
"Sayang! Aku sekarang di luar, Ada yang ingin aku jelaskan."
Begitulah pesan yang baru masuk di layar HP milik Amanda.
Gadis itu mengacuhkan, dia tetap fokus pada buku yang sedang dipegangnya.
"Kalau kau tidak keluar, jangan salahkan jika aku masuk ke dalam dan membuat onar di sana."
Lagi, pesan masuk.
"Brengsek!"
Amanda merutuk. kemudian berjalan keluar menemui pria yang menunggunya.
"Kita bicara di tempat biasa, di sini banyak orang."
Amanda berucap dengan nada ketus.
Mikail menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu tahu kalau kekasihnya sedang berada dalam mood yang buruk.
"Cepat katakan apa yang ingin kau Jelaskan!" Amanda melipat tangannya di depan dada, dia melihat pria hadapannya dengan tatapan siap memangsa.
Mikail mendekat, ia mencoba meraih tangan Amanda. Tapi wanita itu segera menepisnya kasar.
"Jangan menyentuhku dengan tangan yang sama ketika kau menyentuh istrimu."
Gadia itu berucap garang.
"Sayang! Tolong percayalah, aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu. Semua ini adalah keusilan Mamaku. Mungkin beliau tadi malam masuk ke kamarku dan memoto kami saat sedang tidur."
Mikail berusaha menjelaskan.
"Apa katamu, sedang tidur?"
Alis Amanda menyatu.
"Berarti kau mengakui bahwa kalian tidur satu ranjang dan saling berpelukan hangat. Kenapa tidak sekalian saja kamu membuat video ketika kalian berhubungan intim. Lalu menyebarkannya di seluruh kampus, supaya semua orang tahu betapa harmonisnya rumah tangga kalian."
Ucap Amanda dengan mata merah, penuh emosi.
"Sayang tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya."
Mikail mendekat dan meraih tangan Amanda. Namun, wanita itu masih menepisnya.
"Manda, seperti yang kau tau tadi malam orang tuaku datang ke rumah dan mereka memutuskan untuk menginap. Karena aku tahu bahwa Mama pasti akan memata-matai kami, akhirnya aku menyuruh Husna untuk tidur disampingku. Tapi Sumpah, aku tidak menyuruh nya memelukku seperti itu."
Mikail mencoba menjelaskan secara terperinci.
"Jika benar itu adalah ulah Nyonya Nani. Lalu kenapa semuanya di unggah melalui nomor handphone-mu? Dan yang parahnya lagi caption yang tertulis di bawah foto itu sepertinya memang sengaja ingin menghinaku."
Amanda mengusap air matanya yang mulai berjatuhan
"Apa kau tau? Karena hal, ini semua orang menatapku dengan tatapan meremehkan."
Tambahnya lagi.
"Aku bersumpah, semua ini baru ku ketahui ketika aku sampai di kampus. Mama memang selalu tau no PIN handphone ku dari dulu. Manda, tolong mengertilah."
Pria itu memohon.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku akan memaklumi apa yang kau lakukan, jika wanita itu sendiri yang memberi penjelasan padaku. Kalau tidak, jangan berharap kau bisa bertemu denganku lagi."
Wanita itu berucap dengan nada bengis. Dia berbalik dan mulai melangkah meninggalkan Mikail.
"Amanda! Tolong dengarkan aku."
Mikail menahan tangan kekasihnya.
Amanda menoleh dan menarik tangannya kasar.
"Bukankah kau mengenalku? Pokoknya kalau istrimu tidak mau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, maka aku tidak akan pernah memaafkan dirimu."
Ucapnya, kemudian melanjutkan langkah.
Sepeninggal Amanda, Mikail masih terdiam di tempatnya berdiri. Pria itu hanya bisa menatap pias pada punggung kekasihnya yang sudah mulai menjauh.
__ADS_1
Mikail mengacak rambutnya asal, pria itu merasa sangat frustrasi atas apa yang terjadi.
"Brengsek! Gara-gara si itik nih."
Mikail mengekuarkan HP dari kantong celanyanya. Memperhatikan ulang foto yang menjadi sumber masalah.
"Ngomong-ngomong. Kenapa dia bisa tidur sambil memelukku seperti ini? Bukankah Biasanya kami tidur dengan dibatasi 2 bantal guling. Lalu kenapa dia bisa berada di sampingku?"
Berbagai pertanyaan muncul di benak pria itu.
"Apa jangan-jangan... dia memang sengaja mencari kesempatan untuk memeluk tubuhku?"
Jiwa narsisnya meronta.
***
Sementara itu, di sebuah kelas yang di isi oleh anak berusia sekitar 5 hingga 6 tahun. Terlihat tengah asik menyanyikan Salawat Nabi.
Dan yang menjadi pemimpin dari mereka adalah seorang wanita cantik nan ayu, yang bernama Husna nur Haziah.
Di dalam kelas terdengar keriuhan. Anak-anak terlihat sangat antusias dan menerima Husna dengan baik. Mereka bahkan bisa langsung akrab dengannya.
Hingga tak terasa waktu pulang sekolah berakhir. Husna dan salah satu rekannya menanti para murid bersalaman.
Setelah hampir semua anak keluar. Husna melihat salah satu anak masih duduk di kursinya dengan wajah yang ditekuk.
Husna yang heran langsung bertanya pada rekannya, tantang kenapa si anak belum juga keluar dari kelas.
Namun jawaban yang di dapat Husna sangatlah membuat hatinya miris.
