Red Thread

Red Thread
Pernyataan


__ADS_3

"Cinta memang tidak membutuhkan penjelasan. Namun, bukankah suka membutuhkan setidaknya satu alasan?"



Empat bulan setelah kematian Nagra...


Jika bagi kebanyakan orang bangun adalah cara untuk terbebas dari mimpi buruk, maka hal itu tidak berlaku bagi Mika. Ia sering berharap, jika ia tidak pernah terbangun lagi. Setidaknya, dalam mimpi ia tidak perlu menghadapo pengabaian mamanya, merasakan sakitnya ditinggap pergi untuk selamanya, dan merasakan sulitnya bertahan sendiri.


Suara piring pecah dari arah dapur membuat Mika harus menyambut mimpi buruknya sekali lagi. Tanpa melihat kalender, ia sudah tahu jika hari ini adalah tanggal 12. Mamanya akan selalu memecahkan piring pada tanggal itu. Setiap bulan. Ia tidak tahu alasannya. Namun, itu sudah menjadi suatu rutinitas. 


Mika bangun dari ranjang. Lalu, berjalan ke dapur dengan langkah sempoyongan. Ia menghampiri mamanya yang berjongkok untuk mengumpulkan serpihan kaca. Yulia melihat Mika sekilas. Lalu, mengusap sudut mata dengan kasar. Yulia menepis kasar tangan Mika yang mencoba membantu membersihkan pecahan piring itu. “Biar mama yang bersihkan. Kamu mandi saja. Sudah siang.”


“Nggak apa-apa, Ma. Biar Mika bantu,” ujar Mika dengan tersenyum kecil. Setiap kali berbicara dengan mamanya, Mika akan memasang wajah paling ceria. Dengan harapan, mamanya akan kembali seperti semula. Mamanya akan menerimanya kembali.


“Apa kamu nggak dengar yang mama bilang? Pergi! Nggak usah bersikap sok peduli sama mama!” Yulia berteriak. Mika membeku saat melihat wajah mamanya merah padam. Tatapan tajam wanita itu tertuju padanya, membuat Mika hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.


Tanpa menunggu adanya bentakan kedua, Mika bangkit dari posisinya. Lalu, mundur perlahan. Bukan sekali dua kali mamanya bersikap demikian. Namun, Mika tidak pernah terbiasa dengan hal itu.



Mika tidak memiliki dua kepribadian. Ia hanya terlalu pandai berpura-pura. Pertengkaran dengan mamanya beberapa waktu lalu, tidak membuatnya menjadi pemurung seketika. Ia akan tetap menjadi Mika yang biasa. Menjadi Mika yang membuat orang lain tertawa dengan tingkahnya.


Baru saja ia menginjakkan kaki di sekolah, kehebohan sudah terjadi di koridor. Sebenarnya, kehebohan itu hanya terjadi pada dirinya. Ia berjalan sambil menari-nari di koridor sekolah, hingga membuatnya terpeleset.


“Ka, kayaknya lo perlu ikutan les tari deh,” kata Abi sambil menahan tawa.


“Besok gue siapin karpet merah di sepanjang koridor. Biar lo nggak jatuh lagi,” imbuh Ronald. Kemudian, ia tergelak.


“Ini pasti kalian berdua yang doain gue jatuh, kan?” Mika menunjukkan wajah garang pada Ronald dan Abi. Ia mengabaikan tatapan geli dari teman-temannya. “Gue sekarang lagi bahagia. Wajar dong kalau gue nari-nari.”


“Memangnya, kapan lo pernah nggak bahagia?” tanya Abi. Mika terdiam sejenak, setelah mendengar pertanyaan itu. Namun satu detik kemudian, ia tertawa keras. Lebih keras daripada tawa Abi dan Ronald.


“Iya ya. Gue memang selalu bahagia setiap hari,” ucap Mika. Kemudian, ia kembali tertawa. “Kalau gitu, gue ke kelas ya. Bye.”


