Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 47


__ADS_3

Husna membawakan baskom yang berisi air es ke dalam kamar tempat Mikhail berada. Air ini akan di gunakannya untuk mengobati lebam di pipi kiri pria itu.


"Aku tidak papa."


Sang suami tersenyum saat melihat raut kekhawatiran yang terpancar jelas di wajah istrinya.


"Nggak papa gimana mas? Liat aja muka kamu tuh biru, trus bengkak lagi."


Husna menempelkan kain yang sudah di rendam terlebih dahulu ke dalam air tadi.


"Ahk.."


Mikhail sedikit mengernyit saat kain itu menempel di pipinya, ada sedikit rasa perih yang semakin menjadi. Namun hanya sementara, rasa perih tadi segera berkurang karena sensasi dingin yang di terima.


"Maaf mas. Apa aku kekencengan?"


Husna semakin merasa bersalah.


"Tidak! Ini sudah lumayan kok. Lagi pula, lebam ini belum apa-apanya jika di bandingkan penderitaan yang kau terima selama menjadi istriku."


Husna menjadi terenyuh mendengar kalimat sang suami. Dia mencoba menahan rasa harunya dengan tetap fokus mengobati wajah Mikhail.


"Mas, tolong maafkan Mas Husyein. Dia melakulan itu karena rasa sayangnya terhadapku."


"Aku tidak marah sama sekali. Mas Husyein bukan hanya kakak mu saja, tapi dia juga adalah kakak ku. Wajar jika dia menegur saat aku melakukan kesalahan."


Mikhail berucap dengan tulus.


Husna senang karena suaminya sudah berubah semakin dewasa, dan dia bangga dengan semua perubahan dalam hal positif yang di tunjukkan olehnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau sedang melepaskan rasa rindumu?"


Mikhail berucap usil.


"Ih, mas kepedean ah."


Gadis itu akhirnya bisa tersenyum dengan wajah merona.


"Ehm, ehm."


Deheman dari seorang pria, berhasil mengalihkan perhatian sepasang suami istri yang tadi mulai mencair. Dan ternyata orang itu adalah Shaleh, ayah dari Husna.


"Mikha, kalau bisa tolong maafkan Husyein, dia lepas kontrol. Mungkin karena Husna adalah adik satu-satunya, karena itulah dia merasa kecewa dengan apa yang terjadi."


Shaleh berdiri di pintu, dia merasa prihatin atas insiden yang terjadi antara anak dan keponakan-nya tadi.


"Tidak apa-apa bah. Mikha paham bagaimana perasaan mas Husyein."


Mikhail merasa sedikit terpukul dengan kata maaf dari ayah mertuanya.


"Aidhil, Nani dan Aisyah sudah berangkat ke sini. Kemungkinan 2 jam lagi mereka sudah sampai, istitahatlah! Tunggu orang tuamu tiba, baru kita membicarakan hal ini lagi."


Ucap Shaleh lagi.


Mikhail mengangguk, ia mengambil alih kain yang di pegang Husna kemudian mengompres wajahnya sendiri.


"Husna, kembalilah ke dapur."


Shaleh berucap di sela langkahnya menjauh.


"Iya bah."

__ADS_1


Husna mengangguk lembut.


"Pergilah!"


Mikhail tersenyum. Ia mengerti kenapa sang ayah mertua menyuruh Husna untuk pergi dari situ.


Husna tersenyum, kemudian berjalan menuju tempat yang di maksud sang ayah.


"Kenapa kau lama sekali di sana?"


Ningsih langsung menyambut sang anak dengan tatapan tak suka.


"Husna membantu mas Mikha mengompres lukanya dulu umma."


Jawabnya jujur.


"Dia bukan anak kecil. Jadi dia pasti tau cara mengurus dirinya sendiri."


Ningsih masih menatap Husna dengan tatapan tajam.


"Iya, maaf umma."


Husna malas berdebat jadi dia memilih untuk mengalah. Tangannya kembali melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.


"Ningsih. Bisakah kita berbicara sebentar?"


Shaleh memanggil sang istri.


Wanita paruh baya itu menatap suaminya sebentar, lalu lanjut mengikuti langkah pria yang sudah menikahinya puluhan tahun lalu itu.


"Duduklah! Kita harus membicarakan hal ini dengan baik."


"Apa yang ingin mas bicarakan? Kalau ini masalah Husna, bukankah kita sudah membicarakannya kemarin?"


Ningsih ikut duduk.


"Iya, tapi aku ingin kau memberi kelonggaran pada Mikhail. Dia sudah menyesal dan ingin memperbaiki semuanya, jadi berilah dia kesempatan."


"Mas,"


Ningsih berucap dengan nada yang mulai tidak enak.


