Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 8


__ADS_3

"Mas, mas bangun,"


Husna menarik selimut yang menutupi tubuh Mikail.


"Mas, bangun. Subuh dulu,"


Wanita yang masih mengenakan mukenah tadi kembali menarik, dan kali ini lebih kencang.


Mikail yang merasa tidurnya terganggu, langsung mendudukkan diri.


Dia mengacak rambutnya kesal.


"Lo, bisa nggak kalau sebentar aja tidak mengganggu hidup gue."


Ucapnya dengan suara khas bangun tidur.


"Maaf mas. Aku hanya mengingatkan kalau waktu subuh tinggal sebentar lagi. Ntar keburu siang mas."


Ucap gadis tadi.


"Lo kalau mau ke surga, pergi sendiri aja sono. Nggak usah sok ngajakin orang." Mikail mendorong lengan Husna hingga wanita itu terhuyung.


Dia kemudian lanjut merebahkan diri.


Husna mencoba menarik nafas dalam. mendamaikan hatinya.


"Biarkan saja Husna. Nggak usah di urusin pria gila ini. Toh dosanya kamu nggak ikut nanggung,"


Gadis itu bergumam sambil membuka mukenah yang tadi masih menempel.


Mikail terbangun ketika matahari sudah mulai terang. Pria itu langsung terduduk, hal pertama yang di lihatnya adalah sang penunjuk waktu. Dan benda itu sudah mengarah ke angka 8 pagi.


"Aduh gawat! Gue ada janji jumpa pak Teo pagi ini."


Pria itu cepat berlari ke kamar mandi.


"Brengsek si itik. Giliran subuh aja, kekeh banget bangunin gue. Eh, pas jam ngampus, dia main ngilang aja,"


Rutuk Mikail sambil menyabuni tubuhnya.


"Pagi pa, ma." Mikail menyapa orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.


"Pagi," Jawab sang Mama


"Hm" Papanya menimpali.


"Mika! Selesai kuliah nanti. Kamu mampir ke kantor papa. Ada yang ingin papa bicarakan," Lanjut sang ayah.


"Iya pa," Mika menyendok nasi gorengnya.


"Hm.. enak. Ini pasti masakan si itik."


Mikail berucap dalam hati.


"Husna, kamu duduk gih. Biar bik Ratih yang lanjutin." Nani berucap pada sang menantu yang baru datang membawa jus untuk mereka.


Mikail melirik sekilas.


"Alah, ngambil muka paling."


Gumamnya.


"Iya ma." Wanita itu duduk bersebelahan dengan pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Ma. Aisyah mana ya?"


Husna bertanya. Karena, dari tadi dia tak melihat sang adik ipar.


"Ica berangkat lebih pagi. Ada rapat osis katanya." Nani menjawab.


"Oh."


Husna lanjut mengunyah makanan.


Mikail masih terdiam. Ia malas menimpali atau menyapa istrinya itu. Rasa kesal karena terlambat bangun masih menaungi hatinya.


"Mama sama papa berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah." Nani berucap pada sang menantu yang sedang mencium tangannya.


"Iya ma."


Jawab Husna dengan senyuman.

__ADS_1


Mikail yang baru keluar dari dalam rumah, langsung mencium tangan mama dan papanya. Setelah itu ia segera berlari menuju mobil.


"Mika!"


Suara sang papa menghentikan langkah Mikail.


Dia pun berbalik.


"Iya pa?"


"Kamu sekarang sudah punya istri. Pamit dulu kek, apa kek. Jangan nyelonong gitu aja dong."


Ucap pria setengah abad itu sambil menunjuk ke arah Husna.


Mikail memaksakan senyum, dia berbalik dan memberikan tangannya untuk di cium oleh Husna. Namun, ketika aksi itu berlangsung Mikail lebih memilih melihat ke tempat lain.


"Dah pa. Mika berangkat dulu."


Ucapnya dengan nada tak suka. Kemudian berlalu masuk ke mobilnya.


"Kamu jangan ambil hati perlakuan Mikail. Dia butuh waktu untuk beradaptas,"


Aidil berucap untuk menenangkan hati sang menantu.


"Iya pa, Husna paham,"


Gadis itu memberi senyuman.


Sementara itu di atas mobil.


"Ih, bisa kena rabies gue gara-gara di cium sama si itik."


Ucapnya seorang diri, sambil membersihkan tangannya dengan hand sanitizer.


Tak lama Mikail sampai.


Pria itu langsung berlari ke ruangan pak Teo. Dosen pembimbing. Beruntung orang yang di cari masih ada di tempat.


Meski kena semprot sebentar, namun urusannya tetap bisa terselesaikan dengan baik.


"Hai sayang!"


Amanda segera melepaskan pelukan sang kekasih.


"Berhentilah sok romantis. Aku tau kalau kamu pasti habis bermesraan dengan istrimu itu."


Ucapnya dengan wajah cemberut.


"Hahahaha.."


Mikail tertawa terbahak-bahak.


