
Pagi ini Husna terlihat sibuk mengoleskan make up tipis di wajahnya. Semua itu di lakukan untuk menghadiri wisuda sang suami. Mikhail Khairun pahlevi.
Seiring berjalan waktu, pria itu akhirnya mendapatkan gelar sarjana tepat setelah 4 bulan usia pernikahan mereka.
Tak ada yang berubah, mereka masih sama seperti dulu. Pasangan yang tak pernah akur, layaknya Tom dan Jerry.
Seperti saat ini, ia sedang merutuk sambil menunggu Husna berdandan. Mikhail yang hanya perlu waktu 10 menit untuk berganti pakaian, merasa sangat jengkel karena Husna sudah hampir 1 jam tidak keluar dari kamarnya.
"Eh Itik! Tidak bisakah kau cepat sedikit? Acaranya 1 jam lagi akan segera di mulai"
Akhirnya kesabaran mulai habis.
Husna menoleh kaget.
"Mas, kalau masuk kamar tolong biasakan mengucap salam terlebih dahulu."
Mikail yang tadinya siap memaki, tiba-tiba saja menjadi terpaku begitu melihat wanita yang baru saja menceramahinya.
"Dug, dug, dug, dug."
Jantung pria itu bahkan berdetak tak menentu.
"Mas, Mas!"
Husna melambai, karena pria di hadapannya terlihat seperti orang linglung.
Mikhail tersadar.
"Nggak usah berdandan terlalu lama. Bagaimanapun kau memoles wajahmu, kau masih saja tak bisa menarik perhatianku."
Ucapnya sambil berlalu. Dia tidak ingin Husna menyadari kegugupannya.
"Is.. Siapa juga yang ingin menarik perhatiannya. GR."
Wanita itu merutuk sambil menusukkan jarum pentol terakhir ke jilbab.
"Nanti kalau acara sudah di mulai. Aku ingin pergi sebentar menemui Amanda. Kalau mama bertanya, bilang saja aku sedang di toilet. Setelahnya tolong segera telfon supaya aku segera kembali."
Mikhail berucap saat mereka melaju ke tempat acara.
"Maaf Mas. Tapi Aku tidak mau menambah dosa ku, untuk menutupi dosa kalian."
Husna menolak.
"Jangan sok suci kamu. Sama seperti Ku, hari ini juga momen penting buat Amanda. Dia tidak punya keluarga di sini. Jadi aku harus berada di sampingnya di saat penting seperti ini."
Nada pria itu agak meninggi.
"Apa pun alasannya. Aku tetap tidak mau berbohong demi kalian. Kalau mas ingin menjumpai wanita itu, carilah cara lain tanpa melibatkan Ku,"
Kali ini Husna menatap tajam pada pria yang sedang mengendarai mobil.
"Tapi masalahnya, Mama tidak tidak akan mengijinkan Ku kemana-mana."
Jawab Mikhail lagi.
"Itu urusanmu dan bukan urusanku. Jika aku bilang tidak, maka itu artinya tidak,"
Husna menjawab dengan menekankan setiap kata di dalam kalimatnya. Tak lupa, ia menatap pria itu dengan pandangan tajam, seperti pedang yang siap menghunus jantung.
Setelah mendapatkan penolakan tegas. Akhirnya Mikhail terdiam, dia tahu betul sifat wanita di sebelahnya itu. Jika Husna sudah mengatakan tidak, maka itu memang berarti tidak.
Setelah perdebatan kecil mereka, tak terdengar lagi percakapan di dalam sana. Hingga mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang Universitas tempat Mikail menuntut ilmu.
Begitu sampainya di tempat acara, Mikail dan Husna sudah disambut oleh Ibu, Ayah dan adiknya. Mereka sudah disediakan tempat duduk paling depan, karena mereka adalah tamu VVIP.
Karena para tamu sudah datang, akhirnya acara dimulai dan semuanya berlangsung dengan hikmat dan penuh haru. Juga ada suka cita yang di sampaikan para mahasiswa tentang kesan dan pesan mereka selama menuntut ilmu di sana.
__ADS_1
"Sekali lagi selamat ya sayang!"
Nani, ibu Mikhail memeluknya erat.
Wanita itu sangat bahagia karena akhirnya anak sulung mereka mendapatkan gelar sarjana.
"Mah, udah ah. Malu di lihat orang."
Mikhail cepat menghapus bekas kecupan sang ibu di pipi kirinya.
"Malu kenapa? Mama ini kan mama kamu."
Nani melepas pelukan.
"Iya, tapi liat tuh, orang-orang jadi melihat kesini."
Pria itu menunjuk sekumpulan anak muda yang kebetulan menatap kearah mereka.
"Biar saja, toh mereka punya mata."
Jawab sang mama cuek.
"Husna, kamu sudah ngucapin selamat belum?"
Nani bertanya pada anak menantunya yang dari tadi terlihat diam saja.
"Sudah Ma."
Jawabnya bohong.
"Husna adalah orang pertama yang ngucapin selamat pada Mika."
Pria itu memeluk pundak sang istri, hingga wanita itu tersandar dadanya.
Husna dengan terpaksa menarik sudut bibir, supaya Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berbahagia. Tak lupa pula wanita itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.
"Iya dong Mas."