Mika meninggalkan Abi dan Ronald yang masih tertawa. Dua teman sekelas Raga itu memang selalu suka meledek tingkah absurdnya.


Langkah kaki Mika berhenti di depan kelas Raga. Ia melongok ke dalam kelas, melalui bingkai pintu yang terbuka lebar. Raut wajahnya semringah, saat melihat cowok itu di sudut ruangan. Raga tidak menyadari kehadirannya. Cowok itu masih sibuk dengan rubrik dan earphone di telinga.


“Pagi, Ga.” Mika menunjukkan senyum paling manis di depan Raga.


Raga mengalihkan pandangan pada Mika. “Pagi.”


Mika mendaratkan tubuh di kursi depan Raga. “Tiga minggu nggak ketemu kamu, rasanya kangen banget ya,” kata Mika, yang hanya ditanggapi Raga dengan senyum kecil.

__ADS_1


“Kamu nggak kangen aku?” Mika mengerucutkan bibir.


“Kangen,” jawab Raga. Meski hanya satu kata, setidaknya itu mampu membuat Mika bahagia.


Raga mengamati wajah Mika lamat-lamat. Hanya dengan melihat sorot mata gadis itu saja, ia sudah mengetahui jika ada sesuatu yang terjadi. “Kamu kenapa?”


Mika gelagapan. Ia berusaha membuang muka, tetapi gerakan Raga lebih cepat. Cowok itu menahan dagunya, sehingga ia tidak bisa bergerak. Iris cokelatnya bertumbukan dengan iris gelap milik Raga. Dan, itu membuatnya sesak napas. Sudah nyaris tiga bulan ia berpacaran dengan Raga, tetapi ia belum terbiasa dengan tatapan cowok itu. Ia tidak tahu, mengapa tatapan mata yang dulu pernah membuatnya kesal, kini menjadi sesuatu yang paling membuatnya gugup. “Aku nggak apa-apa.”


“Nggak usah bohong.”


Mika memejamkan mata sejenak. Terlalu lama melihat mata Raga, akan berbahaya bagi jantungnya. Mika menanggalkan raut bahagia pura-pura yang ia pasang. Bayangan mamanya pagi ini kembali melintas dalam kepalanya. “Aku berantem lagi sama mama.” Mika memaksakan diri untuk tertawa, seakan pernyataan itu adalah sebuah lelucon. Tetapi, justru air mata yang meleleh di pipinya. Tangannya bergerak untuk menutupi wajah. Ia tidak ingin siapapun melihatnya menangis, termasuk Raga. Ia tetap ingin dikenal sebagai Mika yang kuat. Mika yang selalu bahagia.


“Lain kali nggak usah pura-pura bahagia, kalau kamu nggak mau lebih sakit lagi,” ucap Raga. Cowok itu memang tidak melakukan apa pun. Namun mengetahui Raga di sisinya, sudah membuat Mika merasa lebih baik. Di tengah rasa sakitnya, setidaknya ia masih memiliki tempat untuk pulang. Ia masih memiliki seseorang untuk tempat berbagi. Ia bahkan tidak pernah menyangka, jika Raga bisa menjadi seseorang yang membuatnya merasa bahagia saat ia tidak ingin tertawa.


Mika mengusap kasar air matanya. Ia tahu jika wajahnya sekarang sangat kusut. Sangat tidak cantik, karena dipenuhi jejak air mata. Mika memaksakan seulas senyum. Lantas, ia berdiri dari posisinya. “Aku ke kelas dulu ya.”


Mulai besok, sepertinya Mika harus mulai membawa masker ke sekolah. Ia sangat tidak nyaman dengan penampilannya. Wajah kusut dan mata memerah, membuatnya hanya bisa berjalan dengan menunduk saat meninggalkan kelas Raga. Ia tidak ingin orang lain melihatnya baru saja menangis. Namun, usahanya untuk bersembunyi berakhir ketika ia berpapasan dengan Anggita dan Raya di koridor.


“Lo kenapa nunduk melulu, Ka? Lagi nyari duit?” tanya Anggita. Kepalanya ikut menunduk ke arah pandang Mika. “Nggak ada duit jatuh kok. Atau, leher lo baru aja keseleo?”


