
"SEPATAH DUA PATAH KATA MAAF DARI MAK AUTHOR"
Sebelumnya saya meminta maaf karena novel ini sangat lama ngegantung. Semua ini bukan kemauan saya, namun karena HP saya yang lama error alias rusak. Setelah di perbaiki, saya tidak ingat kode Email yang lama hingga saya harus membuat Email baru dan semua data lama terhapus. Saya bingung harus mulai dari mana.
Tapi setelah bertanya sana-sini akhirnya akun saya bisa kembali lagi.
Sebenarnya sudah dari bulan lalu saya aktif di Noveltoon, tapi belum berani untuk memulai menulis kembali. Karena sudah terlalu lama berhenti, jadi agak takut untuk memulai.
Tapi Insya Allah, selanjutnya saya akan kembali menekuni hobi menulis saya untuk menebus kesalahan pada para penggemar novel ini dengan cara melanjutkannya hingga tamat.
Sekali lagi, mohon maaf atas kelalaian saya dan selamat membaca.
***
Seorang pria terlihat membuka pintu dengan berhati hati sambari menyeret barang bawaannya.
"Apa dia masih di kampus?"
Bergumam sendiri ketika mendapati kamar yang baru di bukanya kosong. Pria tadi yang tak lain adalah Mikhail mendudukkan diri di ranjang yang biasa di tempati oleh istrinya, Husna.
Niat hati ingin memberi kejutan pada wanita yang sangat di cintainya itu harus tertunda karena ternyata dia salah informasi tentang keberadaan sang istri saat ini.
"Lebih baik aku mandi dulu."
Mikhail membuka koper sambil menyiapkan baju yang ingin di pakai, setelah itu barulah dia memasukkan barang bawaannya ke dalam lemari.
Sementara itu di luar, nampak seorang wanita baru saja memasuki pekarangan rumah. Setelah membuka pintu gadis itu pun langsung menuju dapur untuk memasak, karena memang dia lebih suka menyantap masakan rumahan dari pada harus membeli di luar yang belum tentu sesuai dengan seleranya.
Entah butuh waktu beberapa lama, akhirnya wanita tadi yang tak lain adalah Husna, selesai juga dengan 2 hidangan cumi balado dan cah kangkung buatannya.
"Hm...ah.. bikin laper.."
Dia tersenyum sambil menahan perut yang memang sudah memberontak dari tadi.
"Lebih baik aku mandi, setelah itu baru makan."
Husna meraih tas yang di bawanya ke kampus tadi, lalu mulai melangkah menuju kamar.
"Akh...."
Gadis itu berteriak begitu melihat seorang pria yang tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun, berdiri membelakanginya.
Husna dengan sigap dan dada yang sudah bergemuruh, spontan menutup pintu dengan tangan gemetar, ia ketakutan karena apa yang di lihat barusan. Husna dengan cepat mengunci pintu, lalu segera mencari ponsel untuk meminta bantuan. Namun, ia tersadar kalau tasnya terjatuh di kamar ketika ia terkejut tadi dan sialnya handphone berada di situ.
"Astagfirullah, bagaimana ini? Siapa pria itu?"
Dia terus berputar di depan pintu sambil meremas tangan, cemas.
"Tok, tok."
Pintu di gedor oleh pria yang terkurung di dalam sana.
"Akh,, ya ampun. Aduh.. ya Allah.. apa yang harus kulakukan."
__ADS_1
Husna kian gemetar, dia mulai kalut dan tak dapat berfikir lagi karena rasa cemas yang sudah berlebihan.
"Buka, Husna buka pintunya."
Pria tadi yang tak lain adalah Mikhail makin mengeraskan ketukannya, yang tentu saja membuat gadis di luar sana kian ketakutan.
"Oh, ya ampun, dia bahkan tau namaku. Apa dia sudah memata mataiku sebelumnya?"
Pikiran Husna mulai beranjak ke arah film laga yang sering di liatnya.
Dengan gemetar Husna berjalan ke dapur guna mencari senjata untuk melindungi diri.
