Red Thread

Red Thread
Yang Terlewatkan


__ADS_3

"Ketika kehilangan menyadarkan bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa dipertahankan."



Hujan deras dan keramaian di jalan raya tidak membuat Mika menurunkan kecepatan mobilnya. Ia justru menginjak pedal gas semakin dalam. Membawa mobilnya berzig-zag melewati kendaran lain. Klakson panjang dan umpatan dari pengendara lain yang beberapa kali terdengar, sama sekali tidak ia pedulikan.


Mika mencengkeram kemudi kuat-kuat. Napasnya memburu, hingga membuat paru-parunya sedikit sesak. Ada kemarahan yang membuat dadanya nyaris meledak. Bayangan seseorang yang ia lihat beberapa saat lalu, kembali melintas dalam kepalanya.


“Sialan! Seharusnya, dari dulu gue nggak kasih izin kak Nagra untuk jalan sama Alana.” Mika mengacak rambutnya dengan sebelah tangan. Tampak frustrasi, sambil mengeluarkan desahan panjang.


Dengan kecepatan yang mampu membuat penumpang di dalam mobil terkena serangan jantung mendadak, Mika akhirnya tiba di area parkir apartemen milik Nagra. Dia berlari menuju kamar apartemen Nagra yang—untungnya—berada di lantai dua. Sehingga, ia hanya perlu menaiki tangga darurat, karena terlalu lama menunggu lift.


Mika menekan beberapa digit angka untuk membuka pintu apartemen. Matanya membulat, tepat satu detik setelah pintu besi itu terbuka. Puntung rokok, bungkus makanan, sobekan kertas, dan pakaian kotor berserakan di lantai. Ia harus berjalan dengan sedikit berjinjit agar tidak menginjak benda-benda itu. Ini aneh. Nagra bukan tipe orang yang jorok. Cowok itu bahkan selalu mengomel, jika melihat Mika menaruh barang-barang sembarangan di rumah.


Mika mengabaikan benda-benda itu. Ia hanya harus menemui Nagra sekarang. Ia harus memberitahu Nagra, jika Alana—gadis yang sudah dipacari Nagra sejak enam bulan lalu—bukan gadis baik-baik.


“Kak Nagra, ada sesuatu yang harus aku omongin,” kata Mika, saat melihat Nagra meringkuk di sudut kamar. Mika tidak tahu yang terjadi. Namun, tubuh cowok itu terlihat sedikit bergetar.


“Kak Nagra!” Ia menegur Nagra yang masih bergeming. Cowok itu tetap menyembunyikan kepala di antara kedua lutut. Tidak berniat melihat ke arahnya.


Mika mendesah. Kekesalannya sudah tiba di puncak. Ia menarik satu lengan Nagra, dan memaksa cowok itu mendongak.


Mika memekik pelan. Tidak hanya kamar Nagra yang berantakan. Kondisi cowok itu pun sangat memprihatinkan. Nagra memandangnya dengan mata memerah dan tatapan kosong. Ada lingkaran hitam tebal yang menggantung di kelopak mata. Wajah Nagra pucat dan kusut. Terlihat seperti orang yang tidak tidur selama beberapa hari.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Nagra. Suara serak dan berat cowok itu menyadarkan Mika dari keterkejutan.


"Kak Nagra kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Mika. Seakan lupa dengan amarahnya, ia justru merasa khawatir pada cowok itu. Ia berniat menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Nagra. Namun, cowok itu lebih dulu menepis kasar tangannya.


“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Nagra. Cowok itu berusaha bangkit dari posisinya dengan susah payah. Lantas, berjalan menuju lemari es.


“Sendiri. Aku sudah dapat Surat Izin Mengemudi, tiga hari yang lalu,” kata Mika, tanpa melepas pandangan dari punggung Nagra.


Nagra tersenyum miring. “Lalu, apa kamu bisa datang ke apartemenku dengan seenaknya?” tanya Nagra. Lantas, cowok itu meneguk minuman dingin beberapa kali. “Lebih baik, sekarang kamu pulang. Ini sudah malam. Dan, kamu belum benar-benar mahir mengendarai mobil.”


