
"Gimana, apa sudah mendingan?"
Husna memperdalam pandangan ke arah lebam wajah Mikhail.
"Yang ini sudah."
Pria itu memegang pipi.
"Tapi yang ini belum."
Lalu menunjuk bibirnya.
"Apa aku melukai bibir mu mas? "
Mata Husna menyipit, ia menatap intens mencari bagian mana yang terluka.
"Ya,"
"Mana?"
Gadis itu semakin mendekat, melihat bibir yang sepertinya biasa saja itu dengan lebih teliti lagi.
"Muach!"
Kecupan singkat mendarat tepat di bibir Husna, membuat matanya membola.
"Mas? "
Menuntut penjelasan.
"Berhentilah mencemaskanku! Aku tidak apa-apa."
Mikhail menggeser duduk dan menarik pelan tubuh Husna.
"Kau tau, aku sungguh setengah mati merindukanmu."
Mikhail membelai dan menciumi rambut Husna dengan penuh kasih sayang, seakan ingin menyalurkan rindu yang selama ini menyiksanya.
Senyum Husna terukir, ia begitu terharu di perlakukan selembut dan sehangat itu oleh pria yang dulu selalu membuat luka di hatinya.
"Terima kasih karena sudah mau mencintaiku sedalam ini mas."
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah mau menerima dan memaafkan kesalahanku dulu."
"Tidak usah di ungkit lagi mas, biarkan semuanya menjadi pelajaran untuk langkah kita kedepannya."
Husna menutup mata, menghirup aroma tubuh sang suami sambil menikmati momen kemesraan mereka.
"Husna!"
Setelah sekian menit Mikhail melepas pelukan, ia menggenggam tangan istrinya itu dengan segenap hati.
"Ya,"
Husna menatap wajah Mikhail, mencoba menerka keseriusan yang terlihat di raut pria itu.
"Beberapa waktu belakangan aku semakin menyadari kalau aku memang tidak mampu lagi hidup berjauhan seperti ini."
Mikhail berucap dengan segenap hatinya.
"Maksudnya mas?"
Husna kian bingung.
"Aku sudah memutuskan untuk menemanimu tinggal di sini hingga kuliah mu selesai."
Mikhail menjawab mantap.
Alis Husna terangkat, terdiam sesaat.
"Mas, aku kuliah di sini bukan sebulan dua bulan, tapi bertahun. Jika mas tinggal di sini dengan ku, bagaimana dengan pekerjaan mas di sana? Kasihan kalau papa harus mengurus kantor sendirian."
Husna bimbang.
"Aku tau, tapi aku benar benar tidak bisa hidup terpisah seperti ini lagi."
Mikhail mencium tangan Husna.
"Aku juga mas, tapi mau bagaimana lagi? Jika mas tinggal di sini bersamaku maka, gimana mama dan papa, bagaimana dengan perusahaan kalian? "
Husna mengungkapkan kegalauannya. Kalau mengikuti kata hati maka dia sangat bahagia mendengar keputusan suaminya itu. Namun ia tidak ingin menjadi egois dia tau kalau Mikhail adalah harapan terbesar dari mertuanya. Karena itu lah dia tidak menyetujui keputusan pria tampan di hadapannya itu.
Mikhail terdiam, dia tau kalau apa yang di Katakan Husna adalah kebenaran. Dia juga tau kalau keputusannya juga pasti akan di tentang oleh kedua orang tuanya.
"Tapi, aku memang tidak bisa hidup kalau kita terpisah terus."
__ADS_1
Mikhail berucap dengan wajah memelas.
"Iya mas aku tau. Tapi semua ini pasti bisa kita lewati, yang penting mas sabar dan selalu yakin kalau waktunya sampai maka kita pasti akan bersama lagi."
Husna membelai pipi Mikhail.
"Nanti kita bicarakan lagi ya mas, aku mandi dulu."
Husna membelai pundak sang suami yang masih terdiam di tempatnya, gadis itu sengaja memberi waktu agar Mikhail berfikir ulang perihal keputusan yang di ambil dengan gegabah.
Tak butuh waktu lama Husna selesai dengan acara mandinya. Gadis itu membuka pintu kamar mandi pelan, mengintip ke seisi kamar guna memastikan apakah suaminya masih ada di sana atau tidak.
"Untunglah."
Husna melangkah menuju lemari guna mencari baju ganti.
"Ceklek."
Pintu terbuka.
"Ah.."
Husna langsung menyilangkan tangan di dada guna menutupi belahan yang sedikit terlihat, karena saat ini dia hanya membungkus tubuh dengan handuk hingga lutut.
"Eh,, maaf."
Mikhail langsung berbalik, dada pria itu sontak berdesir. Pemandangan indah tubuh sang istri sungguh mampu membangunkan sesuatu yang sedang tertidur. Membuat tubuhnya panas dingin.
