
"Apa kau sesenang itu berduaan dengan duda kaya itu?"
Kalimat pertama yang di terima Husna begitu ia baru menginjakkan kaki dalam rumah.
"Maksud mas apa?"
Husna menatap bingung.
"Andre. Apa kau menyukai nya?"
Tanya Mikhail lagi.
"Apa mas cemburu?"
Husna balik bertanya.
"Hahaha... kepercayaan diri dari mana itu? Kau tahu betul siapa yang aku cintai. Jadi untuk apa aku cemburu padamu."
Mikhail mengelak.
"Baiklah. Kalau begitu, jangan hiraukan aku. Siapapun yang dekat denganku. Itu tidak ada hubungannya dengan mas."
Husna melangkah menuju kamarnya.
"Berengsek si itik. Dia bahkan sudah berani melotot ke arahku."
Mikhail menatap pada pintu kamar yang sudah di tutup oleh penghuninya.
Husna segera membaringkan dirinya di ranjang. Ia kembali mengingat kalimat Mikhail tadi.
"Kalau dia tak perduli, untuk apa dia bertanya. Bukankah selama ini dia selalu masa bodoh dengan urusanku?"
Husna mulai merasa kalau Mikhail semakin mencampuri urusan pribadinya.
"Akh, palingan dia tidak ada kerjaan. Makanya dia sibuk membuatku sakit hati."
Ia bangkit untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan urusan pribadinya, Husna kembali keluar dan mulai menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Aku makan malam di luar dengan Amanda. Jadi, kau makanlah sendiri!"
Ucapan Mikhail yang tiba-tiba saja datang mampu membuat Husna menghentikan tangan dari mengaduk makanan, ia lalu memutar badan.
"Oke, selamat menikmati."
Wanita itu tersenyum lebar untuk membuktikan kalau dia baik-baik saja.
"Kenapa dia tidak marah? Bukankah aku sudah kelewatan. Dia sudah susah payah memasak, tapi aku malah makan di luar."
Mikhail menatap Husna bingung.
"Loh Mas, kok masih di sini. Katanya mau makan di luar. Pergilah Aku akan segera menutup pintu."
Husna berjalan mendahului Mikhail untuk membukakan pria itu pintu.
"Kret"
Suara pintu ditutup.
"Kenapa malah aku yang sakit hati?"
Mikhail menatap pintu yang baru di tutup oleh istrinya dengan tatapan kesal.
"Akh, persetan dengan si itik. Setiap kali memikirkan sikapnya padaku, selalu saja bisa membuatku kesal."
Mikhail segera berlalu masuk ke mobilnya.
Sebenarnya pria itu bukan pergi menjumpai Amanda, ia hanya sengaja menguji apakah Husna merasa terganggu dengan acara kencan pura-puranya. Tapi ternyata rencana Mikhail tidak berhasil, Husna malah terlihat senang dengan kepergiannya.
Wanita tadi kembali ke dapur. Ia menyelesaikan pekerjaan dan menikmati hidangannya sendiri.,
setelah itu ia menyimpan sisa makanannya ke dalam lemari pendingin.
Husna kembali menatap sekeliling. Memastikan kalau ruangan sudah bersih dan rapi. Ia memamg tipe yang tidak bisa memejamkan mata jika sekelilingnya ada yang tidak beres.
Pagi Harinya.
Mikhail sedikit terheran saat melihat Husna sibuk memasukkan makanan ke dalam kotak bekal. Hal yang tak biasa di lakulan oleh wanita itu.
Setelah sarapan, mereka berjalan hampir beriringan menuju halaman rumah. Tidak seperti kemarin, hari ini Mikhail langsung menawari Husna untuk ikut dengannya pergi ke tempat kerja.
"Kenapa kau tumben sekali membawa kotak bekal. Apa nanti kau ada lembur?"
Rasa penasaran Mikhail tak tertahan lagi
"Ini bukan untukku. Tapi buat Salsa."
__ADS_1
Gadis itu menjawab singkat.
"Apa dia sedang berusaha untuk merebut perhatian duda kaya itu lewat anaknya?"
Mikhail kembali merasa tidak nyaman.
"Apa dia kekurangan makanan? Hingga kau harus membawakannya dari rumah kita?"
Mikhail berucap ketus.
"Ini adalah masakan yang kumasak untukmu semalam. Dari pada tidak ada yang memakannya, lebih baik aku berbagi dengan murid ku."
Husna berucap santai.
"Jadi kau memberinya makanan sisa?"
"Ini bukan sisa. Setelah memasak aku langsung menaruhnya di lemari pendingin dan bisa di jamin masakan ini masih layak untuk di nikmati."
Husna menjawab kesal.
Tak lama mereka sampai. Husna membuka sabuk pengaman dan bersiap untuk turun.
Ia segera meraih rantang tadi, namun entah kenapa ia merasa ada yang menahan benda itu.
Husna menoleh, dan ternyata tangan Mikhail sudah menempel di sisi sebelahnya.
"Lepasin mas! Aku sudah terlambat."
Pintanya.
"Bukankah semalam kau memasak ini untukku? Berarti makanan ini punyaku dan kau tidak boleh memberikannya pada orang lain."
