
"Duduklah!"
Mikhail yang baru saja sampai langsung di sambut wajah dingin dari kedua orang tuanya.
Pria itu sempat merasakan aura tegang, namun ia berusaha terlihat biasa dengan mendudukkan diri di hadapan 2 pasangan paruh baya itu.
"Aisyah, naik ke atas. Ini adalah pembicaraan orang dewasa."
Sang mama mengusir anak ke dua nya.
Tanpa banyak bicara, gadis berkerudung itu berdiri dari duduknya. Sebelum melangkah, ia sempat menatap Mikhail dengan pandangan permusuhan.
"Apa selama ini rumah tangga mu baik-baik saja?"
Nani memulai interogasi nya.
Kening Mikhail berpaut. Ia semakin merasa ada yang tidak beres, namun sebisa mungkin pria itu berpura-pura terlihat santai.
"Tentu saja mah, memang apa yang akan terjadi?"
Jawabnya bohong.
"Mikha, sampai kapan kamu mau menipu kami?"
Aidhil ikut berbicara.
"Menipu? Apa maksud papa?"
Pria itu mulai khawatir.
"Mikhail khairun fahlevi. Kau adalah putra kami satu-satunya, kau juga merupakan panutan bagi Aisyah, dan harapan terbesar kami ada padamu. Jika ada yang terjadi seharusnya kamu bisa membicarakannya dengan papa atau mama"
Aidhil melanjutkan.
"Pa, kemana arah pembicaraan kita ini? Mikha tidak paham."
Mikhail kian terlihat bingung.
"Apa benar kau masih tidak mencintai Husna?"
Sang ibu akhirnya memperjelas.
"Deg,"
Jantung pria itu langsung berdentum saat mendengar nama siapa yang di sebut.
"Katakan saja, supaya kita bisa mencari solusinya."
Aidhil menimpali.
Mikhail terdiam sesaat, tangannya mulai mengepal, menahan sesuatu yang tak nyaman di dadanya.
"Iya."
Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulutnya. Apa yang terucap sangat berbeda dengan apa yang tengah di rasakan.
Nani tersandar, tadinya wanita itu masih berharap Mikhail menjawabnya dengan ragu. Namun melihat betapa cepatnya pria itu menjawab, akhirnya Nani yakin kalau Mikhail benar-benar tidak mencintai sang keponakan.
"Apa setelah 8 bulan bersama kau belum merasakan apapun?"
__ADS_1
Lagi Aidhil melanjutkan.
"Tidak. Aku sudah bilang pada mama bahwa bukan dia wanita yang kuinginkan. Tapi mama terus memaksaku untuk menikahinya. Aku sudah mencobanya pa, ma. Tapi hatiku masih tidak mau memilihnya."
Mikhail berucap dengan menekan rasa perih di dada.
Nani mulai berlinang. Ia kian merasa bersalah pada anak dan wanita yang tengah menjadi perbincangan mereka.
"Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?"
Pertanyaan Aidhil kali ini mampu membuat Mikhail terdiam. Ia sendiri pun tidak tau apa yang dia inginkan.
"Apa kau mau menceraikannya?"
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Aidhil melanjutkan pertanyaannya.
Dagu Mikhail terangkat, kata cerai yang barusan di ucapkan sang ayah, mampu menambah sesak di dadanya.
"Tidak pa. Jangan bercerai sekarang, mama tidak tau bagaimana memberitahukan hal ini pada orang tua Husna dan ibu, setidaknya beri mama waktu."
Wanita paruh baya yang berlinang air mata itu cepat menghentikan pertanyaan suaminya.
"Ma, jika Mikhail dan Husna terus menderita, untuk apa kita menyuruh mereka untuk mempertahankan rumah tangganya."
Aidhil melanjutkan.
"Tunggu sebentar lagi pa. Beri Husna waktu untuk melanjutkan studi nya. Jika dia bercerai sekarang, maka statusnya tidak akan elok ketika ia berangkat ke turki."
Kalimat Nani kali ini mampu membuat Mikhail menatap nyalang pada ibunya.
"Apa maksud mama ke turki?"
Tanya pria itu dengan segenap keterkejutan nya.
Jawab sang ibu.
Mikhail refleks berdiri.
"Tidak bisa! Mikha tidak mengijinkan dia pergi."
Suara pria itu terdengar menggema.
Nani dan Aidhil saling pandang. Mereka tak mengerti kenapa reaksi Mikhail begitu hebat.
"Apa alasan mu hingga tak memberinya ijin?"
