
Husna menatap mobil Lamborghini berwarna merah yang baru keluar dari pekarangan rumah yang ia tinggali, dan wanita itu tahu siapa yang berada di dalam mobil itu. Yang pasti adalah suaminya dan selingkuhan-nya.
Setelah kepergian mereka, Husna keluar dari kamar. Dia berjalan ke arah pintu depan dan mengunci pintunya dari dalam.
Wanita itu tahu kalau Mikail pasti membawa kunci sebelum keluar dari rumah. Namun jika ia memakai kunci double dari dalam. Maka akan dijamin pria itu tidak akan dapat masuk ke dalam. Dia memang sengaja ingin memberi pelajaran pada sang suami.
Setelah memastikan pintu depan, belakang dan samping terkunci. Akhirnya wanita itu berjalan masuk ke dalam kamar tamu. Dia mulai menghidupkan AC, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang empuk yang ada di sana. Dia berfikir, untuk menikmati rumah mewah ini terlebih dahulu.
Tak Butuh waktu lama akhirnya Husna masuk ke alam mimpi.
Beberapa saat berlalu. Ketika dini hari mobil yang tadi Keluar akhirnya kembali ke dalam bagasi. Seorang pria keluar dari sana, ia berjalan sambil merogoh kantong celananya. Mencari benda yang bisa di gunakannya untuk membuka pintu.
Setelah menemukan kunci, ia langsung memasukkan benda itu ketempatnya. Memutar dan menekan benda itu berulang kali. Namun hingga beberapa kali coba, usahanya tak kunjung membuahkan hasil.
"Apa ini rusak?"
Mikail kembali melakukan hal yang sama, dan hasilnya tetap nihil.
"Tok, tok, tok,"
Pria itu memutuskan mengetuk.
"Eh itik, bukain gue pintu!"
"Itik, buka pintunya!"
"Itik"
"Tok, tok, tok,"
Masih, usahanya tetap gagal.
Wanita yang berada di dalam sana tak kunjung menjawab.
""Brengsek si itik. Dia pasti sengaja ngerjain gue."
Mikail terduduk di tangga depan pintu.
"Gawat, mau kemana gue jam segini."
Pria itu menggerutu sambil mengacak rambutnya. Ia melihat jam di tangannya sudah mengarah pukul 2 dini hari.
"Baiklah itik, besok gue akan memberi lo pelajaran."
Pria itu bangkit, berjalan ke arah mobil. Tak punya pilihan, akhirnya dia tidur di sana.
"Tok, tok, tok,"
Samar telinga Mikail menangkap sebuah suara yang membuatnya terbangun dari tidur singkatnya.
__ADS_1
Pelan tapi pasti, pria itu pun membuka mata.
"Itik?"
Ia terduduk, bayangan kejadian semalam langsung melintas di benaknya.
"Eh, lo tu ya."
Mikail yang baru keluar dari mobil, segera manarik lengan Husna, ia memutar dan mendorong tubuh istrinya itu dan hingga tersandar ke mobil.
"Aww, sakit Mas." Husna menyeringit.
Pria itu tak perduli, dia bahkan meremas kedua lengan Husna dengan lebih kencang, menekan tubuhnya agar menempel pada sang istri. Supaya wanita itu tak dapat bergerak.
"Baru tahu lo apa rasanya sakit? Berani-beraninya Lo mengurung gue di rumah gue sendiri. Nggak sadar diri lo ya! Udah numpang di sini, terus sok berkuasa lagi, emang lo itu siapa ha?"
Mikail berteriak tepat di telinga Husna dengan penuh emosi.
"Pluk."
"Ahk."
Kali kali ini suara rintihan keluar dari mulut pria dihadapan Husna. Dia terlihat meringis memegangi tulang keringnya yang baru saja ditendang oleh sang istri.
"Sebelum Mas menuduh ku, ada baiknya berkaca terlebih dahulu. Jika Mas bertanya siapa aku? Aku adalah sepupumu yang sudah menjadi istrimu selama 2 minggu ini. Dan mengenai Kenapa pintu terkunci, semua Itu ku lakukan untuk keamanan rumah ini. Setelah Mengunci pintu aku pergi tidur hingga aku tidak mendengar ada orang yang memanggil. Lagi pula aku tidak tahu kalau Mas pergi keluar karena mas tidak berpamitan padaaku. Jadi jangan salahkan aku atas kejadian ini!"
