Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 36


__ADS_3

Setelah perasaannya terbendung, Husna berdiri kemudian berjalan menuju ruang tamu.


"Kenapa mas bisa ada di kamarku?"


Ia berucap pada pria yang mengekor.


"Bisakah kita membicarakannya nanti? Saat ini aku sangat kelaparan."


Mikhail sudah mendudukkan diri di sofa panjang, berucap santai sambil memegangi perut.


"Jangan alihkan pembicaraan kita. Jawab saja pertanyaan ku!"


Husna menyilangkan tangan di depan dada, menatap nyalang pada pria yang sedang memandanginya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa pertanyaan mu?"


Wanita itu dengan kesal hanya bisa menarik dan membuang nafas panjang untuk kembali menenangkan emosi yang mulai terasa.


"Dari mana mas tau alamat rumah ini, dan kenapa mas bisa berada di dalam kamar ku?"


Ia menatap dengan penuh kesal.


"Mencari alamatmu bukanlah hal yang sulit. Yang sulit adalah meyakinkan teman satu rumah mu, bahwa aku ini adalah suami sah dari perempuan yang bernama Husna nur haziah."


Jawab Mikhail dengan wajah datar.


Wanita tadi terdiam sesaat, mencoba menimbang apa yang akan di ucapkannya lagi.


"Baiklah, sekarang katakan apa yang membawa mas kesini. Setelah itu, pergilah! Aku tidak punya waktu untuk melayani mu."


Mendengar ucapan ketus dari istrinya, Mikhail berdiri. Ia berjalan kembali ke kamar.


"Aku di Turki selama 4 hari. Selama itu, aku akan tinggal di sini bersamamu."


Ia kembali merebahkan tubuh di ranjang, lalu menarik selimut hingga ke batas leher.


Mendengar kalimat suaminya barusan, Husna langsung naik darah. Ia mendekat, mengibaskan selimut kemudian menarik tangan pria tadi.


"Keluar secara baik baik, atau aku akan mengusir paksa mas dari sini."


Ancamnya.


Mikhail tersenyum kecil, lalu menarik balik tangan yang sedang memegang-nya, hingga Husna terhuyung dan mendarat tepat di atas dada. Ia dengan sigap langsung memeluknya erat.


"Mas, jangan gila kamu. Lepaskan aku!"


Menggeliat melepaskan diri.


"Syut.. Bisakah kau diam sebentar. Aku hanya ingin melepaskan rasa rinduku!"


Mikhail menatap dengan tatapan menusuk ke jantung.


Husna tergagap, dadanya sontak bertalu kian kencang ketika mendengar kalimat bisikan tulus tadi. Wajah seketika merona, ia semakin kesusahan menahan gejolak jiwa akan pria di bawah. Husna dengan cepat memalingkan wajah dari netra yang mampu membunuhnya saat ini.


"A, apa maksudmu mas?"


Dia pura-pura tak mengerti.


Mikhail kian mengencangkan pelukan.


"Ya, aku merindukanmu itik."


Ucapnya dengan tulus.


"Ada apa dengannya? Bukankah dia dulu sangat senang dengan kepergianku?"


Husna bergumam di sela rasa gugup.


"Jangan berbicara yang tidak tidak. Lepaskan aku!"


Ucapan wanita itu terdengar melunak.


"Apa kau tidak percaya dengaan apa yang ku katakan?"


Mikhail mencoba mencari mata yang saat ini enggan menatapnya.

__ADS_1


"Mas, aku sesak nafas. Tolong lepaskan!"


Kalimat Husna terdengar memohon.


Mendengar permintaam sang istri selembut itu, Mikhail refleks melepas kungkungan.


"Maaf."


Ia lalu mendudukkan diri.


"Mas tidak bisa tinggal disini. Karena aku tidak enak dengan Sania."


Husna mencoba memberi alasan.


"Gadis itu sudah setuju untuk menginap di rumah rekannya yang lain selama aku di sini."


"Apa?"


Kening Husna langsung menaut, heran. Gadis itu berjalan menuju lantai, memungut handphone yang tadi terjatuh, lalu memencet sebuah nomor.


"Apa yang di janjikannya pada Sania, hingga dia setuju pindah dalam beberapa hari ke depan?"


Suara hati mulai berbisik.


"Halo, Sania. Kamu bisa pulang sekarang?"


Itulah kalimat yang di ucapkan begitu sambungan di angkat.


"Maaf, aku tidak punya pilihan. lebih baik kamu fokus menikmati masa romantis kalian."


Sania terdengar terkekeh.


"Romantis apanya. Jangan aneh aneh deh kamu."


Husna mengecilkan nada, ia tidak ingin pria yang terus menatapnya dari atas ranjang itu, mendengar percakapan mereka.


"Alah, sok munafik. Ternyata dia pria yang membuatmu uring uringan selama ini. Pantes sih, soalnya suamimu itu ganteng, hahaha..."


