Rasakan Di Hatimu, Suamiku

Rasakan Di Hatimu, Suamiku
BAB 42


__ADS_3

"Maaf tuan, kamar di sini hanya tersisa 1."


Pak Amer, sang tour guide memberi laporan setelah selesai berurusan dengan resepsionis.


"Apa? Hanya satu?"


Husna refleks menanggapi. Mikhail dan pria paruh baya tadi, serentak mengalihkan pandangan ke arahnya.


Husna yang mendapat tatapan aneh dari 2 pria, langsung memberikan senyum kecil.


"Waduh, kalau begitu bapak nginab dimana dong?"


Mikhail kembali pada topik pembicaraan mereka.


"Tidak usah pikirkan saya tuan. Saya punya saudara di kota ini."


Pria tadi menjawab.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu, makasih untuk hari ini pak."


Pria itu mengulurkan tangan, dan pak Aamer langsung membalasnya sambil memberikan kunci kamar. Setelah itu, beliau pergi meninggalkan sepasang suami istri tadi dengan pikiran masing-masing.


"Gimana? Apa kau keberatan jika kita sekamar?"


Mikhail bertanya pada sang istri.


Mendengar pertanyaan dari suaminya, Husna terlihat berfikir sejenak.


"Apa kita punya pilihan lain?"


"Tidak. Kecuali jika kau mau berkeliling mencari penginapan lain. Tapi hal itu tetap tidak menjamin kalau kita akan mendapatkan penginapan. Karena ini adalah akhir pekan dan pastinya banyak wisatawan yang datang ke tempat ini."


Husna kembali terdiam.


"Kalau kami sekamar. Dia tidak akan macam macam kan?"


Rasa kewaspadaan kembali menjalar di benak Husna.


"Apa kau takut aku akan melakukan sesuatu?"


Senyum usil Mikhail terlihat mulai muncul.


Husna semakin bergidik ngeri saat melihat senyum genit di wajah sang suami.


"Bisakah mas tidak menakutiku?"


Ia mengerucut kan bibir.


"Hahahha."


Pria itu membelai sayang kerudung istrinya.


"Jangan khawatir, sebesar apa pun hasrat yang akan timbul nanti. Tapi, tetap saja aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuan darimu."


Mikhail meraih tangan wanita itu dan mulai menuntunnya menuju lift.


Husna yang tak punya pilihan, terpaksa hanya bisa mengikuti langkah pria yang sudah menikahinya hampir 1 tahun ini.


"Oh, ya ampun, mas!"


Husna membelalakkan matanya pada Mikhail.

__ADS_1


"Maaf, tapi ini benar benar bukan rencanaku."


Pria itu mengangkat kedua tangannya.


Sepasang siami istri itu di kejutkan dengan penampakan kamar yang ada di hadapan mereka.


Kamar itu sudah di sulap menjadi seromantis mungkin. Semua sudah terlihat dari pintu hingga ke kamar tidur, banyak kelopak bunga mawar merah yang bertebaran membetuk sebuah jalan.


Di tambah pula dengan tanda hati yang juga sudah di bentuk dengan bunga yang sama. Tak lupa juga lilin beraroma terapi, serta beberapa hiasan balon kian membuat kamar itu semakin romantis.


"Nikmati saja! Sepertinya pak Aamer terlalu bersemangat."


Mikhail langsung merebahkan diri menimpa tanda hati tadi.


"Sini!"


Pria itu menepuk sisi di sebelahnya.


"Mas, jangan aneh aneh kamu ya!"


Husna mencoba menghindar dari tatapan lain dari sang suami. Ia berjalan menuju sofa, mendudukkan diri.


"Hahahha, aku hanya bercanda."


Mikhial bangkit, ia berjalan dengan senyum usil menuju kamar mandi.


Husna mencoba mengatur nafas yang tak menentu karena rasa gugup-nya.


"Bagaimana kalau dia memaksa ku?"


Gadis itu mulai bergidik ngeri.


Tak lama, terdengar pintu kamar mandi kembali terbuka. Husna yang dari tadi sibuk bermain dengan gawai Nya, refleks menatap ke arah suara.


Gadis itu segera mengalihkan arah pandang, karena merasa malu melihat apa yang tersaji.


Mikhail yang hanya mengenakan handuk hingga sebatas bawah pusar, membuat Husna tergugup.


"Ya ampun. Apa dia tidak punya rasa malu?"


Husna merona. Meski hanya singkat, tadi dia dapat melihat dengan jelas perut kotak dan bulu halus yang tumbuh di dada pria itu.


"Apa kau tidak penasaran?"


Mikhail bertanya sambil berjalan menuju ranjang, di mana baju gantinya sudah di sediakan oleh Husna.


"Penasaran dengan apa?"


Husna bingung.


"Penasaran dengan tubuhku!"


Berucap santai, lalu mulai mengenakannya di sana.