Mikail yang masih berjingkrak menahan rasa sakit, kembali membuka suara.
"Eh itik mau kemana Lo? Urusan kita belum selesai."
Teriakan pria itu tak di acuhkan oleh Husna.
"Hei, kembali kesini! bagaimana bisa lo pergi tanpa persetujuan gue. Istri macam apa lo?"
Mikail terus berteriak. Namun wanita yang sedang di maki nya terlihat santai berjalan ke arah jalanan. Di sana sudah ada sebuah mobil menunggunya dan mobil itu adalah sebuah jasa taksi online.
"Brengsek! Lihat aja nanti, gue kan bikin perhitungan sama lo."
Rutuk pria itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Hal pertama yang dilakukan setelah masuk ke dalam rumah adalah menuju ke meja makan. Karena pria itu merasa sangat kelaparan.
Semalaman tidur di udara luar sengguh mampu membuat perutnya cepat lapar.
Ketika sampai di sana matanya membulat melihat beberapa menu yang sudah tersedia di atas meja.
"Aku rasa, Dia sengaja menyediakan masakan enak kayak gini, supaya gue mau memaafkan kesalahannya. Tapi tetap saja ini belum sepadan, karena kau sudah membuatku Menjadi santapan nyamuk di luar sana."
Mikail bergumam sambil menelan makanannya.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong, kemana dia pergi sepagi ini? Ah bodo amat. Mau ke mana kek, itu bukan urusan gue. Ngapain sibuk ngurusin dia."
Batinnya mulai memikirkan Husna, meski bibirnya mencoba menepis semua itu.
"Baiklah buk Husna, mulai besok anda sudah boleh mengajar disini. Dan mata pelajaran Anda adalah Pendidikan Agama Islam. Jadi, Selamat bergabung semoga Anda betah mengajar di sini."
Seorang wanita bertubuh agak gempal mengulurkan tangan pada Husna.
Husna yang baru saja diterima bekerja di sebuah TK langsung menyunggingkan senyuman indahnya. Dia langsung membalas uluran tangan dari ibu kepala sekolah dengan hati riang.
"Terima kasih buk, semoga saya bisa menjadi panutan yang baik untuk anak-anak. Mohon bimbingannya buk, agar nantinya saya bisa menjalankan semua ini dengan baik."
Ucap Husna dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.
"Kalau begitu, mari saya Perkenalkan dengan guru yang lainnya."
Ucap sang kepala sekolah sambil menuntun Husna berjalan menuju ruang guru.
Sementara itu di tempat lain.
"Tumben lo Mika, jam segini baru nongol."
Dodi, temannya Mikail, tiba-tiba datang dengan menepuk pelan punggung pria itu.
"Gara-gara si itik nih. Masa gue dikunciin di luar. Gue tidur di mobil semalaman, udah banyak nyamuk lagi. Menderita banget lah pokoknya tadi malam." Mikail berucap dengan raut wajah kesal.
"Hahahhaha, Wah garang juga ya Istri lo,"
Ucap Dodi sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Brengsek lo! Bukannya prihatin malah ngetawain gue. Teman apa apa musuh sih lo?"
Mikail yang tadi sudah kesal sekarang terlihat kian emosi.
"Sorry Bro Tapi menurut gue istri lu bener-bener galak,"
Tambah Dodi sambil berlalu meninggalkan pria tadi.
"Sialan, kenapa jadi gue yang kena bully?"
Pria itu mengucek rambutnya kesal.
Mikail merasa bahwa Husna bukanlah tipe wanita yang gampang di tindas. Bahkan setelah dia berbuat sekejam itu, dia tetap tidak mengeluarkan air mata.
"Hm, kau memang lawan yang cukup berat itik. Tapi, aku tidak akan menyerah."
Dia manggut-manggut sendiri.
TBC
__ADS_1