Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 24


__ADS_3

"Ya ampun, sudah jam berapa ini, kenapa si itik lama banget di dalam sana."


Mikhail mondar-mandir di depan kamar Husna, istrinya.


"Tok, tok, tok."


Ketukan pintu akhirnya terdengar sebagai penanda bahwa kesabaran pria di luar sana sudah sampai di titik akhir.


"Itik, kalau kau tidak keluar dalam 5 menit lagi. Maka akan kutinggal kamu."


Teriak Mikhail dari luar.


"Kalau mas tidak butuh teman. Aku malah senang tinggal di rumah."


Husna langsung membuka pintu, tepat ketika pria tadi ingin mengetuk untuk yang ke 2 kalinya.


"Deg, deg, deg, deg."


Jantung Mikhail langsung terasa mau jatuh saat menatap wajah cantik yang sudah di poles dengan makeup natural. Namun tetap mampu menambah kecantikan wanita itu berkali-kali lipat.


"Um, hah...Sadar Mika, sadar, jangan biarkan wajahnya memengaruhi mu."


Batin Mikhail berusaha membangunkan diri dari pesona wanita judes di hadapannya.


"Mas, mas!"


Husna menyentuh tangan pria yang terpaku di tempat.


"Egh, apa, maksudku apa kau sudah selesai?"


Nada pria itu melemah.


Entah kenapa emosi yang tadi menggebu seketika sirna begitu dirinya menatap Husna.


"Sudah."


Wanita tadi menjawab dengan sedikit menyeringit heran. Ia tak paham kenapa pria itu berubah jadi selembut itu.


"Aku tunggu di mobil."


Mikhail segera berjalan ke luar, ia tak ingin Husna semakin menangkap rasa gugupnya.


"Huh... Ada apa dengan dadaku. Kenapa bisa berdebar sehebat ini?. Dulu ketika aku jatuh cinta pada Amanda, perasaan tidak begini amat."


Mikhail memegang dada kirinya yang masih bertalu. Ia menyandarkan kepala dan punggungnya, lalu mulai menutup mata.


"Apa mas baik-baik saja?"


Mikhail terkesiap. Ia yang sibuk mengendalikan detakan jantungnya, menjadi tak mengetahui kapan Husna masuk dan mendudukkan diri di sampingnya.


"Eh, iya. Apa kau sudah mengunci pintu?"


Tanya pria itu, sengaja mengalihkan perhatian.


"Sudah."


"Baiklah, ayo!"


Pria itu mulai menyalakan mesin mobil. Mereka berlalu menuju tempat tujuan.


"Selamat datang tuan. Boleh saya melihat undangannya?"


Salah satu dari dua orang penyambut tamu bertanya dengan sopan pada Mikhail.


Pria tadi meraih kertas yang di maksud. Lalu memberikannya untuk di periksa.


"Apa anda perwakilan dari tuan Aidhil Fahlevi?"


Tanya penyambut tamu tadi.


"Iya, saya anak beliau. Mikhail khairun Fahlevi."


Jawabnya.


"Baiklah tuan. Nama anda memang ada di daftar tamu. Lalu siapa nona ini?"


Mereka menatap pada wanita cantik di samping Mikhail.


Pria itu segera menggenggam tangan sang istri. Dan aksinya sontak membuat Husna tergagap.


"Dia istri saya."


Ucapnya dengan bangga.


"Deg,"

__ADS_1


Kata istri yang di ucapkan Mikhail, terasa menancap di dada Husna.


"Oh, kalau begitu silahkan masuk tuan."


Mereka akhirnya mempersilahkan pasangan tadi masuk.


Mikhail dan Husna mengangguk, lalu berjalan memasuki pesta. Pesta yang di dekorasi dengan elegan namun mewah, mampu membuat siapa pun yang hadir di sana ikut merasakan kebahagiaan.


Husna berusaha menarik pelan tangannya yang di rasa semakin erat di genggam oleh pria tadi.


