
"Ada apa dengannya, kenapa dari tadi dia tidak mau mengangkat panggilanku?"
Mikhail terus mengotak atik gawai di tangannya. Pria itu sedang di landa kerisauan akibat tak bisa menghubungi sang istri.
"Ting."
Pesan singkat masuk di sela kesibukan Mikhail mengetik.
"Mas jangan menghubungi ku dulu! Tunggulah hingga kepulangan ku minggu depan. Maaf... tapi ini memang harus ku lakukan."
Begitulah bunyi pesan yang di terima oleh Mikhail. Dia yang awalnya penasaran, kini berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
Khawatir akan hubungan mereka yang sudah terlanjur berada di ujung tanduk.
Pria itu menarik nafas, mencoba memahami apa yang di tulis dalam pesan yang di kirimkan oleh istrinya tadi. Meski berat, namun ia mencoba untuk menerima semua itu dan menanti dengan sabar kepulangan Husna.
Waktu berlalu.
Mikhail yang tengah terpuruk mencoba membenamkan dirinya dengan pekerjaan. Berharap dengan kesibukan dia tetap bisa berada di dalam kewarasan.
Hingga tak terasa seminggu berlalu. Seperti yang dia tahu, hari ini adalah hari di mana sang istri pulang.
Mikhail awalnya ingin menjemput Husna di bandara, tapi tiba-tiba saja sang ibu melarang.
Nani melarang dengan alasan bahwa istrinya itu pulang bersama dengan kakaknya, Husein.
Semua itu di lakukan sang ibu untuk menghindari bentrok antara Husein dan Mikhail. Karena pria 29 tahun itu tidak terima dengan ulah Mikhail yang sudah menyelingkuhi adiknya, Husna.
Awalnya pria itu berkata akan menerima apapun yang akan di lakukan Husein, karena ia merasa memang pantas mendapatkannya. Namun dengan alasan bandara adalah tempat umum, yang artinya tidak etis jika membicarakan masalah keluarga di sana, akhirnya Mikhail setuju untuk menemui Husna di rumah saja.
Dan, di sinilah pria itu sekarang, berdiri dari kejauhan sambil menatap seorang wanita berhijab dan seorang pria berbadan tegap berjalan menuju sebuah mobil.
"Alhamdulillah, dia mendarat dengan selamat."
Mikhail berucap syukur. Meski tidak memperlihatkan wajahnya, namun pria itu tetap datang menunggu kepulangan Husna. Dia mulai menginjak pedal gas setelah melihat mobil yang tumpangi sang istri dan abang iparnya tadi sudah mulai berjalan.
Dia terus mengikuti hingga beberapa jam lamanya. Mikhail terus berada di belakang mobil itu, sampai mereka tiba di kampung halaman.
Setelah memastikan sang istri masuk ke dalam rumah, barulah ia beranjak dari sana. Tujuannya adalah mencari penginapan. Dia merasa perlu beristirahat sebelum persidangannya besok di mulai. Persidangan yang akan menentukan apa yang akan terjadi dengan hubungan dirinya dan Husna.
"Apa kau lelah?"
Pesan pertama berhasil di kirim Mikhail pada sang istri.
"Lumayan"
Husna menjawab singkat.
"Aku senang meski hanya menatapmu dari kejauhan."
Pesan kedua masuk.
Husna sedikit mengernyit heran saat membacanya.
"Maksud mas apa?"
"Aku sekarang di kampung. Tadi aku ke bandara dan mengikuti kalian ke sini."
Balasnya lagi.
__ADS_1
"Apa, trus sekarang mas di mana?"
Tanya wanita itu dengan terheran.
"Aku berada di hotel dekat pasar. jangan khawatir. Kau pasti lelah, beristirahat lah! By.. I love you."
Pria itu mengakhiri percakapan lewat pesan mereka.
Husna terdiam menatap layar ponsel, berfikir dengan hati yang tak karuan. Memikirkan jalan apa yang akan mereka lewati esok hari.
"Ehm, ehm."
Suara bariton seorang pria mempu mengurangi lamunan gadis tadi.
"Apa yang kau pikirkan?"
Tanya pria yang baru datang.
Husna tersenyum sembari membenarkan posisi duduknya.
"Tidak mas, hanya memeriksa beberapa tugas kuliah."
Dia berkilah.
"Tugas apa yang datang selarut ini? Apa kau baru saja menghubungi pria pengkhianat itu?"
Husyein, pria tampan berhidung mancung itu bertanya dengan nada ketus.
Husna cepat menggeleng, ia sangat kenal dengan sifat emosional sang kakak. Pria itu memang selalu emosi ketika mendengar ada yang sudah menyakiti dirinya, dan itu sudah terjadi semenjak mereka kecil.
