Red Thread

Red Thread
Murid Baru


__ADS_3

"Pertemuan selalu memiliki perpisahan sebagai sebuah ujung. Namun, aku tidak peduli. Selama waktu masih berbaik hati mempertemukan aku denganmu, aku tetap bahagia."



Nyaris setiap tahun ajaran baru, SMA Pelita selalu kedatangan siswa baru. Seperti hari ini. Seorang siswa pindahan dengan penampilan yang sedikit berantakan, berjalan dari arah gerbang sekolah. Seragamnya yang hanya dimasukkan pada satu sisi serta rambut sedikit gondrong yang acak-acakan, membuatnya langsung menjadi pusat perhatian. Tidak sedikit yang melemparkan tatapan heran dan tidak suka—sebagian besar berasal dari para cowok yang merasa mendapat saingan baru. Namun, tidak sedikit pula yang langsung terpesona oleh wajahnya yang tampan.


Mika ikut memerhatikan siswa baru itu dari tepi lapangan. Tidak ada raut terpesona. Hanya satu alisnya yang sedikit terangkat. “Dia siapa sih?”


Raga mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Kemudian, ia mengikuti arah pandang Mika. “Cowok yang pakai tas ransel biru bergambar Sonic itu?” tanya Raga. Lantas, ditanggapi Mika dengan anggukan. “Murid baru, mungkin. Ngapain sih dia pindah ke sini?”


Mika menoleh ke arah Raga, setelah mendengar jawaban cowok itu. Ada nada tidak suka yang tersirat dalam nada suara Raga. “Kamu kenal dia?”


“Nggak. Aku heran aja. Kenapa cowok urakan seperti dia bisa diterima di sekolah ini.”


“Mungkin saja dia pintar. Kita nggak bisa menghakimi seseorang dari luar aja, kan, Ga,” sahut Mika, yang ditanggapi Raga dengan gedikkan bahu tidak acuh. Cowok itu sama sekali tidak tertarik pada kehadiran siswa baru yang berhasil menarik perhatian puluhan pasang mata itu.


Mika mengalihkan kembali pandangannya pada siswa baru yang berjalan menuju ruang kepala sekolah. Ia tidak bisa menahan senyum di bibirnya, saat melihat tas ransel milik cowok itu. Gambar Sonic berukuran cukup besar terpampang manis di bagian depan. Sangat kontras dengan penampilan cowok itu yang terkesan nakal.


“Nggak usah ngelihatin dia!” Suara Raga berhasil mengejutkan Mika. Ia segera menoleh pada cowok itu. Raga sedang menatapnya dengan sorot mata datar, tetapi tajam.


“Kamu cemburu?” tanya Mika. Ia menunjukkan cengiran lebar di wajahnya yang cerah. Sangat berbanding terbalik dengan raut wajah Raga yang selalu ditekuk—kali ini lebih parah.


“Nggak. Aku ke kelas dulu. Habis ini bel masuk.” Tanpa menunggu jawaban Mika, Raga meninggalkan tempatnya semula. Di belakang punggungnya, Mika tidak bisa lagi menyembunyikan senyum lebar, sekaligus geli. Sebab, selama mereka berpacaran, ini adalah pertama kalinya ia melihat Raga cemburu.



Denting suara gitar yang dimainkan Mika terdengar cukup merdu. Sama sekali tidak terusik dengan keriuhan yang terjadi di kantin setiap kali jam istirahat.


Seperti biasa, Mika selalu datang ke kantin dengan gitar yang ia pinjam dari ruang kesenian. Nyaris seluruh teman-temannya di sekolah mengetahui kebiasaannya yang selalu menggelar pertunjukkan dadakan setiap hari Selasa. Mika tidak pernah mengatakan alasannya memilih hari Selasa. Namun, selama tidak ada yang melayangkan protes atas kelakuannya, ia merasa tidak masalah.


Mika mendongakkan kepala sejenak. Mengalihkan pandangan dari senar gitar yang memanjang di tangannya. Matanya mengarah pada seluruh pengunjung kantin yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Beberapa dari mereka bahkan memberi isyarat agar Mika segera memulai permainannya.


*♫ Kuingin selalu, mencintaimu.


Walau kita tak mungkin bersama.


Meski berat melepasmu


Tapi kamu akan selalu


Di hatiku selamanya♫*

__ADS_1


Suara lembut Mika membuat keriuhan di kantin seketika lenyap. Seluruh pasang mata hanya tertuju padanya. Tidak sedikit yang rela menghentikan kegiatan sejenak, demi mendengarkan permainan gitarnya. Beberapa dari mereka juga ikut bernyanyi, mengikuti alunan musik yang dimainkan.


