
Yudha kecewa dan terluka bahkan marah setelah mendengar perkataan Hana.
Setelah memikirkan semuanya secara matang Hana memberitahukan perasaanya yang sebenarnya pada Yudha tanpa ada yang di tutup tutupi, serambi memikirkan resiko apa saja yang terjadi jika Yudha mengetahui kebenaran hati Hana.
"Apa yang harus aku lakukan Hana, aku juga sakit ketika kamu dan kembar pergi dari hidupku, tapi aku harus realistis karena ada ribuan para pekerja yang menguntungkan hidup mereka pada perusahaanku".
" Kalo memang hatimu sudah memilih, aku bisa apa Hana. Aku tidak percaya diri untuk bersaing dengan Sean karena aku sudah kalah sejak tau anak anak memanggil Sean daddy, secara tidak sadar Sean juga memiliki separuh hati mereka. Coba tanyakan pada kembar siapa yang mereka pilih. Pasti mereka akan merasakan kesulitan" lirih Yudha.
"Aku bisa bertahan sampai sekarang karena cintamu padaku, tapi kalau sudah begini aku harus apa Hana" pecah sudah tangisan Yudha yang dia tahan sedari tadi.
Kesakitan kali ini benar benar membuat dia seperti tercekik oleh tangan tak kasat mata. Penyesalan ini apakah bisa di sebut KARMA?.
Yudha pun melangkah keluar dari restoran yang di pesan Yudha, ketika Hana meminta berbicara tanpa melibatkan kembar. Awalnya Yudha berpikir kalo Hana akan tetap meminta cerai dan Yudha akan memberikan bermacam macam alasan agar tidak terlaksana kemauan Hana.
Namun Yudha salah, Hana memang tidak meminta cerai tapi Hana jujur menceritakan perasaan hatinya sekarang ini.
Bersaing dengan Sean bukan perkara sulit buat Yudha, karena sedari dulu Yudha dan Sean memang suka bersaing dalam hal apa pun tapi tidak dengan wanita. Tapi kali ini beda mereka bersaing memperebutkan hati seorang wanita.
Yudha menang selangkah karena Hana istri sahnya, tapi biar pun Hana tetap istrinya namun Sean juga mempunyai tempat tersendiri di hati Hana. Dan sepertinya akan tetap tumbuh subur.
Di dalam mobil Yudha menangis sedih sambil memukul mukul dadanya sekuat tenaga, berusaha menghilangkan sakit yang melanda.
Yudha menjalankan mobilnya menuju ke rumah utama di mana orang tuanya berada. Yudha ingin menceritakan semuanya pada orang tuanya dan juga penyesalan terbesarnya.
Lima belas menit perjalanan, akhirnya Yudha tiba di rumah orang tuanya. Rumah telah sepi hanya terdapat adik adiknya serta ponakan dari adik pertamanya beserta suami.
Melihat Yudha yang menagis dan berjalan menuju ke kamar orang tua mereka, membuat adik adik Yudha bertanya tanya.
"Kak Yudha kenapa menangis seperti itu, apakah dia lagi terluka? " tanya Dinda khawatir lalu berdiri ingin menyusul kakaknya.
"Biarkan kak ipar bertemu mama dan papa, mungkin dia benar benar membutuhkan jalan keluar, kita pasti akan tau tapi tidak sekarang" ucap suami Dinda.
__ADS_1
"Tebak aku sih, masalah kedatangan Hana. Mungkin Hana sudah kekeh meminta cerai, biarkan saja kak Yudha siapa suruh nyari penyakit. Di kasih bidadari malah maunya istri kunti" omel Manda tak peduli.
"Kamu bukannya simpati liat kakakmu, malah ngomel gak jelas" balas Dinda.
Mereka pun terdiam sejenak.
"Bagaimana kalo kita dengar apa pembicaraan kak Yudha dari pada penasaran kayak gini" ajak Manda yang memang sudah kepo dengan apa yang di alami kakak Yudha.
"Bibi, temani Riko main dulu" panggil Dinda semangat.
"Ayo mas juga ikut biar gak penasaran" ajak Dinda pada suaminya yang ikut saja apa kata istrinya, walau dia keberatan.
