
"Mau kemana kamu?"
Teguran Mikhail berhasil menghentikan laju langkah Husna menuju kamar.
"Aku mau tidur mas."
Menjawab santai.
"Tapi kenapa kau tidur di sana, bukankah kamar mu yang ini?"
Pria itu menunjuk ke kamar tempatnya beristirahat tadi.
Husna mengangguk.
"Iya, tapi selama mas tinggal di sini. Maka aku akan menggunakan kamar yang ini."
Ia menunjuk pintu kamar yang sudah dekat di hadapannya.
Mikhail terpelongo, tak tau harus berkata apa. Ia sudah membayangkan sesuatu yang romantis terjadi di antara mereka. Namun, ternyata harapannya terlalu tinggi.
"Kenapa diam? Mas tidak berpikiran yang aneh aneh kan?"
Wanita tadi bertanya sambil menatap penuh selidik.
"Ti, tidak."
Tergagap lalu cepat menggeleng.
"Jangan berani macam macam kamu ya mas."
Ancam Husna, ia menatap kejam pada pria itu, lalu lanjut melangkah masuk ke kamar.
Mikhail akhirnya hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal.
"Sabar, sudah syukur dia tidak mengusirku dari sini. Jadi jangan berharap lebih dari ini."
Mencoba mengingatkan diri sendiri.
Dengan lahkah gontai, akhirnya Mikhail memutuskan kembali kekamar. Merebahkan tubuh sambil terus memikirkan wanita di kamar sebelah. Wanita yang saat ini di rindui, meski dia berada dekat di sampingnya. Lelah, akhirnya dia mulai memejamkan mata, sambil berharap esok hubungan mereka bisa lebih membaik.
Waktu terus berlalu, dan pagi pun menjelang..
Husna terbangun lebih cepat dari biasanya. Setelah menyelesaikan kewajiban dengan sang pencipta, wanita itu langsung berjalan menuju dapur. Menyiapkan sarapan untuk pria yang mungkin masih berada di alam mimpi.
Tak butuh waktu lama, Husna selesai dengan menu nasi goreng dan beberapa lauk pelengkap. Setelah itu ia kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri pergi ke kampus, tempatnya menuntut ilmu.
"Hm, sudah lama aku tidak makan nasi goreng buatan kamu."
Terdengar suara ketika Husna baru mulai membuka pintu.
Gadis itu menoleh, terlihat sang suami sudah berdiri di samping meja makan sambil menghirup aroma masakannya. Pria itu nampak sudah tampan dengan jas dan kemeja kerjanya.
"Apa mas mau pergi ke suatu tempat?"
Husna bertanya sambil berjalan mendekat.
"Hm, ada beberapa urusan yang harus aku urus di sini."
Jawabnya sambil menarik kursi.
Husna dengan sigap langsung menyendok makanan ke piring Mikhail, serta menuang air putih yang memang sudah tersedia di sana.
Kemudian mereka lanjut menikmati makanan bersama.
Mikhail selesai lebih dulu, pria itu bangkit dan berjalan menuju ruang tamu. Mengambil sepatu dan mulai mengenakannya.
Husna yang baru selesai beberes juga mulai terlihat berjalan menuju ruang tamu. Ia terheran ketika melihat ternyata suaminya masih ada di sana.
"Kenapa mas belum pergi?"
Tanyanya heran.
__ADS_1
"Aku menunggu mu. Kita berangkat bersama!"
Pria itu berdiri dan berjalan mendahului Husna.
Meski dalam kebingungan, wanita itu tetap mengekor menuju halaman.
Sesampainya di depan, keterkejutan Husna kian bertambah ketika dirinya melihat sebuah mobil mewah dan seorang pria yang sudah bersiap menunggu mereka.
"Mobil siapa mas?"
Tanyanya.
"Mobil kita, ayo masuk!"
Mikhail membukakan dirinya pintu.
"Mimpi apa pria ini?"
Husna tertegun saat mendapat perlakuan tak biasa dari pria di hadapan.
"Apa kau berencana untuk terlambat pergi ke kampus?"
Pertanyaan dari sang suami mampu membuat Husna tersadar.
"Eh, maaf. Aku hanya belum terbiasa dengan sikap sok manis dirimu mas."