Mikhail yang mendapatkan perlakuan tak biasa dari Husna, terlihat sedikit kaget. Ia pun mengikuti kemana arah lirikan sang istri dan keterkejutannya bertambah saat melihat Siapa yang menatap mereka dengan tatapan siap memangsa. Dia adalah Amanda, kekasih pria itu.
"Aduh mati Gue"
Erangnya dalam hati. Ingin rasanya ia melepas gelayutan manja dari wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Namun tangan Mikail tak berani bergerak, karena di sana ada Ayah dan Ibunya.
Hingga ia membiarkan saja Amanda berlalu dengan mata penuh Amarah.
Setelah kepergian wanita yang menatap mereka tadi, akhirnya Husna melepaskan pelukan dari Mikhail. Wanita itu tersenyum dalam hati karena berhasil membuat selingkuhan suaminya itu menjadi kesal.
"Brengsek! Awas kamu nanti. Aku akan bikin perhitungan sama kamu."
Bisik pria itu dengan tatapan penuh arti.
Husna yang mendapat ancaman tidak terlihat takut sama sekali. Justru ia membalas tatapan pria itu dengan lirikan siap berperang.
"Sudah, ayo! Sebelum kita pulang, mari kita merayakannya di restoran biasa."
Ajak Aidhil, Papanya Mikail.
Semua orang mengangguk. Dan mereka pun langsung berangkat menuju tempat yang di maksud.
"Eh itik! Kamu tadi sengaja kan, memanas manasi Amanda?"
Tanya Mikail ketika mereka berdua sudah di dalam mobil.
"Memanas manasi? Maksudmu apa mas?"
Tanya Husna sok polos.
__ADS_1
"Jangan sok bodoh kamu! Aku tahu kalau tadi kau sengaja memelukku ketika melihat ada Amanda ada di situ"
"Amanda? Tapi aku tadi tidak melihat dia ada di sana. Aku memeluk mu, karena ingin membuat Mama dan Papa terkesan."
Jawabnya enteng.
"Apa Kau pikir aku yang bodoh? Aku melihatnya sendiri ketika kau melirik kearah Amanda. Lalu bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau tidak melihatnya?"
Alis pria itu terangkat.
"Semua kembali padamu mas, kalau percaya Alhamdulillah jika tidak aku juga tidak bisa memaksa."
Husna berucap dengan santainya.
Mikhail yang mendapatkan kalimat seperti itu langsung membuat hatinya semakin kesal. Ingin rasanya ia memaki sang istri, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mereka bertengkar.
"Turunlah! Aku mau ke toilet dulu."
Mikhail mematikan mesin mobil.
Husna hanya mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam restoran untuk mencari mertua dan adik iparnya.
Sementara itu lelaki yang tadi katanya ingin ke toilet. Tiba-tiba saja berputar arah menuju ke sudut Parkiran. Karena di sana sudah ada seorang wanita berambut panjang yang sedang menunggunya. Dan wanita itu tak lain adalah Amanda, kekasihnya.
Setelah terjadi perdebatan kecil Mikail akhirnya berhasil meyakinkan Amanda bahwa yang terjadi tadi hanyalah sebuah akting untuk membuktikan kepada orang tuanya kalau rumah tangga mereka baik-baik saja.
Pasangan itu saling berpelukan hangat, menandakan kalau mereka sudah tidak ada masalah.
"Ehm, permisi. Bisakah kalian bermesraan di tempat lain? Ini tempat umum, banyak anak-anak dibawah umur yang bisa saja melihat aksi kalian."
Pria yang sedang menggandeng gadis kecil di tangan kanannya itu menatap mereka dengan mata tajam.
"Maaf."
Mereka segera memberi jarak.
Setelah berucap, pria tadi dan anak gadisnya segera masuk kedalam restoran. Terlihat raut wajah tak suka masih tersirat di wajahnya.
"Pak Andre!"
Sebuah panggilan di dapat ketika baru saja menginjakkan kaki di pertengahan restoran.
Andre tersenyum dan berjalan mendekat kearah meja pria paruh baya yang tadi menyapa dirinya.
"Buk guru!"
Anak gadis yang dari tadi di gandengnya segera melepaskan diri, ia berlari menuju tempat di mana seorang wanita berhijab duduk.
"Hai Salsa."
Husna segera memeluk anak murid Nya itu.
"Lo, kamu kenal sama anaknya Pak Andre?"
Aidhil bertanya pada sang menantu.
"Kenal Pa. Salsa adalah salah satu anak murid Husna di sekolah. Dan pak Andre juga merupakan pemilik yayasan."
Ucap Husna sambil mengurai pelukannya dengan Salsa.
"Apa dia anaknya Tuan Aidhil?"
Andre bergumam.
Setelah sesi pertemuan tadi, akhirnya mereka saling berkenalan. Andre yang kebetulan adalah rekan bisnis dari Tuan Aidhil, memutuskan untuk bergabung dengan keluarga besar itu. Mereka berbincang dengan akrab dan hangat. Hingga kehadiran Mikhail berhasil mengejutkan Andre.
Namun, keterkejutan pria itu kian bertambah ketika Aidhil memperkenalkan Mikhail sebagai suami dari Husna. Sementara ketika di parkiran tadi, ia jelas-jelas memergoki pria itu sedang bermesraan dengan wanita lain.
__ADS_1
Andre seketika melihat ke arah Husna dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat wanita yang dari tadi asik bercanda dengan Salsa, menjadi bingung. Ia tak paham kenapa Andre menatapnya seperti itu.
TBC