Red Thread

Red Thread
Pertandingan


__ADS_3

Kai baru selesai mengganti seragamnya dengan kaus olahraga, ketika salah satu anggota OSIS memasuki ruang kelas 12 IPA 3 yang sudah sepi. Hanya Kai di ruangan itu. Seluruh siswa sudah berkumpul di tepi lapangan, menunggu kejutan yang sudah disiapkan oleh pengurus OSIS—tentu saja, atas usul Kai dan dengan sedikit paksaan.


“Pertandingannya akan dimulai lima menit lagi, kak,” kata seorang cowok berkaca mata yang berdiri di ambang pintu kelas itu.


Kai hanya mengangguk. Kemudian, memasukkan seragamnya ke laci meja. Sebelum meninggalkan ruang kelas, ia memeriksa ponselnya. Ada foto seorang perempuan sedang tersenyum yang sengaja ia pasang sebagai wallpaper. Kai mengulas senyum kecil melihat foto itu. “Doain gue menang ya,” ucapnya. Kemudian, memasukkan ponsel itu ke tas.


Suasana di tepi lapangan sudah sangat ramai. Seluruh siswa tampak antusias untuk menonton pertandingan yang sudah ditunggu-tunggu. Cuaca yang cukup terik tidak menyurutkan semangat, walaupun hanya ada dua tim yang bertanding. Di tengah kerumunan itu, Kai masih bisa menemukan sosok Mika. Gadis itu duduk di bawah pohon mangga, diapit oleh Raya dan Anggita.


Kai ingin menyapa gadis itu, tetapi secepat kilat ia telan kembali keinginan itu. Mika tidak memandang ke arahnya, melainkan pada seseorang yang sekarang berada di sisi lain lapangan.


Ia mendesah kesal, saat melihat Mika tersenyum lebar pada Raga. Gadis itu mengucapkan sesuatu yang tidak bisa Kai tangkap dengan jelas. Meski begitu, ia tahu jika Mika sedang memberikan semangat pada Raga. Terlihat dari reaksi Raga yang langsung memberikan senyum lebar, seraya mengangguk.


Kai melihat jam tangannya. Masih ada tiga menit sebelum pertandingan di mulai. Ia segera berlari ke tepi lapangan. Menghampiri Mika yang masih belum melihat ke arahnya.


“Mika,” panggil Kai. Mika menoleh begitu mendengar suaranya. “Sebelum pertandingan dimulai, tolong ingat ucapan gue. Gue ngelakuin ini buat lo. Jadi, gue mohon. Kalau gue menang, lo jadi pacar gue ya?”


Mika tidak bereaksi. Ia hanya memandang Kai dengan tatapan kosong, datar, dan bingung. Mulutnya terbuka. Lalu, tertutup kembali. Terbuka. Kemudian, tertutup. Hal itu berlangsung hingga beberapa kali. Mika kehilangan kata-kata. Dari sorot mata Kai, ia mencoba untuk menemukan kemungkinan jika cowok itu sedang bercanda. Namun, hingga beberapa detik berlalu, Kai masih menatapnya dengan serius. Tidak ada raut wajah tengil dan menyebalkan. Ekspresi itu kaku. Sorot mata itu datar, tajam, dan dalam.


Belum sempat Mika menjawab ucapan Kai, suara peluit dari tengah lapangan membuyarkan keterkejutannya. Ia bahkan tidak menyadari, sejak kapan Kai sudah berlalu dari hadapannya.


Kening Mika berkerut, saat melihat hanya ada Kai dan Raga di tengah lapangan. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lapangan. Namun, tidak ada satu pun siswa yang juga mengenakan pakaian olahraga.


“Mereka cuma main berdua?” tanya Mika.


“Kayaknya begitu,” jawab Anggita. Ia juga masih menebak-nebak, pertandingan seperti apa yang akan dilaksanakan.


Keheranan para penonton akhirnya terjawab, saat Abi dan Samuel berjalan memasuki lapangan. Salah satu anggota OSIS—yang beberapa saat lalu menghampiri Kai di kelas—menyampaikan pengumuman jika pertandingan ini adalah pertandingan satu lawan satu.


Pengumuman itu tidak menyurutkan niat para siswa untuk menonton pertandingan. Mereka justru lebih antusias. Tidak sedikit yang langsung menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Di tepi lapangan, penonton seakan terbagi menjadi dua kubu. Pendukung Kai tidak kalah dengan pendukung Raga. Bahkan, tidak sedikit yang menebak jika Kai akan memenangkan pertandingan ini. Meski, mereka belum pernah melihat Kai bermain futsal.


Kai, Raga, Abi, Samuel, serta seorang anggota OSIS—yang bertugas sebagai wasit—berdiskusi sejenak. Setelah mendapatkan keputusan, mereka berpencar dan bersiap di posisi masing-masing. Seorang wasit meletakkan bola di tengah lapangan. Raga dan Kai saling melemparkan tatapan sengit. Mereka segera berlari untuk memperebutkan bola tepat setelah wasit meniup peluit, sebagai tanda dimulainya pertandingan.

