
"Lihat?" Senyum puas tercetak di bibir Anggita karena mengetahui tebakannya tidak meleset.
"Bisa jadi, hari ini, dia memang lagi nggak ada kerjaan di kantor Papanya. Atau mungkin, dia sedang membantu Papanya di sini." Mika masih belum sepenuhnya percaya pada apa yang dilihatnya. Ia masih tidak percaya, jika selama ini Raga terlalu banyak memberikan kebohongan padanya.
"Kantor Papa Raga sekarang pindah ke Rumah Sakit Jiwa? Bukannya pengusaha furnitur, ya?" Anggita sedikit tidak terima karena Mika masih meragukan sesuatu yang sudah ada di depan mata mereka.
Mika tidak menjawab. Ia hanya melihat bagian luar rumah sakit itu dengan perasaan campur aduk. Kenyataan apa lagi yang akan ia lihat setelah ini? Sebenarnya, berapa banyak kebohongan yang sudah diberikan Raga padanya?
"Pakai ini." Anggita menyerahkan jaket serta masker pada Mika dan Raya. Cuaca memang sedang labil sekarang. Mendung dan hawa dingin yang terjadi di pagi hari, sama sekali tidak membuat hawa siang ini menjadi lebih sejuk. Namun, setidaknya, jaket dan masker itu bisa membantu mereka untuk menyamar.
Kecurigaan terhadap Raga belum sepenuhnya selesai. Kehadiran cowok itu di tempat ini justru memunculkan pertanyaan baru di kepala masing-masing dari mereka. Cowok itu sama sekali tidak terlihat hendak mengadakan kerja sama dengan pihak rumah sakit seperti dugaan awal Mika. Terlihat dari Raga yang masuk ke bangunan itu sambil membawa satu buket. Sangat tidak mungkin jika Raga akan memberikan bunga itu pada rekan bisnis Papanya.
“Ayo turun, sebelum kita kehilangan jejak,” titah Anggita, setelah memastikan dua temannya mengenakan jaket dan masket dengan benar.
Mereka turun dari mobil secara bersamaan. Berbekal jaket dan masker, mereka melancarkan penyelidikan. Mika membenarkan letak maskernya yang sedikit miring. Lantas, berjalan cepat mengikuti Raya dan Anggita yang sudah lebih dulu menginjakkan kaki di lantai rumah sakit. Peluh mulai membasahi dahinya. Mengenakan jaket tebal dan hitam di siang terik seperti ini memang bukan ide yang bagus.
Mereka bertiga menghentikan langkah saat melihat berbelok dan memasuki sebuah ruangan. Dari jarak yang cukup dekat, Mika bisa melihat jika bunga di tangan Raga adalah buket bunga lily putih. Bunga yang seketika membawa ingatan Mika pada Kai. Hari ketika cowok itu memberikan bunga itu untuknya. Dan, hari ketika cowok itu mengatakan bahwa ia harus berhati-hati pada Raga.
Ruangan yang dimasuki Raga terletak di ujung koridor. Tidak seperti rumah sakit pada umumnya yang koridornya dipenuhi para pengunjung. Tempat ini jauh lebih sepi, dan seakan tidak berpenghuni. Sesekali, mereka mendengar teriakan dan raungan dari arah kamar-kamar pasien. Hal yang membuat jantung mereka berdentum-dentum karena kaget, sekaligus membangkitkan suasana mencekam, meski matahari sedang bersinar sangat terang.
“Kita ke sana?” Raya menunjuk kamar yang baru saja dimasuki oleh Raga.
“Jangan! Kita tunggu aja sampai dia keluar,” kata Anggita. Kemudian, ia mengajak dua temannya untuk menunggu di taman rumah sakit. Sinar matahari yang terik, membuat siapa pun malas untuk berada di taman minim pepohonan itu. Namun, sedikitnya pepohonan membuat mereka leluasa untuk mengamati Raga, meski harus bermandi keringat.
“Kayaknya, pulang dari sini gue harus luluran deh,” kata Raya. Punggung tangannya mengusap keringat yang mengalir dari dahi.
"Gue juga. Gue mau berendam air susu,” celetuk Anggita, meski kedua temannya tahu itu hanya bentuk sindiran untuk Raya. Jangankan mandi susu, gadis itu bahkan tidak pernah memoleskan bedak.
Raga keluar ruangan nyaris satu jam kemudian. Anggita, Mika, dan Raya akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Sudah cukup bagi mereka untuk memanggang diri di bawah sinar matahari dengan jaket berwarna gelap. Bertahan di tempat itu lebih lama lagi, bisa-bisa membuat kulit mereka melepuh seperti Spongebob saat ingin masuk ke sebuah pesta dansa.
Raya berdiri di dekat jajaran bunga. Anggita berdiri di dekat tempat mandi burung yang kering. Sementara, Mika bersembunyi di balik pohon mangga kecil. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada satu titik fokus, Raga. Cowok itu berjalan menyusuri koridor menuju ke arah pintu keluar. Tidak ada yang berubah dari raut wajah cowok itu. Masih tetap datar dan misterius.
