
"Awak, awak. Tunggu..!"
Sebuah panggilan dari suara yang terdengar akrab, mampu mengehentikan langkah Husna.
Ia menoleh dan tak jauh di belakang, seorang pria terlihat berlari kecil ke arahnya.
"Iya, mas."
Husna bertanya alasan kenapa pria itu menghentikannya.
"Tak, saya cuma nak tanya, awak dah ambil buku yang semalam MR, Logan pinta?"
Tanya pria itu.
"Eh, belum Semalam saya sangat sibuk. Hingga saya tidak sempat mencarinya di perpustakaan."
Jawab gadis itu dengan senyuman.
"Tak pe, awak tak payah pegi. Tempo hari saya dah ambik sekali untuk awak. Nah!"
Pria itu mengeluarkan sebuah buku tebal dari tas-nya.
Husna terdiam menatap pada buku itu, mencoba menimbang kebaikan yang terus saja di tujukan untuk dirinya.
"Mas Hafiz maaf, saya tidak bermaksud untuk menolak. Tapi, saya tidak bisa menerima ini."
Husna berucap halus, takut menyakiti hati pria di hadapannya.
"Tapi saya dah telanju ambik due. Awak tak payah sungkan, kita kan kawan?"
Hafiz sedikit memaksa, sambil terus menyodorkan buku tadi.
Husna menjadi serba salah, ia mencoba menimbang sebentar. Hingga akhirnya merasa tak punya pilihan.
"Oke, terima kasih."
Husna mengambil dari tangan Hafiz.
Pria itu tersenyum lebar saat melihat wanita yang di incar, mau menerima bantuan yang di berikan.
Hafiz lalu mulai melangkah dengan penuh kebanggan, mendahului Husna, karena ia tahu kalau wanita itu tidak akan mau berjalan beriringan dengannya.
"Mas Hafiz!"
Panggilan suara Husna kembali menghentikan ptia itu. Ia berbalik dan kembali melangkah ke arah wanita yang menyebut namanya.
"Ye, ada ape ape lagi?"
Tanya pria itu.
"Mas Hafiz, sebelumnya saya minta maaf jika apa yang saya sampaikan ini, akan membuat mas Hafiz tersinggung." Husna berucap hati-hati.
Kening pria itu mengerut, mencoba menerka apa yang akan di sampaikan wanita yang sudah berhasil merebut hatinya sejak pandangan pertama dulu.
"Iya, silahkan"
Hafiz mencoba memfokuskan pendengaran.
"Begini mas, saya sebenarnya sangat berterima kasih atas semua kebaikan dan perhatian yang mas berikan selama ini. Tapi jika bisa, tolong jangan seperti ini lagi. Karena saya tidak bisa dan tidak pantas menerima semua itu."
Husna langsung ke intinya.
"Saye tak paham la. Ape maksud awak tak pantas dan tak boleh? Saye tulus dalam tolong dan beri awak perhatian. So saye rasa tak ade yang salah dengan ni."
Hafiz terdengar keberatan dengan penolakan Husna.
"Saya tau kalau mas tulus. Hanya saja, semua ini tidak boleh terjadi. Lebih baik kita jaga jarak seperti rekan yang lainnya. Jangan memberi saya perhatian lebih, karena hal ini akan membuat kesalahpahaman di antara kita,"
__ADS_1
Husna mendekat, mengembalikan buku tadi. Kemudian berjalan meninggalkan pria yang tengah terluka.
Tangan Hafiz mengepal seketika, ia juga mulai melangkah mengejar Husna.
"Bolehkah awak beri saye alasan, kenapa saye tak boleh buat semua tu?"
Ia meminta alasan.
"Sebelum saya memberi alasan pada mas. Tolong mas jelaslan dulu, tujuan mas melakukan semua hal itu pada saya!"
Husna membalas pertanyaan pria itu dengan bertanya balik.
Hafiz tergagap, ia belum mempunyai persiapan untuk menjelaskan isi hatinya, dan tentu saja tidak dengan cara seperti ini.
"Eh, sa.. saye.. saye.."
Ia tergagap.
"Kalau mas tidak bisa memberi saya alasan yang tepat. Maka saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan mas tadi."
Husna berjalan mendahului.
Hafiz akhirnya hanya bisa tersandar ke dinding, ketidaksiapan-nya membuat diri tak mampu berkata.
"Hai, mikirin apa ayo? Mikirin yang terjadi semalam ya?"
Tiba-tiba saja seorang wanita duduk di samping Husna.
"Ih, apaan sih kamu."
Ia mencubit lengan Sania. Rekan satu rumah dan satu kampusnya.
"Hehehe, gimana lancarkan?"
Tanya Sania dengan menyeringai.