Husyein adalah tipe pria yang sangan over protective pada sang adik. Dia sangat menyayangi Husna, dia juga adalah kakak yang akan selalu siap memasang badan untuk melindungi adiknya dari sesuatu yang menurutnya akan menyakiti wanita itu. Hal ini lah yang menyebabkan dia sangat emosi mendengar apa yang terjadi dengan Husna.
"Tugasnya datang tadi siang mas. Aku hanya memeriksa sebelum mengerjakannya."
Husna melambaikan layar handphone untuk meyakinkan pria yang sudah ikut duduk di sampingnya.
"Bagus lah kalau begitu. Pria itu tidak cocok denganmu, mas dari dulu memang tidak pernah menyukai perjodohan kalian."
Husyein membelai kerudung sang adik.
"Tapi semua sudah terjadi mas. Menyesal tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula."
Husna memaksakan senyuman.
"Kau benar, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah ini secepatnya."
Husyein berdiri.
"Istirahatlah!"
Pria itu berjalan masuk, meninggalkan Husna dengan perasaan yang kian tak karuan. Ia sedang berusaha memahami arti dari kata "meyelesaikan" yang baru saja di ucapkan sang kakak.
Entah berapa lama Husna menghabiskan waktu di teras sambil memikirkan jalan yang akan di ambilnya. Di satu sisi, dia memang mencintai pria yang pernah menyakitinya dulu, namun di sisi lain, ada sang ibu dan sang kakak yang terlihat tidak terima dengan semua ini.
Lelah, akhirnya Husna berjalan masuk dan mulai merebahkan diri di ranjang. sambil berdo'a semoga esok semua baik-baik saja. Dan berharap semoga hubungan mereka bisa di perbaiki dan dapat di terima oleh semua pihak.
***
Pagi menjelang.
__ADS_1
Husna dan Ningsih terlihat sudah sibuk di dapur. Mereka tengah menyiapkan makan siang untuk semua anggota keluarga. Hingga telinganya menangkap suara mesin mobil berhenti di pekarangan.
Husna yang tengah membersihkan sayur segera mencuci tangan, lalu berjalan ke pekarangan untuk melihat siapa yang datang.
Mata wanita itu langsung terbelalak ketika melihat siapa yang barus saja turun dari mobil. Dia adalah Mikhail, suami yang semalam di rindukannya.
Husna melangkah untuk menyusul Mikhail, tapi tiba tiba tangannya di tarik dari belakang. dia menoleh, dan ternyata Husyein lah yang tengah menahannya.
Wajah sang kakak terlihat memerah. Dia berjalan mendahului Husna dan..
"Bugh."
Satu pukulan telak di wajah Mikhail, di berikannya sebagai ucapan selamat datang.
"Ah. Mas!"
Husna yang terkejut menyaksikan itu, sontak berteriak dan langsung berlari.
"Apa begitu caramu melayani adikku? Kau pria berengsek, dan kau sama sekali tidak pantas bersama dengan Nya!"
Husyein mulai mamaki dengan geram.
Mikhail hanya terdiam, dia sengaja membiarkan sang kakak ipar melampiaskan amarah. Karena dia merasa, bahwa hal itu memang pantas di terimanya.
"Tidak, mas. Tolong hentikan!"
Mata Husna mulai terlihat berair. Tangannya kuat manahan tangan sang kakak yang ingin mendaratkan pukulan selanjutnya.
"Apa-apaan ini?"
Suara seorang pria dapat menghentikan ketegangan yang terjadi. Mereka menoleh dan di pintu sudah terlihat sang ayah berdiri di sana.
"Apa begini caramu menyelesaikan masalah, Apa kau ingin mempermalukan keluarga kita?"
Ucap Shaleh dengan wajah emosi.
Pria paruh baya itu marah, karena sang anak melampiaskan amarah di halaman rumah, yang tentu saja mengundang rasa penasaran beberapa tetangga.
Husyein terdiam, dia melepas tangannya dari kerah baju Mikhail, kemudian berjalan masuk dengan nafas yang naik turun tak menentu.
"Masuklah! Kita bicarakan hal ini di dalam."
Shaleh mempersilahkan anak menantunya masuk.
"Apa mas baik-baik saja?"
Husna bertanya dengan wajah khawatir, ia sangat merasa bersalah atas pipi membiru sang suami.
"Tidak apa-apa, aku memang pantas mendapatkan ini."
Mikhail masih bisa tersenyum meski pipinya terasa sangat perih.
Pria itu lalu menuntun sang istri masuk kedalam, untuk menghadapi persidangan-nya yang tentu saja tidak akan mudah.
TBC
Tolong sempatkan jari nya buat ngetik vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.
MAKASIH...
__ADS_1
SALAM SAYANG DARI MAK AUTHOR RECEH.