
Pagi ini, Husna terlihat sedang sibuk memasukkan semua kebutuhan dan beberapa lembar baju ke dalam tas kecil. Serta memastikan apa yang di bawa adalah sesuatu yang berguna.
Setelah pertikaian mereka semalam, Mikhail kembali datang menemuinya. Pria itu meminta supaya sang istri mau melupakan hal yang terjadi untuk sesaat, dan memohon untuk menemaninya ke suatu tempat.
Sebenarnya Husna sudah menolak, namun pria itu terus meminta, hingga dia menjadi tidak tega. Itulah mengapa pagi ini ia terlihat sangat sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka.
"Apa kau sudah selasai?"
Mikhail berdiri di pertengahan pintu.
Husna menoleh.
"Sudah mas. Memangnya kita mau kemana sih? Pake bawa baju ganti segala?"
"Udah, kamu ikut aja."
Jawab pria itu sambil berjalan masuk untuk mengambil tas Husna, lalu membawanya keluar.
Sesampainya di luar, supir yang semalam mengantarkan mereka sudah siap menunggu dengan mobilnya.
"Apa kita langsung ke bandara Tuan?"
Pertanyaan dari pria paruh baya itu, langsung membuat Husna terkejut.
"Iya pak Aamer."
"Kebandara! Sebenarnya kita mau kemana sih mas? Jangan aneh aneh deh!"
Husna menyela dan memasang wajah tak suka.
"Tenang aja, aku hanya ingin membawamu menikmati alam. Besok sore, kita sudah pulang ke sini lagi."
Mikhail berjalan mendekat, ia meraih tangan Husna lalu menggiringnya ke mobil.
Tapi mas, aku punya banyak tugas kuliah."
Husna masih berusaha menolak.
"Tolonglah, aku hanya di sini hingga lusa. Jadi aku mohon, berikan waktumu 2 hari ini untukku!"
Mikhail membuka pintu mobil, lalu mendorong pelan bahu sang istri agar ia segera masuk.
Husna yang tersudut akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan sang suami. Setelah mereka duduk di posisi, mobil lalu melaju ke tempat yang di tuju.
Mereka menikmati perjalanan dengan berbagai perdebatan kecil hingga sampai ke bandara. Wanita itu kian terheran saat sang suami membawanya menaiki pesawat yang menuju ke Nevsehir. Sebuah kota yang terkenal dengan keindahan alamnya.
"Memangnya kita ngapain sih mas kesana?"
Husna kembali melontarkan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.
"Namanya juga kejutan. Kalau aku kasih tau sekarang, maka hal itu tidak akan menjadi kejutan lagi."
Mikhail tersenyum sambil memasangkan sabuk pengaman di bangku class bisnis yang di pilihnya.
Setelah perjalanan selama lebih kurang 1 jam 30 menit. Mereka akhirnya tiba di Nevsehir airport, di sana mereka di sambut oleh mobil yang sudah di pesan oleh pak Aamer, sang tour guide yang ikut serta bersama mereka saat ini.
Dari sana, 3 orang tadi masih memerlukan waktu menuju tempat yang di maksud. Husna yang tadinya cemberut, saat ini sudah terlihat ceria. Matanya terus menatap takjub keluar jendela.
Kota yang memiliki banyak sekali sejarah dan alam yang sangat indah, mampu membuat wanita itu berdecak kagum. Apalagi ketika mobil memasuki sebuah kawasan penuh dengan bangunan lama.
"Masya Allah, indah banget."
Husna terus menatap dengan mata berbinar begitu mereka sudah keluar.
Husna turun dengan wajah ceria.
"Apa kau senang?"
__ADS_1
Mikhail ikut tersenyum saat melihat wajah bahagia sang istri.
"Senang mas. Aku memang sudah lama pengen kesini, bahkan sebelum aku berangkat ke Turki, tempat ini adalah salah satu daftar yang ingin ku kunjungi. Makasih ya mas!"
Husna berucap dengan senyum yang masih merekah.
"Syukurlah. Kalau kau suka. Ayo!"
Mikhail mengangguk, lalu mengulurkan tangan.
Husna menatap, berfikir sebentar hingga akhirnya ia membalas uluran dari suaminya itu.
"Kemana kita mas?"
Husna bertanya di sela langkah.
"Kota bawah tanah."
Mendemgar itu Husna semakin kegirangan.
Kemudian mereka pun mulai menyusuri setiap tempat dengan di pimpin oleh Pak Aamer.
Pria paruh baya itu menjelaskan semua hal tentang apa yang mereka lihat. Mulai dari museum, gereja geraja gua, rumah rumah batu dan banyak lainnya, yang tentu saja hasil dari peninggalan sejarah.
Pasangan itu juga tak lupa mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan momen mereka. Saling bergurau dan melupakan masalah untuk beberapa saat.
Setelah menghabiskan waktu dengan semua itu, tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Milhail kembali menuntun Husna untuk menikmati pertualangan terakhir mereka untuk hari ini dengan menaiki balon udara.
Husna yang awalnya merasa takut, akhirnya luluh setelah sang suami berhasil meyakinkan dirinya.
Dengan menutup rapat mata dan memegang kuat kerah baju suaminya, Husna pun perlahan merasakan balon yang tengah di naiki mulai mengudara.
"Tidak apa-apa. Coba buka mata mu dan lihatlah apa yang ada di sini!"
Mikhail memeluk pinggang sang istri, untuk memberikan rasa aman.
Husna kian mengencangkan genggaman dan turus memepet sang suami, hingga pria itu tersandar di batas pengaman.
"Jangan khawatir, aku sudah memeluk mu."
