Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 43


__ADS_3

Pagi ini, terlihat seorang gadis cantik sedang menggeliat di balik selimut. Ia mengucek mata beberapa kali sambil mengumpulkan separuh kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi.


Husna perlahan membuka mata. Hal pertama yang menyambutnya adalah senyum indah dari wajah yang sangat di kenali. Husna yang masih separuh sadar langsung membalasnya.


"Pagi mas."


Menyapa santai, namun kemudian gadis itu terdiam. Ia baru menyadari apa yang sedang terjadi.


"Akh, mas!"


Husna membuang asal tangan Mikhail yang melingkar di perut. Ia juga refleks mendudukkan diri dan beringsut menjauh dari tubuh pria yang sudah memeluknya semalaman.


"Apa yang mas lakukan?"


Husna bertanya dengan wajah pucat pasi, ia mencoba memeriksa pakaiannya yang ternyata masih menempel dengan sempurna.


"Jangan khawatir! Aku hanya memeluk mu, tidak lebih."


Mikhail ikut duduk dan bersandar di tepi ranjang.


"Eh, tapi. Kenapa mas bisa tidur di sini? Bukankah di situ ada sofa?"


Husna menunjuk arah sofa yang terletak tak jauh dari sana.


"Sofa memang ada, tapi selimutnya cuma satu. Dan udara di sini sangat dingin. Dari pada aku mati beku dan kau akan menjadi janda, bukankah lebih baik kita berbagi kehangatan?"


Mikhail kembali tersenyum kecil sambil menaik turunkan alisnya.


Husna kian tergugup, ia merangkak turun dengan wajah yang semakin memerah. Mencoba menghindari rasa ngeri akan kalimat mesum suaminya.


"Dasar pria tidak sopan."


Rutuknya.


"Berbuat tidak sopan pada istri sendiri itu, dapat pahala lo. Apa kau mau menjemput pahala bersamaku?"


Mikhail kembali menggoda.


Husna meraih bantal, lalu melemparkan ke wajah pria itu.


"Lebih baik mas mandi dan berwhudu, setelah itu mari shalat subuh bersamaku! Karena pahala itu jauh lebih besar dari pada hal kotor yang mas pikirkan."


Husna memulai langkah.


"Hahaha,"


Mikhail merasa lucu melihat wajah istrinya yang kian kikuk.


"Itu adalah pahala wajib. Tapi aku mengajak mu untuk melakukan pahala lain dengan bersedekah."


Husna menajamkan mata, keningnya mulai terlihat menyatu.


"Apa maksud mu dengan bersedekah mas?"


Husna mulai tak mengerti kemana arah kalimat sang suami

__ADS_1


Mikhail turun dari ranjang, kemudian berjalan mendekat ke arah Husna. Ia manatap wanita itu dengan tatapan berbeda. Lebih tepatnya tatapan siap memangsa.


Husna yang mulai merasakan ada aura lain dari cara Mikhail menatapnya kian bergidik ngeri.


Gadis itu langsung mundur selangkah dua langkah saat suaminya semakin mendekat.


"A, apa yang mas lakukan? Aku, aku mau shalat subuh mas."


Husna terus mundur hingga kakinya membentur ranjang.


"Bukankah kau mau tau apa maksudku dengan bersedekah?"


Pria itu terus mendekat, ia sedikit membungkuk supaya wajah mereka sejajar.


"Mas,"


Husna kian tergugup, ia memalingkan muka, karena tak berani memandang netra Mikhail.


"Kau adalah guru agama. Aku rasa kau cukup tau apa saja pahala yang bisa kau dapat jika kau mau melayani suamimu dengan ikhlas. Bahkan dalam hal melayani di atas ranjang juga akan mendapatkan pahala."


Pria itu berbisik dengan lembut di telinga Husna. Hembusan nafasnya mampu membuat gelanyar aneh di dada wanita itu.


"Apa kau mau menjemput pahala itu bersamaku?"


Mikhail kembali berbisik, ia bahkan berani menggesekkan hidung mancungnya di pipi mulus sang istri.


"Gluk."


Husna kepayahan menelan saliva. Dada gadis itu kian berdegup tak menentu.


"Oh, ternyata kau jauh lebih agresif dari yang aku bayangkan."


Lelaki tadi berusaha menahan tubuh dengan kedua siku.


Husna semakin salah tingkah.


"Aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Mas menakutiku hingga aku terjatuh."


Helah-nya.


Tangan pria itu terangkat dan mulai membelai mesra kening Husna.


