Ratu Tapi Selir

Ratu Tapi Selir
Bab 11 Menyusun Rencana


__ADS_3

"Jadi strategi apa nih yang di pake?" kata Sean setelah mendengar permasalahan Hana..


"Gue uda ada beberapa ide nih tuk ancurin tuh kunti karatan kagak ada akhlak" kata Putra geram dengan tingkah Ayu sok senioritas padahal membully rekan kerjanya..


"Terserah loe bertiga mau di apaain tuh orang gue kagak minat,, cepat kelarin biar Hana bekerja dengan tenang tanpa ada gangguan yang membuat Hana menjadi susah ke depannya nanti" kata Yudha serius sambil membalas pesan dengan Stella di negara S..


"Siap Bos,, penasaran gue dengan si kunti,, emang secantik apa sih sampe segitunya sama Hana" kata Tri tapi gak penasaran penasaran amat..


"Ingat ya rencana kita jangan sampe gagal" tekan Sean..


"Dan jangan lupa tugas kita masing masing" tambah Putra..


Setelah selesai dengan rencana masing tiba saatnya mereka beristirahat..


Seperti biasa Sean dan Putra menginap di apartemen kalo acara kumpul mereka lewat dari jam 01.00 dini hari..


Kata Putra harus nginap karena angin malam tidak baik buat kita para pria yang belum mempunyai keturunan..


Entah dari dalil mana dia dapat istilah tersebut..


Pada saat Yudha sudah masuk ke kamarnya tuk beristirahat,, Tri menahan Sean dan Putra karena ada suatu hal yang ingin Tri tunjukkan pada mereka berdua..


Tiada lain dan tiada bukan sebuah foto yang ada Yudha dan Hana berjalan sambil bergandengan tangan..


Membuat Sean dan Putra tersenyum bahagia melihat Yudha sedikit goyah..


Setelah melihat foto tersebut mereka membubarkan diri..


"Ingat sebelum bubar bersihkan semua kotoran kalian berdua" omel Tri kepda Sean dan Putra..


"Pantesan jauh dari jodoh kalian berdua,, kelakuannya aja kayak gini" kata Tri..


"Woy,, masuk kamar trus berkaca gih,, di antara kita bersama empat cuma elo aja yang jomblo ya" kata Putra..


Selalu seprti ini dengan kata kata yang sama bila ada yang tak beres di depan mereka..


Dan akan tenang bila Yudha yang turun gunung,, maksudnya turun tangan..


Seiring berjalannya waktu, tiba saatnya matahari menggantikan bulan dan itu tanda hari sudah pagi..


Ada yang masih terlelap di dalam peraduannya dan ada yang sudah bersegera sebelum mentari bersinar..


Ada yang bangun dengan setumpuk beban di pundaknya dan ada yang terbangun dengan sukacita..


Semua di ciptakan sama dengan suka duka dalam porsi yang sama juga..


Kita hanya memilih melanjutkan dengan tabah dan ikhlas atau memilih lebih baik pergi dari dunia fana ini..


Hidup adalah pilihan dan yang menentukan adalah diri kita sendiri (Seharusnya)..

__ADS_1


"Uda jam segini tapi Hana belum mengantarkan bekal" tanya Tri ber monolog sendiri..


"Coba loe cek ke apartemennya, perasaan gue kok gak enak ya" kata Yudha dengan nada yang kuatir..


"Iya" jawab Tri yang tiba tiba merasakan hal yang sama..


Sudah 15 menit Tri memencet belum pintu apartemen Hana tapi gak di buka juga,, di telepon pun gawainya mati..


"Sean,, akses kode pintu apartemen Hana sekarang" kata Tri di depan pintu apartemen Hana pada Sean yang sedang bersadar di pintu apartemen Tri..


Tak sampai 5 menit,, Sean memberikan gawainya pada Tri agar dapat melihat berapa kode kunci pintu apartemen Hana..


Setelah pintu apartemen Hana terbuka tempat pertama yang di cari Tri adalah kamar tidur Hana..


Dan betapa kagetnya Tri melihat keadaan Hana yang terbaring di tempat tidur..


"Hana,, badan loe panas banget sih" kata Tri kaget melihat keadaan Hana..


Sambil berlari keluar kamar Hana,, Tri melihat Sean yang masih tetap berdiri di tempatnya dari tadi..


"Sean hubungi dokter Rian, suruh ke apartemen gue sekarang.. Hana badannya panas tinggi ampe pingsan dia,, bilangin Putra beliin obat penurun panas di apotik bawah gih" kata Tri menjelaskan..


Yudha yang baru keluar kamar setelah selesai bersiap mau kerja,, kaget melihat Putra yang berjalan setengah berlari masuk ke kamar untuk mengambil dompet..


