan berjalan menuju jendela. Gadis itu merasa kurang nyaman dengan posisi sang suami yang tengah berjongkok di hadapannya.


Melihat Husna menjauh, Mikhail mengikuti dan kembali berdiri di sampingnya.


"Maaf mas, semua ini sangat mendadak. Aku tidak bisa begitu saja mempercayai apa yang mas katakan."


Jawab Husna tegas.


Mikhail tidak patah arang, ia kembali meraih tangan Husna dan meletakkan ke dada kirinya.


"Coba rasakan detakan ini! Ini adalah detakan karena aku mencintaimu."


Mikhail menatap mata Husna kian dalam, meyakinkam sang istri akan rasa yang membara di dada.


Husna kembali menarik tangannya.


"Maaf mas. Tapi bagaimana aku bisa percaya jika hal ini adalah kebenaran, di saat mas masih berhubungan dengan wanita lain."


Jawabnya sambil mengalihkan mata.


"Aku akan segera membuat semuanya berjalan dengan semestinya. Karena aku sudah tau siapa yang harus ku pertahankan."


Mikhail masih berusaha.


"Tapi ini tidak adil untuk Amanda mas. Aku tidak mau tertawa di atas penderitaan orang lain"


Husna masih sempat memikirkan selingkuhan sang suami.


"Kita semua akan merasa tidak adil, jika aku terus mempertahankan hubungan kami. Aku sudah tidak mencintainya, yang ku inginkan hanyalah dirimu Husna. Tolong, berilah aku kesempatan."


Ucap Mikhail lagi.


Husna semakin terdiam, satu sisi dia sangat behagia mendengar pengakuan pria itu. Namun di sisi yang lain dia masih merasa ragu dengan semua yang tengah terjadi.


"Jangan meminta jawaban padaku saat ini mas. Datanglah ketika sudah menyelesaikan hubungan mu, dengan wanita itu. Karena aku tidak ingin kembali berada di posisi seperti dulu."


Husna berjalan keluar, meninggalkan pria itu dengan perasaan yang tak menentu.


"Dia benar, seharusnya aku menyelesaikan hubungan kami. Baru setelah itu aku meyakinkannya."


Mikhail mengiyakan ucapan istrinya tadi.


Meski pria itu tidak mendapatkan jawaban, namun dia merasa sangat lega. Karena dirinya telah berhasil mengungkapkan semua rasa yang membuatnya tersiksa selama ini.


Sebuah rasa cinta yang terpendam.


TBC


Selamat membaca ya Readers, salam sayang dari mak Author receh.

__ADS_1


Mohon sempatkan jempol kalian buat mengetik vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria. Karena kemajuan novel ini bergantung pada kalian.


Makasih..


__ADS_2