Red Thread

Red Thread
Sebuah Sesal dan Cowok tidak Dikenal


__ADS_3

Mika mengumpulkan barang-barang Nagra yang berkaitan dengan Kai, dan memasukkannya ke sebuah kotak. Setelah sempat bimbang, ia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan kasus ini kembali ke jalur hukum. Kasus kematian Nagra harus segera menemukan titik terang. Ia bahkan sudah meminta salinan video pertengkaran Kai dan Nagra yang ditunjukkan Raga kemarin.


“Lo nggak mau dengar penjelasan dari Kai dulu?” Anggita masih berusaha untuk menahan keputusan Mika. Ia pun sama terlukanya dengan Mika, tetapi ia masih tidak terlalu yakin jika Kai adalah pelakunya. Apa lagi, cowok itu sama sekali tidak memiliki tampang pembunuh. Walau pun, tampang memang tidak selalu menjamin baik dan buruknya seseorang.


“Buat apa? Sudah jelas, kan, kalau dia pelakunya. Tadi aja, dia nggak bisa membela diri." Mika sudah membulatkan keputusan, dan tidak ada seorang pun yang bisa menggoyahkan keputusan itu. Tangannya masih sibuk memilah-milah isi kotak yang akan ia jadikan barang bukti.


“Gue bukannya membela Kai. Tapi, kayaknya dia punya sesuatu yang belum diutarain ke lo.”


Mika mengalihkan perhatian pada Anggita. Matanya menyipit curiga. "Lo nggak perlu membela dia. Ingat, Git. Dia yang udah bunuh Kak Nagra, kakak gue dan mantan pacar lo.”


Anggita mengembuskan napas panjang, seraya memijat pelipisnya. Nyatanya, kasus ini benar-benar membingungkan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa disebut tersangka. Semuanya abu-abu.


Mika yang awalnya dituduh pembunuh. Nyatanya hanyalah korban dari tindak cuci tangan si pelaku yang asli. Kemudian, Kai. Entahlah, ia tidak begitu yakin jika cowok itu yang melakukannya. Atau, selama ini si pelaku yang asli hanya sedang bermain lempar tangkap? Si pelaku sengaja menjatuhkan tuduhan ke orang-orang di sekitar Nagra, agar orang lain tidak mengetahui yang sebenarnya. Lalu, siapa si pelaku sebenarnya?


Anggita mengesah. Ia mengambil buku harian Nagra, dan membaca isinya untuk mengalihkan pikiran. Jemarinya membuka acak, lembar demi lembar. Hingga akhirnya, gerakannya terhenti saat menemukan sebuah lukisan tangan yang di bawahnya tertempel selembar foto kecil. Kira-kira berukuran 4 x 6.


Anggita mencondongkan kepala lebih dekat. Mengamati setiap jengkal foto kecil itu. Foto itu hanya menunjukkan tiga pergelangan tangan, yang masing-masing dililit dengan gelang tali berwarna merah. Tidak ada penjelasan lain lebih lanjut


“Ka, lo udah lihat ini?” Anggita menyerahkan buku harian Nagra yang terbuka pada Mika.


Mika mengernyitkan dahi ketika melihat foto itu. Ada tiga orang yang memiliki gelang bertali merah itu. Bukan hanya Nagra dan Kai. Artinya, masih ada satu orang lagi yang berhubungan dengan Nagra. Lalu, siapa pemilik gelang yang satu lagi?


Belum sempat pertanyaan itu menemukan jawaban, getaran ponsel di dalam saku menyentak kesadaran Mika. Ia segera mengambil benda pipih itu, dan menemukan nama papanya di layar.


“Halo, Mika. Kamu dimana?” tanya Martin. Ada kegaduhan yang membuat suara laki-laki itu tidak terdengar dengan jelas.


"Mika lagi di rumah Anggita. Kenapa, Pa?”


"Kamu ke rumah sakit sekarang, ya.” Hening sejenak. Mika bisa mendengar suara teriakan yang tidak jauh dari tempat Papanya. “Tolong,” kata Martin, kemudian, penuh dengan permohonan. Tanpa menunggu jawaban, lelaki itu memutuskan sambungan telepon.


Mika terdiam sejenak. Memandangi layar ponselnya, dengan kening berkerut. Ada apa? Kenapa suara Papanya terdengar panik.


“Lo kenapa, Ka?” Pertanyaan Anggita membuat Mika tersentak.   


“Gue harus ke rumah sakit sekarang, Git.” Mika beranjak dari tempatnya, dan berlari meninggalkan kamar Anggita.