“Alana selingkuh. Aku lihat dia di klub malam hari ini. Sama cowok. Mesra banget.” Mika tidak tahan lagi. Ia akhirnya mengeluarkan kalimat itu, dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Satu detik berlalu, tanpa ada tanggapan dari Nagra. Namun di detik berikutnya, cowok itu justru tertawa. Tawa yang cukup keras, tetapi terdengar menyedihkan. Mika tidak mengerti, di mana letak kelucuan dari pernyataannya. Bukankah seharusnya Nagra marah? Atau paling tidak, cowok itu akan menghubungi Alana dan membuktikan kebenaran ucapannya.


“Ke—kenapa kak Nagra ketawa?” tanya Mika. Ia sudah mengepalkan kedua telapak tangannya. Bersiap untuk memukul Nagra, jika cowok itu menganggap pernyataannya adalah lelucon.


“Terus, menurutmu aku harus apa? Aku harus marah-marah ke Alana? Aku harus memutuskan Alana sekarang juga? Atau…” Nagra menjeda kalimatnya. Cowok itu berjalan mendekati Mika dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Atau, aku harus lompat dari gedung karena nggak terima kalau Alana selingkuh?”


Mika menggeleng. Napasnya tertahan beberapa saat. Ia seperti tidak mengenal Nagra yang ada di hadapannya saat ini. Ia tidak pernah melihat Nagra melemparkan tatapan sedingin itu padanya. Ia tidak pernah mendengar Nagra berucap dengan nada sinis padanya. “Dari awal, harusnya aku nggak pernah ngasih izin Kakak untuk jadian sama dia. Alana itu bukan cewek baik-baik. Kalau dia cewek baik-baik, untuk apa dia datang ke klub malam? Ngapain dia pelukan sama cowok lain, sementara dia udah punya pacar?”


“Cukup, Mika! Cukup!” Nagra membentak. Mika harus mundur satu langkah untuk menghindar. Di mata cowok itu, tersimpan gulungan kemarahan yang tidak Mika pahami. “Alana nggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu nggak tahu apa sebenarnya sudah terjadi.”


Mika menelan ludah dengan susah payah. Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya. “Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi?”


Nagra tidak memberikan jawaban. Cowok itu hanya berjalan mendekati dinding. Lantas, menyandarkan tubuhnya di sana. Kepalanya mendongak. Bahunya terkulai. Seakan, terlalu banyak beban yang ia bawa selama ini. Beban yang tidak bisa dibagi kepada siapapun. Nagra kembali menjatuhkan pandangan pada Mika. “Sebaiknya, kamu pulang saja sekarang.”


Tubuh Mika membeku. Kakinya seakan tertancap kuat di tempatnya berpijak sekarang. Persendiannya menolak perintah otaknya untuk segera pergi dari apartemen Nagra.


“Kamu nggak tahu artinya pergi? P-E-R-G-I,” ucap Nagra, sekali lagi. Mengetahui Mika yang tidak kunjung bergerak, cowok itu akhirnya untuk menyeret Mika ke arah pintu.


“Aku nggak akan pergi, sebelum kakak cerita yang sebenarnya terjadi!” Mika memberontak. Berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Nagra.


“Paling nggak, kak Nagra nggak perlu nanggung masalah itu sendiri.” Mika berusaha untuk terus membujuk Nagra. Namun, cowok itu lebih dulu berhasil membawanya ke depan pintu apartemen. 


“Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Hati-hati di jalan. Selamat malam, Mika.” Nagra mengulas senyum tipis. Lantas, menutup pintu apartemennya dengan sedikit bantingan.


Mika membeku di tempatnya. Ia masih berusaha mencerna kejadian beberapa menit lalu. Kepalanya masih mencoba merangkai satu demi satu kenyataan yang ia dapatkan. Alana bersama cowok yang tidak dikenalnya. Nagra dengan keadaan yang menyedihkan. Nagra yang membentaknya. Nagra yang seakan tidak lagi ia kenali. Semua itu berputar dalam kepalanya, hingga membuatnya menyadari satu hal penting. Ia memang tidak memahami situasi yang terjadi.