"Mas, lepasin! Sakit."


Husna berbisik.


"Diamlah. Apa kau kira aku senang menggandeng tanganmu? Di sini banyak rekan bisnis papa, aku hanya tak ingin mereka curiga melihat kita yang nampak canggung!"


Mikhail memberi alasan.


Husna berfikir sesaat. Meski merasa risih, namun akhirnya ia berusaha memahami.


Satu persatu tamu yang mereka kenal menyapa, semua mata menatap takjub wanita ayu yang berpakaian sopan di hadapan mereka.


Husna yang merupakan seorang yang mudah bersosialisasi, menjadi cepat akrab dengan sebagian orang yang di kenal oleh suaminya.


"Tadinya aku berfikir akan malu-maluin membawanya ke pesta mewah. Tapi ternyata dia adalah wanita yang sangat pandai dalam bergaul dengan kalangan atas."


Mikhail menatap takjub sang istri dari kejauhan. Ia bahkan sekali-kali terlihat ikut menyunggingkan senyuman saat wanita itu tertawa.


"Sepertinya kau sangat mencintai istrimu?"


Tuan Hasan, si empunya pesta bertanya sambil menatap ke arah wanita yang sedang di pandang oleh Mikhail.


"Kenapa Tuan bisa berkata seperti itu?"


Ia bertanya penasaran.


"Saya melihat kau memandang istrimu, sama seperti saya memandang wanita di sebelahnya"


Pak Hassan menunjuk ke arah istrinya yang memang sedang berdiri di samping Husna.


Mikhail tercenung, ia mencoba memikirkan apa yang di ucapkan oleh lelaki paruh baya yang berdiri di sebelahnya.


"Apa benar aku mencintainya? Tidak mungkin, dia adalah satu-satunya wanita yang tidak boleh ku cintai."


"Pestanya meriah tuan. Dekorasi-nya juga indah."


Mikhail mengalihakan topik pembicaraan mereka.


"Eli lah yang mengatur semuanya. Ini adalah Anniversary pernikahan kami yang ke 43 tahun. Meski sudah hampir setengah abad, rasa cinta saya padanya tetap sama."


Hassan berucap bangga.


"Kalau kita menikahi wanita yang kita cintai, pasti hidup kita akan bahagia tuan. "


Mikhail menanggapi.


"Hem, kamu salah nak. Tidak semua orang yang menikah atas dasar cinta bisa bahagia. Eli adalah istri ke 2, wanita yang dulunya sangat saya benci, saya bahkan sering bersikap kasar padanya."


Wajah Hassan berubah sendu saat mengingat masa lalunya.


"Semua itu terjadi karena rasa trauma dengan pengkhianatan istri pertama saya, yang membuat hati saya membeku. Tapi dengan kesabaran dan rasa cintanya yang besar akhirnya hati saya mencair."


Lanjut pria tadi.


Mikhail tertegun, ia menatap dalam mata pria yang seusia dengan ayahnya itu.


"Jika Tuan dulunya tidak menyukai nyonya Eli. Lalu kapan tuan mulai menyadari kalau cinta itu sudah tumbuh? "


Pria itu semakin penasaran.


"Ketika dia pergi dari hidup saya. Karena seperti bait lagu. Kalau sudah tiada, baru terasa. Makanya sebelum dia pergi, peganglah mereka dengan kasih sayang!"


Ucapan Hassan terdengar seperti nasehat.


"Siapa yang mau di pegang?"


Pertanyaan dari wanita yang tengah mereka bicarakan, mampu membuat 2 orang tadi tersentak.


"Tidak sayang. Kami hanya membicarakan masalah bisnis."


Hassan langsung mengalungkan tangannya di pinggang sang istri. Membuat 2 anak muda yang berdiri di samping mereka merasa minder.


"Mari kita pulang. Aku masih ada acara setelah ini."