"Lancar apanya?"
"Alah, jangan sok polos kamu. Berapa ronde semalam?"
Pertanyaan Sania membuat Husna bergidik ngeri.
"Ih, dasar mesum. Berapa ronde apanya?"
"Cieh, cieh.. mukanya ampe merah gitu. Hahaha."
Sania terkekeh.
"Semua ini gara gara kamu nih, kenapa kamu membiarkan mas Mikhail masuk?"
Husna memanyunkan bibir.
"Awalnya aku nolak tau, tapi pria itu memperlihatkan surat nikah kalian."
Sania membenarkan posisi duduknya.
"Trus kamu percaya gitu aja?"
Husna menyelidik kesal.
"Ya nggak lah, aku meminta bukti yang lain. Trus dia memperlihatkan cincin kawin, di tambah dengan dia menelfon orang tuanya. Himgga aku tak punya pilihan selain percaya."
Sania mulai mengeluarkan buku, karena dosen mereka sudah terlihat memasuki ruangan.
Di tempat lain, suami wanita tadi terlihat sibuk meeting dengan beberapa rekan bisnisnya.
Mereka tengah membahas sebuah proyek kerja sama yang akan mereka kerjakan.
__ADS_1
Hingga tak terasa waktu berlalu, dan pria itu teringat jadwal sang istri pulang dari kampus. Ia dengan sopan pamit duluan karena ingin segera menjemput Husna.
"Langsung ke kampus istri saya pak!"
Mikhail berucap pada sang supir.
"Iya tuan."
Terdengar jawaban dari bangku depan.
Mobil melaju, Mikhail menikmati perjalanan dengan memandang kota yang tengah mengalami musim dingin itu dengan teliti.
Mereka berhenti di lampu merah, dan dia melihat seorang anak kecil berkeliaran menawari bunga mawar pada setiap mobil.
"Pak, beli semua dagangan anak itu. Kasian jika dia terus berkeliaran di cuaca dingin seperti ini."
Milhail menunjuk ke arah anak tadi.
Sang supir mengiyakan, lalu memanggil anak itu. Mereka berbicara sebentar dengan bahasa setempat, yang tentunya tidak di mengerti Mikhail. Hingga sang anak mengangguk dan tersenyum sembringah. Ia memberikan semua bunga yang tersisa dan menerima uang yang menjadi haknya.
"Thank you sir."
Sang anak berucap pada Mikhail, ia melipat keduan tangan di dada sambil tersenyum ceria.
Mikhail mengangguk dan membalas senyuman anak itu dengan tulus. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang berlari riang.
"Maaf tuan, bunga sebanyak ini mau di apakan?"
Sang supir bertanya heran.
"Aku akan menghadiahkan semua itu pada istriku"
Jawab Mikhail bangga.
"Kalau mau di kasih untuk wanita, apa tidak sebaiknya di tata dulu tuan?"
Supir bertanya kembali.
"Eh, benar juga. Tolong bawa kesini pak!"
Sang supir mengangguk, ia menepi dan langsung memberikan kotak berisi bunga tadi ketangan Mikhail.
Pria di belakang sana akhirnya mulai menata bunga dengan penuh rasa cinta. Ia juga mulai membersihkan duri-duri yang masih tertancap di tangkai bunga. Ia bahkan tak menghiraukan tangan yang sudah beberapa kali tertusuk.
"Kita sudah sampai tuan."
Suara sang supir akhirnya menghentikan fokus Mikhail dari bunga.
Pria itu mengangkat kepala, dan lamgsung tersenyum saat melihat gerbang kampus.
Dengan perasaan bangga pria itu membuka pintu dan berjalan memasuki gerbang. Matanya terus liar menatap setiap lorong yang di lewati.
Langkah kaki Mikhail terhenti saat melihat sosok wanita yang di cari tengah berbicara bersama pria yang pernah di lihatnya di foto.
Tangannya langsung terkepal kuat menahan amarah saat menyaksikan pemandangan yang membuat sesak dada. Dengan penuh kekesalan, Mikhail berjalan mendekat.
"Hai sayang!"
Pria itu lamgsung memeluk mesra pinggang Husna dari belakang. Membuat wanita dan pria yang sedang berbincang sirius tadi tersentak.
Hafiz menatap Mikhail dengan tapapan penuh emosi dan rasa penasaran. Karena ia tahu kalau Husna tidak mungkin mau di peluk sembarangan oleh pria yang bukan mahram-nya.
Hati dan pikiran pria itu mulai menerka-nerka tentang hubungan wanita dan pria di hadapannya saat ini.
TBC
Tolong bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.
__ADS_1
Makasih,
Salam sayang dari mak autor receh.