Anggita berjalan lebih dulu menuju ruangan yang baru saja ditinggal oleh Raga, dengan sangat hati-hati. Arah pandangnya masih tertuju pada tikungan koridor, tempat Raga baru saja menghilang. Kewaspadaannya meningkat, berjaga-jaga jika saja Raga akan kembali sewaktu-waktu.
Mika dan Raya mengikuti di belakang. Mereka juga tidak kalah tegang. Rasanya, mereka sudah mirip detektif yang akan mengusut kasus besar.
Derit memekakan telinga terdengar ketika Anggita mendorong pintu sebuah kamar rawat yang baru saja ditinggalkan oleh Raga. Aroma jeruk bercampur aroma bunga lily putih yang khas menyergap hidung mereka begitu pintu terbuka. Seorang gadis tertidur membelakangi mereka di atas ranjang. Rambut panjang gadis itu tergerai. Tidak kusut. Sepertinya, Raga baru merapikannya. Gadis itu tidak sedikit pun menoleh pada mereka. Baru ketika Anggita menyebutkan satu nama, gadis itu menoleh. Gerakannya pelan, hingga membuat Mika gemas dan ingin membalikkan paksa tubuh kurus itu.
Tidak ada ekspresi di wajah gadis itu. Sorot mata gadis itu kosong, seakan tidak ada jiwa dalam raga itu. Lingkaran hitam mengelilingi kelopak mata cekung gadis itu. Jika ditambah dengan polesan eye shadow berwarna hitam sedikit saja, mata itu pasti sudah menyerupai mata panda. Tulang pipi gadis itu sedikit menonjol, membuat Mika yakin ia bisa membayangkan bentuk tulang kepala gadis itu hanya dalam sekali lihat.
__ADS_1
Mika membulatkan sepasang matanya. Raya memekik. Dan, Anggita tidak bereaksi. Fokus mereka tertuju pada objek yang sama, dan dengan keterkejutan yang sama.
Baru beberapa detik kemudian, Mika memperoleh kembali kesadarannya. Ia mengambil langkah mendekat. Kemudian, melepas jaket dan maskernya. Seharusnya, aroma jeruk dan bunga lily putih itu mampu membuat suasana menjadi tenang, tetapi tidak. Tubuh Mika justru semakin menegang seiring semakin dekatnya jarak yang terbentang antara dirinya dan gadis itu.
“Alana? Kamu Alana, kan?” Tidak ada jawaban atas pertanyaan Mika. Gadis itu masih menatap kosong padanya. Tanpa sadar, tatapan yang seakan mati itu membuat Mika sedikit merinding.
“Kenapa kamu ada di sini?” Mika mengatur suaranya agar tetap netral. Sesuatu seperti gumpalan sudah menyekat tenggorokannya, menghadirkan rasa sesak dan tidak nyaman di dadanya. Gadis di hadapannya itu masih tidak bersuara. Namun, sepasang mata gadis itu terus melekat pada Mika. Seakan tertarik dengan kehadiran Mika di tempat itu.
“Kamu baik-baik saja? Boleh aku memperkenalkan diri?” Gadis itu tidak berkutik. Hanya kelopak matanya yang sesekali berkedip.
“Aku Mika. Adiknya Nagra. Kamu pasti ingat sama Nagra, kan?”
Satu detik. Tidak ada reaksi apa pun.
Dua detik. Gadis itu masih tetap diam.
Tiga detik. Kelopak mata gadis itu berkedip. Kali ini, memejam sedikit lebih lama.
Empat detik. Tangan gadis itu bergerak untuk menyentuh kepala.
Lima detik. Ada lapisan transparan di sepasang mata gadis itu.
Enam detik. Bibir gadis itu terbuka perlahan.
Detik ke sebelas, bibir gadis itu terbuka. "Na...Gra..." Gadis itu berkata lirih dan jelas. Namun, berhasil membuat tiga orang di sekitarnya terperangah.
Pada detik keenam belas. Gadis itu mulai terisak. Sangat pelan.
Mika kelabakan. Pandangannya berputar, mencari apapun yang bisa meredakan tangis gadis itu. Namun belum sempat ia menemukan sesuatu, gadis itu sudah meraung keras. Tangan gadis itu yang bebas menjambak rambut panjangnya sendiri. Mencakar wajah, dan memukul-mukul pembatas ranjang.
Mika kebingungan. Raya dan Anggita berlari untuk menahan tangan gadis itu. Mereka tidak mengantisipasi jika akan terjadi hal seperti ini.
Gadis itu meronta, meraung, dan berteriak, hingga Raya dan Anggita merasa kewalahan. Mika mencoba untuk mendekat. Ia menyejajarkan wajah dengan gadis itu. Berusaha menatap iris mata gadis itu dalam-dalam. Kata orang, berbicara melalui tatapan mata adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan, ketika bibir tidak mampu berkata.
