
"Tok, tok, tok,"
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, mampu membuat wanita yang baru saja terlelap beberapa menit itu langsung membuka matanya.
"Itik, itik! Buka pintunya."
Kali ini ketukan pintu di gantikan oleh suara panggilan.
Husna bangkit dengan malas, ia merasa sedikit kesal, karena pria di luar sana menganggu waktu beristirahatnya.
"Itik, kalau kamu nggak buka aku akan..."
Kalimat Mikhail terhenti. Ia sedikit kaget karena Husna yang sudah membuka pintu dengan tiba-tiba.
Di tambah lagi dengan penampilan wanita itu yang keluar tanpa mengenakan kerudungnya. Rambut bergelombang panjang yang tergerai indah, menambah kesan betapa cantiknya dan ayunya gadis itu.
"Glek,".
Mikhail terdengar menelan kasar saliva nya.
"Busyet, bahkan wajah bangun tidur si itik pun bisa secantik ini."
Pria itu berkata dalam hati. Bola matanya seakan ingin melompat keluar menyaksikan keindahan yang terus saja berusaha untuk tidak di akuinya.
"Ada apa Mas?"
Suara Husna yang sedikit meninggi mampu membuat pria itu kembali ke alam sadarnya.
"A.. aku lapar."
Mikhail segera memalingkan muka. Ia takut Husna mengetahui kegugupannya.
Wanita itu menatap ke arah sang penunjuk waktu. Jarum benda itu masih berada di angka 8 malam.
"Kalau mas lapar, makan saja. Aku sudah masak kok."
Jawab Husna malas, ia berbalik dan ingin melangkah masuk kembali ke kamar.
"Aku sedang tidak berselera makan nasi. Bisakah kau memasakkan sesuatu yang lain?"
Mikhail menahan lengan sang istri.
Husna berbalik, dia menatap tajam ke arah tangan pria yang masih menempel di tangan bagian atasnya.
Mikhail segera menyadari arti tatapan sang istri. Dengan sigap ia melepas tangannya dari sana.
"Maaf!"
Ucapnya cepat.
"Ya sudah. Mas mau makan apa?"
Husna memberi isyarat supaya Mikhail memberinya ruang untuk berjalan.
"Apa aja, yang penting bukan nasi."
Pria itu mengekor.
Husna berhenti mendadak. Membuat pria yang mengekor tadi tergagap dan hampir saja menabrak punggungnya.
"Tidak usah mengikutiku. Tunggu saja di ruang tamu."
Wanita itu berucap kejam.
"Hahaha.."
__ADS_1
Mikhail tak percaya dengan penolakan yang baru saja di terimanya.
"Eh, itik. Sepertinya kau sudah mulai ke PD-an. Sebenarnya aku yang malas berdekatan denganmu, kalau saja perutku tidak lapar. Maka aku tidak akan memanggil mu."
Mikhail berucap sambil berkacak pinggang kesal.
"Baguslah. Aku juga merasakan hal yang sama. Karena itu, lebih baik kita saling menjaga jarak."
Husna berkata sambil berlalu meninggalkan Mikhail dengan kekesalannya.
"Brengsek! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Bukankah selama ini aku yang selalu mengusirnya? Apa dia sekarang sedang berusaha membalasku."
Mikhail berjalan menuju ruang tamu dengan hati yang mulai mendongkol.
Tak butuh waktu lama, Husna datang dengan membawa nampan yang berisi seporsi martabak mesir dan segelas orange jus.
"Makanlah Mas!"
Husna mempersilahkan setelah menaruh bawaannya atas di meja, tepat di depan Mikhail duduk.
"Hm.."
Pria itu menjawab sok cuek. Dia bahkan tak menoleh sama sekali, matanya pura-pura sibuk menatap ke arah layar televisi yang tergantung di dinding.
Husna pun melakukan hal yang sama. Ia menaruh nampan di dapur, lalu kembali ke dalam kamarnya. Berusaha menghindari pria yang biasanya selalu membuat dirinya emosi dengan berbagai kata-kata pedas.
"Ada apa dengan wanita itu. Kenapa sekarang jadi dia yang lebih galak dariku?"
Mikhail kian tak nyaman dengan situasi mereka.
"Akh, biarkan saja. Bukankah ini lebih baik."
Mikhail menyangkal hatinya. Lalu mulai menyantap makanan yang di hidangkan oleh sang istri.