__ADS_1


Gemuruh tepuk tangan dan seruan penonton mewarnai pertandingan sengit dua cowok itu. Kai lebih dulu mendapatkan bola. Ia berusaha untuk berlari menghindari Raga yang terus membayanginya. Raga tidak kalah gesit. Cowok itu terus menghalangi pergerakan Kai. Mencoba membuyarkan konsentrasi Kai. Hingga tepat ketika Kai hendak menendang bola menuju gawang yang dijaga Abi, Raga berhasil merebut bola itu.


Beberapa kali Kai nyaris membobol gawang Raga, tetapi Abi dengan sigap menangkap bola itu. Beberapa kali pula Raga hampir menghasilkan gol, tetapi Kai lebih dulu merebut bola setiap kali mendekati gawang. Selama nyaris sepuluh menit, belum ada satu pun dari mereka yang berhasil memasukkan bola. Bola hanya berpindah-pindah dari Kai ke Raga, dan sebaliknya. Beberapa kali penonton dibuat menahan napas. Namun, beberapa kali pula harus mendesah kecewa.


Kekecewaan penonton berubah menjadi desisan penuh harap, ketika Kai berhasil merebut bola dari kaki Raga. Ia menggiring cepat bola itu mendekati gawang Raga. Hanya beberapa detik, sebelum Raga berhasil merebut bola dan menguasai situasi, Kai sudah melepaskan tendangan ke arah gawang.


Tidak ada yang melepaskan pandangan dari arah pergerakan bola. Sepersekian berlalu, tanpa ada satu pun suara. Sepersekian yang membuat penonton menahan napas. Sepersekian detik yang membuat jantung Kai bergemuruh. Dan, sepersekian detik menegangkan itu akhirnya terbayarkan ketika bola yang ditendang Kai memelesat dan mendarat dalam pelukan Abi.


Kai mendesah jengkel. Penonton mengeluh kecewa. Ada juga yang mengembuskan napas penuh kelegaan.


Abi melemparkan bola di tangannya pada Raga. Tanpa menunggu waktu lama, Raga menggiring bola itu mendekati gawang Kai. Napas penonton kembali tertahan, saat Kai gagal merebut bola dari kaki Raga. Raga semakin dekat. Kai masih tertinggal di belakang. Raga bersiap untuk menendang. Kai berusaha merebut bola itu, tetapi gagal. Bola sudah lebih dulu memelesat menuju gawang.


Kai melemparkan pandangan penuh harap pada Samuel. Dalam hati, ia terus meneriakkan permintaan agar tendangan Raga kali ini meleset. Atau setidaknya, Samuel bisa menangkap bola itu.


Sepersekian detik berlalu, permohonan Kai akhirnya terjawab. Samuel gagal menahan tendangan Raga. Bola itu memelesat dengan mulus, dan membobol gawang Kai. Keheningan yang sempat terjadi, berganti suara teriakan dan gemuruh tepuk tangan dari para penonton.


Raga melemparkan tatapan penuh kemenangan. Kai merasa kakinya melemas seketika. Ia bahkan merasa, jika seluruh persendiannya mendadak lumpuh. Tatapan merendahkan dari Raga, membuatnya seakan kehilangan sebagian besar harapannya.


“Sorry, bro. Tapi kayaknya, lo bukan tandingan gue,” ucap Raga. Ia menepuk bahu Kai beberapa kali, sambil tersenyum merendahkan. Kemudian, ia berlalu dari tempat itu bersama Mika.


Kai hanya bisa memandang dua orang itu berlalu. Dadanya terasa sangat sesak. Ia mengabaikan Samuel yang mengajaknya untuk segera pergi dari lapangan. Para penonton juga sudah kembali ke kelas masing-masing, dan bersiap untuk pulang. Namun, Kai masih berdiri tegak di tempatnya. Pandangannya masih tertuju pada Mika dan Raga yang semakin mengecil, lantas menghilang di balik kelas Mika.


Kai tertawa pelan. Tawa itu terdengar menyedihkan. Semenyedihkan keadaan hatinya saat ini. Bukan hanya tentang Mika yang gagal ia dapatkan, melainkan juga tentang harapan yang harus kembali ia kubur dalam-dalam. Dan sekali lagi, Kai hanya bisa menertawakan kegagalannya.


Kai menjatuhkan tubuhnya di atas lantai semen lapangan. Ia tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang mengarah padanya. Ia mengabaikan sengatan panas di kulitnya, saat ia merebahkan tubuh di atas lapangan.


Matanya tertutup. Membiarkan sinar matahari dari celah-celah dedaunan mengenai wajahnya. Untuk beberapa saat, ia membiarkan diri dalam posisi seperti itu. Tidak memedulikan kasak-kusuk yang terjadi di sekitarnya. Dalam kegelapan itu, ia masih bisa melihat dengan jelas bayangan Mika yang menghampiri Raga dengan senyum lebar. Ia masih bisa mengingat, bagaimana cara gadis itu memandang Raga. Dan dalam kegelapan itu, tiba-tiba ia merasakan sinar matahari tidak lagi mengenai wajahnya.


