
Malam ini adalah malam terakhir Husna tidur di rumah yang sudah di tinggali dalam 8 bulan belakangan.
Saat ini gadis itu terlihat sibuk dengan beberapa koper yang mulai di isi dengan barang yang akan di bawa menuju negara tempat ia akan menuntut ilmu.
Saat larut dalam kesibukan, telinga gadis itu samar menangkap suara mobil yang baru memasuki pekarangan.
Husna mencoba untuk mengacuhkan sang suami yang baru saja pulang entah dari mana. Karena memang semenjak kejadian dirinya melihat Amanda mencium pria itu tepat setelah mereka berciuman, sungguh mampu menghancurkan hatinya. Hingga membuat situasi di antara mereka kian merenggang.
"Tok, tok, tok."
Husna di kagetkan dengan suara ketukan dari luar kamar.
Kening gadis itu berpaut, ia mencoba memikirkan apakah harus membuka pintu atau tidak.
"Itik, buka pintunya! Aku tau, kalau kau belum tidur."
Kali ini suara ketukan juga di iringi dengan panggilan.
Husna tak punya pilihan, dengan langkah gontai ia berjalan ke arah pintu, menarik gagang dan menatap pria di hadapan dengan tatapan tanda tanya.
"Cepat katakan ada apa! Aku sedang sibuk!"
Gadis itu segera mengalihkan mata, karena Mikhail juga sedang menatapnya.
Tanpa permisi pria itu mendorong bahu Husna supaya ia bisa masuk. Husna tersentak, ia segera menyusul langkah Mikhail ke dalam dan cepat menahan lengan pria itu.
"Apa yang mas lakulan?"
Husna bertanya dengan mata garang.
Mikhail mengangkat sudut bibir, kemudian mendudukkan diri di ranjang.
Mata Husna kian terbelalak saat menyaksikan aksi gila sang suami.
"Mas, ini adalah kamarku, jadi jangan masuk sembarangan tanpa meminta izin terlebih dahulu. Keluarlah selagi aku masih bisa sopan."
Husna mengusir dengan menunjuk ke arah pintu.
Mikhail menarik tangan wanita itu hingga jatuh ke ranjang. Dengan sigap ia mengunci tubuh mungil dengan kaki dan tangannya.
"Aku rasa kau lebih paham agama dari pada aku! Bukankah seorang suami, tidak perlu izin untuk masuk ke kamar istrinya sendiri?"
Mikhail mulai memainkan rambut panjang gadis yang berada bawah.
Husna menjadi salah tingkah, berbagai emosi campur aduk di dadanya saat ini. Ada gugup, kesal, malu dan perasaan lain yang tak dapat di artikannya terus bergetar hebat membuat nafas tak beraturan.
"Sejak kapan dia mengakui kalau aku ini adalah istrinya?"
Batin bertanya.
Gadis itu berusaha memberontak, ia menggeliat ke kanan dan kiri sambil berharap kuncian pria di atas tubuhnya itu bisa terlepas.
"Mas, jangan kurang ajar. Lepaskan aku!"
Ucapnya dengan wajah merona.
"Kenapa, apa kau malu? Aku hanya ingin bercerita, karena akhir akhir ini kau terlihat acuh dan jual mahal."
Pria tadi mulai mendekatkan wajah.
"Mas, tolong jangan seperti ini! Kalau mau berbicara katakan saja! Tapi lepaskan aku dulu!
Husna terdengar memohon.
Mikhail menjadi tidak tega menatap wajah memelas Husna. Ia mendaratkan satu kecupan di kening, kemudian langsung mendudukkan diri.
Husna yang sedikit terguncang segera bangkit dan berjalan agak menjauh dari ranjang.
"A, apa yang mas lakukan?"
Tanyanya dengan kegugupan yang mulai menghantui. Ia berusaha membuat wajah penuh amarah untuk menutupi salah tingkah Nya.
"Aku hanya sedikit mengecup mu. Kenapa kau sudah semarah itu? Duduklah!"
__ADS_1
Pria itu menepuk sisi ranjang di sebelah dengan wajah yang masih terlihat tenang.
"Katakan saja apa yang ingin mas bicarakan, dan cepat keluar dari sini!"
Husna tetap kekeh berdiri di tempat.
"Baiklah, aku hanya ingin kau memberikan alamat tempat mu tinggal di sana."
Mikhail berucap sambil menaikkan kakinya ke atas ranjang dan mulai menyandarkan diri.
Mata gadis itu menyipit. Ia terheran melihat aksi sang suami yang kian berani.
"Untuk apa mas meminta alamat ku?
Tanyanya menyelidik.
"Jangan ke PD an dulu! Aku memintanya untuk mengirim surat-surat yang sekiranya perlu untuk kau tanda tangani."
Ucapnya santai.
"Apa maksudnya surat cerai?"
Batin Husna menyela.
"Baiklah, nanti akan aku WA kan!"
Husna berjalan ke pintu lalu membukanya lebar.
"Sekarang keluarlah!"
Usir gadis itu dengan nada datar.
Mikhail menatap Husna sesaat. Kemudian lanjut merebahkan tubuhnya.
"Malam ini adalah malam terakhir kita bersama.
Jadi aku akan tidur di sini bersamamu."
Pria itu memeluk guling dan mulai memejamkan mata.
"Tolong jangan bercanda mas. Besok pesawat ku berangkat pagi, jadi aku perlu istirahat."
Husna terus menarik sekuat tenaga. Namun tubuh Mikhail tidak bergeser sedikit pun, justru ia terlihat santai sambil menutup mata menikmati momen kekesalan istrinya saat ini.