"Napa sih masih pagi juga uda rusuh" kata Yudha sambil geleng geleng kepala melihat Putra grasak grusuk yang masih menggunakan bokser dan bertelanjang dada jalan ke luar apartemen Tri tanpa sadar..


Setelah mendengar informasi tentang Hana,, Yudha pergi menuju apartemen Hana dengan wajah panik..


"Sejak kapan keadaan Hana seperti ini?" tanya Yudha setelah melihat Tri tengah mengompres Hana..


"Gue uda telepon dokter Rian dan beliau sedang otw kemari,, teman Hana mending loe suruh ke sini aja buat ngebantu Hana ganti baju.. Tuh liat bajunya ampe basah gitu,, takutnya ntar masuk angin" usul Sean pada Tri setelah menelepon dokter Rian..


Yudha meletakkan telapak tanganya guna mengecek suhu tubuh Hana..


Dan betapa kagetnya Yudha dengan suhu tubuh Hana,, seketika Yudha menjadi panik..


"Dokter Rian kok lama amat ya datangnya" kata Yudha tak sabaran..


"Baru juga 5 menitan gue abis teleponan dengan dokter Rian" kata Sean..


"Gue uda telepon Silvi suruh datang ke apartemen Hana nanti gue yang ke kantor Hana ketemu dengan pak Rusli" ujar Tri..


Biar pun sudah di kompres tapi suhu panas di tubuh Hana tidak menurun malah kayaknya semakin panas..


Membuat mereka bertiga menjadi panik..


"Nih obat penurun panas dan termometer" kata Putra yang baru datang dari apotik..


Seketika mereka bertiga kompak melihat penampilan Putra yang terkesan Lelaki Cabul..

__ADS_1


Silvi yang akhirnya tiba di apartemen pun sempat berteriak karena melihat Putra..


Tiba tiba Silvi jalan mendekati Putra dengan pandangan memerah karena menahan amarah..


Plak....


"Apa yang loe lakuin ampe teteh gue heh?" kata Silvi dengan air mata yang jatuh di pipi Silvi..


"Loe jadi laki kok brengsek banget,, tega banget ama teh Hana.. Loe gak ada duit ya tuk sewa seorang j****g tuk puasin napsu bejat loe ampe teh Hana loe buat kayak gini" kata Silvi sambil memukul mukul lengan Putra dengan sekuat tenaga..


Melihat kejadian di depan mata Yudha Tri dan Sean,, hanya tawa yang tertahan yang hanya dapat di lakukan oleh mereka bertiga..


Putra yang kaget dengan keadaan yang terjadi hanya benggong kaget melihat dan merasakan kejadian yang menimpahnya..


Karena tak tahan menahan tawa,, akhirnya Yudha menutup mukanya dengan bantal kepala milik Hana..


Hingga tercium bau badan Hana membuat Yudha menjadi tercandu candu..


Akhirnya meledak lah tawa Tri dan Sean setelah mencoba bertahan menahan tawa melihat situasi yang terjadi pada Putra..


Karena tawa mereka tersadarlah Putra dari kebinggungannya..


Sebelum bertanya tiba tiba terdengar gawai Tri berbunyi..


"Masuk ke apartemen depan gue Dok" kata Tri menjawab panggilan dokter Rian..


Setelah masuk dokter Rian pun kaget melihat Putra..


"Bisa bisanya kamu berbuat hina pada seorang wanita,, aku merasa kasian kepada wanita yang sudah melahirkan kamu dan mendidik kamu dengan kasih sayang yang melimpah dan setulus hati" kata dokter Rian setelah melihat keadaan sekitar..


Apa lagi sempat melihat Silvi menangis di samping tempat tidur seorang wanita yang terbaring tak berdaya maka semakin besar pula kesalahan pahaman dokter Rian kepada Putra..


Setelah mengatakan hal tersebut dokter Rian dengan sigap memeriksa keadaan Hana secara seksama..


"Saya sudah memeriksa nona Hana dan di pastikan bahwa nona Hana terkena penyakit tipes.. Saran saya segera bawa ke rumah sakit biar di tanggani secara baik" kata dokter menjelaskan keadaan Hana..


"Tapi sebelum ke rumah sakit,, teman nona Hana bisa menganti baju nona Hana yang basah kena keringat" sambung dokter Rian..


" Untuk sekarang hanya memberikan obat penurun panas dan tak lupa mengompres tubuh nona Hana" sambungnya lagi..


"Berkacalah dan lihat penampilan kamu seperti apa,, sungguh memalukan" kata dokter Rian yang melihat Putra dengan tatapan ingin memukul Putra..


KAGET hingga SHOCK..


Itulah yang sekarang di alami Putra..


Melihat keadaan Putra mereka hanya menepuk pundak Putra tanpa kata,, itulah bentuk penyemangat versi mereka..


Di tambah Silvi yang masih menatap benci ke arah Putra..

__ADS_1


__ADS_2