
Seminggu menjelang pernikahan..
Hana duduk termenung seorang diri di sofa yang terletak pas di depan jendela kamar apartemen Hana..
"Sungguh aku benci di hadapkan dengan situasi seperti ini, kalau yang lain mungkin bisa aku hadapi walau pun harus dengan jatuh bangun merasakan kesakitan, tapi kenapa harus pernikahan??.. Mami apa yang harus Hana lakukan?, seandainya saja mami di samping Hana pasti mami akan mendukung Hana.. Mami, Hana tidak mau bertemu dengan papi lagi.. Bagi Hana papi uda mati semenjak berselingkuh dari mami bahkan sampai menikahi penggoda itu" bathin Hana berkata..
Setelah dua hari Hana memikirkan permasalahannya dan rahasia terbesarnya,, muncul lah solusi yang menjadi penyelesainnya (bisa jadi)..
Buru buru Hana mengambil gawainya dari dalam laci lalu mencari nama seseorang dalam kontak gawainya..
Tring... Tring... Tring...
Pada bunyi yang ke lima terdengar suara pria dengan suara serak seperti baru bangun..
"Selamat pagi bang Tri,, maaf ya Hana uda membangunkan bang Tri" kata Hana sesal..
"Abang lagi di mana sih, tadi Hana ke apartemen abang tapi di pencet bel pintu dan di ketok ketok gak di bukaiin pintu?" tanya Hana dengan lancar..
"Abang lagi di kota S, lagi ada nikahan sodara.. Hana lagi perlu banget ya sama abang?" kata Tri yang sudah duduk di halaman belakang rumah orang tuanya..
"Yahhh, Hana kira abang ada di sini.. Hana mau ketemu abang ada yang mau Hana bicarain sama abang dan abang lah yang mau Hana mintai pertolongan.. Hana susul abang aja ya di kota S" Hana berkata dengan suara mendesak..
"Loe gak kenapa kenapa kan Na?" Tri khawatir..
"Iya, nanti abang jemput Hana di bandara ya,, tuk kapan keberangkatannya nanti Hana info" ujar Hana..
Setelah menutup gawainya Hana buru buru bersiap tuk ke bandara menuju kota S..
Hana beruntung mendapatkan tiket pesawat, setelah sebelumnya Hana mengecek harga dan tanggal keberangkatan di gawainya di mana ada aplikasi pemesanan tiket pesawat dan lain lain yang berlogo biru..
Tak berapa lama burung besi yang di tumpangi Hana akan berangkat dan peramugari meminta semua bentuk gawai untuk di pindahkan dalam mode mati atau mode pesawat..
"Abang Tri, Hana sudah di dalam pesawat *BA*.. Jangan lupa di jemput ya" isi pesan Hana buat Tri..
"Bang Yudha,, besok lusa aja ya kita ketemu.. Hana mau ke kota S dulu ada urusan juga yang mau di selesaikan" begitulah pesan yang Hana kirimkan buat Yudha..
Tanpa menunggu balasan Hana mematikan gawainya dan pesawat pun take off menuju kota S..
Setelah 1jam 25menit akhirnya sampai juga di tempat tujuan,, tepat pada saat Hana keluar dari pintu kedatangan sudah ada bang Tri dan seorang sepupunya bernama Dimas dan mereka pun berkenalan..
__ADS_1
"Abang Hana di hotel melati aja yang dekat dengan rumah abang, Hana gak ngerepotin keluarga abang Tri dan abang Dimas, apa lagi Hana hanya orang luar" kata Hana yang takut merepotkan Tri..
"Tinggal di rumah bareng abang Tri aja, dari pada di hotel sepi" ujar Tri..
"Iya biar bisa kenalan sama keluarga bagaimana pun juga kamu di anggap kelurga karena mau nikah dengan Yudha" sambung Dimas..
"Tapi........ " sebelum Hana ngomong keburu di potong Tri..
"Gak ada tapi tapian" kata Tri mutlak..
Hana hanya terdiam tak membalas..
Gugup dan Malu, itulah yang di rasakan oleh Hana sekarang karena sudah berada di depan pintu rumah Tri..
