
Sore ini Husna kembali menemukan sarapan yang masih utuh di meja makan. Hal seperti ini sudah terjadi 3 hari berturut-turut, bukan hanya sarapan tapi makan malam juga tak pernah di sentuh oleh Mikhail.
Wanita itu menarik nafas dan mulai membereskannya, dalam hati ia terus merasa penasaran dengan sifat aneh suaminya dalam beberapa hari belakangan.
Setelah memasak, Husna kembali ke kamar untuk melaksanakan kewajibannya pada tuhan.
"Tok, tok, tok."
Suara ketukan pintu menggema di penghujung salam Husna. Dengan cepat ia berjalan untuk melihat sang pengetuk.
"Iya mas,"
Gadis itu berucap pada pria yang berdiri sambil menatapnya dingin.
"Mulai hari ini, kamu tidak usah memasakkan makanan untukku. Kita urus saja diri masing-masing."
Kalimat pertama yang keluar dari mulut Mikhail mampu membuat dada wanita itu berdesir.
Husna menatap bingung, ia yang tak paham tentang kenapa tiba-tiba saja suaminya itu berubah sikap seperti itu hanya bisa mengangguk.
"Aku mau pergi keluar, kamu tidur saja! Aku sudah bawa kunci cadangan."
Tambahnya lagi, kemudian berbalik tanpa menunggu tanggapan dari istrinya.
Husna berjalan ke ruang tamu, ingin rasanya ia bertanya tentang perubahan sikap pria yang tengah memakai sepatu itu, namun rasa enggan berdebat membuat mulutnya tetap terdiam.
Pria tadi berjalan ke tempat gantungan kunci yang kebetulan ada di samping Husna berdiri, ia melewati wanita itu tanpa menyapa sama sekali, setelahnya berjalan keluar dan pergi tanpa permisi.
"Um.. hah.."
Ia menarik dan membuang nafas panjang dengan teratur. Berusaha mengembalikan mood nya yang mulai rusak.
"Mungkin dia sedang berkelahi dengan kekasihnya."
Hanya itu alasan yang di dapat Husna atas sikap dingin suaminya.
Wanita itu berjalan kembali ke kamar dan memulai membaca kitab suci yang di rasanya perlu untuk menenangkan jiwa.
Di tempat lain, pria tadi baru saja memasuki sebuah rumah. Rumah yang di rasanya pas untuk tempat menghindari bertatapan mata dengan istrinya.
"Kirain siapa, masuk!"
Seorang pemuda mempersilakan dirinya masuk.
Mikhail mendudukkan diri di sofa ruang tamu. Mengambil stik ps dan mulai menyetel benda itu.
"Lo kenapa sih beberapa hari ini rajin amat ke rumah gue. Lo bertengkar sama bini lo?"
Dodoy mendudukkan diri di sebelah sang sahabat.
"Diam lo, nggak usah banyak tanya. Gue lagi pusing nih."
Mikhail melemparkan satu stik ke pangkuan dodoy.
"Kalau lo punya masalah, cerita dong. Seenggaknya beban lo bisa berkurang."
Dodoy menyambut benda itu dan mulai memainkan nya.
"Gue cerita juga lo nggak ngerti."
Mata Mikhail tetap lurus ke layar.
"Eps, jangan sotoy lo. Meskipun begini, gue adalah penasehat cinta."
Pria berambut ikal itu tersenyum pongah.
"Cih. Penasehat cinta kok bisa jomblo. Bikin malu aja lo."
Mikhail mengejek.
"Gue jomblo karena gue belum menemukan wanita yang tepat. Ntar kalau dah jumpa langsung gue halalin, biar nggak ribet."
Dodoy membela diri.
"Ah, sok."
Mikhail melempar pria tadi dengan bantal sofa.
Mereka terkekeh dan memulai aksinya bermain game bola.
"Doy, kalau nggak salah keluarga lo ada yang tinggal di Turki kan?"