Mika mengangkat kepala. Ia tersenyum kecil pada puluhan pasang mata yang mengarah padanya. Jika orang lain mendengar lagu itu hanya sebagai hiburan, maka tidak baginya. Lagu itu memiliki kenangan yang cukup dalam. Lagu itu pernah ia nyanyikan satu jam sebelum pemakaman Nagra. Lagu itu adalah lagu pertama yang ia nyanyikan, ketika Nagra mengajarinya bermain gitar.


Suara tepuk tangan memecah keheningan yang terjadi selama beberapa saat. Seruan agar Mika bernyanyi lagi, mulai terdengar dari beberapa siswa. Menjadi pusat perhatian dan diapresiasi banyak orang memang hangat dan menyenangkan. Namun, perasaan itu tetap tidak sebanding dengan yang ia rasakan saat Nagra memberinya tepuk tangan untuk pertama kali.


“Untung suara lo keren, Ka. Jadi, gue nggak perlu khawatir kalau tiba-tiba makanan yang baru gue telan balik lagi.” Suara seseorang membuat Mika harus mengenyahkan kembali pikiran tentang Nagra. Ia menoleh pada Satya yang mengeluarkan cengiran kecil.


“Ntar lo aja yang gue undang buat nyanyi di nikahan gue ya, Ka.” Samuel menambahi.


"Memangnya ada yang mau sama lo?" Satya menyahuti, yang langsung dibalas dengan jitakan oleh Samuel.


Mika hendak tertawa menanggapi celetukan dua kakak kelasnya itu. Namun, keinginannya lenyap ketika matanya bertumbukan dengan mata gelap milik seseorang. Seseorang yang baru dilihatnya pagi ini. Seseorang yang kini duduk di antara Satya dan Samuel. Seseorang yang melemparkan tatapan tidak terartikan padanya.


Baru saja Mika akan melemparkan seulas senyum, cowok itu sudah lebih dulu mengalihkan pandangan. Lantas, beranjak menuju tempat penjual minuman.


“Dia siapa?” Anggita menyikut pinggang Mika. Pergerakan matanya mengikuti arah pandang Mika.


“Murid baru. Tapi, gue nggak tahu siapa. Kenapa? Naksir?” tanya Mika.


Anggita tertawa kecil. “Nggak. Kak Raga lebih keren.”


Mika mendengkus. Lalu, melemparkan tatapan tajam pada Anggita. “Jangan macam-macam kalau lo nggak mau pulang jadi daging cincang!”


"Siapa?" tanya Mika.


Belum sempat dua temannya menjawab, percakapan mereka harus terhenti ketika seseorang tiba-tiba meletakkan segelas jeruk hangat di depan Mika. Mika mendongak. Kelopak matanya melebar saat menemukan siswa baru yang menjadi pusat perhatian pagi ini berada di hadapannya.


“Biar suara lo nggak serak karena habis teriak-teriak,” ucap cowok itu dengan wajah datar. Namun beberapa detik kemudian, raut tengil muncul di wajahnya bersamaan dengan cengiran kecil.


“Ha?” Mika tidak bisa menyembunyikan keheranan dan rasa bingung. Ia menatap bergantian antara gelas berisi jeruk hangat dan wajah cowok itu. "Kamu mau bayar aku pakai minuman jeruk hangat?"


“Karena, gue nggak ada duit. Jadi, bisa dibilang begitu." Cowok itu tertawa. Sedangkan, Mika justru semakin bingung. Tidak hanya Mika, bahkan Anggita dan Raya juga menunjukkan ekspresi yang sama. “Gue nggak ada niat jahat. Gue cuma mau kenalan sama lo.”


Mengetahui Mika yang tidak bereaksi selama beberapa detik, Raya akhirnya menyikut pinggang gadis itu.


“Gue Kai. Siswa baru kelas 12 IPA 5. Lo siapa?” Kai mengulurkan tangannya di depan Mika.


Mika menatap uluran tangan itu sejenak. Kemudian, menyambutnya dengan gerakan pelan. “Aku Mika. Mika Arestya. ”


Kai tersenyum. Lantas, duduk di bangku kosong sebelah Mika. Tanpa menunggu persetujuan, ia mengambil alih gitar dari pangkuan gadis itu. Jemarinya begerak untuk memetik senar satu per satu. Alunan lembut kembali terdengar di tengah keramaian.

__ADS_1


“Ayo nyanyi,” kata Kai memberi arahan.


Mika menatap takjub cowok di sampingnya. Mereka baru bertemu sehari, tetapi tingkah cowok itu seperti mereka sudah lama berteman akrab. Jika dibandingkan dengan Raga yang serupa gunung es, maka cowok itu lebih seperti matahari senja. Cerah, tetapi temaram. Hangat, tetapi dingin. Itulah yang Mika temukan dari diri Kai, ketika mata mereka bertemu beberapa saat lalu.


Mika tersenyum kecil. Meski masih sedikit ragu, ia akhirnya mengikuti Kai yang sudah bernyanyi lebih dulu.