Ucapnya sambil melangkah masuk.
Mikhail mendekat, ia membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wanita yang sudah duduk di bangku belakang.
"Mulai sekarang, biasakan dirimu. Karena aku akan terus melakukan ini, hingga seumur hidupku."
Ucapnya dengan gamblang, lalu dengan spontan melagakan kening mereka.
"Auw, mas!"
Husna sontak melarikan wajah, ia juga terlihat mengangkat tangan untuk mengusap keningnya.
"Jalan pak!"
Perintah pria itu keluar menggunakan bahasa indonesia.
Husna yang mendengar kembali mengerutkan kening. Ia menatap pada Mikhail dengan tanda tanya.
"Beliau tour guide saya, yang kebetulan bisa berbahasa indonesia."
Pria itu menjawab pertanyaan yang belum sempat di ucapkan oleh istrinya.
"Oh"
Husna hanya bisa ber oh ria.
Akhirnya 2 insan itu menikmati perjalan mereka dengan saling melempar pertanyaan. Hingga tak terasa, mobil berhenti di halaman gedung yang di tuju.
"Lo, bukannya tadi aku belum mengatakan alamatnya. Lalu kenapa kita sudah sampai di sini?"
Wanita itu kembali terheran.
"Semua tentang mu sudah ada di sini."
Mikhail menunjuk dadanya.
Husna dengan sigap langsung mencubit perut pria itu.
"Sejak kapan mas bisa menggombal?"
Ia tersenyum tipis.
Mikhail menurunkan tangan sang istri, ia menggenggam-nya erat seakan tidak ingin melepas.
"Ini bukan gombalan, tapi apa yang memang terasa di hatiku."
__ADS_1
Pria itu menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta, membuat hati wanita itu bertalu kencang.
Husna segera menunduk, menyembunyikan wajah merona dan juga perasaan yang susah di bendung.
"Aku akan berusaha membuktikan apa yang kurasakan padamu. Tetap lah seperti ini dan jangan pandang apa yang ada di luar sana."
Ucap Mikhail lagi.
"Apa maksud mas?
Wanita itu kembali menatap ke arah sang suami, ia tak mengerti kemana arah ucapan pria itu.
Mikhail hanya menjawab pertanyaan dari istrinya dengan senyuman. Ia melepas tangan Husna, lalu membelai kepala berkerudung itu dengan penuh kasih sayang.
"Pergilah! Kau sudah hampir telambat."
Husna masih terdiam dan menatap suaminya heran. Kemudian wanita itu menarik gagang pintu, berniat pergi dari sana.
"Tunggu!"
Pria tadi kembali menarik tangan Husna.
"Apa?"
Ia menoleh.
Mikhail menyodorkan tangan.
"Cium tangan suami dulu, supaya langkahmu di ridho'i oleh yang kuasa."
Ucapnya dengan senyum kecil.
"Hahaha, sepertinya dia benar benar sudah tidak waras."
Husna tertawa dalam hati.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa ada yang lucu?"
Mikhail bertanya heran.
"Maaf mas."
Husna lanjut menerima uluran tangan sang suami, lalu menciumnya.
Dan melihat sang istri menunduk, Mikhail dengan sigap mendaratkan ciuman hangat ke kening Husna.
"Mas!"
Wanita itu mengerutkan kening, wajahnya berubah menjadi mimik protes.
"Cium tangan biasanya memang satu paket dengan cium kening."
Mikhail memberi alasan.
"Tapi, aku.."
"Syut. Kalau kamu bicara lagi, maka aku akan menambahnya dengan mencium ini"
Mikhail meletakkan telunjuk di bibir Husna.
Nyali wanita itu menciut, ia bergegas menarik gagang pintu.
"Assalammualikum,"
"Waalaikum salam."
Pria itu tersenyum penuh bangga melihat punggung wanita yang sudah mulai berjalan menjauh.
"Aku akan menaklukkan hatimu, dan memulai rumah tangga yang sesungguhnya. Aku berjanji akan menebus semua luka yang dulu ku torehkan, dan menggantinya dengan kebahagiaan."
Mikhail bergumam dengan seluruh tekat.
__ADS_1
TBC