Mika masih tenggelam dalam pikirannya, saat pintu di depannya kembali terbuka. Nagra—dengan wajah yang masih kusut—menunjukkan senyuman lebar padanya. Pandangan mereka beradu. Dan tanpa diduga, Nagra menarik Mika ke dalam rangkuman tangannya.


“Terima kasih, udah bersedia jadi adik aku. Terima kasih, udah berusaha mengerti keadaanku. Terima kasih, untuk segala hal yang pernah kita lakukan bersama. Aku bahagia bisa kenal kamu. Aku bahagia karena kita bisa jadi keluarga. Aku bahagia. Sangat bahagia karena punya adik seperti kamu,” ujar Nagra. Suaranya terdengar lebih tenang dibanding beberapa saat lalu. Nagra juga tetap tenang, bahkan ketika Mika berusaha melepaskan diri dari rangkuman tangannya.


“Aku boleh minta tolong?” Pertanyaan Nagra membuat Mika menghentikan usahanya untuk melepaskan diri. “Setelah pulang dari sini, tolong lupakan kejadian hari ini. Tolong lupakan bahwa kamu pernah lihat Alana di klub itu. Tolong lupakan bahwa kita pernah bertengkar hari ini. Tolong, jangan menganggap Alana bukan gadis baik-baik. Dia itu gadis baik-baik. Aku yang salah. Aku yang udah buat jadi seperti itu.”


“Kak Nagra, ngomong apa sih?”


Nagra tertawa pelan. “Nggak perlu dipikirin. Kamu hanya perlu melakukan itu. Maaf kalau selama ini aku belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu.” Nagra melepaskan rangkuman tangannya. Lantas, menatap Mika dengan tatapan sehangat sinar matahari pagi. “Aku antar kamu ke depan.”

__ADS_1


Mika tidak tahu, apa yang telah terjadi pada Nagra. Selama perjalanan menuju area parkir, cowok itu sama sekali tidak melepaskan rangkulan di bahunya. Cowok itu juga beberapa kali menoleh padanya, dan mengulas senyum lebar. Mika bahkan beranggapan, bahwa Nagra baru saja dimasuki oleh jin penunggu apartemen.


“Aku pulang dulu ya. Kak Nagra baik-baik di sini.” Mika melambaikan tangan. Kemudian, masuk ke mobil.


Nagra mengangguk, dan membalas lambaian tangan Mika. “Hati-hati. Salam buat Papa sama Mama.”


Mika terdiam sambil terus memerhatikan wajah Nagra selama beberapa detik. Ia merasa, ada sesuatu yang aneh dalam diri Nagra. Tidak sekali atau dua kali Nagra berlaku manis padanya. Namun, perlakuannya kali ini berbeda.


Mika kemudian menggeleng. Berusaha untuk melenyapkan pikiran negatif dalam kepalanya. Ia tersenyum kecil pada Nagra. Lalu, menginjak pedal gas. Membawa mobilnya keluar dari area parkir apartemen.



Jalanan tidak seramai beberapa saat lalu. Dengan kecepatannya saat ini, Mika yakin bisa sampai di rumah sebelum tengah malam. Itu artinya, ia masih bisa selamat dari integorasi mama dan papanya. Ia bisa menitipkan mobil itu di rumah Pak Burhan—satpam rumahnya. Lalu, menyelinap ke dalam kamar. Keesokan paginya, ia tinggal beralasan jika mobil itu dibawa oleh Nagra ke apartemen. Entahlah. Ia tidak tahu alasan kedua orangtuanya selalu melihat ke dalam kamarnya setiap tengah malam.


Mika tertawa kecil, setiap kali mengingat kebiasaan orangtuanya. Papanya bahkan pernah panik setengah mati, hanya karena tidak menemukannya di dalam kamar. Papanya nyaris menelepon polisi, sebelum akhirnya mama menemukannya yang tengah memakan roti di dapur. Mereka pernah mengatakan, jika mereka takut Mika akan dibawa lari makhluk astral pada tengah malam. Jawaban itu membuat Mika tidak bisa menyembunyikan tawa. Bagaimana bisa orangtuanya yang berpendidikan tinggi, dan tinggal di lingkungan modern masih memercayai hal-hal semacam itu?


