
Rencana Tri dan Sean terbilang rencana yang matang.. Biar pun mereka tidak bertemu tapi ada komunikasi yang lancar tanpa seorang pun yang tau..
Cara Sean dan Tri berkomunikasi melalui pesan offline/online yang di lakukan keduanya..
Tri memesan makanan dari kafe Sean, dalam makanan Tri sudah di masukkan secarik kertas..
"Uda gue siapin keperluan Hana dan kembar selama bersama gue"..
Isi pesan Sean di secarik kertas buat Tri..
" Ini nomor baru Hana, tidak ada tau kecuali Hana, gue dan loe"..
Balas Tri dalam ketika berpura pura mengambil pesanan kakek dan nenek..
"Ini identitas baru Hana dan kembar"..
memo kecil yang ada di jas yang di pinjam Tri pada Sean..
"Sean gue ke kafe ya, Hana nitip ambil kue brownies yang katanya uda dia pesan dari kemarin" ucap Tri pada saat menelepon Sean sambil mengaktifkan speaker gawai Tri. Sengaja karena ada Yudha uang mendengarkan..
"Kok gue gak tau kalo Hana ada pesan kue?" Sean menjawab..
"Gimana mau tau kalo loe lagi ada masalah berat" jawab Tri..
"Gue yang anter deh kalo gitu sekarang" kata Sean..
"Dih usaha banget sih, orang Hana pesan buat istrinya om Bas lagi ngidam" jujur Tri..
"Ohh kirain Hana, yaudah datang kemari ambil" kata Sean akhirnya..
Setelah teleponan berakhir Sean menulis memo kecil lagi yang isinya tiket pesawat dan jam hari keberangkatannya..
Yudha yang mendengarkan percakapan Sean dan Tri tersenyum puas karena Sean tidak akan bertemu dengan Hana..
Setelah mengembalikan jas Sean Tri juga menyelipkan sebuah memo kecil yang hanya bisa di baca memakai kaca pembesar..
"Gue titip adek dan ponakan kembar gue, sampai ketemu di lain waktu"..
Itulah cara berkomunikasi mereka selama beberapa hari ini untuk menyusun kepergian Hana dan kembar, komunikasi dari mereka berdua tanpa ada yang tau dan itu lah nanti yang akan mempersulit Yudha mencari Hana dan kembar biar pun di bantu papa Kaisar..
Setelah tiga hari kemudian, di saat siang hari
Tringg.. Tringg.. Tringg..
"Besok gue berangkat ke Paris jam satu siang" isi pesan yang di kirim Sean..
"Kok cepat amat" balas Tri..
"Dih gak ngomong dulu" isi pesan Putra..
"Makan siang di kafe yuk" balas Yudha..
"Dih ngapain datang, sibuk gue" balas Sean bercanda..
"Songong amat loe yang gak mau ketemuan ama kita lagi" ejek Putra..
"Wtf" balas Tri yang kaget melihat pesan yang di kirimkan Putra di mana ternyata dia sudah berada di parkiran kafe Sean..
__ADS_1
"Cari mati nih onta" umpat Yudha tak kalah kaget..
"Hahahahahahaha, demi apa coba gue merasa puas hari ini" bahagia Putra..
Setelah beberapa saat datanglah Tri dan Yudha lalu men jitak kepala Putra..
Akhirnya terjadilah percakapan ringan antar mereka berempat dan Sean yang berpamitan..
"Kami akan mengatur waktu untuk ke sana melihatmu, siapa tau kami dapat membantu" kata Tri..
Tepat jam tujuh malam percakapan terakhir mereka pun berakhir hingga keberangkatan Sean ke Paris..
"Dek ini tanggal keberangkatan kamu dan kembar hanya baju di badan dan surat surat penting yang kamu bawa. Ini koper besar berisi uang dan perhiasan kalo kamu butuh uang jual saja perhiasan ini nanti akan abang pikir lagi cara mengirim uang buat kamu di sana" pesan Tri pada Hana yang sudah tau rencana kepergian mereka..
"Maafkan Hana bang dan tolong jelaskan pada kakek dan nenek biar mereka tidak khawatir hingga membuat mereka jatuh sakit" ungkap Hana..
"Iya akan abang jelaskan pada mereka" hibur Tri..
Setelah itu Hana dan kembar menuju ke bandara pada subuh hari seolah olah memang dia kabur dari rumah tanpa ada yang tau..
Menuju bandara dengan identitas berbeda dan penyamaran yang sempurna..
Sesampainya di pesawat, bertemulah dengan Sean yang sudah duluan ada..
"Aku menginap di Swiss*** hotel selama empat hari, biar aku ada alibi btw aku penumpang gelap alias tak terdaftar sebagai penumpang pesawat ini" Sean menjelaskan ketika melihat wajah kebingungan Hana dan terlihat lega setelah tau..
"Ayo kita memulai petualangan yang baru"..