"Buka! Ini aku."
Mikhail masih berusaha menarik gagang pintu.
Meski Mikhail terus berusaha menjelaskan, namun Husna yang sudah terlanjur panik malah tak dapat mengenali suaranya.
"Huh, ah.. aku akan menghadapinya sendiri."
Husna yang sudah di persenjatai sapu mencoba mengatur nafas sebelum membuka pintu.
"Bismillah. Ya tuhan, lindungilah hambamu ini."
Dia menarik nafas, kemudian memberanikan diri untuk membuka kunci.
Dan....!
Satu pukulan telak mendarat tepat di pipi yang mengakibatkan pria tadi tersungkur ke lantai.
"Dasar pria mesum, beraninya kau memasuki kamar ku!"
Husna memaki sambil terus melayangkan senjatanya menghantam ke arah pria yang sedang menutup tubuh menggunakan selimut tebal yang memang sengaja di gunakannya untuk menakuti sang istri.
"Aww.. aduh.. ini aku... Husna! Apa kau mau menjadi janda dalam waktu dekat?"
Mikhail merintih sambil berusaha menjelaskan siapa dirinya.
Dan ternyata kalimat itu berhasil membuat Husna spontan menghentikan pukulan, dia terdiam dan mulai merasa mengenali suara orang yang tadi sudah terlanjur di hajarnya.
"Ahk, oh.. ya Tuhan...."
Tangkai sapu terjatuh dan Husna langsung terduduk membantu membuka selimut yang menutupi tubuh Mikhail.
"Hah...."
Matanya seketika membola, tangan Husna terangkat menutup mulut ,bentuk ekspresi tak percaya saat melihat orang yang tadi di pukuli adalah suaminya sendiri. Pria yang selama ini di rindukannya.
"Apa kau sudah berencana memb*n*h ku?"
Mikhail terlihat meringis sambil mengusap kepala dan pundaknya yang terasa sakit akibat hantaman senjata wanita berkerudung di hadapannya.
"Maaf mas, aku tidak tau kalau orang yang ada di kamarku adalah dirimu. Tadi aku sempat memikirkan hal yang aneh aneh."
__ADS_1
Husna tertunduk dengan rasa bersalahnya.
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan, tapi ternyata aku lah yang terkejut."
Sudut bibir Mikhail sedikit terangkat, dia merasa adegan tadi agak lucu.
"Maaf,"
Husna memberanikan diri mengangkat wajahnya.
"Yang mana sakit mas?"
Dia mulai meraba wajah sang suami dengan raut khawatir.
Mikhail meraih tangan Husna, ia membelai dengan penuh kasih sayang.
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa rinduku padamu."
Ia menarik tubuh Husna ke dada, memeluk wanita itu dengan segenap kerinduan yang selama ini membendung di hatinya.
Husna terdiam, ia yang tadinya merasa tegang seketika mencair. Gadis itu mulai berkaca karena larut dalam pelukan hangat yang di berikan pria yang sangat di cintainya itu.
"Aku juga merindukanmu mas."
Tangannya mulai terangkat untuk membalas pelukan sang suami.
Entah berapa lama mereka terdiam dalam posisi seperti itu, saling memeluk dan menghirup aroma tubuh pasangan. Melepas semua kerinduan yang selalu menghantui mereka selama berapa lama bertemu.
"Aaww... "
Mikhail merintih ketika tangan Husna kian erat memeluk punggungnya.
"Maaf."
Gadis itu spontan melepas pelukan.
"Mari ku obati mas! "
Meraih tangan Mikhail dan membantu pria itu berdiri.
"Aku ambil obat dulu, mas tunggu di sini sebentar! "
Husna berjalan keluar ketika Mikhail sudah duduk di tepi ranjang.
Sudut bibir Mikhail terangkat melihat punggung wanita yang baru saja berjalan menjauh darinya.
"Aku siap di pukuli demi melihat wajah khawatir mu itu."
Batinnya melonjak bahagia.
TBC
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu novel ini. Salam sayang dari mak Author receh.
__ADS_1