"Namanya Salsa, dia anak dari seorang pengusaha sukses. Ayah dan ibunya sudah bercerai, dan dia tinggal bersama ayah dan ART yang bekerja di rumahnya. Anak itu memang selalu sedih ketika waktu sekolah sudah berakhir. Dia merasa bahwa di sekolah lebih menyenangkan daripada di rumahnya sepi."
Ucap rekan Husna tadi dengan nada sedih.
Hati Husna terenyuh mendengar jawaban yang diberikan oleh wanita dihadapannya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun berjalan kearah sang anak kecil.
Dan, rekannya pun pergi meninggalkan mereka di sana.
"Hai Salsa! Bolehkah ibu duduk di sini?"
Pertanyaan yang di ajukan oleh Husna tak mendapat jawaban. Anak itu masih sibuk mewarnai lukisannya.
"Salsa, apa Ibuk boleh bergabung? Ibu juga suka melukis lo."
Husna masih berusaha.
Namun, usahanya masih gagal.
"Wow, Lukisan kamu cantik juga. Apakah ini gambar ikan?"
Tanya Husna lagi.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Salsa mengangkat wajahnya.
"Ini bukan ikan. Ini gambar kapal."
Ucap wanita itu dengan nada suara imutnya.
Sudut bibir Husna terangkat, sebenarnya wanita itu tahu bahwa yang digambar oleh anak kecil itu adalah lukisan kapal yang sedang berlayar. Ia memang sengaja memancing agar gadis kecil di hadapannya ini mau membuka suara.
"Oh, Ternyata kapal. Tapi, bukankah seharusnya kapal itu ada Nahkodanya?"'
"Nahkoda itu apa?"
Tanya Salsa mulai merasa penasaran.
"Nahkoda itu adalah orang yang paling hebat di atas kapal. Dialah orang yang mengemudikan kapal, hingga kapal itu bisa berjalan dengan baik di lautan."
Ucap Husna lagi.
"Apa maksud ibu nahkoda itu sama dengan Pak Amin?"
Salsa bertanya lagi.
Husna berfikir sebentar.
__ADS_1
"Pak Amin itu siapa?"
Husna bertanya, bingung.
"Pak Amin adalah orang yang selalu mengantarkan Salsa pergi ke sekolah. Pak Amin juga suka mengantar Papi ke kantor."
Ucap Gadis itu mulai panjang lebar.
"Salsa mari kita pulang!"
Seorang pria tampan dengan tinggi sekitar 170 lebih, sudah berdiri tegak di belakang Husna. Membuat wanita itu spontan berdiri.
Lelaki itu juga menatap tajam pada wanita yang tadi asik mengobrol dengan anaknya. Dia merasa belum pernah melihat Husna sebelum ini.
"Selamat siang pak Andre. Ini adalah guru baru di TK kita. Namanya Bu Husna"
Tiba-tiba ibu kepala sekolah juga sudah berada di belakang pria bernama Andre itu. Beliau Mulai memperkenalkan Husna pada pria yang menatapnya dingin tadi.
"Hem."
jawabnya dingin sambil berlalu melewati Husna. Pria itu membereskan barang anaknya, lalu menggendong gadis kecil itu, dan berlalu tanpa permisi.
"Astaghfirullahaladzim, kok masih ada ya orang sombong seperti itu?"
Ucapan Husna lolos ketika pria yang membuatnya terpelongo itu sudah menghilang di balik pintu.
Ibu kepala sekolah yang mendengar ucapan Husna, terlihat menyunggingkan senyumnya.
"Namanya juga orang kaya, pak Andre adalah satu-satunya pewaris dari yayasan sekolah ini. Bukan hanya itu, beliau juga termasuk dalam jajaran pengusaha muda sukses dalam negri ini."
Tambah wanita tadi.
"Tapi tidak semua orang kaya seperti itu Buk. Saya bahkan pernah bertemu dengan orang yang lebih kaya dari pada dia. Tapi, mereka terlihat biasa saja. Saya rasa tidak ada ukuran harta dalam akhlak seseorang."
Ucap Husna.
"Kamu benar Husna. Mungkin karena baru saja bercerai dengan istrinya. Makanya beliau menjadi seperti itu. Hus maaf, saya jadi membicarakan orang."
Ibu kepala sekolah tadi segera menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa buk. Sekali-sekali kita butuh pelepasan hati."
Jawab Husna sambil memberi senyuman.
"Husna, ada pria yang mencari kamu di parkiran."
Tiba-tiba Lisa, rekannya tadi memberi kabar.
"Siapa mbak?"
Ia bertanya bingung.
"Katanya, suami kamu."
Huna sedikit terkesiap, gadis itu heran dari mana Mikail tahu tempatnya bekerja.
"Makasih mbak!" ucapnya pada Lisa yang berdiri di depan pintu.
Dan Gadis itu pun menjawab dengan senyuman, kemudian melangkah menjauh.
" Maaf buk. Saya permisi sebentar"
Husna meminta izin kepada Mita, sang kepala sekolah.
"Baiklah."
Wanita itu memberi ijin dan keluar dari kelas itu lebih dahulu.
Meninggalkan Husna dengan pikiran yang terus bertanya , dari mana pria itu mengetahui tempatnya bekerja. Dan apa yang membawanya datang ke sini.
Meski bingung, Husna tetap melangkah menuju tempat di mana pria itu menunggunya.
TBC
MOHON BANTU VOTE, LIKE, BERI HADIAH DAN SILAHKAN BERKOMEN RIA.
__ADS_1
MAKASIH.