Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 18


__ADS_3

Setelah selesai dengan acara makan malam, akhirnya semua orang beranjak keluar dari restoran.


Papa, Mama dan Aisyah, adik dari Mikhail akhirnya berlalu lebih dulu meninggalkan mereka di parkiran restoran.


Sedangkan Mikhail meminta waktu pada Andre untuk berbicara 4 mata dengannya.


"Jadi, wanita tadi adalah selingkuhanmu?"


Andre bertanya kepada Mikhail.


"Maaf Tuan, kalau bisa tolong jangan ceritakan hal ini pada Papa saya"


Pinta pria itu.


Alis Andre terlihat bertaut.


"Kau aneh sekali. Di mana-mana jika orang ketahuan berselingkuh, maka dia akan takut jika ketahuan oleh istrinya. Tapi, kau malah tidak memintaku untuk menutup mulut darinya."


"Itu tidak perlu Tuan, karena dia sudah tau hubungan saya dan wanita tadi. Bahkan jauh sebelum kami menikah. Lagi pula, dia tidak mempermasalahkan semua itu. Yang saya takutkan hanyalah orang tua saya. Karena itu lah kalau bisa, tolong jangan membocorkannya pada beliau."


Pinta Mikhail lagi.


Andre kian terheran. Ia tidak mengerti rumah tangga seperti apa yang di jalani oleh anak dari rekan bisnisnya itu.


"Itu adalah urusan pribadimu, jadi aku tidak berhak ikut campur. Tapi kalau boleh aku memberi saran, sebaiknya kau jangan mempermainkan ikatan pernikahan. Karena yang terbaik hanya datang satu kali dan kau akan menyesalinya jika dia sudah pergi dari hidupmu."


Ucap Andre sambil berlalu menuju mobil di mana Salsa menunggunya.


"Terima kasih untuk hari ini nona Husna, maaf saya sudah merepotkan anda."


Andre berucap sambil menggendong sang anak yang sudah terlelap di pangkuan Husna.


"Tidak apa-apa pak. Lagi pula saya memang menyukai anak kecil."


Jawabnya sambil tersenyum.


"Kasian sekali wanita ini. Gadis sebaik dia, kenapa bisa punya jodoh sebejat pria itu."


Andre bergumam dalam hati.


Husna yang merasa kalau dari tadi Andre memandangnya denga tatapan aneh, menjadi kian gugup.


"Eh, kalau begitu saya permisi dulu."


Andre mengangguk kemudian berlalu menuju mobilnya sendiri.


Tak lama Mikhail datang menghampiri Husna.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?"


Tanya Husna.


"Aku hanya memintanya untuk tidak mengadu pada papa, tentang apa yang di lihatnya tadi."


Jawab Mikhail sambil menyalakan mesin mobil.


"Tentang apa?"


Husna penasaran.


"Tadi dia melihatku berpelukan dengan Amanda, jadi aku takut jika dia akan mengadukan hal ini kepada Papa. Makanya aku meminta tolong supaya dia tidak membocorkan hal ini."


Jawab pria itu enteng.


"Apa?"


Husna terkejut.


Wanita itu baru bisa memahami kenapa Andre dari tadi menatapnya dengan tatapan seperti itu. Dia mengartikan bahwa tatapan ayah dari muridnya itu adalah pandangan rasa iba.


"Lalu apa yang di katakan oleh pria itu?"


Husna berusaha tetap tenang, dia ingin mendengar seluruh pembicaraan yang dilakukan oleh suaminya dengan pria tadi.


"Dia akhirnya setuju untuk menutup mulut. Tapi dia heran kenapa aku tidak memintanya untuk tidak mengadukan hal ini kepadamu."


"Lalu Apa jawabanmu Mas?"


Husna mengepalkan tangannya menahan gejolak hati yang mulai terasa.


"Aku menjawabnya sesuai dengan fakta. Aku mengatakan bahwa kau sudah mengetahui tentang hubunganku dengan Amanda, bahkan Jauh sebelum kita menikah."


Jawabnya lagi tanpa rasa bersalah.


Mendengar jawaban yang disampaikan oleh suaminya itu, membuat hati Husna makin perih. Dia merasa kalau Mikhail tidak bisa menutup aib rumah tangga mereka, pria itu bahkan meremehkan statusnya sebagai istri. Dan juga menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita.