Mereka bertiga pun naik menuju kamar orang tua mereka.
"Mah Pah, boleh Yudha masuk? " tanya Yudha setelah mengetuk pintu kamar papa mama.
"Masuk saja Nak" kata papa dari dalam.
"Ada apa Yud, kenapa kamu menangis Nak, ada masalah apa Nak?" memberodong Yudha.
"Mah Pah, apa yang harus Yudha lakukan kali ini. Apakah aku harus mempertahankan Hana disaat posisi ku di hatinya telah tergeser dengan Sean?" tanya Yudha yang menangis.
"Aku kalah mah" ucap Yudha putus asa.
"Coba ceritalah dengan benar Yud, mama dan papa tidak terlalu jelas mendengar apa katamu" ucap mama sambil memeluk Yudha.
"Sebelum cerita tenangkan dirimu dulu" tegur papa.
Setelah menunggu Yudha untuk tenang maka mereka siap mendengarkan cerita Yudha.
Yudha menceritakan seluruhnya pada papa dan mama tentang perasaan Hana dan kebimbangan Hana, Yudha pun dapat menyelesaikan ceritanya walau pun di selingi dengan air mata.
__ADS_1
"Mama sungguh tidak tau harus bagaimana Yud, setelah mendengar ceritamu. Mama bisa merasakan sakit Hana dulu karena kami wanita, selalu menggunakan perasaan dari pada logika"..
" Biar pun kami membencimu karena kesalahanmu tapi kami selalu memperhatikanmu dari jauh, kami pun tau apa yang terjadi pada dirimu dan rumah tanggamu dengan Stella, tapi kami orang tua bisa apa. Dari sikapmu, kamu memilih Stella dari pada Hana di masa itu"..
"Mama hanya ingin rumah tanggamu dengan Hana baik baik saja, tapi kalo Hana sudah memilih hatinya mama bisa apa, membantu memperbaiki pun mama tidak bisa"..
" Mungkinkah ini salah satu bentuk cinta Allah padamu, agar mengingat diriNYA. Dengan memberimu cobaan dalam rumah tangga"..
"Sekarang fokuslah pada istrimu yang sekarang, perbaiki hubungan kalian memulai dari awal dengan Stella dan rawat anak kalian Salsa"..
" Mungkin memang sudah saatnya kamu melepaskan Hana, Yud"..
Nasehat seorang ibu yang melihat anaknya terluka, tak perduli walaupun sangat anak telah dewasa.
"Demi Allah aku sangat mencintai Hana dengan tulus, berharap kalinya ke sini dapat memaafkan diriku dan memulai awal yang baru, tapi ternyata menyatakan perasaannya" ucap Yudha mulai tenang.
"Dit dan Dee tau siapa ayah kandung mereka, bila sudah dewasa nanti mereka pasti akan kembali padamu, bersabarlah! " ujar mama Anne.
"Anak papa pasti bisa melewati semua permasalahan ini" papa memberikan dukungan.
Di luar kamar adik adik Yudha dan adik ipar pun ikut meneteskan air mata setelah diam diam menguping pembicaraan Yudha bersama mama Anne dan papa Kaisar.
"Aku menyesal mendengar pembicaraan ini, kalo tau kak Yudha mengalami sakit seperti ini" ucap Manda.
"Aku juga, mending aku menemani anakku bermain biar tidak seperti ini" kata Dinda.
"Kalian bantulah kak Yudha, hibur kak Yudha. Saran saja, bagaimana kalo kita bilang mama dan papa kak Yudha dan istrinya Stella tinggal di sini saja. Kita bantu mengurangi rasa sedihnya" usul suami Dinda.
"Boleh juga usul suamiku ini, besok kita akan membicarakannya dengan papa dan mama. Sekarang kita turun dan berpura pura tidak tau permasalahan kak Yudha" ajak Dinda bersemangat memikirkan ide dari suaminya.
"Ayo cepat buruan sebelum mereka sadar kita bertiga menguping pembicaraan mereka" ajak Dinda lagi.
__ADS_1
Bersambung