
"Cepat mas!"
Husna menarik tangan Mikhail supaya berjalan lebih cepat.
"Kenapa sih kita buru-buru amat."
Ptia itu berwajah masam.
"Kita harus tiba ke rumah lebih dulu, sebelum mas Husyein sampai."
"Husna, kita.."
Husna berhenti, lalu memandang sayu ke arah mata pria tadi.
"Mas, tolong menurut lah. Aku hanya berusaha menghindar dari masalah."
Mikhail yang melihat pandangan memohon dari sang istri, akhirnya tak punya pilihan selain menurut. Dia mengangguk, lalu mulai melangkah lebih cepat.
Di tempat lain, terlihat seorang anak muda yang sedang terengah engah karena beban yang sedang di bawanya.
"Kamu kalau makan jangan banyak-banyak!"
Ucapnya di sela memgatur nafas.
"Ih tuh kan dia mulai menghina ku."
Aisyah mendongkol.
"Apa mas mengatai gemuk?"
Tanyanya geram.
"Kau tidak gemuk. Hanya saja, kau seperti kue bolu yang bantat. Kecil, tapi berat."
Ucap Husyein tanpa bada basi.
"Bukan aku yang berat, tapi mas yang tidak bertenaga."
Aisyah membalas ejekan sang sepupu.
Mendengar hinaan Aisyah, pria itu berhenti dan mencondongkan sedikit tubuhnya ke tepi sungai.
"Apa kau sudah pernah di lempar dari sini?"
"Ah, jangan mas. Aku kan nggak bisa berenang."
Wanita itu kian mengeratkan pelukan di leher.
"Eh, eh.."
Husyein merasa sedikit sesak nafas, ia memukul pelan lengan Aisyah.
"Apa kau berencana ingin membunuh ku?"
"Maaf, habisnya mas menakuti ku sih."
Kembali melonggarkan tangan.
"Kalau kau mau selamat sampai ke rumah, maka tutup mulutmu itu!"
Titah pria tadi sambil menatap dengan tatapan mengancam.
Aisyah sontak membuat gerakkan menutup bibir.
"Oke bos. Mari kita pulang!" Ucapnya.
Husyein kembali menatap ke depan, meski hati mendongkol namun ia tetap harus lanjut melangkah menuju kediaman mereka.
Selang berapa lama, Husna dan Mikhail akhirnya sampai lebih dulu. Sang wanita langsung masuk ke kamar, sedangkan Mikhail berpura-pura duduk di pondok yang tak jauh dari rumah.
"Assalamualaikum."
Terdengar suara dari halaman.
Husna yang berada di dalam kamar, segera beranjak ingin membukakan pintu. Namun, langkahnya tertahan saat melihat sang ibu sudah sampai lebih dulu.
"Waalaikum salam."
Wanita paruh baya itu menarik gagang.
"Selamat siang buk."
__ADS_1
Sapa wanita cantik yang mengucap salam tadi.
"Siang, Husyein tidak ada di rumah."
Jawab Ningsih sekenanya.
Wajah sang tamu yang tadinya tersenyum manis, akhirnya berangsur pudar.
"Emangnya mas Husyein kemana ya buk de?"
Tanyanya heran.
"Saya juga nggak tau tuh anak kemana,"
Ningsih menoleh ke arah lain.
"Oh, kalau begitu saya permisi dulu. Oh ya buk de, ini ada bolu buatan ibu."
Diana mengulurkan bingkisan yang sedari tadi di pegangnya.
Dengan ragu Ningsih menerima sambil memaksakan senyum.
"Harusnya kamu tidak usah repot-repot."
"Tidak apa buk de, saya.."
"Aw, mas sakit tau."
Suara dari arah samping berhasil menghentikan kalimat Diana, membuatnya dan Ningsih melangkah mendekat ke sana.
"Sakit apanya, orang kamu nya aja yang cengeng."
Pria itu mendudukkan diri di kursi kayu yang memang sudah ada di sana.
"Mas kan tau kaki ku sakit. Trus kenapa mas menurunkan ku pake cara kasar kek tadi?"
Aisyah tak mau kalah.
"Eh, kamu ini nggak ada terima kasih nya ya? Udah aku gendong sekian jauh, bukannya terima kasih malah mgomel."
Pria itu menjitak kepala sang sepupu.
"Awu..uw..."
"Husyein! Kenapa kasar begitu sama adiknya?"
Suara Ningsih mengalihkan perhatian 2 orang yang sedang bertengkar tadi.