Tanya sang ibu.
Mikhail tergagap, ia mulai memikirkan alasan yang cukup masuk akal. Pria itu berjalan mendekat ke tempat mamanya duduk.
"Mah, kalau Husna melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Maka hubungan kami akan tergantung lebih lama."
Hanya itu alasan yang dapat di pikirkan pria itu saat ini.
"Tidak akan lama. Mama hanya meminta waktumu hingga mama bisa mengatakan masalah perceraian kalian pada orang tua Husna di kampung."
Nani berucap sambil menatap dalam pada bola mata sang anak.
"Ce.. cerai?"
__ADS_1
Tanya pria itu dengan dada yang semakin menyesak.
"Iya, mama sudah menyerah. Mama sadar kalau cinta memang tidak bisa di paksa. Karena itu lah mama akan menyetujui perceraian kalian."
Ucap Nani sambil membelai lengan sang anak.
"Dug, dug, dug,"
Jantung pria itu semakin berlalu dengan cepat, ada rasa sakit kian dalam yang semakin menusuk hatinya.
Tangan Mikhail meremas kuat pinggiran sofa. Sebagai penanda betapa susah pria itu menahan rasa tak nyamannya.
"Apa mama sudah membicarakan hal ini pada Husna? Apa dia setuju untuk bercerai?"
Mikhail mulai berharap kata penolakan dari wanita yang sudah di nikahinya beberapa bulan yang lalu.
"Iya, Husna sudah ikhlas jika harus menjanda. Dia juga yang meminta mama untuk memberikan mu kebebasan dalam menentukan hidupmu."
Jawaban sang ibu langsung membuat tubuh pria itu melemas.
"Ternyata dia memang tidak mempunyai perasaan ke padaku."
Gumam Mikhail.
"Bagaimana Mikha? Apa kau benar-benar tidak akan menyesali ini nantinya?"
Tanya Aidhil meyakinkan.
Mikhail menoleh dan terdiam untuk sesaat, sebenarnya ia sangat ingin berteriak bahwa dirinya sangat menyukai Husna. Namun rasa gengsi dan tidak ingin terkalahkan, terus saja membuatnya tak peduli dengan hati yang semakin memberontak.
"Ya pah, semakin cepat maka semakin baik. Mikha pulang dulu. Assalammualaikum."
Pria itu mencium punggung tangan orang tuanya bergantian, kemudian berlalu keluar dari sana.
"Ayolah Mikha, sakit ini hanya sesaat, begitu dia pergi nanti maka kau akan cepat melupakannya. kau sudah menang, mulai sekarang orang tuamu tidak akan pernah mengatur hidupmu lagi."
Pria itu membenamkan kepalanya ke stir mobil, ia terus meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Entah berapa lama waktu yang di perlukan oleh Mikhail dalam menenangkan hatinya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah yang selama ini di tinggali bersama Husna.
Hal pertama yang di lihatnya adalah ruang tamu yang sudah bersih dan rapi. Di sana sudah tidak ada lagi piring kotor yang tadi terletak di atas meja. Bertanda bahwa Husna sudah bangun dan membersihkannya sebelum ia berpindah ke kamar.
Mikhail mengunci pintu kembali, lalu menyeret langkahnya menuju sebuah kamar. Namun bukan tempat di mana ia biasa berdiam, melainkan kamar di mana sang istri berada.
Pria itu menarik gagangnya dan mengintip sekilas. Ia sangat tau kalau wanita itu memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya ketika ia sedang tidur.
Setelah pasti bahwa wanita di balik selimut itu sudah terlelap, Mikhail mendekat dan mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Menatap dalam wajah yang mampu membuatnya tak terkendali.
"Maaf, terima kasih sudah melayaniku selama 8 bulan ini. Ku harap kau bisa meraih cita-citamu."
Gumam pria itu dengan mata berlinang.
"Tes, tes, tes."
Akhirnya cairan bening itu tak terbendung. Mikhail dengan cepat menyekanya, ia menatap pilu pada buliran tadi.
Ia tak percaya bahwa perpisahan ini mampu menjatuhkan air mata yang mungkin sudah berpuluh tahun tak pernah keluar dari sarangnya. Ia kembali merenungkan hatinya.
"Apa aku benar-benar sudah sangat mencintai si itik ini? Dan, apa aku akan baik-baik saja saat dia sudah pergi?"
__ADS_1
Mikhail kembali merasakan kegelisahan yang kian menjadi.
TBC