Ratu Tapi Selir

Ratu Tapi Selir
Bab 26 Hamil


__ADS_3

Sejak Yudha menikah dengan Stella, Hana merasa perlakuan Yudha menjadi lebih mementingkan Stella..


"Bang Yudha bisa gak adil gitu membagikan waktunya?" kata Hana bertanya..


"Apa maksud kamu Na?" tanya Yudha..


"Gak ada maksud apa apa bang, cuma Hana takut kalo keluarga kita datang tiba tiba dan Hana gak tau ngejelasinnya" ujar Hana..


"Abang harus nyusun jadwal deh" usul Hana..


"Tidak mungkin Hana bilang abang lagi dinas setiap kumpul keluarga" sambung Hana lagi..


Dalam diam Yudha sedang berpikir, apa yang di katakan Hana ada benarnya juga..


Dan Yudha akan mendiskusikan nya dengan Stella..


Kringg.. Kringg..


Bunyi suara gawai Yudha dan Yudha pun menjawabnya di depan Hana mengunakan speaker gawai..


"Yank, balik rumah jam berapa?" telepon Stella pada saat Yudha berada di rumah Hana..


Sebelum Yudha menjawab telepon Yudha di rebut Hana..


"Mbak bisa gak saling menghormati dikit aja?" tanya Hana..


"Saya hanya menanyakan keadaan suami saya" jawab Stella emosi..


"Perasaan bang Yudha keluar rumah pasti pamit kemana, jadi mbak pasti tau kan kemana.. Istri bang Yudha bukan cuma mba aja jadi tolong pengertiannya" tangkis Hana..


"Kamu.... " belum selesai bicara Hana sudah mengembalikan gawai Yudha..


"Bilang istri abang kemari baut nentuin jadwal nginap abang, biar jangan semuanya buat istri kedua abang" sengaja Hana bersuara keras..


Sudah beberapa hari ini Hana merasakan bad mood parah..


Tidak bisa mengendalikan emosinya itulah yang terjadi pada Hana akhir akhir ini..


"Kok sekarang kamu jadi kasar" tanya Yudha..


"Kalo iya emang kenapa?, jadi suami itu inisiatif dikit dong masa ini aja harus istri yang bantu mikir" masih nada yang sama ketika Hana berbicara dengan Stella..


Tiga puluh menit kemudian masuk istri kedua Yudha..


"Mas, kok rumah dia lebih besar sih dari rumah aku.. Aku pengen rumah kayak gini Mas" kata Stella dengar suara manjanya..


"Biasa aja suaranya mbak, gak usah sok lembut lembutin suaranya, tadi waktu teleponan suaranya gak kayak gini deh" kata Hana membuat keki Stella..


"Kalo gue manja emang salah?, Yudha kan suami saya" tanya Stella dengan sifat yang di buat buat..


"Gak salah sih, cuma kesan nya kayak munafik gitu ya" kata menusuk Hana..


"Hana, kamu kenapa sih sekarang macam beda?, kan tadi di suruh datang buat ngebahas masalah waktu bersama, kok jadi ribut gini" kata Yudha menengahi kedua istrinya..


"Karena gue istri pertama jadi gue yang nentuin senin sampai kamis bang Yudha sama elo, tapi jumat sampai minggu dia sama gue" kata Hana yg ang mengatur jadwal suami..


"Gue gak mau, jumat sampai minggu mas Yudha bareng gue" tolak Stella..


"Bang ini beneran istri pilihan kamu?, kok beda ya dengan yang ada di pikiran gue.. Gue kira loe mempertahankan dia karena di samping cantik pasti atitudnya baik dan pintar tapi nyatanya..... " kata Hana sambil melihat Stella dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.


Sebelum Yudha membela Stella, Hana sudah duluan mengangkat tangannya biar Yudha tidak memotong selama Hana berbicara..


"Hari sabtu atau minggu terkadang ada acara kumpul keluarga, kalo abang dengan kamu terus mereka nanyain bang Yudha setiap kali bertemu saya akan kasih alasan apa lagi, bukannya percaya mereka jadi curiga.. Otak itu di gunakan dong" sarkas Hana..


