Red Thread

Red Thread
Curiga


__ADS_3

Kegaduhan terjadi di dalam salah satu ruangan kamar mandi sekolah. Gadis itu menyalurkan kemarahan dengan memukul dinding kamar mandi bertubi-tubi. Kedutan perih dan nyeri yang mulai menjalar sama sekali tidak ia hiraukan. Ia enggan berhenti, meski kini tangannya mulai kebas dan mati rasa. Baginya, rasa sakit ini tidak sebanding dengan sakit di hatinya. Tidak sebanding dengan kekecewaan yang ia dapatkan. Sudah lama ia tidak merasakan hal seperti ini. Semenjak Kai menyuruhnya untuk menggambar, ia nyaris lupa rasanya menyakiti diri sendiri. Dan sekarang, ia kembali melakukannya.


Mika berteriak. Tangannya yang menghantam dinding tidak berhenti. Ia mengepalkan jemarinya kuat, hingga memutih. Kemudian, memukul kembali dinding di depannya dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Tanpa melihat pun, ia tahu jika jarinya sudah membiru. Barangkali, sebentar lagi jarinya akan patah. Tapi, ia tidak peduli. Ia hanya ingin rasa sakit di tangannya itu mampu mengalihkan rasa sakit hatinya. Rasanya memang menenangkan, sedikit menyenangkan. Sebab, ia tidak lagi terlalu fokus pada hatinya yang penuh goresan. Hanya saja, rasa sakit di tangannya tidak sepenuhnya membuatnya bisa beralih. Ia tetap terjebak pada luka yang menganga di dalam dadanya.


*“Kalau gue menang, jadi pacar gue ya.”


“Hati-hati sama Raga.”


“Gue nggak mau lo jadi pengecut.”


“Lo bisa coba untuk menggambar setiap kali tertekan.”


"Gue udah bikin orang itu mati secara nggak langsung.”*


Mika berteriak, kalap. Kalimat demi kalimat yang pernah diucapkan Kai padanya, berputar dalam kepala. Menusuk titik terdalam hatinya. Seketika, ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung. Tanpa bisa dicegah, ia jatuh terduduk di atas lantai.


Mika memukul-mukul dadanya. Sesak sekali di dalam sana. Seluruh oksigen dalam paru-parunya seakan lenyap. Udara di sekelilingnya pun terasa semakin menipis. Hingga akhirnya ia sadar, dirinyalah yang lupa bagaimana cara bernapas dengan normal. Tanpa tekanan. Tanpa sesak


Mika menangis sejadi-jadinya. Ia mencakar dinding di hadapannya. Namun, karena tidak menemukan kepuasan, ia beralih. Kali ini, pada lengannya sendiri. Goresan panjang melintang di lengannya. Perih, dan mengeluarkan cairan merah kental dari celah yang terbuka. Mika tersenyum. Ini menyenangkan. Ia menekan luka itu semakin kuat. Telinganya sengaja ditulikan agar tidak mendengar gedoran pintu dan teriakan Anggita dari luar. Hanya ada satu hal yang ia inginkan. Ia hanya ingin mati.


Paling tidak, mati tidak akan membuat dirinya merasakan sakit ini. Rasa sakit ketika seluruh harapan, dan kebahagiaan lebur bersama kehancuran. Seseorang yang ia pikir akan menyelamatkannya, nyatanya adalah seseorang yang meremukkan sisa-sisa ketegarannya. Seseorang yang ia pikir akan membuatnya kembali hidup, nyatanya adalah seseorang yang membuatnya merasa mati seketika.


“Pergi!” Mika berteriak, ketika Anggita tidak menyerah untuk berusaha membuka pintu.


“Ka, tolong dengerin gue. Kita bisa selesaiin ini baik-baik.” Anggita masih berusaha untuk membujuk.