Mika menggeleng pelan. “Gue lagi nyari amoeba buat praktikum biologi.”


“Seumur hidup, gue belum pernah tahu ada amoeba yang bisa dilihat dengan mata telanjang.” Raya menyahuti pernyataan Mika.


"Ngapain lo dari kelasnya Raga?” tanya Anggita, tanpa menghiraukan ucapan aneh Mika dan Raya.


“Gue nggak tanya lo!” Anggita melemparkan tatapan tajam pada Raya. Kemudian, beralih pada Mika. “Masih betah lo pacaran sama cowok dingin itu?” Anggita berbisik. Jika dulu ia pernah menyukai Raga, maka hal itu tidak berlaku lagi. Mengetahui sikap Raga yang terlampau dingin, membuat rasa kagumnya pada cowok itu perlahan berkurang. Apalagi, setelah mengetahui Raga menyukai Mika. Mika hanya tertawa kecil. Setiap kali seseorang menanyakan hal itu padanya, ia akan selalu mengingat hari ketika hubungannya dengan Raga mulai berubah.



*“Lo tahu nggak, nama cowok itu siapa?” Raya menunjuk pada seorang cowok yang baru saja keluar dari ruang guru.


“Dia murid baru, kan? Ganteng banget, astaga!” Anggita sama sekali tidak melepaskan pandangan dari cowok itu.


Mika berdecak. Entahlah, ia sama sekali tidak tertarik pada cowok yang dua hari ini menjadi bahan pembicaraan di sekolah. Hanya melihat dari penampilan saja, Mika sudah tahu jika cowok itu adalah tipe cowok sombong.


“Kenapa dia bisa pindah di pertengahan semester ya?” Pertanyaan Raya dijawab Mika dengan gedikkan bahu.


"Dia lihat ke sini!” Anggita berteriak heboh.


“Astaga, dia beneran ke sini! Gue harus kelihatan cantik di depan dia.” Raya merapikan rambutnya dengan tangan. Lantas, menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang selalu dibawa kemana pun.


Mika hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua sahabatnya. Ia terlalu fokus pada kehebohan Raya dan Anggita, hingga tidak menyadari jika cowok itu sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


“Kamu Mika, kan?” tanya cowok itu, secara tiba-tiba. Membuat Anggita dan Raya spontan menoleh ke arah Mika dengan tatapan bertanya-tanya.


Mika mengangguk pelan, beberapa detik kemudian. Mengapa cowok itu sudah mengetahui namanya pada pertemuan pertama mereka?


Mika memindai penampilan cowok itu dari atas ke bawah. Tatapan mata cowok itu seakan menunjukkan kesan dingin dan menyebalkan. Cowok itu pergi begitu saja setelah mendapat tanggapan dari Mika. Tanpa sepatah kata. Tanpa seulas senyum sebagai sapaan.


“Lihat, kan? Dia itu tipe cowok songong yang emang harus dimusnahin di muka bumi,” gerutu Mika pada dua sahabatnya.


“Tapi, dia ganteng.” kata Raya. Ia sama sekali tidak melepaskan pandangan dari punggung cowok itu yang semakin menjauh.


“Namanya Raga, kan? Gue harus cari tahu, dia ada di kelas mana.” Anggita beranjak dari tempatnya. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuju ruang tata usaha.


Mika pikir, ia hanya akan bertemu Raga di sekolah. Namun, sepertinya cowok itu selalu ada di dekatnya. Di mana pun, kecuali di rumah. Ia bahkan sempat berpikir, apakah ia dan Raga memiliki ikatan batin sehingga mereka selalu bertemu di tempat yang sama. Seperti hari ini, ia tidak sengaja bertemu cowok itu di toko buku.


Mika mengabaikan keberadaan Raga. Ia tidak memiliki urusan apa pun dengan cowok itu. Dan, tidak ingin berurusan. Ia hanya perlu mencari buku incarannya, kemudian pulang. Tidak perlu menyapa Raga, apalagi berbasa-basi. Cowok itu juga tidak akan menyadari keberadaannya.