"Mas!"
Husna melepaskan tangan pria itu dengan putus asa.
"Baiklah, mas tidur di sini. Biar aku yang pindah keluar!"
Husna berjalan mengelilingi ranjang untuk mengambil bantal.
"Apa susahnya tidur di samping? Aku tidak akan menyentuh mu. Ini hanya sebagai pengingat, bahwa kita pernah menikah."
Mikhail menahan bantal yang baru di raih oleh Husna.
"Tidak perlu, karena aku tidak ingin mengingatnya."
Husna menarik kasar benda itu hingga genggaman Mikhail terlepas. Setelah itu ia berjalan menuju pintu.
"Keluarlah jika kau bisa!"
Mikhail terlebih dahulu sampai dan mengunci pintu, lalu menaruh benda itu di kantong celana bagian depan.
"Mas, apa apaan kamu!"
Husna menatap dengan pandangan siap berperang.
Mikhail mengangkat bahu dan kembali berjalan keranjang, ia bahkan tidak menjawab kalimat marah sang istri.
"Mas, kembalikan kuncinya."
Husna mendekat sambil menampung tangan pada pria yang sudah kembali membaringkan tubuh di tempat tadi.
__ADS_1
"Ambillah kalau kau berani!"
Mikhail telentang.
"Glek,"
Dada Husna mulai tak beraturan, wajah wanita itu juga sudah merah padam. Ia tak bisa bayangkan bagaimana caranya ia bisa mengambil kunci yang berada di daerah terlarang pria itu.
"A, aku tidak bisa. Cepat kembalikan!"
Husna tergagap.
"Kalau kau tidak bisa, itu adalah urusan mu."
Mikhail memiringkan tubuh dan mulai menutup mata.
Husna hanya bisa terdiam di tempat, ia menatap punggung pria itu dengan penuh kekesalan.
"Percuma saja aku berdebat dengannya. Anggap saja ini adalah hari terakhir dia membuat ku kesal."
Husna menarik nafas dan berjalan kembali ke tempat di mana koper nya berada, melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Hanya perlu beberapa menit untuk Husna menyelesaikan semua barang yang ada di lemari dan meja rias. Gadis itu masih terpaku menatap benda tempat penyimpanan baju yang sudah terlihat kosong.
Ada kesedihan yang kembali di rasakannya saat membayangkan besok ia akan pergi dari rumah dan meninggalkan pria yang terlelap di ranjang nya saat ini.
"Tes, tes."
Air mata gadis itu jatuh tanpa permisi, ia dengan cepat menyeka sebelum terlanjur berderai. Mengingatkan kembali ke hatinya bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
"Maaf atas sikap ku selama ini. Aku tau kalau aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."
Tiba-tiba saja pria tadi sudah melingkarkan tangan di pinggang Husna, ia juga merebahkan kepalanya di bahu gadis itu.
Entah karena memang sedang dalam keadaan sedih atau mungkin terharu dengan kata maaf yang keluar dari mulut sang suami, hingga membuat Husna tak mampu lagi menahan tangisnya.
Bahu gadis itu kian naik turun seirama dengan isakan saat mengenang akan nasibnya yang entah akan seperti apa kedepan nya.
Mikhail memutar tubuh Husna dan membenamkan gadis itu ke dada. Membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Seakan akan ingin mengatakan bahwa semua akan baik baik saja.
"Belajarlah dengan giat, dan gapai lah cita-citamu! Aku akan memastikan semuanya akan berjalan sesuai dengan jalurnya."
Mikhail mendaratkan kecupan hangat di kening Husna.
Sementara gadis itu hanya terus terisak sambil memegang pinggang sang suami, ia bahkan tak mampu lagi berucap meski hanya satu kata.
"Istirahatlah! Besok Mama dan Papa yang akan mengatarkan mu ke bandara. Maaf karena aku tidak bisa ikut."
Bisik Mikhail lagi, ia mengurai pelukannya dan berjalan ke arah pintu untuk segera berlalu dari sana. Mikhail tak ingin sang istri melihat air mata yang juga sudah tak mampu lagi terbendung.
Ia berjalan masuk ke kamar seberang dan menumpahkan rasa sesak dengan duduk di ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Mikhail memang berniat tidak ikut mengantar sang istri ke bandara, kerena ia tidak akan mampu melihat wanita itu pergi.
Rasa takut akan hati yang akan tersakiti saat menatap punggung wanita itu ketika berjalan menjauh, membuatnya tak berani melihat kepergian Husna yang sudah beberapa waktu ini mengobrak abrik relung jiwanya.
Mikhail terus mengatakan pada hatinya bahwa semua akan baik-baik saja. Ia hanya butuh waktu hingga terbiasa dengan tanpa kehadiran wanita di kamar sebelah.
Pria itu yakin, mulai besok ia akan bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa bayangan wanita yang dulu sangat di bencinya itu.
Namun yang belum di sadari adanya istilah, ketika sudah tiada barulah terasa.
Mikhail tidak tahu ketika wanita itu pergi maka hidupnya tidak akan sama lagi. Kesakitan karena perpisahan adalah satu penyakit yang tidak ada obatnya. Dan cinta tidak akan bisa di bunuh begitu saja.
TBC
Maaf karena kalian sudah menunggu lama untuk saya UP.
Seperti yang sudah saya jelaskan di novel suamiku, kekasihmu.
Bahwa sudah seminggu ini saya tumbang dan alhamdulillah sudah mulai baikan.
Jadi mohon pengertiannya ya gaes.
__ADS_1
TERIMA KASIH,
Mohon bantu vote, like, dan silahkan berkomen ria.