" Semangat"..
Mereka berdua pun tertawa, menertawakan tingkah konyol mereka..
Pada pagi hari kemudian kabar menghebohkan dan menggemparkan keluarga Hana dan Yudha,, kini mereka baru mengetahui hilangnya Hana dan kembar serta sepucuk surat yang di tinggalkan Hana..
Dear My beloved husband..
Awal kita menikah, Hana memutuskan untuk mencintai abang serta berbakti pada abang karena abang sebagai suami Hana.. Hana kira abang pun begitu, tetapi jauh angan Hana karena abang mencintai wanita lain bahkan menikahi wanita yang abang cintai tanpa berusaha melihat sebagai seorang istri..
Adanya kembar pun karena kesepakatan kalo abang ingin menikahi mbak Stella harus memberikan nafkah bathin buat Hana..
Itu masih bisa Hana Terima dengan hari yang lapang walau berdarah darah hati Hana..
Abang Hana pergi karena tak mau menambah luka di hati Hana dengan kehamilan mbak Stella dan Hana tak mau bila anak anak Hana kecewa memiliki seorang Ayah yang menduakan ibunya lalu memutuskan membenci ayah mereka bahkan tak akan patuh bila mengetahui pernikahan kedua ayah yang menghasilkan sodara tiri..
Hana betul betul takut membenci dan menilai buruk ayah mereka..
Maafkan aku istrimu bang, bukan maksud Hana durhaka pada abang.. Dan bukan maksud Hana memisahkan abang dengan anak anak abang.. Dan sampaikan juga permintaan maaf Hana pada papa dan mama yang sudah menyanyangi bahkan menganggap Hana sebagai anak sendiri..
Maafkan Hana bang semoga abang berbahagia dengan mbak Stella dan anak kalian nanti..
Dari istri yang mencintaimu, Hana..
NB:
Bang di laci ada berkas perceraian yang sudah Hana tanda tangani, uruslah berkasnya dan TALAK Hana..
Mohon peringankanlah langkah Hana..
__ADS_1
Semua yang ada di rumah Hana membaca surat yang di tinggalkan Hana di kamar utama..
Satu jam sebelum kehebohan terjadi..
Flashback On..
"Mbok tolong bangunin Nyonya Hana dong, semalam kembar tidur bersama nyonya tapi sampe jam segini belum keluar kamar dan tidak terdengar suara tangisan mereka" kata suster kembar..
"Iya seharusnya jam segini kemnar sudah bangun untuk di jemur" salah satu suster bersuara lagi..
"Mbok cek dulu yah! "..
Lalu menuju ke lantai dua tempat tidur utama..
Tok.. Tok.. Tok..
" Nya.. Nya.. " panggil mbok Ina tapi tidak terbuka juga, selama lima belas menit mbok Ina memanggil satpam untuk membuka paksa pintu takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan..
Ketika pintu terbuka masuklah si mbok untuk mencari majikannya tapi tak ada, mbok melihat tempat tidur yang rapi dan dingin tanda ranjang ini tidak terpakai untuk waktu yang lama di tambah AC kamar yang derajatnya yang tidak berkurang tetap seperti awal di nyalakan..
"Biasanya suhu AC akan di naikkan kalo ada kembar tidur di kamar" kata Mbok yang pikirannya sudah di isi hal hal negatif..
Dengan cepat mbok menelepon tuan muda Tri..
"Tuan, nyonya dan kembar tidak ada" setelah teleponnya tersambung..
"APAAA?"..
" Sudah di cari di seluruh rumah?"..
"Telepon tuan besar dan nyonya besar serta Yudha"..
" Saya akan ke sana sekarang"..
Kata Tri pura pura panik yang kalau itu sengaja ke rumah kakek dan nenek untuk menceritakan semuanya tentang Hana dan rencana mereka..
"Show time" kata kakek..
"Ayo kesana dan mainkan peran masing masing" sambung Tri..
"Selamat datang Karma dan engkau akan menyesalinya Yudha" ujar nenek penuh amarah melihat cucunya yang di sakiti bertubi tubi..
Lain hal dengan orang tua Yudha..
"Tuan besar nyonya Hana dan kembar kayaknya tidak ada dari semalam dan mereka pun tak ada di rumah kakek dan nenek" kata mbok tanpa salam karena panik..
"Mah, kita ke rumah Hana sekarang dan jangan bertanya apa apa dulu" tegas papa, yang belum menutup telepon dari mbok Ina..
Keluarga besar dari suami istri pun telah berkumpul..
"Jelaskan yang terjadi" kata papa dengan emosi yang tinggal menunggu pemicunya lalu meledaklah..
Tiba tiba masuk Yudha dengan panik diikuti oleh Stella..
Dengan lancar mbok menceritakan semuanya termasuk menemukan surat yang di tulis Hana..
***Flashback Off...
__ADS_1
Bersambung***...