Mikhail menarik kasar, hingga rantang tadi terlepas dari tangan Husna.
Husna terheran. Ia tak mengerti kenapa Mikhail bersikap kekanakan seperti itu.
"Terima kasih sudah mengantar."
Wanita itu berlalu dengan hati yang terus bertanya-tanya.
Sepeninggal Husna, Pria tadi melanjutkan perjalanannya. Terlihat senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu bedekatan dengan pria itu."
Ia berkomat-kamit seorang diri.
Aidhil berkata pada sang anak ketika mereka mengopi bersama di ruangan Mikhail.
"Kenapa bukan papa saja? Mikha masih belum begitu mengenal rekan bisnis papa."
Tolak Mikhail halus.
"Justru karena itulah, kau harus sering datang ke acara seperti ini"
"Tapi Pa."
"Pergilah dan ajak juga Husna, perkenalkan istrimu pada Pak Hasan! Karena istri beliau selalu penasaran siapa menantu papa."
Ucapan Aidhil kali ini tak mampu di tolak oleh pria itu.
Setelah obrolan mereka tadi, akhirnya sang ayah berlalu menuju ruangann nya sendiri.
"Hai sayang!"
Seorang wanita tiba-tiba masuk tanpa mengetuk.
"Maaf Pak Mikail. Saya tadi sudah mencoba menahan Nona ini, tapi beliau tetap bersikeras untuk masuk ke sini."
Uci, sekretaris pria itu berucap.
"Tidak apa-apa. Kamu boleh kembali ke meja kerja kamu."
Titah Mikhail dengan wajah terkejutnya.
Gadis yang bernama Uci tadi mengangguk, kemudian keluar dari sana.
"Sayang..."
Amanda membuka tangannya lebar dan berlari kecil mendekat ke arah Mikhail.
"Manda, jangan seperti ini. Kita lagi di kantor."
Mikhail cepat menahan tangan wanita seksi itu tepat sebelum merangkul Mikhail.
Gadis itu langsung memanyunkan bibir kesal.
"Kamu kenapa sih. Di sini kan tidak ada orang."
__ADS_1
Dia melipat tangan di depan dada.
"Meski tidak ada orang. Tapi di sini ada CCTV. Aku tidak mau Papa melihat aksi tidak pantas kita di sini."
Jawab pria itu sambil berjalan ke arah sofa.
"Duduklah!"
Mikhail mendudukkan dirinya terlebih dahulu.
Dengan wajah yang masih kesal. Amanda mengikuti arahan yang di berikan oleh kekasihnya.
"Kenapa kau kesini. Bukankah sudah kukatakan untuk jangan menemui ku di kantor? Papa bisa kapan saja memergoki kita di sini, dan itu bisa berbahaya."
Mikhail berucap tegas.
"Mikhail, Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kalau kau selalu menghindar setiap kali bertemu denganku. Kau sudah berubah, Kau tidak seperti biasanya."
"Aku hanya takut jika papa memergoki kita."
Mikhail masih beralasan sama.
"Apa benar hanya Itu alasannya aku tidak boleh datang ke sini? Atau memang kau sudah tidak suka lagi bertemu denganku?"
Amanda berucap dengan nada penuh kekesalan.
Tangan Mikhail terangkat untuk mengusap kepala sang pacar.
"Sayang, tolong jangan memperpanjang masalah ini! Aku masih mencintaimu dan tentu saja aku suka bertemu denganmu. Hanya saja tempat ini sangat rawan. Jika papa tau, habislah aku."
Mikhail meyakinkan.
"Benarkah?"
"Apa aku pernah berbohong?"
Pria itu berusaha untuk terlihat bersungguh-sungguh.
Mikhail akhir-akhir ini memang selalu merasa tidak sebahagia dulu ketika bertemu dengan wanita rambut pirang itu.
Namun ia selalu berusaha untuk menolak perubahan yang terus di rasakannya.
"Makasih sayang,"
Amanda ingin memeluk kembali, namun Mikhail lagi lagi menepisnya.
"Ingat, ini kantor."
"Maaf."
Gadis itu tersenyum. Amanda menatap sekeliling,
"Rantang siapa itu?"
Dia bertanya dengan mata menyelidik.
"Itu makanan yang dikirim Mama dari rumah."
Jawab Mikhail berbohong.
"Apa yang membawamu ke sini?"
Pria itu berusaha mengalihkan perhatian Amanda.
"Aku ingin mengajak mu ke club malam ini. Ada temanku yang berulang tahun."
Amanda berucap.
Mikhail terdiam sesaat.
"Malam ini aku harus kepesta teman bisnis papa. Tapi akan ku usahakan datang sebelum tengah malam."
Jawabnya mengiyakan.
"Apa kau janji?" Amanda bertanya serius
Mikhail mengangguk, mengiyakan.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti malam sayang, Muach."
Amanda mendaratkan kecupan kilat, kemudian melangkah keluar.
Sepeninggal Amanda, Mikhail segera meraih tisu dan langsung menyeka bekas bibir wanita tadi di pipinya.
"Ada apa denganku? Kenapa kecupan Amanda terasa aneh dan membuatku risih?"
Mikhail bertanya tanya dalam hati.
__ADS_1
TBC