Sayangnya, gadis itu tidak ingin berhenti meronta. Kegaduhan yang terjadi di ruangan itu membuat beberapa perawat berlarian ke dalam ruangan. Tepat di belakang para perawat itu, Raga muncul dengan napas terengah-engah. Raut wajahnya tampak sangat khawatir.
Mika tersentak, ketika matanya bertemu dengan iris gelap milik Raga. Mereka beradu pandang selama beberapa detik, hingga akhirnya Raga lebih dulu memutuskan kontak. Cowok itu menghampiri Mika dengan wajah merah padam. Menarik kasar lengan Mika untuk meninggalkan ruangan.
“Ngapain lo di sini? Lo mau nyekalain Alana?” tuduh Raga. Sepasang matanya menyorotkan kemarahan yang tidak pernah Mika lihat selama ini.
__ADS_1
“Bukan begitu, Ga. Aku cuma mau—”
“Mau apa?” potong Raga. “Nggak cukup Nagra yang buat dia begitu. Sekarang, lo juga mau nyakitin dia? Ha?"
“Aku nggak ada niat buruk sama Alana, Ga!” tandas Mika. “Aku cuma mau cari tahu tentang dia. Tentang keadaan dia.”
“Oh, gue tahu. Lo mau balas dendam ke gue, kan? Lo balas dendam ke gue melalui dia. Itu, kan, tujuan lo?” Raga tertawa mendengkus.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirin, Ga!” Mika berteriak frustrasi. Seketika, ia ingin membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
“Terus, ngapain lo ngikutin gue ke sini? KENAPA?” Raga membentak. Tiba-tiba saja, tangannya yang semula menggantung di samping tubuh, melayang dan mendaratkan hantaman pada dinding di sampingnya.
Mika berteriak. Terkejut. Susah payah ia menelan ludah. Kali ini, Raga berhasil membuatnya benat-benar ciut. Bagaimana tidak—selama mereka dekat—ini adalah pertama kalinya Raga mengeluarkan bentakan sekeras itu padanya.
“Gue cuma mau tahu, kenapa dia bisa ada di sini.” Suara Mika mulai bergetar. Ada lapisan transparan yang menggenang di pelupuk matanya. Sekali kedip saja, cairan itu pasti akan tumpah.
Raga mengusap wajahnya, seraya mendengkus kasar. “Lo mau tahu, kenapa dia ada sini? ITU KARENA NAGRA! NAGRA YANG UDAH BUAT DIA JADI BEGITU! Lo puas, sekarang? Puas udah buat hidup Alana berantakan? Puas setelah tahu, kalau ternyata hidup Alana nggak lebih baik daripada lo?”
Mika menggeleng. Butiran bening akhirnya meluruh dari sudut matanya. Membentuk jejak aliran di pipinya yang memerah. Sesak memenuhi rongga dadanya. Seakan sebuah palu raksasa baru saja meluluhlantakkan jantungnya, di dalam sana. Mengoyak paru-parunya, hingga membuatnya kesulitan bernapas.
“Lo dan Nagra itu sama. Sama-sama berengsek! Ngerasa kalau hidup kalian yang paling menyedihkan. Untungnya, hari itu dia langsung mati. Jadi, gue nggak perlu ngelihat wajah dia lagi.”
Raga pergi, setelah mengatakan hal itu. Meninggalkan Mika yang jatuh terduduk di lantai. Menangisi sakit di hatinya sendiri. Meratapi segala kenyataan yang ia dapatkan hari ini.
Namun di tengah kepungan rasa sakit itu, ada satu hal yang memenuhi kepalanya. Memantul-mantul di sudut ruang ingatan. Menggema bersama suara-suara lain yang tidak bisa ia dengar dengan jelas.
Untungnya, hari itu dia langsung mati.
Apakah secara tidak langsung, Raga mengakui telah membunuh Nagra?
Mika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia tidak ingin lagi menjatuhkan prasangka, tanpa sebuah bukti. Sudah cukup ia mengira Kai yang membunuh Nagra. Ia tidak ingin kembali mengulang kesalahan yang sama. Meski di depan matanya, segala kemungkinan itu sudah tampak nyata.
Raga yang menempel fotonya di majalah dinding sekolah.
Raga yang membujuknya agar menjatuhkan tuduhan pada Kai.
Raga yang terus mendesaknya untuk segera menyerahkan Kai ke polisi.
Raga yang menyembunyikan tentang Alana.
__ADS_1
Dan, tentang segala kepura-puraan cowok itu.
Hingga akhirnya, ia memilih untuk tetap berada di titik bimbang. Terombang-ambing oleh satu kepastian yang belum menemukan titik temu. Tenggelam bersama segenap sesal yang membalut hatinya, setelah mengetahui keadaan Alana.