"Waw, itik benar-benar koki yang hebat. Dia bahkan bisa membuat martabak mesir seenak ini"
"Ting, tung, ting, tung."
Suara bel mampu membuat Mikhail menghentikan tangan dari suapan terakhirnya.
"Manda, kenapa kamu kesini?"
Mikhail langsung terkejut ketika melihat siapa yang sedang bersiri di depan pintu.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Apa kalian sedang melakukan hal yang aneh-aneh?"
Gadis itu mendorong dada Mikhail dan langsung masuk kedalam rumah. Matanya liar melihat sekeliling.
"Hal aneh apa maksudmu? Aku hanya heran kenapa kau kesini, bukankah sudah ku katakan kalau kita tidak bisa bertemu di rumahku."
Mikhail berusaha menghentikan langkah sang kekasih. Ia masih ingat betul dengan perjanjian yang di buatnya dengan Husna.
"Aku tidak akan kesini jika kau mengangkat panggilanku."
Gadis itu langsung mendudukkan diri di tempat Mikhail tadi.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Husna tiba-tiba saja sudah berada di samping wanita itu.
"Aku ingin menjumpai kekasihku."
Kalimatnya terdengar bangga.
"Aku tidak peduli kau menjumpai siapa. Yang ku persoalkan adalah seharusnya kau tidak datang kesini. Aku dan kekasihmu itu, sudah mempunyai perjanjian. Jadi, cepat keluar dari sini!"
__ADS_1
Ucap Husna garang.
Amanda berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah kekasihnya. Tangan wanita itu mulai bergelayut manja di lengan Mikhail. Seakan sengaja mempertontonkan betapa mesranya mereka.
"Sayang, lihatlah wanita itu. Dia semakin tidak sopan kepadaku." Ucapnya dengan suara manja.
"Dia benar. Ayo kita ketempat lain."
Mikhail melepas gelayutan Amanda, kemudian berjalan kekamar untuk mengganti baju.
"Kau lihat, bahkan kekasihmu saja tidak bisa memasukkan mu kerumah ini. Tanpa seijin dariku."
Husna berjalan mendekat.
"Hahaha, silahkan saja ambil rumah ini. Karena yang terpenting bagiku adalah hati pria itu. Aku terkadang kasihan melihatmu, kau adalah istrinya tetapi jiwa dan raganya memilihku."
Amanda berucap bangga.
"Nona Amanda! Apa anda tidak tahu betapa kuatnya arti dari sebuah ikatan pernikahan! Atau kau ingin aku membuktikannya?"
Husna menaikkan alis, menunggu tanggapan dari kekasih suaminya tadi.
"Haha, kau lucu sekali. Aku sangat heran, dari mana kau mendapatkan kepercayaan diri setinggi itu? Baiklah, aku akan menantangmu. Aku akan memberimu waktu 3 bulan. Jika kau berhasil membuat Mikhail memutuskan ku. Maka aku akan mengakui kehebatanmu. Tapi jika gagal, maka kau harus meninggalkan Mikhail secepatnya."
Ucap Amanda.
"Baiklah kita sepakat."
"Sepakat tentang apa?"
Tiba-tiba saja Mikhail sudah berdiri di belakang Husna.
"Ini rahasia perempuan."
Amanda mendatangi Mikhail dan langsung memeluk pinggang pria itu.
"Kenapa aku merasa kalau kalian sedang menyembunyikan sesuatu."
Mikhail merasa ada yang mencurigakan.
"Kami tidak seakrap itu untuk saling berbagi rahasia."
Husna berucap sambil berjalan ke meja untuk membereskan sisa makanan suaminya tadi.
"Ayo, sayang!"
Amanda menarik tangan pria itu.
"Pulang lah dibawah pukul 12 mas. Lewat dari itu, aku tidak akan membukakan pintu."
Husna berucap di sela langkahnya menuju dapur.
"Kenapa dia bersikap seperti ibumu."
Amanda kesal.
"Biarkan saja dia. Ayo!"
Mikhail memperbesar langkah menuju pintu keluar.
"Kita lihat saja. Siapa yang akan mengaku kalah. Kau pasangan haramnya, atau aku pasangan halal."
Husna bertekat ingin membalas pasangan itu dengan menghancurkan hubungan mereka.
TBC
__ADS_1
Mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomentar ria.
TERIMA KASIH.