Di sambut hangat oleh ibu Tri dan adiknya Tri bernama Jaya..
"Jadi ini nih calon mantu Anne ya" kata salah satu keluarga Tri..
"Cantik banget sih, pintar juga Yudha cari manten.. Terus kamunya kapan Tri?" tanya serang wanita yang sudah berumur senja tapi masi terlihat ayuh tapi tegas..
"Belum ada jodohnya eyang dan juga sebenarnya aku loh yang naksir duluan ama Hana tapi keburu di serobot Yudha" kata Tri membela diri..
Tri hanya menggaruk kan kepalanya yang tidak gatal..
Sedangkan keluarga Tri yang lain hanya bisa ketawa dan miris melihat Tri yang mati kutu karena nenek..
Diantara keluarga Tri, hanya ibunya Tri aja yang diam memandang Hana dengan pandangan yang dalam
"Kenapa parasnya mengingatkan aku dengan seseorang tapi siapa ya?, kayak gak asing" bathin ibu Tri..
Karena sibuk berpikir tak sadar datang ibunya Dimas mengagetkan ibu Tri..
"Ngelamunin apa sih?, awas ntar kena sawan loh" canda ibu Dimas..
Setelah melihat siapa uang di belakangnya,, ibu Tri pun berdiri sambil menarik pelan tangan ibu Dimas ke meja makan..
"Mba Luna, coba liat gadis yang duduk sebelah nenek.. Itu temannya Tri calon istri Yudha, tapi kok mukanya kayak gak asing gitu ya?" kata ibu Tri yang semenjak kedatangan Hana sibuk dengan pemikirannya sendiri..
"Sandra, iya mukanya mirip Sandra si bungsu Halim" ucap Ibu Dimas..
__ADS_1
Sambil berlari kecil menuju ruang tamu..
"Kamu anaknya Sandra dan Anton Wijaya?" kata Luna to the point..
Semua mata melihat ke arah Hana termasuk nenek dengan tangan bergetar memegang tongkatnya..
"Tante kenal dengan mami Hana?" Hana balik bertanya..
Semua di buat terkaget dengan pertanyaan Hana..
Dan nenek hanya bisa menangis menahan sesak di dada karena merindukan putri bungsu yang di lahirkannya..
Berbanding terbalik dengan Hana yang biasa saja,, (Mungkin mereka teman mami di kota S)..
Sigap dengan keadaan yang terjadi mama Tri keluarga rumah tuk menelepon Ayah mertua, kakak ipar dan suaminya untuk segera pulang tanpa menceritakan masalah yang sebenarnya..
Nenek pun langsung berdiri menuju ke arah Hana memeluk dengan hangat tak peduli air mata yang jatuh di pipi nenek..
Tak ayal membuat suasana menjadi haru di iringi beberapa tangisan keci dari keluarga Tri..
Bagaimana tidak terharu, dari yang kecil sampai dewasa pun tau permasalahan yang terjadi terjadi di keluarga ningrat keturunan bangsawan yang ada di kota S..
"Perasaan itu,,, ya perasaan itu yang kurasakan pada saat pertama kali bertemu dengan Hana.. Perasaan seorang Kakak kepada Adiknya" kata Tri dalam hati..
Pada saat kelurga besar Adam Halim bersedih campur haru datang lah dari arah depan pintu utama seorang lelaki tua nan gagah dan dua orang anak lelakinya berwajah mirip..
Kaki mereka melangkah lebih dalam,, dua orang pria tersebut tersadar ada anggota baru bersama sama dengan mereka..
"Adek.... " kata mereka berdua kompak..
Mendengar perkataan dua anak lelakinya,, akhirnya pria setengah bayu itu memicingkan matanya biar terlihat jelas dan bahwa dia belum tuli..
Sambil terus melangkah pria setengah baya itu sudah mengeluarkan air mata kerinduan pada anak gadis satu satunya yang telah keluar meninggalkan gelar dan kehidupan mewahnya demi seorang pria yang di nilai BURUK oleh orang tua Sandra..
Sandra Halim nama mami dari Hana dan Anton Wijaya nama papi Hana..
DIMANA ANAKKU?......
Bersambung...
__ADS_1