" Mas istri pertama kamu kok tega ngatain aku kayak gini" hasut Stella agar Yudha memarahi Hana..

__ADS_1


Dan terkabul lah apa yang menjadi keinginan Stella..


"Hana" panggil Yudha kasar..


Karena Hana mau berjalan menuju kamar, sakit kepala hebat melanda Hana ketika sedang berbicara dengan Yudha dan Stella..


"Jangan sok menasehati gue, nasehati dulu istri dirimu itu.. Waktu pembagian otak dulu apa dia gak hadir ya?" kata Hana dengan amarah..


"Kamu..... "


"Sekali tangan loe menyentuh pipi Hana, gue pastikan loe dan wanita hina itu akan mendapatkan masalah.. Kalian berdua uda siap hidup miskin?, kalo loe sih mungkin bisa tapi gak tau sama dia( Stella)" kata Tri sambil mengarahkan telunjuknya pada Yudha..


Abis itu Tri mengantarkan Hana ke kamar utama..


"Loe akan menyesal suatu saat nanti" kata Sean..


"Hhmm" Putra hanya bergumam saja..


Keduanya pun melangkah mengikuti Tri tanpa melihat dan menegur Stella membuat Yudha merasa bersalah hampir menampar Hana..


Hubungan mereka berempat sudah retak semenjak tau Yudha akan menikah lagi di tambah Yudha yang akan menampar Hana..


Yudha merasa pusing memikirkan permasalahan yang ada di tambah hubungan persahabatan ke tiga temannya..


Lalu mengajak Stella untuk pulang..


"Yank, setujui ya keputusan Hana ya biar bagaimana pun status dia itu istri pertama dan Sah takutnya akan ada masalah yang terjadi kalo kita menolaknya" bujuk Yudha di dalam mobil menuju rumah mereka berdua..


"Ya sudah, aku ikut keputusan mas" kata Stella sewot..


Mereka akhirnya pulang ke rumah.. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan antara Yudha dan Stella..


Di rumah Hana..


"Kamu gak kenapa kenapa kan Na?" khawatir Tri..


"Kamu sakit, kenapa muka kamu pucat kayak gini?" tanya Tri lagi..


"Gak kok bang, cuma pusing aja tanggapin tuh laki bini" jawab Hana lalu berbaring di tempat tidur..


"Ya sudah kamu istirahat lagi, biar kembali sehat" bilang Tri sambil memakaikan Hana selimut..


"Na, kita ke bawah ya" pamit Putra..


"Maaf ya gak bisa ikut temani abang abang semua,, pada makan siang gih tadi rencana mau makan tapi karena keributan ini gak jadi makan" kata Hana sebelum menutup matanya..


"Baiklah kami keluar dulu" sambung Sean..


Belum dua puluh menit Hana tertidur, Hana terbangun dan melangkah ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya setelah berkumur Hana menelepon Tri..


"Bang kalian uda pada pulang?" tanya Hana pada Tri saat terhubung..


"Belum Na, nih kita bertiga masih sementara makan" jawab Tri sambil makan hidangan yang sudah di siapkan mbok Ina..


"Bisa naik dulu gak ke kamar Hana, tapi tunggu abang selesai makan dulu" lanjut Hana tak enak hati karena sudah mengganggu makan mereka bertiga..


"Biar Sean aja naik, dianya uda kelar makan" kata Tri lagi yang melihat Sean sudah berdiri hendak ke ruang tengah..


"Yauda bang Sean aja gapapa" Hana pasrah karena dia memang lagi membutuhkan tenaga mereka..


Setelah menutup telepon Tri melihat Sean dan berkata "Ke kamar Hana sono, katanya lagi perlu" tanpa penjelasan apa pun Tri melanjutkan makannya dan Sean melangkah menuju lift ke kamar Hana..


"Na, gue masuk ya" kata Sean yang sudah tiba di depan kamar Hana..