Mikhail tiba-tiba membahas masalah lain.
"Ya, adik nyokap dan keluarganya menetap di Istanbul. Memang kenapa?"
Dodoy mulai penasaran.
"Istanbul? Yang benar lo?"
Pria itu terlihat berbinar.
"Iya, memangnya kenapa sih? Bikin penasaran aja lo."
Dodoy kian bingung.
"Itik, dia mau kuliah ke sana. Dari yang gue dengar dia memang ke daerah Istanbul."
Mikhail menjelaskan.
"Hahahha.."
Tawa Dodoy pecah.
Mikhail menautkan alis, bingung.
"Kenapa lo ketawa, apa yang lucu?"
Ia bertanya dengan wajah bingung.
"Maaf, jadi ini yang membuat lo datang ke rumah gue dengan wajah lecet kek gini?"
Dodoy mencoba menahan tawanya.
"Brengsek lo, bukannya prihatin malah ngetawain gue."
Mikhail kembali melempar sang sahabat dengan sisa bantal di sampingnya.
__ADS_1
"Sorry sorry, abis lo itu ego nya ketinggian bro. Kalau suka tinggal bilang aja apa susahnya sih? Dari pada istri lo berangkat trus lo di tinggalin, bisa nyahok lo ntar!"
Dodoy menasehati.
"Masalahnya tidak sesederhana itu Doy. Selama ini sifat gue sangat kasar dan selalu menghina dia, bahkan mungkin hampir setiap hari gue selalu membuatnya sakit hati. Jika tiba-tiba gue bilang cinta, apa nggak jantungan tuh anak?"
Mikhail mengungkapkan kebimbangannya.
"Bagaimana reaksi dia, kita lihat nanti saja. Yang penting dia tau dulu perasaan lo."
Dodoy mendekat.
"Eh bro, Turki itu sarangnya pria tampan, ciri khas mereka berkulit putih, tinggi, tampan dan maco. Jangan sampai istri lo kecantol sama cowok sana, trus di tinggalin deh lo."
Ucap Dodoy setengah berbisik.
"Akh.... ngomong sama lo bukan ngilangin stres gue, tapi malah nambah mumet."
Mikhail menaruh stik dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan Dodoy dengan tawanya.
Pria itu melajukan mobil kembali ke rumah. Begitu sampai, ia berfikir berulang kali sebelum membuka pintu. Ini baru pukul 9, terlalu cepat jika ia masuk sekarang.
Entah berapa lama ia berdiam di pintu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk.
Hal pertama yang di lihat ketika melangkah adalah ruangan kosong. Dan ia tahu kalau wanita tadi pasti berada di dalam kamarnya.
"Apa dia sudah tidur?"
Mikhail bergumam sambil terus menatap pintu kamar yang sedang di lewatinya, pria itu berhenti dan mulai menaruh sebelah kuping di pintu.
"Apa mas mencari ku?
Husna tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Astaga, kau mengejutkanku!"
Mikhail agak terlonjak saking terkejutnya. Wajah pria itu seketika berubah pias karena aksinya tertangkap basah.
"A, aku hanya ingin memastikan kau sudah tidur atau belum."
Ucapnya tak punya pilihan.
"Seharusnya mas mengetuk saja, tidak usah mengintai seperti tadi."
Husna berbalik dan kembali berjalan menuju ruang tamu.
Sebenarnya gadis itu tadi sedang memungut bukunya yang terjatuh di bawah kolong meja, hingga Mikhail tak dapat melihatnya ketika lewat tadi.
Pria itu mengekor dengan hati tak enak.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu mu, itulah alasannya aku mengintai. Jadi jangan berfikiran aneh-aneh."
Husna menoleh,
"Kenapa aku harus berfikiran aneh. Mas adalah suamiku, jadi tidak aneh jika suami mengintai istrinya. Hanya saja hal itu tidak enak di pandang."
Ucapan Husna mampu membuat desiran di dada Mikhail kian menjadi.