"Tapi aku berharap kau berfikiran seperti itu."


"Mas, aku mau shalat subuh."


Masih berusaha menyelamatkan diri.


"Kenapa kau cepat sekali mau shalat. Bahkan suara azan pun belum berkumandang."


Mikhail mulai mendaratkan kecupan di kening Husna.


Husna semakin terpojok. Ia mulai merasakan ciuman Mikhail turun ke mata, pipi, hidung dan menuju ke bibir. Namun, tepat beberapa senti sebelum bertabrakan, ia segera memalingkan wajah.


"Mas, tolong jangan memaksaku."

__ADS_1


Ia menahan tubuh Mikhail dengan kedua telapak tangan.


"Aku tidak memaksa, bukanlah aku sudah mengajak mu?"


Pria itu menarik tangan sang istri ke atas, lalu menahan dengan sebelah tangannya.


"Diamlah, dan mari menjemput pahala bersamaku!"


Mikhail langsung menyambar bibir Husna, mengecup pelan beberapa kali sebelum akhirnya memulai kul*m*an memabukkan. Husna yang awalnya menolak, kini mulai terhanyut dan mengikuti aksi pria itu.


Permainan yang awalnya lembut mulai memanas, tangan Mikhail akhirnya tak terkendali. Ia memberanikan diri untuk meraba bagian atas.


Cium*n-nya juga sudah berpindah ke leher, menjilat dan mengecup lembut, membuat Husna semakin mabuk dan terhanyut. Gadis itu mulai kehilangan kendali atas dirinya karena setiap sentuhan yang di berikan oleh Mikhail benar-benar mampu menghanyutkan.


"Akh, mas."


Tanpa sadar Husna mendesah saat Mikhail mulai menciumi gunung yang masih berpenutup. Mikhail semakin kalap, ia dengan perlahan namun pasti mulai mencari pengait di belakang sana.


"Datanglah kembali setelah mas menyelasaikan hubungan dengan wanita itu."


Tiba-tiba saja telinga Mikhail terngiang dengan ucapan Husna beberapa saat lalu.


Ptia itu segera menghentikaan aksinya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh atas Husna yang sudah separuh terbuka.


"Maaf, aku sudah kelewatan. Tidak seharusnya kita melakukan ini sekarang."


Mikhail mendudukkan diri.


Husna yang baru tersadar, akhirnya mulai merasa malu. Malu akan dirinya yang sudah terlalu terbuai dan membiarkan pria kejam itu menguasai tubuhnya.


Tapi di sisi lain, Husna juga merasa kecewa dan tak mengerti kenapa Mikhail menghentikan apa yang tengah terjadi. Karena di akui oleh Nya, jika saja pria itu melakukan saat ini, maka ia pasti tidak akan berdaya untuk menolaknya. Lalu kenapa Mikhail berhenti saat sudah mendapatkan kesempatan?


Berbagai macam pertanyaan mulai menghantui benak gadis itu.


"Jangan berfikiran aneh,"


Mikhail membantu Husna duduk, dan mulai kembali memasangkan kancing kemeja sang istri yang tadi sempat di bukanya.


"Aku berhenti karena aku ingin menikmati hal indah ini, di saat hubungan kita sudah hanya tersisa kita. Aku akan segera membereskan hubunganku dengan Amanda, dan memulai semuanya dengan benar bersamamu."


Mikhail menarik Husna ke dalam pelukannya, ia membelai rambut panjang istrinya dengan lembut.


Sebenarnya ia tidak mampu menahan gelora syahwat, namun rasa cinta dan rasa menghormati yang tinggi, hingga membuatnya mampu mengalahkan hawa *****.


Mikhail merasa tidak adil untuk Husna, jika ia mengambil hak sementara dia tidak melakulan kewajibannya. Kewajiban untuk menyayangi dan melindungi sang istri. Di mana ia merasa saat ini dia belum pernah melakukan hal itu.


Husna semakin tersanjung saat mendengar kalimat dari sang suami. Dia merasa kalau Mikhail benar benar sudah berubah. Pria itu sudah bisa menjaga dan menghormati dirinya.


Dan Husna marasa bahwa rasa cintanya pada pria ini tidaklah salah. Ia tahu kalau sebenarnya sang suami adalah pria yang baik. Husna berdoa dalam hati semoga semua bisa terselesaikan dengan baik, supaya mereka bisa memulai hidup baru dengan tenang.


TBC


Mohon bantu vote, like, beri hadiah dan silahkan berkomen ria.


MAKASIH...

__ADS_1


__ADS_2