“Tunggu. Gue antar!” Anggita menyusul langkah Mika. Kemudian, meminta sopir keluarganya untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


__ADS_1


Mika berlari sekuat yang ia bisa menuju kamar rawat Mamanya. Dadanya berdentam-dentam. Ia tahu, ada yang salah ketika melihat Papanya berdiri di depan kamar rawat dengan raut wajah ditekuk. Lelaki itu mondar-mandir dengan gusar.


“Ada apa, Pa?” tanya Mika. Suaranya putus-putus karena napasnya yang terengah-engah.


Papanya hendak membuka suara ketika Mika mendengar teriakan dari dalam kamar Mamanya. Mika tersentak. Ia ingin masuk ke kamar, tetapi Papanya mencekal pergelangan tangannya terlebih dahulu. Lelaki itu menggeleng pelan. Sorot matanya menyiratkan sesuatu yang tidak Mika mengerti.


“Kenapa? Ada apa? Kenapa mama berteriak?” Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Mika. Sama sekali tidak bisa ia temukan jawaban karena Papanya memilih bungkam.


Lima belas menit kemudian, suasana berubah tenang. Tidak ada lagi teriakan mamanya. Tiga perawat yang beberapa saat lalu ada di dalam, sudah meninggalkan kamar.


“Mama, kenapa?” Mika kembali bertanya dengan lirih. Melihat wajah kusut Papanya, membuat kepalanya menyusun pikiran-pikiran negatif.


“Mamamu seperti itu sejak dua malam lalu. Dia nyari kamu,” kata Martin, yang berhasil menohok jantung Mika. Mengapa Mamanya mencarinya hingga seperti itu?


“Papa udah nyoba hubungin kamu. Tapi, ponsel kamu nggak aktif. Papa bingung harus bagaimana.” Mika bungkam. Ada nyeri di sudut hatinya yang terasa menusuk-nusuk. Sebuah penyesalan tanpa sadar menyusup ke dadanya.


Dua malam lalu, ia memang sengaja mengabaikan pesan singkat Papanya. Ia hanya sedang tidak ingin diganggu hari itu. Dan setelah itu, ia membiarkan ponselnya mati kehabisan daya selama nyaris dua hari.


“Mika boleh masuk?” tanya Mika, yang ditanggapi dengan anggukan oleh Martin.


Derit pintu terdengar memekakan telinga, ketika Mika mendorong pintu kayu itu. Pandangannya memburam, saat melihat tubuh mamanya terbaring di atas ranjang dengan lemah. Wanita itu tertidur, atau lebih tepatnya dibuat tidur.


Gejolak kerinduan memenuhi dada Mika. Wajah mamanya terlihat lelah dan layu. Sepasang kelopak mata itu tertutup rapat. Menyembunyikan bola mata indah yang pernah memberikan keteduhan untuknya.


“Mika di sini, Ma,” bisik Mika. Susah payah ia menahan air mata agar tidak menetes. Namun, gagal. Ia terisak, pelan.


Jika ada hal lain yang Mika sesali selain kematian Nagra adalah hubungan dengan mamanya. Seandainya, ia lebih dulu menyadari. Seandainya, ia bisa memutar kembali waktu yang telah terlalui. Ia ingin berada di sisi mamanya. Ia ingin memeluk mamanya, meski ia harus terluka berulang kali. Ia ingin menemani mamanya di saat tersulit. Sebab ia tahu, luka yang ditanggung mamanya jauh lebih berat daripada dirinya. Mamanya jauh lebih pandai berpura-pura dibanding dirinya.


“Yulia yang membuatkanmu kue ulang tahun hari itu. Dia tertekan setelah kamu pergi. Yulia sayang sama kamu.”


Isakan Mika semakin hebat, ketika ucapan Papanya terngiang di telinga. Rasa penyesalan diam-diam menyelinap dalam relung hatinya. Membuat persendiannya melemas. Dan, seketika tubuhnya meluruh di lantai.


“Ma, maafin Mika. Maafin, Mika.” Ia menangis di antara kedua lutut. Bibir bawahnya ia gigit dengan kuat agar tidak ada yang mendengar isakannya. Ia masih tenggelam dalam rasa bersalah, ketika sebuah suara parau tiba-tiba memanggil namanya.


Mika mendongakkan kepala, lantas mengusap air matanya dengan kasar. Ia berdiri. Memaksakan seulas senyum pada Mamanya yang memandang ke arahnya. Mamanya tersenyum tipis. Tangan wanita itu bergerak pelan untuk menggapai tangan Mika.


“Iya. Mika di sini, Ma,” kata Mika.