"Hentikan mobilnya Mas!"

__ADS_1


Perintah Husna.


Mikhail yang tadinya asik mengendara, tiba-tiba menjadi terheran. Dia tak mengerti kenapa Husna menyuruh mobil untuk berhenti. Sementara rumah mereka masih terlalu jauh.


"Kenapa berhenti, apa kau ketinggalan sesuatu?"


Tanyanya bingung.


"Hentikan saja dulu."


Lagi perintah yang sama keluar dari mulut wanita itu.


Mikhail yang tak mengerti hanya bisa menuruti perintah sang istri.


Setelah mobil berhenti, Husna mengambil barang-barangnya kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil.


Mikail yang tadinya masih bingung dengan terpaksa akhirnya ikut keluar dan mengejar wanita yang sudah berjalan beberapa langkah menjauh dari mobilnya.


"Kamu kenapa? Bukankah rumah masih jauh, lalu kenapa kau berjalan kaki?"


Tanya Mikhail sambil menahan lengan Husna.


"Aku tahu kalau rumah masih terlalu jauh Mas. Hanya saja aku tidak ingin berada satu mobil dengan pria brengsek sepertimu."


Husna menjawab dengan mata memerah, penuh dengan emosi.


"Pria brengsek! Apa maksudmu?"


Mikhail menjadi terpancing.


"Iya, kamu memang pria brengsek mas. Tidak cukupkah dirimu merendahkan statusku di depan kekasihmu itu? Haruskah Kamu menambah satu orang lagi untuk menertawakanku?"


Wanita itu menepis kasar tangan Mikhail.


"Aku tidak merendahkan statusmu, tapi memang inilah kenyataannya. Bukankah aku sudah mengingatkan padamu, jika kau menerima pernikahan kita, maka hidupmu akan akan penuh dengan penderitaan. Karena ini adalah pilihanmu, maka Terimalah Apa yang kuberikan."


Jawab Mikhail kejam.


Husna menatap tak percaya pada sang suami. Dia heran bagaimana bisa pria itu tidak merasa bersalah sama sekali.


"Selamat Mas, kau sudah menjadi satu-satunya pria yang berhasil menjatuhkan harga diri ku ke tempat paling dasar. Terima kasih untuk penghinaanmu ini."


Ucap wanita itu sambil berjalan menjauh dari Mikhail.


Pria itu hanya bisa terpaku menatap punggung sang istri. Ada sedikit rasa tidak nyaman di dalam hatinya saat melihat bulir bening dari mata gadis itu jatuh.


"Ada apa denganku. Bukankah selama ini aku senang melihatnya menderita. Lalu, perasaan apa ini?"


"Akh, aku tidak boleh lemah. Aku rasa wanita itu sengaja membuat drama ini, supaya dia bisa menarik simpati ku. Lebih baik aku mengacuhkan Nya saja."


Gumam Mikhail lagi.


Tak lama, pria itu pun berjalan kembali ke dalam mobil. Dia berlalu mendahului wanita yang tadi meninggalkannya. Mikhail bahkan tidak menoleh sedikitpun.


"Dasar, pria kurang ajar. Tidak punya perasaan. Bagaimana bisa dia tega meninggalkanku di jalanan sepi seperti ini?"


Husna mulai merasa ngeri.


Entah berapa lama Gadis itu berjalan, akhirnya dia menemukan sebuah Halte bis. Husna memutuskan untuk menunggu angkutan di sana. Karena dari tadi ia sudah berusaha untuk memesan taksi online, tapi entah kenapa ponselnya tidak tersambung juga dengan aplikasi itu. Mungkin saja sinyal di tempat itu memang sedang ada gangguan.


"Hai cantik, sudah malam nih. Apa mau abang antar pulang?"


Tiba-tiba saja 2 orang pria datang dari arah belakang Husna.


"Ti.. tidak Mas, terima kasih. Tapi saya sedang menunggu jemputan."


Jawab Husna terbata karena ia mulai merasa ketakutan.


"Ini sudah malam cantik, lebih baik kami saja yang mengantar kamu pulang."


