Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 35


__ADS_3

"Awak nak minum?"


Seorang pria menawari sebotol air mineral pada gadis yang duduk di bangku belakang.


Wanita itu menggeleng sambil tersenyum manis.


"Terima kasih. Saya sudah punya."


Husna memperlihatkan botol air yang sedari tadi terletak di samping kanannya.


"O, Awak dah ada. Sorry, saya tak nampak."


Hafiz membalas senyum.


"Tidak papa, makasih tawarannya."


Gadis itu berdiri.


"Awak, tunggu! Awak Nak kemane?"


Kalimat Hafiz mampu menghentikan langkah yang baru mulai melaju.


"Kelas saya sudah habis. Jadi saya akan pulang ke rumah."


"Oh, kalau macam tu, saya antar awak lah."


Hafiz ikut berdiri dan berjalan mendekat.


"Tidak usah, saya tidak enak jika harus merepotkan orang lain"


Husna menolak untuk yang kesekian kalinya.


"Tak de lah susah sangat, enjoy je. Jum!"


Hafiz terdengar sedikit memaksa.


"Maaf saya tidak bisa ikut dengan mas. Karena saya tidak boleh berduaan dengan pria yang bukan mahram saya."


Langkah Hafiz tertahan, ia sangat tersentuh mendengar jawaban dari wanita berkerudung di belakang. Pria itu akhirnya paham dengan alasan, kenapa Husan selalu menolak semua ajakannya selama ini.


"Awak betul. Maaf, saya tak seda. Kalau macam tu, saya temankan awak sampai ke halte bis je."


Hafiz kembali menawari diri untuk membantu.


Husna akhirnya tak punya pilihan selain mengikuti pria di tadi. Sebenarnya ia ingin kembali menolak, namun ada sedikit rasa segan yang di rasakan. Karena Hafiz adalah pria yang sangat baik dan juga selalu bersedia membantu meski tanpa di minta.


Pria itu juga lembut, periang dan ramah. Satu paket komplit yang tak di miliki suaminya, Mikhail.


Begitu sampai di halte, bis yang akan menuju ke tempat tinggal wanita tadi kebetulan sudah berdiri menurunkan penumpang.


"Mas Hafiz, itu bis saya. Makasih sudah mengantar."


Husna berjalan mendahului sang rekan.


"Elok elok, jangan lupe jaga diri."


Hafiz agak mengencangkan suara, berharap Husna yang sudah masuk ke dalam bis dapat mendengar teriakannya.


Wanita itu menoleh. Dia memberi senyum dan anggukan. Tak lama mobil langsung melaju, meninggalkan anak sultan dari negri jiran tadi di sana.


Wanita itu kembali membayangkan sifat Hafiz akhir akhir ini, dia sepertinya selalu ada di setiap langkah. Bahkan semua mata kuliah mereka saat ini juga sama.


Husna sebenarnya tak nyaman, ia merasa tidak pantas jika dirinya selalu terlihat dengan pria lain, padahal dia sudah memiliki suami.


Meski suami yang tak punya rasa peduli. Bahkan setelah kepergian selama 3 bulan, pria itu tak pernah sekalipun menanyai kabar dirinya.

__ADS_1


Sebenarnya ia sangat sedih dan kecewa. Namun Husna berfikir mungkin inilah yang terbaik untuk mereka. Meski berat, ia harus berusaha untuk hidup tanpa bayangan pria kasar, yang sudah berhasil merebut hatinya itu.


"Hum,, ah.."


Wanita itu menarik dan membuang nafas panjang. Ia mengeluarkan ponsel dan kembali memandangi foto pernikahan mereka.


"Seharusnya aku sudah bisa melupakan pria yang tak punya hati ini. Tapi, entah kenapa, dia selalu saja muncul di benakku."


Husna memandang wajah tampan itu lekat dan penuh haru. Hingga tanpa terasa, air mata sudah menetes membasahi pipi wanita 21 tahun itu.


Entah berapa lama ia memandangi layar benda pipih yang berada di genggamannya. Hingga panggilan pemberhentian memutus lamunan.


Dia turun dan melangkah menuju kontrakan kecil yang di sewa bersama dengan seorang rekan sesama warga negara Indonesia.


"Kenapa pintunya terbuka? Apa Sania sedang libur?"


Husna sedikit terheran dengan kondisi rumah. Karena seperti yang ia tahu, biasanya sang teman saat ini sedang berada di cafe, tempat wanita yang bernama Sania itu bekerja paruh waktu.


Husna masuk, lalu ia mengunci pintu kembali.


"Assalammualikum"


Ia berucap dengan nada sedikit kuat.


Namun hingga berapa saat, salam gadis itu tak kunjung ada yang menjawab. Ia kemudian lanjut melangkah menuju kamar sang rekan, yang ternyata orangnya tidak ada di tempat.


"Kemana gadis itu?"