"Jadi dia sudah menganggap ku sebagai suaminya?"
Gumamnya dengan sudut bibir sedikit terangkat.
Suasana canggung pun tercipta. Husna sok sibuk dengan buku-bukunya, sedangkan Mikhail berpura-pura fokus menggeser layar benda pipih yang ada di tangannya.
"Jadi, kapan kau mau berangkat?"
Akhirnya pria itu mengalah dan memulai obrolan mereka.
Husna menoleh, ia melipat buku dan menaruh benda itu di sampingnya.
"Minggu depan, tanggal 20."
Jawabnya mantap.
"Secepat itu? Bukankah kau harus melewati seleksi sebelum berangkat?"
Mikhail bertanya dengan penuh keterkejutan nya.
"Yayasan yang menerimaku tidak jadi mengadakan seleksi. Karena melihat nilai dan prestasi yang pernah kuraih, akhirnya semua memutuskan untuk memberikan beasiswa itu padaku."
Mikhail mulai mengepalkan tangan.
"Lalu bagaimana dengan kita?"
Akhirnya pertanyaan itu muncul.
"Aku sudah ikhlas mas. Jika mas mau menceraikanku, maka silakan. Urus saja suratnya dan kirimkan ke padaku."
Hati wanita itu sebenarnya merasa sangat perih ketika mengatakan kalimat itu, namun sebisa mungkin ia mempertahankan raut wajah tak pedulinya.
Mikhail tak kalah tersentuh, pria itu mulai merasa sesak di dadanya.
"Apa benar itu yang kau inginkan?"
Pertanyaannya bertujuan menyelidiki perasaan Husna.
"Aku rasa ini memang jalan terbaik, 8 bulan kurasa sudah cukup untuk kita mencoba saling mencintai. Tapi ternyata kita gagal, mas masih membenciku dan aku masih tidak mencintaimu. Jadi, mari kita kembali pada kehidupan kita masing-masing."
Husna berucap dengan menekan sakit di hatinya.
"Aku sudah tidak membenci mu. Hanya saja aku tidak boleh mencintaimu."
Mikhail hanya mampu berucap di dalam hatinya.
Ia tak tak bisa lagi berkata kata, matanya terus saja menatap pada wanita itu berusaha mengatakan bahwa sebenarnya cinta itu sudah lama tumbuh. Hanya saja ia tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya.
"Mama ingin meminta waktu sebelum kita bercerai. Jadi, aku tidak bisa memberimu kebebasan dalam waktu dekat ini."
Pria itu berdiri.
"Jika kita sudah berpisah, aku akan mengikhlaskan dirimu untuk menikahi kekasih mu itu. Semoga kalian berdua bisa bahagia."
Husna ikut berdiri.
Mikhail berbalik,
"Apa kau benar-benar tidak merasakan apapun padaku?"
__ADS_1
Pria itu kembali bertanya.
"Iya,"
Husna menjawab dengan ekspresi datar.
Mikhail mendekat, ia menarik tangan Husna hingga wanita itu tersandar ke dadanya
"Mas, apa yang kau lakukan?"
Husna mendorong dada pria itu supaya menjauh darinya.
"Aku hanya ingin memastikan perasaan mu!"
Mikhail secepat kilat melagakan bibir mereka.
"Um, uhm.."
Husna berusaha menggeleng, melarikan wajah dari sang suami.
Namun pria itu terlalu kuat, tangannya bahkan berpindah untuk menahan tengkuk Husna.
"Mikhail terus *******, pelan dan penuh perasaan. Ia bahkan tak mempedulikan penolakan wanita itu.
Hingga akhirnya pertahanan Husna luluh, ia pun mulai menikmati setiap gesekan dari bibir pria tadi.
Tangan Husna kini hanya bisa mengepal untuk menahan sensasi yang di ciptakan suaminya.
