
Lima hari sudah Yudha berada di rumah sakit dan di nyatakan koma oleh dokter. Keadaan psikis Yudha yang menjadi faktor utama dari komanya Yudha, untuk memperdalam kejiwaan Yudha harus menunggu kesadaran Yudha.
"Mah Pah, kalian harus kuat dan sabar, aku dan cucu cucu kalian akan selalu berada di samping kalian. Jaga kesehatan kalian berdua" bujuk Hana.
"Mommy, kenapa ayah hanya tidur terus?, apakah ayah tidak mau melihat kami lagi karena kami anak nakal?" tanya Dee lirih, melihat ayahnya terbaring dalam waktu yang lama.
"Gak sayang, ayah lagi memulihkan dirinya karena selama ini capek dengan kerjaannya. Kalian harus sering mendoakan ayah kalian ya biar cepat bangun" bujuk Hana.
"Hana maafkan aku kalau aku lancang, meminta bantuan padamu. Cobalah berbicara pada Yudha mungkin dia akan bangun bila kamu yang membujuknya" kata Stella setelah beberapa hari ini memikirkan cara agar Yudha dapat bangun dari komanya.
Stella pun di liputi rasa bersalah setelah semua kejadian yang menimpa rumah tangganya, Stella mulai merasa lelah dengan keadaan ini. Namun bukankah Stella dan Yudha harus bertanggung jawab sampai akhir?. Banyak hati yang mereka sakiti dan lukai, bahkan mereka kecewai.
Hana pun sebenarnya ingin mendekat pada Yudha, namun dia sadar diri bahwa yang berhak lebih adalah Stella. Hana masih berpikir bahwa dia penggangu hubungan Yudha dan Stella. Hingga membuat Hana menjaga jarak selama menjenguk Yudha.
"Baiklah Stella, aku akan mencobanya" kata Hana akhirnya sambil melangkah menuju ranjang Yudha duduk di samping Yudha.
"Mas Yudha, ini aku Hana istri pertamamu. Kenapa mas belum mau bangun dari tidur?, banyak yang berharap mas Yudha segera membuka mata. Kembar bahkan selalu bertanya kapan ayah mereka membuka mata, kalau mas Yudha memang mencintaiku mas pasti akan membuka mata bukan?" ujar Hana, lalu berdiri neee jalan menuju orang tua Yudha.
"Aku sudah melakukan kemauan mbak Stella, tapi jangan berharap ya, semua kita serahkan pada Allah SWT" ucap Hana.
Tanpa mereka sadari, Yudha telah membuka matanya.
"Ayah sudah bangun, hooree" teriak kembar melihat ayah mereka yang sudah sadar dalam komanya.
"Haus" kata pertama Yudha setelah bangun.
"Ini mas, minumannya" Stella menawarkan.
"Hana mana?" tanya Yudha yang tak melihat keberadaan istrinya.
"Mommy ada ke kantin membelikan makanan siang buat kami semua" kata Dee menjawab.
"Ayah rindu ya pada mommy, sampai sampai buka mata langsung mencari keberadaan mommy. Apakah ayah tidak merindukan kami juga?, ada oma dan opa serta tante Stella" tanya Dee yang sedikit kesal ayahnya lebih perhatian pada mommynya di banding dia.
"Kamu ini ada ada saja" kata opa Kaisar yang merasa lucu dengan pertanyaan cucunya Dee.
"Ayah rindu kalian berdua juga kok, namun lebih rindu pada ibu kalian" jawab Yudha.
"Mas, kamu sudah sadar?" tanya Hana yang langsung menekan tombol pemanggil dokter dan suster.
Kenapa kalian pada lupa memanggil dokter untuk memeriksa mas Yudha?" tanya Hana bingung.
"Maaf, kami terlalu bersemangat melihat Yudha membuka mata" kali ini mama Anne yang menjawab.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian masuk dokter dan suster yang memeriksa Yudha. Memeriksa Yudha dengan teliti tanpa celah sedikit pun.
"Nanti akan diperiksa lebih lanjut ya sehubungan dengan komanya tuan Yudha, menunggu dokter yang khusus menangani keluhan yang di alami tuan Yudha" kata dokter yang telah memeriksa Yudha.
"Kami pamit dulu" ucap suster undur diri.
"Mas mau makan bubur ayam punya Hana gak?, biar Hana suapin karena mas baru bangun pasti belum ada tenaganya" ujar Hana perhatian.
"Mas kepengen makan soto, kira kira bisa gak?" tanya Yudha sambil menatap Hana.
"Jangan dulu deh kayaknya, kalau makan yang berat berat takutnya tubuh mas kaget, nanti kumat lagi sakitnya" ucap Hana lembut.
"Kalau kelamaan di sini bisa bisa kita semua jadi pasien" canda Hana sambil menyuapi Yudha.
"Mas suka melihat kamu tersenyum" gombal Yudha namun serius adanya.
"Emang ada ya orang yang bangun dari koma ngegombal?" tanya Hana.
"Gak ada, cuma suami kamu doang" balas Yudha.