Kai yang bernyanyi dengan nada rendah, mampu mengimbangi Mika yang bernyanyi dengan nada tinggi. Suara mereka terdengar bulat dan menyatu. Berpadu dengan petikan suara gitar yang lembut. Mereka mampu menyihir para siswa yang berada di kantin. Mereka terlalu asyik bernyanyi, hingga tidak menyadari seseorang sejak tadi melemparkan tatapan tidak suka ke arah mereka.


Hanya beberapa detik setelah mereka menyelesaikan satu lagu, seseorang tiba-tiba saja berdiri di hadapan Mika. Raga melemparkan tatapan tajam pada Kai dan Mika. Raut wajahnya tidak terbaca. Sorot matanya dingin dan gelap. Membuat Mika bergidik dan menelan ludah dengan susah payah.


“Raga.” Mika berkata pelan. Ia tidak sanggup memandang mata Raga lebih lama lagi. Namun, ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata itu. Raga seakan mengunci tatapannya, sehingga membuatnya tidak bisa beralih.


“Udah selesai senang-senangnya?” tanya Raga. Nada suaranya benar-benar dingin.


“Ga, jangan salah paham dulu. Kita cuma—”


Belum sempat Mika menyelesaikan kalimatnya, Raga sudah lebih dulu memotong. “Cuma duduk berdua sama dia. Terus, nyanyi bareng. Iya?”


"Tapi, ada Anggita sama Raya kok." Mika mengalihkan pandangan ke sampingnya. Ia baru menyadari, jika Anggita dan Raya sudah tidak lagi berada di dekatnya. Entah, sejak kapan mereka pergi. Dan, itu membuatnya tidak bisa lagi mengelak.


“Sialan. Mereka kemana sih?” Mika kembali menatap Raga. Cowok itu menaikkan satu alisnya, menuntut sebuah penjelasan.


“Bukan salah dia. Gue yang ngajak dia nyanyi.” Kai mencoba menjelaskan.


“Aku nggak ngomong sama kamu!” ucap Raga, dengan sedikit membentak. Bentakan Raga memang tidak keras—bahkan tidak ada yang menyadari adanya perseteruan di antara mereka—tetapi berat dan membekukan.


Raga menatap Kai dengan sorot mata yang dalam. Tatapan Raga memang tidak tertuju padanya. Namun, tetap membuat Mika tidak nyaman. Beberapa kali ia menelan ludah dengan susah payah. Berharap hal itu bisa mengurangi rasa tegang dan takutnya pada tatapan Raga.


"Cowok kayak Raga itu bahaya. Dia memang kelihatan cuek. Tapi kalau marah, dia nggak akan segan-segan buat nyingkirin orang yang udah cari gara-gara sama dia. Jadi, lo jangan buat dia cemburu."


Peringatan Raya—satu hari setelah ia berpacaran dengan Raga—terngiang di telinganya. Membuatnya tersadar, jika ia harus segera menjauhkan cowok itu dari Kai.


Sebelum terjadi perang yang lebih besar, Mika segera menarik Raga untuk menjauh. "Kita pergi. Nggak enak kalau dilihat sama teman-teman."


Sambil mendorong Raga meninggalkan kantin, Mika menoleh sekali lagi pada Kai. Ia melemparkan senyum simpul, ketika mata mereka bertemu. Tanpa suara, ia berkata, "Terima kasih, kak Kai."



Kai bersandar pada pembatas balkon di depan kelasnya. Pandangannya tertuju pada lalu lalang siswa di lantai bawah—pada deretan ruang kelas sebelas. Bibirnya tersenyum tipis, ketika matanya menangkap sosok perempuan yang ditemuinya pagi ini. Mika sedang berdiri di ambang pintu kelas sambil memainkan ponsel. Gadis itu tampak tidak peduli, meski tubuhnya menghalangi akses masuk. Mika bahkan tampak kesal ketika ada siswa lain yang berusaha menegur.


“Lucu juga.” Kai tertawa kecil, saat melihat Mika yang melompat kegirangan. Barangkali karena baru saja memenangkan game.

__ADS_1


Mika melompat, seperti baru saja memenangkan undian puluhan juta. Gadis itu terlihat sangat bahagia, hingga tanpa sadar ponsel di tangannya meluncur bebas ke lantai. Mika memberengut. Raut bahagianya seketika tergantikan dengan ekspresi sebal. Mika mengusap-usap ponselnya. Seakan benda itu adalah harta paling berharga yang ia miliki.


Kai tertawa kecil, sambil menggelengkan kepala. Ia tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari Mika, hingga gadis itu kembali menghilang di balik dinding ruang kelas. Tanpa mengalihkan pandangan dari bingkai pintu kelas Mika, ia berkata pelan, “Akhirnya, gue nemuin lo di sini.”


__ADS_2