
"Jadi, kapan kamu berangkat?"
Nani bertanya sambil menyendokkan lauk ke piring sang anak.
"Insya Allah besok ma, pesawat nya jam 9 pagi."
Mikhail menerima piring dari sang ibu.
"Aduh kok mendadak sih!"
Nani terlihat sedikit kaget.
"Nggak mendadak ma.. Mikha memang sudah berencana jauh jauh hari, Tapi lupa ngasih tau mama."
Pria itu tersenyum.
"Kamu ini kebiasaan."
Wanita yang sudah melahirkannya itu mencubit lengan Mikhail pelan.
"Kalau begitu Ca.. setelah ini, kamu temani mama ke supermarket ya!"
Mata wanita paruh baya tadi berpindah kepada anak gadis nya.
"Ngapain mah, bukankah kita semalam sudah belanja?"
Aisyah bertanya heran.
"Itu belanja kebutuhan kita. Mama ngajak kamu ke supermarket buat beli oleh-oleh untuk kakak ipar kamu."
Nani mulai memasukkan makanan ke mulut.
"Nggak usah repot repot mah. Di sana juga ada makanan kok."
Mikhail kembali berucap.
"Di sana memang ada makanan, tapi makanan khas Indonesia kan susah nyarinya."
Nani tak mau kalah.
"Mama mau papa antar?"
Sang suami yang dari tadi fokus makan, akhirnya ikut berbicara.
"Nggak usah, papa pasti masih capek. Biar mama sama Ica aja yang pergi."
Nani memberi senyum indah pada sang suami.
"Ya sudah."
Aidhil lanjut menyendok makanan yang juga di ikuti oleh anggota keluarga lainnya, mereka menikmati semua hidangan dengan penuh rasa syukur.
Seperti yang di rencanakan, Nani dan Aisyah langsung berangkat begitu mereka selesai dengaan acara makan malam.
"Kita nunggu apa sih ma?"
Aisyah mulai merutuk ketika rasa penasaran kian tak terbendung, karena mereka sudah duduk di restoran samping supermarket ini selama 30 menit.
"Udah tunggu aja!"
Nani kembali menyeruput minuman yang di pesannya tadi.
"Malam tante."
Suara seorang pria mampu mengalihkan pandangan 2 wanita itu.
"Hem.. akhirnya kamu sampai juga. Duduk!"
Nani memberi isyarat supaya pria tadi mendudukkan diri di kursi sebelah Aisyah.
"Ih... jadi dari tadi mama nungguin dia?"
Aisyah merutuk begitu melihat wajah sang sepupu. Pria yang tadi pagi merusak hari nya.
"Mah, kenapa mas Husyein ada di sini?"
Dia langsung bertanya sebagai bentuk protes.
"Husyein kan kakaknya Husna. Dia pasti lebih tau selera adiknya. Jadi, nggak ada salahnya kan mama ngajak dia?"
__ADS_1
Nani menjawab enteng.
"Tapi mah kalau masalah selera kak Husna, Ica juga tau kok."
Gadis tadi masih berusaha menolak halus kehadiran sang sepupu di tengah tengah mereka.
"Alah sok tau kamu."
Sang ibu mencubit lengan Aisyah geram.
"Aduh, sakit...."
Dia mengaduh.
"Eh, kita berangkat sekarang tante?"
Husyein menengahi perselisihan yang sedikit terjadi antara ibu dan anak itu, perselisihan yang terjadi karena kehadiran dirinya.
"Apa kamu nggak ngopi dulu?" Nani bertanya balik.
"Nggak usah tan, saya nggak bisa tidur kalau minum kopi malam malam begini."
Dia tersenyum manis.
"Ya sudah kalau begitu."
Nani berdiri lalu menarik tangan Aisyah supaya mengikuti langkahnya.
"Harusnya kamu bersyukur di beri Wajah cantik, jadi jangan di bikin jelek dengan raut seperti itu."
Bisik Nya ketika melihat wajah gadis muda di sampingnya yang terus saja cemberut.
"Biarin."
Aisyah menambah ekspresi tak sukanya.
"Ih, anak ini nggak bisa di bilangin ya."
Dia kembali mencubit lengan.
"Mamah, ah.. sakit tau..."
"Husyein, Aisyah memang begini. Manja dan bawel."
Nani kambali berucap ketika melihat keponakannya menggeleng-geleng.
"Iya tan. Husyein juga tau."