Mika menebalkan telinga. Pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan sempit itu. Tidak ada tali, atau celah yang bisa ia gunakan untuk melompat. Satu-satunya yang ada hanya genangan air di dalam bak.


Tanpa berpikir panjang, ia menghidupkan keran air. Membiarkan air di dalam bak meluber. Lantas, menenggelamkan kepalanya ke dalam bak.


Ia tidak bisa bernapas. Gelembung-gelembung udara tercipta di dalam air, menghabiskan sisa oksigen yang masih bersarang di paru-parunya. Sesak mulai memenuhi dadanya. Telinganya mulai berdenging. Entah, sudah berapa lama ia membenamkan kepala dalam air. Yang ia tahu, tubuhnya mulai melemas. Pandangannya perlahan mengabur. Namun, ada ketenangan yang seakan mengulurkan tangan.


Bayangan Nagra melambai di pelupuk matanya. Mika tersenyum tipis. Seperti inikah rasanya mati? Tenang, meski menyakitkan. Menyenangkan, sekaligus menakutkan.


Perlahan, pandangannya menghitam. Sesak di dadanya tidak lagi bisa ditoleransi. Namun, ia tetap bergeming.


Mika pikir, ia sudah mati ketika kakinya seakan melayang. Namun, ia masih bisa mendengar suara kepanikan di sekitarnya. Suara teriakan Anggita, isakan Raya, dan bentakan Kai.


Kai? Untuk apa cowok itu ada di sini? Mika sangat ingin memeluk cowok itu. Menangis di dada cowok itu, seperti dulu. Namun, seluruh tubuhnya tidak mampu digerakkan. Untuk sekadar membuka kelopak mata pun, ia tidak mampu.


Dalam keheningan yang dirasakan Mika, ia berkata satu hal di sisa kesadarannya, “Kai, kalau dunia parallel itu ada, gue harap di sana kita bisa bahagia bersama.”

__ADS_1



Ruangan putih dan gorden hijau pucat menyambut Mika, saat ia membuka mata. Cahaya lampu putih menyilaukan, membuat matanya beberapa kali mengerjap. Aroma obat, dan minyak kayu putih yang pekat bercampur di indera penciumannya. Tanpa berpikir dua kali pun ia sudah tahu, ini di ruang kesehatan sekolah.


Dibanding sekolah lain, ruang kesehatan di sekolahnya memiliki fasilitas yang lengkap. Nyaris menyerupai rumah sakit. Bahkan, di tempat itu disediakan dokter yang menjaga selama jam sekolah berlangsung. Sehingga, jika ada keadaan darurat seperti tadi, para siswa tidak akan terlambat untuk mendapat penanganan.


Kenapa ia tidak mati? Pertanyaan itulah yang memenuhi kepalanya saat ini, bukan pertanyaan tentang siapa yang membawanya ke tempat itu. Mika tertawa miris. Bahkan setelah banyaknya usaha bunuh diri yang ia lakukan, ia tetap saja masih berada di dunia.


Seseorang menyibak gorden, ketika Mika memikirkan tentang rencana bunuh diri yang lain. Mungkin lain kali, ia akan menggantung diri, meminum sebotol obat tidur, atau yang paling mudah—mengiris nadi. Dan yang pasti, ia tidak akan melakukan itu di sekolah.


“Lo udah sadar, Ka?” Mika menoleh ke arah Raya. Wajah gadis itu kusut dengan mata memerah.


“Kenapa gue di sini?” tanya Mika, dengan suara tercekat. Maksud dari pertanyaannya adalah mengapa ia masih hidup?


Raya terdiam sejenak, lantas memaksakan seulas senyum tipis. Berusaha untuk tidak terlihat khawatir, meski pun gagal. “Tadi lo jatuh di kamar mandi.”


Mika mengangguk. Walau sebenarnya, tengah menahan tawa. Ia hanya jatuh. Lain kali, ia akan mencoba untuk jatuh lebih keras. Paling tidak, hingga kepalanya terbentur lantai, dan tidak akan sadar diri lagi. Dengan begitu, ia akan segera bertemu Nagra. Dan, tidak akan merasa sakit karena kenyataan tentang Kai yang ia temukan.