Mikhail berbisik pada istrinya.

__ADS_1


Husna mengangguk, mengiyakan.


Setelah mengobrol sebentar, akhirnya 2 orang tadi berpamitan.


"Aku mau ke club. Apa kau bisa pupang naik taksi?"


Ucapan Mikhail di tempat parkir mampu membuat kening Husna menyatu. Ada sedikit rasa ngilu yang di rasakan hatinya.


"Baiklah."


Gadis itu berbelok arah, kemudian melangkah menuju jalan raya.


"Aduh, kenapa hatiku jadi tidak tega?"


Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa tak sampai hati membiarkan Husna berjalan seorang diri.


"Tit, tit,"


Bunyi klakson mobil mampu membuat Mikail semakin menajamkan matanya menatap pada kendaraan roda empat yang sudah berhenti di samping istrinya. Dan dia kenal Siapa pemilik mobil itu.


"Buk guru?"


Salsa, murid Husna di sekolah langsung menghambur memeluknya begitu turun dari mobil.


"Hai, cantik."


Gadis itu membalas pelukannya sambil tersenyum manis.


"Buk Husna, kebetulan kita bertemu di sini."


Andre yang sudah berdiri di samping gadis itu, menyapa.


"Iya Pak!"


Husna menjawab kikuk. Ia mulai memikirkan alasan apa yang akan di berikan, jika 2 orang itu bertanya tentang apa yang di lakukannya di hotel mewah ini.


Ia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya. Karena ia tidak ingin terlihat menyedihkan.


Mikhail yang tadinya berencana masa bodoh dan berlalu dari sana. Tiba-tiba saja menjadi tak enak hati. Dadanya sesak saat menatap istrinya berbincang sambil tersenyum pada duda 1 anak itu.


"Baiklah, kalau begitu biar saya antar!"


Andre menawarkan bantuan.


"Tidak usah pak. Saya bisa pulang dengan taksi online."


Gadis itu menolak halus.


"Tidak usah sungkan. Saya hanya ingin memastikan kalau guru anak saya dalam keadaan aman. Karena wilayah di sekitar sini terkenal rawan akan aksi kejahatan terhadap perempuan."


Kalimat Andre mampu membuat nyali Husna menciut. Dengan tidak rasa segan, akhirnya wanita itu menyetujui untuk ikut dengan mobil ayah dari muridnya tadi.


"Baiklah pak. Terima kasih sebelumnya."


Gadis itu mengiyakan.


Salsa langsung melompat kegirangan saat mendengar persetujuan dari guru kesayangannya itu.


Andre berjalan ke mobil, ia membukakan pintu untuk sang anak. Kemudian berbalik untuk melakukan hal yang sama pada Husna.


"Maaf tuan Andre. Istri saya bisa pulang dengan saya. Terima kasih atas niat baik anda."


Mikhail segera menarik tangan Husna, ia dengan penuh kekesalan mempercepat langkahnya.


"Mas, Salsa liatin kita tuh. Aku nggak enak mas!"


Husna terus menatap pada anak murid, yang menatap sedih ke arahnya.


"Masuk!"


Mikhail berucap dengan mata memerah.


"Mas, setidaknya biarkan aku berpamitan dulu."


Husna yang bingung dengan sikap emosi tiba-tiba sang suami, menjadi salah tingkah. Ia merasa segan pada bos dan gadis kecil yang terus menatap pada mereka.


"Aku adalah suamimu, dan aku lah yang harusnya kau turuti. Cepat masuk, sebelum aku hilang kendali."


Kali ini Mikhail terlihat kian geram. Pria itu makin merasa panas karena Husna terus saja memikirkan perasaan sang duda.


"Ada apa dengannya? Tidak ada angin, tidak ada hujan. Kenapa dia langsung marah seperti ini."


Husna yang bingung, akhirnya memilih masuk ke mobil.


TBC

__ADS_1


__ADS_2