"Umma, Diana."
Pria itu sedikit tersentak melihat sang ibu dan kekasihnya sudah berdiri di sana.
"Aisyah, kaki kamu kenapa?"
Wanita paruh baya itu bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Eoh, hanya sedikit terkilir buk de?
Husna terpaksa meneruskan aksi bohongnya.
"Ya Allah, kenapa bisa terkilir sih. Kamu apain Ica ha?"
Dia mencubit pelan lengan Husyein.
"Umma, Aisyah jatuh sendiri kok. Bukan salahnya mas Husyein."
Aisyah cepat menengahi.
"Tuh kan umma. Orang dia yang nggak hati hati."
Pria itu menunjuk Aiysah geram.
"Awas kalau Ica kenapa napa. Umma akan buat perhitungan sama kamu."
Wanita paruh baya itu langsung membantu Aisyah berdiri.
"Itu siapa mas?"
Rasa penasaran Diana akhirnya tak terbendung.
"Dia Aisyah sepupu ku, adiknya Mikhail, suaminya Husna."
__ADS_1
Jawab Husyein.
"Mereka sepupu jauh dan bukan mahram."
Ningsih yang sudah sampai di depan pintu ikut menimpali. Membuat Husnyein, Diana dan bahkan Aisyah bingung dengan kalimat yang baru di ucapkannya.
"Tuh, liat kan mas. Ibu mu sampai sekarang masih belum juga menyukaiku."
Diana memasang wajah sedih.
"Sabar, semua butuh proses. Duduklah!"
Husyein mempersilakan wanita yang sudah menjalin hubungan dengannya selama beberapa tahun belakangan, untuk mendudukan diri di sebelah.
"Apa yang membawamu ke sini?"
Pria itu memulai percakapan mereka.
"Apa aku di larang ke sini?"
Diana membalikkan pertanyaan.
"Bukan begitu maksudku."
Husyein merasa tak enak.
"Hehehe, aku cuma bercanda mas."
Diana tertawa melihat wajah bersalah kekasihnya.
"Aku ke sini ingin memberitahu kalau besok aku akan ke kota J, karena aku sudah mendapat panggilan kerja dari salah satu perusahaan yang ada di sana."
Diana memberi kabar.
"Oh, benarkah? Bagus kalau begitu, karena aku minggu depan juga akan ke sana untuk melakukan interview di sebuah universitas swasta."
Husyein tersenyum ceria karena merasa jaraknya dan kekasih akan menjadi semakin dekat ketika mereka bekerja kelak.
"Alhamdulillah mas, sungguh kebetulan yang sangat menggembirakan. Semoga kedepannya jalan kita di mudahkan oleh yang kuasa."
Diana juga tersenyum.
"Aamiin."
Husyein mengusap wajah.
***
"Kami pamit umma."
Mikhail mencium tangan sang ibu mertua.
Ningsih membuang muka.
"Ya."
Jawabnya singkat.
Husna yang melihat hal itu menjadi merasa kasihan pada Mikhail. Ia tahu betapa besar penyesalan dan usaha pria itu dalam memperbaiki semuanya. Namun apalah daya, ia tak mampu membalikkan hati ibunya yang masih terluka.
"Aku pamit. Jaga dirimu baik baik."
Pria itu mengulurkan tangan.
"Iya mas. Hati-hati di jalan."
Husna menjawab uluran tangan sang suami sambil menciumnya. Tak lupa pula ia memberikan senyuman yang hangat.
Ada banyak kata yang ingin di ucapkan, namun kehadiran anggota keluarga membuat mulutnya tak mampu berucap. Berusaha menjaga beberapa hati yang masih terasa panas.
Mikhail membelai kepala berkerudung sang istri, kemudian mulai melangkah menuju mobil dimana ibu, ayah dan adiknya menunggu.
Dia menarik gagang pintu dengan perasaan campur aduk, berat rasanya meninggalkan wanita yang di cintainya itu di sana. Kalau mengikuti kata hati maka ia pasti sudah membawa lari Husna, tapi akal sehat masih bisa menahan dirinya.
"Da, da, assalamualaikum."
Aisyah melambai begitu mobil mulai bergerak.
Husna membalas lambaian, dia juga menatap pada pria yang duduk di sebelah Aisyah yang menatapnya dengan tatapan penuh arti, yabg tentu saja mampu membuat hatinya semakin tak terkendali.
TBC
__ADS_1
l