"Masuk aja bang" jawab Hana dengan wajah memucat nyaris pingsan..

__ADS_1


"Loe kenapa Na" kata Sean khawatir..


"Bawa Hana ke rumah sakit bang" kata Hana yang langsung menutup mata tak sadarkan diri..


Sean menjadi kaget melihat Hana pingsan, pada saat Sean menggendong Hana ala bridal menuju lift Sean melihat ada tetesan darah jatuh mengotori lantai..


"Tri Putra siapkan mobil, cepatan" teriak Sean membuat kaget orang orang rumah..


"Adek gue napa Sean" kata Tri yang melihat Hana yang sudah tak sadarkan diri..


Putra berlari keluar sambil menghidupkan mesin mobil setelah tau keadaan yang terjadi..


"Kayaknya Hana mengalami pendarahan, menurut gue Hana lagi Hamil" jujur Putra sambil membawa mobil berkecepatan tinggi..


"Kalo terjadi apa apa sama Hana dan anaknya, gue bogem tuh Yudha" kata Tri emosi bercampur panik..


"Tenangkan diri loe Tri Hana butuh kita sekarang jangan mikirin tuh ontong semut" kata Putra lagi..


"Mending loe telepon Yudha" saran Sean pada Tri..


"Nanti aja, males gue" kata Tri yang memang lagi malas melihat muka Yudha..


Mobil pun telah masuk ke halaman rumah sakit dan Putra pun langsung parkir di depan IGD, Tri keluar mencari suster..


Tak lama dokter dan suster keluar membawa brankar untuk meletakkan Hana lalu memeriksa Hana..


Di saat menunggu Hana di periksa dokter tiba tiba bunyi gawai Tri..


"Eehh bokap gue nelpon nih, pasti cariin putrinya" kata Tri panik melihat nama penelepon..


"Jawab aja dengan biasa gak usah panik dan jangan sampai loe keceplosan" bilang Sean pada Tri..


"Assalamu'alaikum Pa" salam Tri ketika menekan tombol hijau yang ada ikon gagang telepon..


"Waalaikumsalam, kamu di mana Kak?" tanya om Herman..


"Lagi nongkrong si cafenya Sean" jawaban dusta Tri..


"Kamu pergi ke rumah Hana cek dia lagi ngapain, kita di sini telepon telepon tapi gak di jawab" kata om Herman dengan nada khawatir karena gak mendapat kabar Hana..


"Iya Pa, Tri nanti ke rumah Hana ngecek keadaannya" kata Tri..


"Sekarang Tri bukannya nanti, kamu itu sama adek sendiri bahasanya nanti, nongkrong yang di penting tapi urusan adekmu bilangnya nanti, papa gak suka ya Tri" omel om Herman di seberang..


"Iya tutup dulu Tri otw ke rumah Hana, Assalamu'alaikum pa" lalu Tri langsung menutup teleponnya..


"Keluarga gue pada horor semua kalo menyangkut Hana" ujar Tri dengan nada takut dan kebingungan..


"Namanya juga Princess kepunyaan keluarga Adam Halim" kata Putra..


Mereka bertiga pun ketawa bersama sama..


Akhirnya dokter pun keluar..


"Bagaimana keadaan adik saya?" tanya Tri..


"Di mana suami ibu Hana?" tanya balik dokter pada Tri..


"Saya di sini dok" kata Yudha yang sudah berada di dekat Sean..


"Selamat ya pak, istri anda sedang hamil tiga bulan dan selamat juga anak anda kembar.. Kondisi ibu baik baik saja tidak ada yang perlu di khawatirkan mungkin karena stress akhirnya memicu pendarahan" dokter memberi kabar bahagia sambil menjelaskan keadaan Hana..


Mereka berempat pun kaget bercampur bahagia, terutama Yudha yang senang bukan main karena akan menjadi ayah dari dua orang anak..


"Gih kabarin orang tua elo" ujar Putra..

__ADS_1


"Kamu semakin jauh untuk aku gapai Na"


Bersambung....


__ADS_2