“Maafkan, Mama.” Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Mamanya. Selanjutnya, hanya air mata yang meluruh di pipi wanita itu. Tidak ada teriakan histeris, seperti beberapa waktu lalu. Wanita itu hanya menangis, dengan Mika dalam rangkuman lengannya.

__ADS_1


Mika merasa begitu hangat. Sesuatu yang nyaris ia lupakan rasanya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari Mamanya. Untuk pertama kalinya—setelah pelarian menyakitkan selama berbulan-bulan—ia kembali menemukan rumah untuk pulang. Rumah berwujud keluarga yang tidak ia miliki, selama beberapa bulan ini.


Ia tidak ingin kehilangan perasaan bahagia ini, sekali lagi. Ia tidak akan membiarkan apa pun merenggut kehangatan ini lagi. Ia tidak akan membiarkan apa pun menghancurkan keluarganya, sekali lagi. Maka dengan segenap tekad dan hati yang telah dikuatkan, ia memutuskan satu hal. Ia akan menyelesaian kasus kematian Nagra secepatnya.



Samuel memukulkan buku jarinya ke dinding, hingga berkedut. Kemarahan masih memenuhi puncak kepalanya. Kemarahan itu belum juga reda meski sudah membuat Kai babak belur. Entahlah, apa yang sebenarnya membuat ia marah. Anggapan bahwa Kai yang telah membunuh Nagra, atau karena ia telah menyerang cowok itu tanpa mencari tahu kebenarannya dahulu? Ia hanya mendengar anggapan itu secara tidak sengaja dari percakapan Anggita dan Raga, saat gadis itu memberitahukan keadaan Mika setelah mengetahui bahwa Kai yang membunuh Nagra.


Kai sudah berada di dalam kamar rawat. Cowok itu masih belum sadarkan diri. Luka-luka yang diderita, membuat wajah cowok itu sedikit sulit untuk dikenali. Warna kebiruan dan luka gores bersarang di beberapa sisi, membuat Abi dan Satya yang melihat itu seakan ikut merasakan perih.


“Gue mau lo minta maaf ke Kai, kalau dia udah sadar!” Satya berkata dingin. Memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka selama beberapa menit belakangan.


Samuel tidak menjawab. Hanya terdengar helaan napas kasar dan terengah-engah darinya.


Abi menghampiri Samuel, dan menepuk bahu cowok itu. “Gue tahu ini berat buat lo. Tapi, lo juga harus tahu. Nggak cuma lo yang kecewa dan merasa kehilangan di sini. Gue juga. Gue, lo, sama Nagra itu udah lama temenan. Tapi tetep aja, lo nggak bisa main hakim sendiri.”


Samuel tidak memberikan jawaban apa pun. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dinding. Kemudian, terisak pelan. Mereka berakhir dengan diam yang terasa canggung. Hingga tiba-tiba, seorang cowok berperawakan tinggi menghampiri mereka dengan napas memburu.


“Gimana keadaan Kai?” tanya cowok itu. Dilihat dari penampilan, cowok itu berusia tidak jauh dari Kai. Mungkin sekitar satu hingga dua tahun di atas Kai.


Abi menoleh ke arah kaca kecil yang menempel di pintu ruang rawat. Memberi isyarat agar cowok itu melihat sendiri dari celah itu.


“Kenapa dia bisa begitu?” tanya cowok itu.


“Gue yang udah buat dia kayak gitu. Gue yang udah mukulin dia.” Samuel menyahut, tanpa melihat ke arah cowok itu. Abi dan Satya hanya bisa saling pandang. Wajah mereka waspada, jika tiba-tiba saja cowok itu akan mengamuk.


Benar saja. Tanpa sempat diantisipasi, cowok itu mendaratkan pukulan di perut Samuel. Membuat Samuel terjengkang dan terbatuk-batuk.


“Kurang ajar! Adik gue punya salah apa ke lo?” bentak cowok itu.


Abi menahan pergerakan cowok itu yang hendak kembali mendekati Samuel. “Ini salah paham," kata Abi.


“Salah paham?” cowok itu tertawa mendengkus. “Dia udah nyoba buat ngebunuh Kai. Dan, lo bilang ini cuma salah paham?”


“Gu—gue pikir, Kai yang udah ngebunuh Nagra.” Samuel berkata dengan nada gugup. Di sepasang matanya, membayang siratan ketakutan yang bercampur dengan penyesalan.


“Nagra?” ucap cowok itu, kemudian terdiam. Beberapa detik kemudian, cowok itu justru tertawa keras, tetapi hambar. Membuat Abi, Samuel, dan Satya saling berpandangan.


Siapa sebenarnya cowok itu? Kenapa cowok itu justru tertawa ketika mendengar nama Nagra?

__ADS_1


__ADS_2