Husna lanjut melangkah menuju dapur, dan di sana juga tidak ada.


Karena Sania tak kunjung terlihat, akhirnya gadis itu memilih untuk kembali ke kamarnya sendiri.


Hal pertama yang di tangkap ketika Husna membuka pintu adalah, suara gemercik air di kamar mandi.


"Kenapa dia mandi di kamarku? Apa air di kamarnya sedang bermasalah?"


Hingga tanpa di sadari, wanita itu akhirnya terlelap dan masuk ka alam mimpi.


Tak lama, seorang anak manusia keluar dari kamar mandi dan langsung menatap pada wanita tadi dengan tatapan kerinduan.


Rindu yang penuh dengan rasa cinta membara.


Dia berjalan ke sudut lemari, mengganti baju kemudian menyusul sang istri berbaring di ranjang yang sama.


Mikhail membuka selimut, ia mulai mendekat dan menarik Husna untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya. Membelai dan menciumi kening wanita itu berkali-kali.


"Apa kau tau betapa aku merindukanmu?"


Bisik Mikhail.


Pria itu kian mengeratkan pelukan, membelai dan terus menikmati aroma yang sudah beberapa bulan ini mampu membuatnya gila. Entah berapa lama, hingga akhirnya ia menyusul wanita itu untuk masuk ke alam nawah sadar.


Waktu berlalu, Husna terbangun begitu mendengar suara Adzan magrib menggema.


"Astagfirullah."


Husna dengan penuh keterkejutan segera menepis tangan yang sedang melingkar di perutnya.


"Sania, kenapa kamu tidur di sini?"


Husna sedikit mengguncang tubuh yang tengan tertimbun di balik selimut.


Tanpa menunggu jawaban, gadis itu bangkit. Mandi dan segera melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan.


"Ting."

__ADS_1


Suara dering pesan masuk, menggema di penghujung do'anya.


"Aku tidur di tempat teman. Selamat bersenang senang, heheheh..."


Begitulah pesan yang di tertulis di sana.


"Dug, dug,"


Setelah membaca, Husna sontak menjatuhkan benda itu dari tangannya. Hati dan pikiran Husna kacau dan penuh ketakutan. Ia mulai gemetar memikirkan siapa orang yang berada di ranjangnya saat ini.


Wanita itu memaksakan kaki untuk berdiri sambil terus menatap ke arah tempat tidur. Berjalan pelan, lalu mengambil sebuah pemukul dan bersiap untuk menghajar orang di balik selimut.


"Astagfirullah, dia seorang pria."


Tangan wanita itu kian gemetar saat melihat bulu kaki nan lebat dari betis pria yang sedang tidur dengan posisi tertelungkup itu.


Husna dengan geram mulai melayangkan tongkatnya, ia terus memukul tanpa ampun.


"Bug, bug, bug."


Pukulan telak mendarat di punggung dan pantat sang suami.


"Dasar pria mesum, beraninya kau masuk dan tidur di ranjangku."


Teriak wanita itu dengan terus memukul sambil menutup matanya rapat rapat.


"Akh. Aw."


Mikhail yang mendapat serangan segera mendudukkan diri.


Ia merebut paksa tongkat wanita yang tengah memukulnya, kemudian menarik hingga wanita itu terjatih ke dalam pelukan nya.


"Apa begini caramu menyambut suami yang sudah 3 bulan tidak kau beri kabar?"


Ucapan Mikhail mampu meenghentikan perlawanan yang di berikan wanita yang tengah berusaha lepas dari pelukan.


Saat mendengar suara yang sangat di kenal dan juga dirinduinya, wanita itu dengan hati yang tak karuan mulai memberanikan diri untuk membuka mata.


"Apa kau tidak merindukanku?"


Kalimat selanjutnya mampu membuat hati Husna berdesir.


"Hiks, hiks, hiks."


Tangis wanita itu akhirnya pecah.


Mikhail menjadi bingung. Ia tak mengerti kenapa sang istri tiba tiba saja menangis.


Ia menurunkan Husna, dan mendudukkan di sebelahnya.


"Kenapa, kau menangis?"


Mikhail membelai ke dua pipi sang istri, ia menjadi kian risau karena isakannya semakin terdengar laju.


Husna terus tersedu, ia menangis karena perasaan yang sulit di bendung. Rasa takut, rindu dan bahagia yang bersatu di relung hati hingga membuatnya tak mampu berkata.


Takut akan rasa cinta yang ternyata masih ada, rindu yang terpendam akhirnya terbalaskan, dan rasa bahagia yang tak terkatakan karena dapat melihat pria itu lagi.


Rasa yang membuatnya tak mengerti apa yang harus di lakukan.


Ia juga tak paham dengan tujuan pria itu datang menjumpainya.


"Apakah dia datang untuk mengantarkan surat perceraian?"


Gumamnya di sela isakan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2