Amanda bingung, kenapa pria itu justru tertawa ketika dirinya sedang di landa api cemburu.


"Apa kau menertawakanku?" Tanyanya garang.


"Tentu saja aku menertawakan dirimu. Apa kau sungguh tidak mengenalku? Ayolah sayang, jangan cemburu pada hal yang mustahil. Wanita itu bukan seleraku. Bahkan, dalam mimpipun aku tidak akan menyentuhnya."


Ucap Mikail mantap.


Amanda terdiam sesaat.


"Apa kau serius?"


"Tentu saja. Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa membuatku gila."


Mikail meyakinkan.


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menemuiku begitu sampai di rumah?" Tanya Amanda lagi.


"Aku tidak segera menjumpaimu, karena papa ada di rumah. Beliau bisa curiga jika aku langsung pergi begitu sampai."


"Kau yakin tidak berbohong?" Wanita itu menyelidik.


"Apa aku pernah berbohong padamu?"


Mikail menatap dengan mata kejujuran.


"Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu. Tapi, dengan syarat. Temani aku ke mall."


Amanda langsung bergelayut manja di lengan pria tadi.

__ADS_1


"Siap bos."


Mikail pun membelai sayang kepala kekasihnya.


Waktu berlalu, Mikail dan Amanda pun pergi ke tempat yang mereka rencanakan.


"Sayang, itu bukannya istri kamu?"


Amanda menunjuk seorang gadis manis tengah berjalan seorang diri, sambil melihat baju muslim di sebuah toko.


"Betul. Ngapain si udik itu di sini?"


Mikail menjawab.


"Kita samperin yuk!"


Amanda menarik tangan pria itu.


"Tidak usah, ini tempat umum. Tidak baik membuat ribut di sini. Lebih baik kita ke tempat lain saja."


Mikail membalas tarikan Amanda, namun ke arah yang berbeda.


Amanda kesal mendapat penolakan seperti itu.


Ia melepas tangan sang kekasih, kemudian berjalan seorang diri menghampiri istri pria itu.


"Wah, hebat kamu ya. Baru seminggu menjadi istri dari orang kaya. Kamu langsung bisa berbelanja di mall. Cepat juga kamu."


Amanda menyilangkan tangan di depan dada. Ia melirik pada bawaan Husna.


Husna yang mendapatkan sindiran secara tiba-tiba sedikit terkejut. Ia melihat suaminya sudah berdiri di belakang wanita yang baru berkata kasar padanya.


"Nona Amanda yang terpelajar. Pria di belakang anda yang berstatus sebagai suami saya. Yang juga merupakan selingkuhan anda. Sampai hari ini, dia belum pernah memberikan uang sepersenpun pada saya. Istri sahnya. Jadi, saya rasa, tidak ada salahnya jika saya berbelanja, Apa lagi menggunakan uang sendiri."


Husna berucap dengan sedikit keras. Hingga beberapa orang yang kebetulan ada di sekitar, menatap aneh pada Amanda.


"Eh, ngomong apa lo?" Mikail bertanya dengan mata sedikit marah.


"Kanapa marah mas? Aku hanya menjawab ucapan selingkuhanmu itu. Dia menuduhku seakan-akan aku menghabiskan uangmu."


Husna berucap dengan tenang.


Lagi, ucapan Husna membuat orang kian berkerumun. Mereka bahkan mulai berbisik-bisik.


Amanda dan Mikail jadi salah tingkah. Semua orang menatap mereka dengan tatapan penghakiman.


"Awas lo di rumah. Gue akan memberi lo perhitungan."


Mikail berbisik di telinga Husna.


"Aku tunggu mas."


Ucapnya dengan senyuman manis. Seakan menantang pria itu.


Mikail semakin kesal. Ia lalu menarik tangan kekasihnya menjauh dari tempat dimana ia terlihat seperti pecundang.


"Brengsek. Ternyata wanita itu semakin kurang ajar," Amanda meremas tangannya kesal.


"Sudah, lagian kamu ngapain nyamperin dia. Udah tau dia itu judes. Cari penyakit kamu."


Mikail mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Oh, jadi kamu nyalain aku? Belain aja tuh istri kamu. Sekalian pulang sana, tidurin dia."


Amanda yang tadi sudah kesal menjadi kian emosi. Ia menarik gagang pintu dan keluar dari sana.


Mikail ikut keluar, ia menarik tangan Amanda. Namun wanita itu ngotot ingin pergi. Ia bahkan menepis kasar tangannya.


"Manda, tunggu! Manda ..." Wanita yang di panggil oleh Mikail sudah naik Taksi yang kebetulan lewat.


"Akh. Brengsek. Giliran di rumah aja, sok alim. Eh, begitu ke luar dia kembali ke kulit aslinya." Mikail berkacak pinggang kesal.


"Awas lo ya. Begitu gue pulang. Gue akan buat perhitungan sama lo,"


Mikail pun berlalu menuju kantor sang ayah. Karena, pria itu dari tadi sudah menunggu dirinya.


TBC


Ini novel baru ya say, mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2