Entah siapa yang memulainya, tubuh mereka kini sudah terbaring di sofa
Dari atas tubuhnya, pria itu terus mengecup dan menyedot. Membuat wanita itu kehilangan akal dan terus terbuai.
"Ting, tong. Ting, tong."
Suara bel berhasil mengembalikan kesadaran Husna.
Dengan refleks ia mendorong tubuh Mikhail hingga pria itu tersandar ke sisi sofa.
Dengan wajah semerah tomat, gadis itu berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Mikhail hanya bisa menatap pintu yang sudah tertutup, ia sangat merutuk pada sang tamu yang sudah mengganggu waktu romantis mereka yang sangat langka.
Pria itu bangkit dan berjalan untuk melihat siapa orang yang tidak punya kerjaan selain mengganggunya.
"Sayang."
Seorang wanita ber rok pendek langsung menghambur memeluk dirinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Mikhail mendorong tubuh Amanda supaya menjauh.
Ptia itu menarik tangan kekasihnya untuk berjalan menuju pekarangan rumah.
"Manda, sudah berapa kali aku mengingatkan mu supaya tidak datang ke sini?"
Nada Mikhail terdengar tak suka.
"Maaf, aku hanya terlalu bahagia saat mendengar kabar bahwa kalian akan segera berpisah."
Gadis itu berucap dengan senyum semringah.
Mikhail terheran.
"Apa maksudmu berpisah?"
"Tadi aku bertemu dengan rekan istrimu di tempatnya mengajar. Katanya Husna akan segera pergi keluar negri, dan itu artinya kalian akan segera berpisah."
Amanda masih berucap dengan nada bahagianya.
Mikhail mendorong pelan tubuh wanita di hadapannya, ia juga mulai membuka pintu mobil untuk kekasihnya itu.
"Pulanglah, besok aku akan menjumpai mu."
Usir Mikhail.
Amanda berbalik, ia menaruh kedua telapak tangan di pipi Mikhail.
"Muach, muach."
Ia mendaratkan dua kecupan di bibir pria itu.
"Kalau kalian ingin bermesraan, jangan di halaman rumahku. Di sekitar sini banyak hotel yang bisa kalian sewa. Pergilah dan lakukan hal yang kalian inginkan di sana!"
Husna sudah berdiri di depan pintu sambil menatap dengan tatapan siap membunuh pada suaminya.
"Glek."
Mikhail refleks mendorong tubuh kekasihnya hingga wanita itu tersandar ke mobil.
"Husna, ini tidak seperti yang kau pikirkan. A.. aku ...."
Kalimat pria itu terhenti karena Amanda berjalan melewatinya.
"Maaf, ini adalah terakhir kalinya aku datang di saat kau ada di sini. Karena di saat kau pergi, maka akulah yang akan akan tinggal di rumah ini."
Kalimat Amanda langsung membuat Mikhail semakin salah tingkah.
"Jadi dia sudah berencana untuk membawa wanita itu pindah ke sini menggantikan ku?"
Hati Husna kian terluka.
"Amanda, apa yang kau katakan?"
Mikhail meremas lengan wanita itu.
Husna berbalik, ia tak ingin terus berada di sana karena air matanya mulai tak terbendung.
Wanita itu masuk ke kamar mandi dan segera menggosok bibirnya untuk menghilangkan sisa bibir pria tadi.
Dengan berurai air mata ia terus menyikat dan menyabuninya, rasa sakit karena gesekan sikat gigi seakan tak setara dengan rasa sakit di dadanya. Ia merasa sangat bodoh karena membiarkan pria tadi menyentuhnya.
Ia sadar bahwa Mikhail masih pria yang sama, pria berengsek yang tak bisa menghargai dirinya. Kini ia semakin yakin bahwa keputusannya untuk pergi adalah jalan terbaik untuk mereka.
TBC
Ini novel baru mak say, mohon batuannya yah...!
__ADS_1
MOHON BANTU VOTE, LIKE BERI HADIAH DAN SILAHKAN BERKOMEN RIA.
Terima kasih.