Ucap pria satu lagi sambil mulai mencolek lengan Husna.


Wanita itu kian gemetar. Ia sudah dapat merasakan akan ada momen yang mengerikan.


"Eh, mau apa kalian."


Suara bariton seorang pria berhasil mengejutkan 3 orang tadi.


Husna langsung berdiri, kemudian berlari dan bersembunyi di belakang tubuh kekar itu.


"Masuklah ke mobil. Dan tutup matamu."


Titah pria itu lembut.


Husna yang memang dari tadi sudah ketakutan, akhirnya berlari masuk ke mobil, lalu segera menutup mata dengan tas yang dari tadi dipegangnya.


Entah beberapa lama, ia tak berani membuka mata. Hingga ia merasa ada yang menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Akh.."


Wanita itu berteriak.


"Syut.. Ini saya. Apa kau ingin membangunkan Salsa?"


Andre dengan sigap menutup mulut Husna dengan tangannya.


Husna akhirnya berani membuka mata kembali.


Mereka saling pandang hingga beberapa detik.


"Deg, deg, deg,"


Jantung salah satu dari mereka terdengar bertalu kencang.


Setelah merasa kalau Husna sudah dapat menguasai diri. Akhirnya Andre melepaskan bekapannya.


"Apa bapak baik-baik saja?"


Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut wanita yang ada di sampingnya itu.


"Iya. Apa kau juga tidak apa-apa?"


Giliran Andre yang bertanya.


"Iya, terima kasih pak. Jika tidak ada anda, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan diri saya."


Ucapnya dengan mata sayu.


"Tidak masalah, yang penting kamu baik-baik saja."


Ucap pria itu sambil menyalakan mesin mobilnya. dia merasa tidak aman jika mereka terus berada di tempat itu, karena preman yang tadi berhasil dikalahkannya, bisa saja kembali dan membawa gerombolan yang lebih besar.


"Pak apakah saya boleh bertanya."


Husna memberanikan diri bertanya.


"Hem. Tanyakan saja!"


Pria itu memberi ijin.


"Eh, bukankah tadi mobil Anda pergi lebih dulu, lalu Kenapa Anda masih berada di sini?"


Tanya Husna heran.


"Tadi saya memang pergi lebih dulu, tapi saya kembali lagi karena ada barang yang tertinggal."


Jawab Andre.


Husna mengangguk. Setelah mendengar jawaban dari pria yang duduk di sampingnya itu, mereka akhirnya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Hmm.. pak, bolehkah saya meminta satu hal lagi?"


Tanya wanita itu kembali, setelah mereka lama terdiam.


"Katakan saja!"


Andre kembali mempersilahkan.


"Saya tahu kalau anda sudah mengetahui rumah tangga seperti apa yang saya jalani."


Husna mencoba mengatur nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Karena anda adalah ayah dari salah satu murid saya, yang sekaligus merangkap sebagai bos dari yayasan tempat saya bekerja. Karena itulah kedepannya kita pasti akan sering bertemu. Jadi, bisakah anda berpura-pura tidak mengetahui hal ini? Tolong jangan menatap saya dengan tatapan iba seperti di restoran tadi. Karena saya bukanlah wanita lemah yang harus menerima rasa kasihan dari orang lain."


Ucapnya.


Andre menghentikan mobilnya.


"Saya tidak menatapmu dengan rasa kasihan. Tadi saya hanya sedikit bingung karena melihat situasi di situ. Karena seperti yang kau tahu, Pak Aidhil adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Saya hanya heran Kenapa dia mempunyai seorang anak seperti itu."


Jawab Andre sambil menatap Husna.


wanita itu segera tertunduk untuk menghindari pandangan tajam Andre.


"Dalam hubungan kami, tidak semua kesalahan milik Mas Mika. Saya lah yang menjadi orang ke 3 di sini. Karena itu, jangan terlalu menyalakan dirinya."


Ucap Husna tertunduk.


"Ya Tuhan. Terbuat dari apa hati wanita ini."


Andre segera menjalankan kembali mobilnya.


Ia terus berpikir kenapa masih ada saja wanita seperti Husna.


TBC

__ADS_1


Mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomentar ria.


Terima kasih.


__ADS_2