Namun, ternyata Mika salah. Cowok itu justru menghampirinya, saat ia kesulitan mengambil buku dari rak paling atas. “Mangkanya, minum susu. Ngambil segini aja nggak bisa,” ucap Raga.


Mika menahan rasa kesalnya. Ia memaksakan seulas senyum sebagai tanda terima kasih. Meski, lebih terlihat seperti seringaian. “Terima ka—” Belum sempat Mika menyelesaikan ucapannya, Raga sudah lebih dulu meninggalkannya.


“Kenapa sih ada cowok model begitu?” Mika menggerutu.


Tidak hanya sekali itu, Raga datang secara tiba-tiba untuk membantunya. Cowok itu bahkan membelikannya bakso di kantin—di depan teman-teman sekolahnya.


“Buat kamu. Aku tahu, badan kamu yang pendek bikin kamu kesulitan nerobos antrian.” Raga meletakkan semangkuk bakso di meja depan Mika.


Mika melemparkan tatapan tidak mengerti pada Raga. Ia tidak tahu, mengapa cowok itu selalu datang ketika ia kesulitan.


“Kamu niat nolong aku, atau mau ngeledekin karena aku pendek?” tanya Mika, dengan nada kesal.


Raga menaikkan sebelah alisnya. “Makan aja. Biar cepet tinggi. Biar nggak ngerepotin orang terus.”


“Siapa yang mau ngerepotin orang? Kamu aja yang tiba-tiba datang. Dan, sok jadi pahlawan kesiangan!” Mika tidak tahan lagi untuk tidak memaki Raga. Ia tidak peduli, meski cowok itu sudah bersikap baik. Tetap saja, Raga telah membuatnya kesal beberapa hari ini.


“Siapa yang mau jadi pahlawan kesiangan? Aku nggak tega aja lihat kamu kejepit di sana.” Raga menghentikan kalimatnya. Matanya masih menatap Mika dengan ekspresi datar. “Udah makan aja. Aku tahu, kamu lapar.”


“Udahlah, Ka. Kapan lagi lo dibeliin bakso sama pangeran? Gue juga mau kali.” Raya menyikut pinggang Mika. Kemudian, ditanggapi Mika dengan lirikan tajam yang seakan mengatakan lebih-baik-lo-diam.


“Makan!” Hanya itu yang Raga katakan, sebelum akhirnya meninggalkan Mika. Membuat Mika semakin geram, dan ingin melemparkan sepatu pada cowok itu. Namun dua langkah kemudian, Raga berhenti dan kembali memutar tubuh menghadap Mika. “Oh iya, ada satu hal lagi. Mumpung di sini banyak orang, aku mau ngasih tahu kamu satu hal. Aku suka kamu.”


Mika mematung. Pernyataan Raga membuat kejengkelan yang semula menyelimuti, seketika lenyap tanpa sisa. Ia tidak mengerti tentang alasan Raga mengatakan hal itu. Bahkan, mereka belum genap dua minggu berada di sekolah yang sama. Dan, mereka baru bertemu sebanyak tiga kali.


Tidak hanya Mika yang membeku mendengar kalimat itu. Nyaris seluruh siswa yang berada di kantin, menghentikan kegiatan mereka. Fokus mereka hanya tertuju pada Mika dan Raga yang saling berpandangan. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah Raga. Sementara, Mika tampak terkejut dengan mulut sedikit terbuka.

__ADS_1


“Nggak usah dipikirin. Aku nggak perlu jawaban. Kalau kamu nerima aku, kamu bisa temui aku di kelas besok pagi.”


Besok pagi yang ditetapkan Raga tiba. Mika tidak mengerti alasan ia mendatangi Raga di kelas pagi itu. Yang ada dipikirannya hanya satu. Mengapa cowok itu mengatakan suka padanya, ketika mereka baru bertemu kurang dari dua minggu?*


__ADS_2