"Bagaimana bisa mas meminta ku untuk membiarkan putri kita jatuh ke lubang penderitaan untuk yang kedua kalinya? Pria itu pengkhianat mas, sekali berkhianat maka di pasti akan mengulanginya lagi di masa depan."


Mata Ningsih terlihat berapi.


"Tidak, aku yakin Mikhail tidak akan melakukannya lagi. Aku bisa merasakan penyesalan yang teramat besar dari sorot matanya."


Shaleh mencoba meyakinkan.


"Tapi aku tidak dapat merasakan hal itu mas. Bagiku dia hanyalah seorang pria yang tidak bisa menghargai istrinya. Jangan mentang-mentang dia adalah keponakan mu, hingga mas menutup mata atas semua kesalahannya."


Ibu dari 2 orang anak tadi masih bersikeras.


"Ningsih, jangan terbawa emosi, Istigfar! Mas mengatakan ini bukan karena Mikha adalah keponakan mas. Mas hanya tidak ingin keegoisan kita malah menghancurkan hidup Husna. Ingatlah, semua pria tidak sama."


Shaleh membelai punggung sang istri supaya kemarahannya mereda.


"Apa sekarang mas menyindir ku?"


Tatapan Ningsih kian tajam.

__ADS_1


"Astagfirullah, istigfar! Kenapa kau menjadi se sensitif ini?"


"Bukan aku yang sensitif mas, tapi dirimulah yang tidak peka. Aku ingin mereka berpisah sebelum semuanya terlambat. Mikha tidak baik untuk Husna, karena itu aku ingin mereka mengakhiri semuanya."


Ningsih berdiri.


"Apa kau yakin semua ini akan membuat putrimu bahagia?"


Pertanyaan Shaleh mampu membuat Ningsih terdiam.


"Mikhail jauh berbeda dengan pria itu, jadi jangan melihatnya dengan sisi yang sama."


Tambah pria paruh baya itu lagi.


"Aku tidak pernah menyamakan Mikha dengan laki-laki berengsek itu mas. Tapi kenyataannya sifat mereka memang sama."


Wanita itu lanjut berucap di sela langkah.


Meninggalkan Shaleh dengan pikiran kian kusut, dia tahu kalau Ningsih memang terbawa luka lama yang membuatnya begitu emosional.


Luka yang pernah di goreskan oleh mantan suami pertama istrinya, ayah dari Husyein. Pria yang meninggalkan Ningsih demi wanita lain ketika wanita itu hamil 8 bulan.


Karena begitu dalam luka, hingga membuat wanita itu selalu emosi setiap kali mendengar kata perselingkuhan. Di sebabkan luka itu jua lah, dia sangat berat memaafkan sang menantu.


Shaleh semakin bingung, dia tau bahwa Mikhail tidak sejahat yang di pikirkan oleh istrinya. Meski memang sang keponakan bersalah, tapi setidaknya Mikhail sudah benar-benar berubah dan menyesali semuanya.


Satu hal yang terpenting dari semua itu adalah, Husna mencintai Mikhail. Semua terlihat jelas dari cara sang anak mengkhawatirkan suaminya. Shaleh dapat merasakan bagaimana Husna menatap pada pria yang dulu menyakitinya itu. Jika mereka di pisahkan, maka hal ini akan semakin menyakiti Husna.


Sementara itu di tempat lain..


Pria yang tadi sudah memukuli Mikhail terlihat duduk di halaman belakang. Saat ini dia masih berusaha menahan amarah yang tadi menguasai dirinya.


"Apa tangan mas baik-baik saja?"


Husna datang membawakan mangkok yang berisi es, sama seperti Mikhail tadi. Dia meraih tangan sang kakak dan mulai mengompresnya pelan. Ia tahu kalau tangan Husyein pasti juga merasa kesakitan.


Pria itu hanya terdiam melihat wajah polos sang adik.


"Apa kau tidak marah padaku?"


Tanyanya.


"Kenapa harus marah mas? Aku tau kalau mas melakukan hal itu, pasti karena rasa sayang mas terhadapku."


Husna memberikan senyuman teduh pada sang kakak.


"Maaf, hanya saja pria itu memang pantas mendapatkannya."


Jawab Husyein lagi.


"Aku tau kalau mas Mikhail memang salah. Tapi alangkah bijaknya jika kita bisa menyelesaikan ini dengan kepala dingin. Bukan dengan cara bermain fisik seperti tadi."


Husna mencoba mengingatkan sang kakak


"Mas tau, tapi tadi mas hilang kendali. Mas jamin untuk kedepannya akan berusaha selalu menjaga emosi."


Husyein membelai kepala berkerudung sang adik.


Husna tersenyum dan lanjut mengerjakan tugasnya. Dia tau kalau Husyein pasti sudah menyesali apa yang telah terjadi, karena dasarnya lelaki di hadapannya saat ini adalah pria hangat yang penuh dengan kasih sayang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2