"Mas, tolong tutup kembali pintunya."
Husna berucap gugup. Ini pertama kalinya ada pria yang melihat tubuhnya seterbuka itu.
"Tenang Husna, dia suamimu. Semua ini adalah haknya."
Gadis itu menenangkan rasa takut dan malunya.
"I.. iya."
Mikhail menutup pintu dan bersandar di sana.
"Sabar Mikha, ini masih sore. Tunggu malam tiba dan kau akan bisa menikmatinya."
Pria itu mendamaikan jiwanya yang kian kepanasan karena pikirannya yang sudah melayang kemana-mana .
Di tempat lain.
"Pak, tugas saya ini sudah selesai jadi kenapa bapak tidak mau menerimanya? "
Seorang gadis terlihat sedang bersungut di dalam ruang dosen.
"Apa kau yakin sudah selesai?"
Pria yang duduk sambil menatap ke layar komputer itu berucap santai.
"Tentu saja."
Jawabnya pasti.
"Coba saya lihat!"
Pria tadi yang tak lain adalah Husyein meminta kembali berkas yang tadi sudah di kembalikannya pada Aisyah.
"Ini tugas tanggal berapa?"
Tanyanya dengan mata tertuju pada berkas.
"Tanggal 21 pak."
Jawab Aisyah cepat.
"Apa kau sudah mengerjakan tugas yang tanggal 20?"
Tanya pria itu lagi sambil mengembalikan berkas yang tadi.
Aisyah terdiam sesaat. "Belum pak."
"Kenapa?"
"Karena waktu itu bapak mengusir saya."
Jawabnya enteng.
"Jadi kau mau memberontak dengan cara tidak mengerjakannya?"
Selidik Husyein.
__ADS_1
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku hanya belum sempat mengerjakannya."
Aisyah tertunduk.
"OK kalau begitu saya juga belum sempat untuk menerima tugas kamu yang ini, hingga tugas yang pertama selesai."
Husyein berdiri, ia memasukkan beberapa buku ke dalam tas kemudian mulai melangkah.
Aisyah ternganga, dia tak percaya kalau pria di hadapannya itu bisa setegas itu padanya yang nota bebe adalah sepupu serta anak dari pemilik kampus.
"Mas, tolong dong! Jangan kek gini."
Aisyah berhenti berbicara formal. Dia menarik lengan sang sepupu yang sudah ingin membuka pintu.
Husyein menatap tangan Aisyah yang masih menempel di tangannya.
"Apa mau mu?"
Mendapat tatapan sadis, Aisyah segera melepas tangannya.
"Mas, tugas yang pertama itu terlalu panjang dan perlu meriset beberapa buku kuno, aku tidak punya waktu untuk mencari itu semua."
Gadis itu mengungkapkan alasannya kenapa tidak membuat tugas.
"Jadi?"
Husyein mencoba menyelidik.
"Boleh nggak sekali ini aja aku tidak menyelesaikannya? Tapi aku janji, besok besok akan mengerjakan semua tugas dari mas."
Aisyah memohon sambil memberi jari berbentuk huruf V bertanda kalau dia bersungguh sungguh.
"Katakan alasan yang kuat kenapa aku harus memberimu kelonggaran?"
Pria itu menyilangkan tangan di dada.
"Karena aku adalah sepupu mu."
Aisyah tersenyum manis.
"Oh, baiklah kalau begitu aku akan bertanya pada ibumu dulu"
Husyein kembali memegang gagang pintu.
Kening Aisyah mengerut.
"Mas,"
Aisyah kembali menarik tangan pria tadi.
"Mas mau bertanya apa pada mama?"
Gadis itu bingung.
"Aku ingin bertanya apakah ada peraturan di kampus ini yang memberi hak istimewa pada mahasiswa yang ada hubungan keluarga dengan dosen?"
Jawab Husyein santai.
"Eh, jangan jangan."
Aisyah panik, dia pasti akan kena semprot sang ibu jika sampai pria itu mengadukannya.
"Baiklah, akan aku kerjakan. Lupakan saja apa yang ku katakan tadi!"
Gadis itu melangkah mendahului sang sepupu, dia berjalan dengan hati yang mendongkol.
"Ih.... dasar pria tua tukang ngadu. Ada ya orang kek dia di dunia ini? Nggak punya perasaan banget."
Umpatnya pelan tapi masih dapat di dengar oleh Husyein.
"Dasar anak manja."
Pria itu menggeleng geleng dengan tersenyum tipis, lalu lanjut melangkah ke arah berlawanan dengan Aisyah.
TBC
Selamat membaca readers.
Jangan lupa vote, like dan silakan berkomentar ria.
Makasih
__ADS_1