Gadis di seberang semakin mengencangkan tawanya.


Nada Husna terdengar melunak.


"Maaf say, tapi aku tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain."


Sania kembali terdengar terkekeh, lalu menutup panggilan tanpa permisi.


"Sania, tolong dengar.. ha.. halo.. halo.."


Husna melihat ke layar benda pintar yang ternyata sudah mati.


"Gimana, apa kau sudah percaya padaku?"


Mikhail menaikkan alis.


"Meski Sania sudah mengijinkan. Tapi aku tidak enak dengan orang pemilik rumah, jika nanti mereka tau ada pria yang menginap di sini, maka mereka akan berfikiran aneh tentangku."


Alasannya lagi.


"Aku juga sudah mengurus hal itu. Kalau kau tidak percaya, telfon saja!"


Mikhail kembali merebahkan tubuh.


Husna akhirnya hanya bisa terdiam, ia percaya kalau pria di hadapannya memang sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.


"Kenapa kau masih termenung di situ. Aku sangat lapar, tolong masakkan sesuatu untuk di makan."


Mikhail kembali terdengar memohon.


Husna memandang suaminya sebentar, seakan mewakili hatinya yang semakin bingung.


Gadis itu akhirnya berbalik, namun sebelumnya mengangguk terlebih dahulu, kemudian berjalan menuju dapur.


Tak butuh waktu lama, 3 masakan sudah terhidang di atas meja. Husna tersenyum kecil menatap piring yang sudah terisi, ia tahu apa yang sediakan saat ini, adalah makanan kesukaan pria tadi.


Langkahnya melaju ke kamar, berniat memanggil pria yang meminta makan. Namun begitu baru membuka pintu, ia melihat sang suami sudah terlelap, bahkan terdengar dengkuran halus dari sana.

__ADS_1


Husna mendekat, ia menarikan telapak tangan di wajah orang yang baru datang. Memastikan bahwa pria itu benar benar sudah tertidur.


"Sepertinya dia lelah sekali!"


Husna bergumam saat melihat Mikhail tertidur seperti orang pingsan. Ia menarik selimut hingga ke leher pria itu, memberi kehangatan di musim dingin yang bisa membuat orang serasa membeku.


Tepat tengah malam, seorang pria terbangun karena mendengar bunyi dari perutnya sendiri. Ia menggeliat untuk meregangkan otot yang terasa kaku.


Mikhail mengusap mata, hal pertama yang di cari ketika panca indera Nya terbuka adalah, Husna. Istri yang di rinduinya.


"Kemana dia?"


Pria itu berdiri, kemudian berjalan keluar dari sana.


Ketika membuka pintu kamar, ia melihat lampu ruang tamu sudah di matikan. Dengan pelan ia mencoba meraba dinding untuk mencari di mana tombolnya berada.


"Ah, ini dia."


Pria itu langsung menekan


"Alhamdulillah."


Ia senang melihat lampu yang sudah menyala.


Kemudian ia berbalik...


Akh.."


Mikhail seketika berteriak ketakutan karena melihat sesosok berjubah putih sudah berdiri di belakang.


Saking terkejut dan takutnya, ia bahkan sampai tersandar ke dinding dengan wajah pucat.


"Hahaha,,, mas ini aku."


Husna refleks terbahak melihat sang suami yang sudah terlanjur pasi.


"Ha, ah.. huh.."


Mikhail mencoba mengatur nafas.


"Apa kau berencana menghabisi ku?"


Kembali berdiri tegak sambil memegangi dada kirinya yang masih bertalu kencang.


"Hehe, maaf. Tadinya aku melihat mas kesusahan mencari tombol ini, makanya aku berinisiatif untuk membantu mu."


Husna berusaha menahan tawa.


"Kamu datangnya diam-diam sih, trus pake ini lagi."


Mikhail menyentuh mukenah yang di kenakan istrinya.


"Tadi aku baru selesai shalat malam mas. Maaf."


Husna menjadi tidak tega.


"Ya sudah, aku lapar. Tolong temani aku makan! Tapi, buka dulu mukenah mu."


Ucap pria itu sambil berlalu menuju meja makan.


Ia merasa sangat malu karena berada di posisi tadi, Mikhail juga tak dapat bayangkan apa yang sedang di pikirkan oleh wanita di belakangnya saat ini.


Husna tersenyum sambil mengikuti langkah Mikhail. Hatinya berkata kalau ternyata pria galak dan kasar seperti suaminya itu, juga mengenal kata takut. Bahkan wajahnya terlihat sangat pucat, pasi dan mengiba.


Membuat Husna merasa geli sendiri.


"Ternyata dia penakut juga."


Gumamnya sambil membuka mukenah.


TBC


Mohon sempatkan jari untuk memberi Vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2