"Tau apa?"
Aisyah tidak terima dengan kalimat kakak sepupunya.
"Aku tau kalau kamu memang manja dan kekanak-kanakan."
Husyein menjawab tanpa segan.
"Enak aja ngatain orang kekanakan. Mas tuh... yang ketuaan."
Balas Aisyah.
"Aku memang lebih tua dari kamu."
Dia menjitak pelan kening Aisyah.
"Sakit mas."
Aisyah melepas gandengan ibunya, kemudian mendekat ke arah sang sepupu. Dia mencoba berjinjit untuk menyentuh kening Husyein, namun pria itu dengan sigap segera menghindar.
"Kamu tuh cebol. Jadi jangan sok mau menyentil orang gede."
Ejek pria itu lagi.
"Eh..eh.. kok malah berantam. Sudah ayo cepat! Keburu malam ntar."
Nani menengahi peperangan yang terjadi.
"Dasar tua."
Aisyah masih belum puas.
__ADS_1
"Cebol."
Husyein membalas.
Nani yang berdiri di tengah mereka, akhirnya hanya bisa menarik nafas menyaksikan kelakuan anak dan keponakannya yang terus berlanjut hingga acara belanja mereka selesai.
"Terima kasih tumpangannya tante."
Husyein berucap begitu dia turun cari mobil.
"Kamu tinggal di sini?"
Nani ikut turun sambil menatap sekeliling rumah kontrakan kecil yang ada di hadapannya.
"Iya tante."
Pria tadi mengangguk.
"Kamu kenapa sih nggak mau tinggal bareng tante aja? Dari pada di sini, ntar kamu nggak nyaman lagi."
Nani masih berusaha membujuk sang keponakan supaya mau tinggal bersama dengannya.
"Apa? Ih, mama apa apaan sih. Pake ngajakin pria tempramen itu tinggal bersama segala."
Aisyah yang sedari tadi duduk anteng di dalam mobil langsung melayangkan protes, namun kalimat tak sukanya hanya berani terucap di dalam hati.
"Terima kasih tante, tapi kontrakan ini sudah lebih dari cukup kok."
Husyein menolak, halus.
"Hmmm... Padahal om sudah setuju kalau kamu mau tinggal bersama kami, karena semenjak Mikhail menikah dia sudah jarang pulang, karena itulah kenapa rumah terasa sepi."
Wajah Nani berubah sendu.
"Maaf tan, tapi Insya Allah kedepannya Husyein usahakan untuk lebih sering mampir ke rumah tante."
"Hah, lebih sering mampir katanya? Jangan mampir kalau hanya untuk membuatku sakit hati!"
Gumam Aisyah geram.
"Ya mau gimana lagi, orang tante nggak mungkin bisa maksa kamu."
Nani menarik nafas dalam.
Husyein masih betah dengan senyumnya, sedangkan Aisyah mulai menatap pria itu dengan tatapan intimidasi.
"Mah, ayuk...! Ica ngantuk nih."
Akhirnya gadis 21 tahun itu hilang sabar.
"Iya.."
Nani berpindah menatap sang anak.
"Kalau begitu, tante pulang dulu. Kamu kalau butuh apa-apa langsung kabari tante. Nggak usah segan."
Wanita paruh baya itu menepuk pelan lengan sang keponakan.
"Makasih tante. Hati hati di jalan."
Husyein menarik gagang pintu mobil.
"Huh, cari perhatian pasti!"
Aisyah membuang muka tepat saat Husyein menatap ke arahnya.
Setelah Nani masuk, Husyein kembali menutup pintu lalu mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada mobil yang baru ingin berjalan.
"Da.."
Nani melambai.
Husyein tersenyum sambil mengangkat tangan untuk membalas lambaian adik sepupu sang ayah.
"Ternyata tidak semua buah jatuh tak jauh dari pohonnya "
Husyein menggeleng begitu teringat tingkah laku Aisyah dan Mikhail. Dia terheran bagaimana bisa tante yang di kenalnya sangat penyayang dan selalu bertanggung jawab seperti Nani, bisa mempunyai anak anak yang berkelakuan berbeda 180 derajat dengan sikap ibunya.
Di mana ia menganggap Mikhail adalah pria tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab, sedangkan Aisyah adalah tipikal gadis manja dan ceroboh. 2 sifat yang sangat tidak di sukainya.
__ADS_1
TBC