"Mas, cepat sembuh jangan sakit sakit lagi. Kasian keluarga besar mas Yudha pada sedih pas mas sakit bahkan koma" nasehat Hana.
Tepat Yudha menghabiskan sarapannya datang seorang dokter yang ingin mengecek kesehatan psikis Yudha dan keluarga di harapkan keluar ruangan karena dokter membutuhkan privasi.
Setelah menunggu lebih dari dua jam konsultasi, dokter pun keluar dari ruangan.
"Sesuai prediksi saya kemarin di ruang instalasi, bahwa psikis dari tuan Yudha sedang tidak baik baik saja, tekan atau masalah yang sedang di hadapi tuan Yudha lah yang membuat kemarin dirinya menjadi drop bahkan koma. Hal ini tidak bisa di sepelehkan dan di biarkan. Tadi saya juga sudah membicarakan dengan tuan Yudha dan beliau menceritakan semuanya pada saya. Di harapkan keluarga besar ikut membantu kesembuhan dari tuan Yudha" kata dokter spesialis kejiwaan menerangkan.
"Terima kasih dokter untuk penjelasannya" kata papa Kaisar berterima kasih.
Papa Kaisar, mama Anne dan kembar pun memasuki kembali ruangan inap Yudha. Ketika Hana hendak ikut masuk Stella menahan lengannya.
"Boleh kita bicara berdua?" pinta Stella.
"Silahkan" jawab Hana sambil duduk kembali.
"Kembalilah pada Yudha, bangun kembali rumah tangga kalian. Aku yang akan mengalah, aku yang akan pergi menjauh, bahkan aku yang akan mengurus perceraian dengan Yudha. Aku kalah Na, aku kalah pada cinta Yudha buatmu. Dia memang memilihku tapi tidak cintanya, semua hati Yudha di berikan padamu seorang tak tersisa buatku, jadi kenapa aku harus bertahan dengan mencinta sendiri" kata Stella yang telah menangis.
"Aku tak bisa melihat Yudha terluka karena cintaku" tambah Stella.
"Mbak, berusahalah mengapai kembali cinta mas Yudha, aku gak mungkin bisa kembali padanya karena sakit hatiku belum sembuh sepenuhnya dan asal mbak tau ada seseorang yang aku ijinkan cintanya menetap tinggal di hatiku walau tidak sebesar cintaku pada mas Yudha namun aku ingin mencoba membuka lebih lebar pintu hatiku untuk pria tersebut dan mbak pasti tau siapa pria itu" jujur Hana mengungkapkan perasaannya.
"Daddy kembar bukan?" tebak Stella.
__ADS_1
"Hal ini sudah pernah aku sampaikan pada mas Yudha" kata Hana.
Tanpa mereka sadar pembicaraan mereka terdengar oleh Tri, Sean dan Putra.
Mendengar langsung dari mulut Hana merupakan angin segar buat Sean yang memang sedari dulu mencintai Hana namun cukup tau diri kalau Hana bersuamikan teman dekatnya.
"Terima kasih Hana, mau membuka hatimu. Sungguh aku benar benar mencintaimu dan kembar" bathin Sean.
"Kamu masih nginjak bumi kan?" tanya Putra.
"???" binggung Sean.
"Habisnya setelah mendengar pembicaraan mereka, separuh nyawamu seperti keluar dari raga, takut gue" ucap Putra.
"Jangan lupa traktirannya sebentar" kata Tri lalu keluar dari tempat persembunyian mereka berpura-pura tak mendengar mereka bicara.
"Kalau jalan itu bisa gak saling menunggu?, jangan main jalan aja" omel Putra.
"Hai Hana Stella" sapa Sean tersipu.
"Kalian pada datang?, gih masuk kamar tadi pagi mas Yudha uda sadar " kata Hana memberikan informasi.
"Benarkah?"..
" Serius?"..
"Ayo"..
Respon berbeda di berikan buat Hana sangat pemberi informasi. Setelahnya tiga lelaki tersebut memasuki ruang rawat Yudha dengan bahagia karena sahabat mereka telah sadar.
" Mbak ayo kita ke kantin rumah sakit, beli beberapa makanan serta cemilan buat mereka di dalam" ajak Hana.
"Baiklah kalau begitu, aku mengambil dompet dulu" ijin Stella.
"Gak usa mba, pake uang aku aja" ucap Hana.
"Gak masalah kah?, karena selama beberapa hari ini kamu terus yang mengeluarkan uang" kata Stella tak enak hati.
" Jangan berpikir macam macam, kita ini sudah satu keluarga jangan ada perasaan gak enakan" nasehat Hana.
Selanjutnya mereka membeli apa saja yang akan di beli buat penghuni kamar inap Yudha.
"Mbak, masuklah duluan. Aku ke rooftop rumah sakit mau ngabisin kopi dan kue sambil menikmati pemandangan dulu, sumpek di dalam kamar" pamit Hana sambil melanjutkan lift menuju ke atas.
__ADS_1
"Selamat menikmati pemandangan" balas Stella dengan senyuman.
Bersambung...