Pria itu berucap dengan sedikit berbisik. Mikhail sedang berperang di dalam hati, menekan rasa yang muncul tidak pada tempatnya.
Dan semuanya terjadi karena ulah Husna yang terus menekan dirinya, hingga menghasilkan sensasi lain di tubuh pria itu. Membuat benda yang seharusnya tertidur lelap, menjadi terbangun dan memberontak.
"Tapi mas.."
Gadis itu menggoyangkan tubuhnya pelan, membuat dada mereka bergesekan.
"Oh, ya ampun. Aku bisa gila kalau begini."
Mikhail kian kacau.
"Co, coba aja dulu."
Dada pria itu kian bertalu, dan tubuhnya terasa makin panas.
Karena terus mendapat dorongan, akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk mengintip.
Dan ketika mata terbuka..
"Waw,, Masya Allah..."
Husna menutup mulutnya yang terbuka lebar saat mendapati betapa indahnya pandangan yang tersaji saat itu.
Dari atas mereka dapat melihat keindahan batu berwarna putih dan pemandangan kota yang begitu rapi dan apik. Serta di tambah dengan benyaknya balon warna warni yang mengapung bersamaan, membuat pemandangan kian menakjubkan.
Tak lupa pula dari sebelah kiri, sang mata hari baru saja ingin masuk ke peraduan-nya. Membuat warna jingga nan sangat indah di ufuk barat sana. Hingga tanpa sadar wanita tadi memutar tubuh, supaya lebih leluasa menikmati sunset yang mampu memanjakan mata.
__ADS_1
"Huh, syukurlah."
Mikhail bersyukur, karena Husna melepas gelayutan yang menguji imannya.
"Mas, bukankah itu sangat indah?"
Husna berpindah menatap Mikhail. Kening wanita itu mulai menaut saat mendapati wajah merah sang suami.
"Lo, kenapa wajahmu merah mas?"
Tanya Husna heran.
"Ya, panas karena ulah mu sayang!"
Jawabnya dalam hati.
"Eh, Ini mungkin karena efek matahari."
Jawabnya asal.
"Oh, berarti wajah ku juga merah ya!"
Husna kembali menatap alam.
Mikhail medekat dan memeluk Husna dari belakang. Dia juga mulai menyandarkan dagu di bahu wanita yang sangat di cintainya itu.
"Terima kasih, karena sudah mau menghabiskan hari denganku. Kau tau, semua ini sangat membuat ku bahagia."
Husna yang di perlakukan semanis itu, akhirnya semakin hanyut tersentuh. Kali ini dia bahkan menikmati pelukan hangat yang di berikan oleh Mikhail.
Entah berapa lama mereka saling memeluk, hingga Mikhail memutar tubuh sang istri, lalu mulai meraba kantong celananya.
Pria itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mulai berjongkok, yang tentu saja aksinya membuat Husna teperanjat.
"Aku sudah merencanakan hal ini jauh jauh hari. Husna nur haziah, aku mencintaimu dengan sepenuh jiwa dan raga. Meski dulu aku sudah terlanjur menghancurkan hati dan kepercayaanmu. Tapi untuk kedepannya, akan ku pastikan, bahwa akan aku menebus semua lukamu dengan kebahagiaan."
Mikhail mengeluarkan isi kotak yang ternyata isinya adalah sebuah cincin berlian. Cincin yang terlihat sederhana namun sangat elegan. Seakan ingin selaras dengan calon pemakainya.
Husna berlinang mendapati hal ini, dia sangat bahagia dengan berbagai kejutan manis yang di berikan sang suami. Namun, ia tetap berusaha berfikiran waras.
Mikhail meraih tangan kiri Husna dan mulai menyelipkan benda lingkaran itu ke jari manis. Setelahnya pria itu bangkit.
"Makasih mas. Maaf aku belum bisa menjawab itu sekarang, dan mas sendiri juga pasti sudah tau apa alasannya."
Air mata haru Husna menetes.
Sang suami mendekat, ia meraih wajah Husna dan membelai pipi wanita itu lembut.
"Aku akan menunggu jawaban mu! Tapi, bukankah aku sudah berjanji tidak akan membuatmu menderita lagi? Jadi tolong jangan pernah mengeluarkan butiran ini. Karena ini sangat berharga bagiku."
Mikhail mendekatkan wajah mereka, ia menyapu buliran air mata Husna dengan bibirnya. Mulai dari dagu, pipi, lalu naik ke kening, hingga akhirnya bibir pria itu mendarat di bibir Husna.
Tidak seperti sebelumnya, entah kenapa kali ini Husna hanya membiarkan sang suami menguasai bibirnya. Wanita itu bahkan ikut membalas kecupan suaminya dengan sedikit hal yang ia tahu.
Mikhail terus memburu lembut, mengimbangi istrinya yang baru saja menjadi pemula. Tangan pria itu sudah melingkar indah di pinggang, dan kembali menarik tubuh Husna untuk menempel padanya.
Sensasi yang tadi sudah menghilang, akhirnya mulai bangkit kembali. Namun kali ini, rasa itu datang dengan hebatnya. Membuat nafas Mikhail kian terburu, perlahan tangannya naik dan mulai menari, dia juga bahkan meremas punggung Husna.
Wanita yang sudah terhanyut itu, tetap tak menyadari kalau ada sesuatu yang mulai menguasai jiwa suaminya. Sesuatu yang di sebut hasrat, dan hal itu pastinya akan membuat Mikhail menderita.
Entah berapa lama ciumaan mereka berlangsung, yang jelas saat matahari menghilang, mereka masih saja menikmati apa yang mereka lakukan.
TBC
Jangan lupa bantu vote, like, hadiah dan silahkan berkomen ria.
MAKASIH...
__ADS_1