“Gue mau ke kelas.” Mika memaksakan diri bangkit dari posisinya. Kepalanya masih berputar. Isi perutnya bergejolak. Ia tidak tahu, apakah ia mual karena tidak makan sejak pagi, atau muak kembali melihat dunia yang penuh kepalsuan?


Raya tidak mengatakan apa pun. Ia hanya membantu Mika untuk berjalan menuju ruang kelas.


Keadaan koridor sama sekali tidak sepi. Jam istirahat membuat banyak siswa berada di sana. Dan, menjadikan Mika sebagai pusat perhatian.


Jika saja kakinya tidak lemas, ia pasti sudah berlari menuju kelas. Tatapan teman-temannya benar-benar membuatnya muak. Mereka yang dulu menganggapnya pembunuh, sekarang melihatnya dengan penuh sorot kasihan. Mereka yang dulu menginginkannya mati, sekarang menatapnya prihatin. Benar-benar memuakkan.


“Gue bisa jalan sendiri, Ray." Mika mencoba untuk melepaskan tangan Raya yang memegang lengannya. Ia tidak tahan lagi dengan tatapan teman-temannya. Raya mengalah. Gadis itu melepaskan pegangannya di lengan Mika tanpa bertanya apa pun. Meski dengan tertatih, Mika berusaha untuk melangkah menuju kelas.


Anggita melambaikan tangan di ambang pintu. Susah payah, Mika mengatur raut wajahnya agar terlihat baik-baik saja. Kemudian, membalas lambaian gadis itu.


“Raga nungguin lo dari tadi. Kayaknya, dia khawatir banget,” kata Anggita. Gadis itu menyusul langkah Mika, karena merasa tidak sabar menunggu Mika di depan pintu kelas.


Mika menaikkan satu alisnya. “Dia tahu kalau gue—”


Anggita menganggukkan kepala pelan. Tanpa dijawab pun, Mika sudah tahu jawabannya. Akhirnya, ia hanya tersenyum miris. Sekarang, seluruh siswa sudah tahu bahwa ia baru saja melakukan usaha bunuh diri. Apakah setelah ini mereka akan berlomba-lomba memberikan ucapan penuh simpati? Seperti dulu ketika mereka berlomba-lomba untuk menyudutkannya dan menuduhkan sebagai pembunuh?


Mika memasuki kelas lebih dulu, meninggalkan Raya dan Anggita di belakangnya. Pandangannya langsung tertuju pada Raga yang duduk di bangkunya. Sebenarnya, tidak masalah. Hanya saja, gerakan cowok itu mencurigakan. Raga seperti mencari sesuatu di dalam tas dan laci mejanya. Raut wajah cowok itu pun tampak gelisah. Mika mendatangi Raga dengan langkah perlahan. Tidak ingin mengalihkan perhatian cowok itu.


“Kamu lagi cari apa?” Raga berjengit mendengar pertanyaan itu. Kedua kelopak mata cowok itu melebar, dengan sorot terkejut.


“A—aku lagi—” Raga menggaruk tengkuknya kikuk. “Eh, kamu udah baikan? Nggak ada yang sakit, ‘kan?”

__ADS_1


Mika memicingkan mata curiga. Lantas, tersenyum kecil beberapa detik kemudian. “Nggak ada. Aku baik-baik saja. Kamu ngapain?”


“I—ini. Aku mau ngasih kamu ini.” Raga berdiri, seraya mengangkat kantong plastik berisi roti di tangannya. Kemudian, menyerahkannya pada Mika. “Aku mau jenguk kamu ke UKS. Tapi, kata Anggita kamu udah mau ke kelas.”