Husna langsung berdiri, ia makin bergidik mendengar kalimat suaminya yang semakin mesum. Gadis itu lalu berusaha berjalan dengan mata tertutup menuju arah balkon.


"Akh,"


Tanpa terduga ia terbentur meja, membuat gadis itu refleks duduk.


"Makanya, kalau jalan itu matanya di buka."

__ADS_1


Mikhail dengan sigap menggendong Husna.


"Deg, deg, deg."


Dada wanita itu kian tak menentu, karena Mikhail belum mengenakan baju. Ia hanya baru memakai celana pendek, membuat wajah Husna sangat dekat dengan dada kekarnya.


"Jangtung ini kenapa sih, tahan... tahan.. Ini hanya cobaan. Ingat, dia masih mempunyai kekasih."


Husna mencoba mengingatkan hatinya.


Mikhail menurunkan Husna di ranjang, lalu ikut mendudukkan dirinya di sana. Pria itu dengan telaten memeriksa jempol sang istri yang terlihat sedikit merah. Ia meniup dan mengelusnya dengan penuh rasa sayang. Membuat Husna merasa sangat tersentuh.


"Tuggulah di sini, aku akan ke apotik untuk membeli obat."


Mikhail berdiri, menyambar baju.


"Tidak usah mas. Ini hanya sedikit."


Gadis itu merasa tidak enak.


"Sedikit apanya? Kalau ini di biarin, bisa bisa besok bengkak dan kau akan kesusahan untuk berjalan."


"Tapi mas."


Husna merasa tidak enak karena ia tahu bahwa Mikhail pasti lelah setelah seharian ini berjalan.


"Husna, aku adalah suamimu. Dan keselamatanmu adalah tanggung jawabku."


Pria itu membelai sayang rambut panjang istrinya, kemudian berjalan keluar dari kamar.


Husna masih tertegun mendengar kalimat mengharukan yang di ucapkan oleh pria tadi. Tanpa di sadari olehnya, air mata wanita itu mulai menetes. Namun kali ini adalah air mata kebahagiaan dan rasa haru yang kian mendalam.


Husna menidurkan tubuh, kemudian mulai mengingat semua sikap manis yang di tujukan oleh Mikhail beberapa hari ini. Meski masih ada luka, namun tak dapat di pungkiri bahwa rasa cintanya juga semakin dalam. Hingga rasa kecewa dan bencinya dulu, entah sudah menghilang kemana.


"Ya Allah, tolong tunjukkan jalan mana yang harus hamba pilih. Apa yang harus hamba lakukan? Kenapa hati ini merasa kalau pria itu benar benar sudah berubah."


Husna mengadukan urusan hati pada sang pemilik kehidupan.


Entah berapa lama ia terus terdiam dan memikirkan apa yang tengah di laluinya, hingga ia terlelap.


Mikhail kembali masuk ke kamar sambil membawa kantong di tangan kirinya. Mata pria itu langsung menangkap tubuh Husna yang sudah terlelap dengan nyenyak di atas sana.


Ia memghampiri dengan senyum, merasa ikut bahagia saat melihat wanita yang di cintai sudah beristirahat.


Mikhail lalu mengoleskan salep dan membalutnya dengan kain yang sudah di oleskan dengan cairan obat. Tak lupa pula berdoa semoga kaki wanita itu tidak bengkak esok hari. Setelah selesai ia naik ke ranjang dan mulai ikut merebahkan tubuh di samping wanita yang tengah berada di alam mimpi.


Mikhail menarik Husna ke dalam dekapannya, kemudian memeluk wanita itu erat. Mengangkat selimut hingga kedada dan mendaratkan kecupan berkali kali ke kening Husna.


"Istirahatlah. Jangan lupa mimpikan aku, karena aku sudah pasti akan memimpikan-mu. *Seni seviyor*um (Itu bahasa Turki ya readers, artinya Aku mencintaimu)"


Mikhail kembali mengecup kening Husna, kemudian mulai menutup mata.


Tak butuh waktu lama, pria itu akhirnya sudah ikut terlelap. Yang tak di ketahuinya adalah, wanita yang tengah di peluknya sudah terbangun ketika ia membuka pintu. Dan tentu saja aksinya tadi sudah di ketahui oleh Husna.


Wanita itu memberanikan diri untuk mengangkat tangan dan melingkarkan nya di tubuh sang suami. Merasakan betapa hangatnya pelukan Mikhail.


"Terima kasih karena akhirnya mas membalas cintaku. Tapi maaf, untuk sekarang aku masih berusaha untuk menahan hati. Karena di antara kita masih ada wanita itu."


Husna kembali menutup mata dan dari sudutnya terlihat beberapa tetas cairan bening yang berguguran.


Sebagai penanda bahwa hati wanita saat ini tengah di landa ketakutan. Takut akan rasa cinta yang kian besar pada pria yang masih mempunyai wanita lain di sisinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2