Namun, ingatan tentang kejadian konyol itu tiba-tiba lenyap. Pikirannya kembali beralih pada Nagra. Perasaan hangat dan geli dalam dadanya, telah berganti oleh sesuatu yang menyesakkan. Seakan ada bisikkan yang menyuruhnya untuk kembali ke apartemen Nagra. Tanpa berpikir panjang, Mika akhirnya mencari jalan memutar.


Ia belum terlalu jauh dari apartemen Nagra, sehingga bisa sampai hanya dalam waktu dua puluh menit. Mika segera berlari menuju kamar Nagra. Suara Nagra beberapa saat lalu, memenuhi telinganya. Bergaung beriringan dengan suara derap kakinya di lorong sepi.


Mika berhenti di depan pintu apartemen Nagra. Ia mengatur napasnya yang satu-satu. Tangannya memencet bel beberapa kali. Namun nyaris satu menit berlalu, pintu besi di hadapannya tidak juga bergerak. Ia pikir Nagra sedang tidur, dan tidak sopan jika ia langsung masuk. Sehingga, ia memencet bel itu sekali lagi. Perasaan tidak tenang mulai menyergap, ketika nyaris dua menit pintu itu tidak juga terbuka.


Mika memencet beberapa digit angka, hingga pintu besi di depannya terbuka. Tidak seperti beberapa saat lalu. Apartemen Nagra sekarang jauh lebih rapi dan bersih. Tidak ada puntung rokok, kertas, dan bungkus makanan yang berserakan. Pakaian kotor juga sudah berada di bak cuci.


Mika berjalan menuju kamar Nagra. Mengetuk pintu itu beberapa kali. Hal yang terjadi masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada sahutan dari Nagra. Ia akhirnya membuka pintu itu perlahan. Ia tersenyum kecil dan mengembuskan napas lega. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Nagra ada di sana. Tidur di atas ranjang dengan tubuh tertutup selimut.


Mika mengambil langkah pelan untuk menghampiri Nagra. Ia ingin memberikan kecupan selamat malam, seperti yang sering ia lakukan dulu. Kali ini, sebagai tanda permintaan maaf karena ia telah membentak cowok itu tadi. Namun, ia terkejut saat tangannya menyentuh lengan cowok itu. Tidak ada yang ia rasakan selain dingin. Sangat dingin.


Mika mengguncangkan tubuh Nagra. Berusaha membangunkan cowok itu, sambil beberapa kali menyebut nama Nagra. Namun setelah beberapa detik berlalu, Nagra tidak juga menunjukkan tanda-tanda hendak terbangun. Tubuh cowok itu tetap dingin. Dada cowok itu bergeming. Tidak ada gerakan naik turun, maupun denyut jantung yang teratur.


“Kak Nagra, bangun. Kamu nggak apa-apa, kan? Kamu masih bisa dengar suaraku, kan? Kamu lagi ngerjain aku ya?” Mika kembali mengguncangkan tubuh Nagra. Tetap tidak ada pergerakan sedikit pun.


Lima menit sudah Mika berusaha membangun Nagra, tetapi sia-sia. Ia akhirnya meluruh di samping ranjang Nagra. Pandangannya tidak beralih dari tubuh Nagra yang membeku dan mulai membiru.


Mika ingin menangis. Namun, ia tidak bisa. Ia hanya bisa menatap kosong tubuh itu. Menelan kembali permintaan maaf yang ingin ia sampaikan. Berharap jika Nagra akan bangun beberapa detik kemudian. Dan, mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi di depan matanya hanyalah lelucon.

__ADS_1


Namun, nyaris sepuluh menit berlalu. Nagra tetap tidak terbangun. Nagra tidak akan pernah bangun lagi. Dan, permintaan maafnya tidak pernah tersampaikan.


__ADS_2