“Thanks ya, Ga.” Mika tersenyum kecil. Lantas, menjatuhkan tubuh di kursinya. Raga mengangguk, mengusap puncak kepala Mika, lantas berpamitan untuk kembali ke kelas.


“Kak Raga ngapain?” tanya Raya, ketika Raga sudah pergi dari kelas mereka. Mika hanya menanggapi dengan gelengan. Meski ia curiga, tetapi ia tidak bisa membuat tebakan apa pun tentang sikap aneh Raga.


“Mungkin nggak, kalau dia nyari ini?” Anggita mengeluarkan test pack dari saku kemejanya.


Mata Raya melebar. Sorot matanya penuh dengan tanda tanya. Di antara mereka, hanya gadis itu yang tidak mengetahui apa pun. “Itu punya siapa?”


Mika menggeleng. “Nggak tahu. Gue nemu di kamar Kak Nagra, tadi pagi. Tapi, Git. Buat apa Raga nyari benda itu?”


Anggita mengedikkan bahu. “Gue cuma nebak. Tapi, coba lo pikir. Untuk apa dia menggeledah tas lo kalau nggak ada tujuan? Nggak biasanya, ‘kan?”


Anggita benar. Memang tidak biasanya Raga memeriksa isi tasnya. Jika hanya untuk memberikan roti, bukankah cowok itu bisa langsung meletakkannya di dalam laci meja?


“Gue jadi curiga sama Kak Raga,” gumam Raya. Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu, tampak sedang berpikir.


“Kenapa?” tanya Mika, dengan kening berkerut. Saat ini, otaknya sedang tidak ingin diajak untuk berpikir.


“Nggak tahu, ini benar atau nggak. Tapi, insting gue mengatakan kalau test pack itu ada kaitannya dengan Kak Raga. Mungkin nggak, kalau ternyata itu punya Raga?” kata Raya.


“Maksud lo Kak Raga hamil, gitu?” tanya Anggita, yang kemudian dihadiahi jitakan oleh Mika, dan desisan kesal oleh Raya.


“Bukan! Git, kesel gue lama-lama sama lo,” sungut Raya. “Bisa jadi, ini punya cewek kenalannya Kak Raga, dan nggak sengaja kebawa sama dia ke apartemen Nagra.”


"Jadi, menurut lo, semalam Raga yang bawa itu ke apartemen Kak Nagra, gitu?" Mika menggaruk kepalanya. Kesimpulan yang ditarik Raya membingungkan, tetapi ia tidak bisa menemukan ide yang lebih mendekati dari itu. Jika itu bukan milik seseorang yang berkaitan dengan Raga, tidak mungkin cowok itu berusaha mencarinya.


“Eh, Ka. Lo masih inget nggak hari apa Raga biasanya nggak bisa nganterin lo pulang?” Anggita melebarkan mata. Anggita nyaris selalu bereaksi seperti itu ketika menemukan sesuatu yang menarik.


“Dia hampir nggak pernah nganterin gue pulang. Gue, kan pulang sama pak Rudy.” Mika menatap bingung pada Anggita.


“Tapi, dia selalu nunggu lo sampai dijemput, kan?” Pertanyaan Anggita dibalas anggukan oleh Mika. “Jadi, hari apa biasanya Raga nggak nungguin lo?”


“Hari Kamis. Kenapa?” tanya Mika. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dua sahabatnya. Mungkin, ini efek dari usaha bunuh dirinya hari ini, yang membuatnya menjadi lambat berpikir.


“Dia pernah bilang alasannya, nggak?” Anggita masih mengejar Mika dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberadaan test pack di depan mereka.


“Raga bantuin bokapnya di kantor setiap hari Kamis,” sahut Mika. Ia tidak merasa ada yang aneh dengan hal itu. Namun, itu tidak berlaku bagi Anggita. Gadis itu justru tersenyum misterius. Membuat Mika dan Raya saling berpandangan dengan tatapan bingung.

__ADS_1


__ADS_2