Kai mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba memperjelas pandangannya pada seseorang yang kini berdiri di sampingnya. Menghalangi sinar matahari yang menyilaukan. Kai langsung melompat terkejut, saat menyadari jika gadis itu adalah Mika.


“Kak Kai pasti haus, kan?” Mika menyerahkan sebotol air mineral pada Kai.

__ADS_1


Kai hanya memandang botol air itu dan Mika secara bergantian. Mika mendorong botol air mineral itu lebih dekat, karena Kai masih juga bergeming.


“Walau pun Kakak nggak menang. Walau pun Mika nggak jadi pacar Kakak. Tapi, kita masih bisa temenan kok.” Mika mengulas senyum lebar, yang membuat jantung Kai berhenti berdetak untuk beberapa saat. “Jadi sebagai teman yang baik, Mika beliin ini buat Kakak.”


Kai menjatuhkan pandangan pada botol air mineral itu. Kemudian, menerimanya dengan gerakan ragu-ragu. Ia kembali mengalihkan pandangan pada Mika, setelah meminum beberapa teguk air.


Kai menatap Mika dengan dalam. Seakan ia ingin mengatakan isi hatinya pada gadis itu, melalui tatapan mata. Seakan ia ingin gadis itu tahu, bahwa ada banyak hal yang ingin ia sampaikan. Namun, tidak bisa.


Kai mengulas senyum tipis. Kemudian, untuk mewakili segenap perasaan yang terus berusaha merangsek keluar dari dalam dadanya, ia hanya mengucapkan sebaris kalimat, “Terima kasih.”


Mika mengangguk. Lantas, meminta izin untuk kembali ke kelas.


Tidak sedetik pun, Kai melepaskan pandangan dari Mika. Hingga gadis itu menghilang di balik tembok kelas, Kai masih menjatuhkan pandangan pada titik Mika menghilang.


Kali ini, perasaannya jauh lebih baik. Jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Ia tidak pernah menyangka, jika senyuman gadis itu untuknya memiliki pengaruh yang cukup besar. Setidaknya, malam ini ia bisa tidur nyenyak.



Mika tidak tahu, apa yang terjadi dengan hatinya. Seharusnya, ia bahagia karena Raga memenangkan pertandingan itu. Seharusnya, ia senang karena tidak perlu menuruti permintaan aneh Kai. Namun, ada satu sisi hatinya yang terasa sangat berat. Ada satu sisi hatinya yang seakan tidak terima dengan kemenangan Raga. Jadi, ketika nyaris seluruh teman-teman di kelasnya—begitu juga Raya dan Anggita—mengelu-elukan kemenangan Raga, ia hanya terdiam. Menanggapi seadanya, ketika teman-temannya mengatakan padanya bahwa Raga sangat keren, luar biasa, dan kata-kata memuji lainnya.


Mika mendesah pelan. Setelah Raga keluar dari kelasnya, pikiran Mika tidak sedikit pun beralih dari Kai. Dari ekspresi kecewa cowok itu beberapa saat lalu. Dari tatapan mata Kai yang sempat ia tangkap, sebelum berlalu bersama Raga. Tatapan itu bukan hanya tatapan kekecewaan. Ada juga sorot terluka yang cukup parah. Ada satu pertanyaan yang timbul dalam diri Mika. Jika hanya untuk menyatakan cinta, untuk apa Kai repot-repot meminta pihak OSIS mengadakan pertandingan itu? Bukankah cowok itu bisa mengatakan langsung di depannya? Atau kalau perlu, di tengah lapangan saat pulang sekolah?


Tanpa menghiraukan kehebohan teman-temannya yang masih membahas tentang Raga, Mika meninggalkan ruang kelas. Pandangan matanya langsung jatuh pada Kai yang terlentang di tengah lapangan, begitu ia menginjak ambang pintu kelas. Tanpa menunggu waktu lama, ia segera berlari ke kantin. Membeli sebotol air mineral. Dan, berlari menghampiri Kai di lapangan.


Sempat ia berdebat dengan diri sendiri, haruskah ia memberikan minuman itu pada Kai? Ia sempat ingin berbalik, dan mengurungkan niatnya. Namun, ada sesuatu dalam yang seakan menahan kakinya untuk tetap berdiri di tepi lapangan. Menyaksikan Kai yang seakan pasrah terhadap kekalahan. Akhirnya—setelah perdebatan yang cukup panjang dengan diri sendiri—Mika menghampiri Kai.


“Walau pun Kakak nggak menang. Walau pun Mika nggak jadi pacar Kakak. Tapi, kita masih bisa temenan kok.” Mika tidak tahu, mengapa ia mengatakan hal itu? Ia bahkan tidak bisa menutupi keterkejutan, saat rangkaian kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Namun, keterkejutannya lenyap saat melihat Kai yang tersenyum padanya. Entah untuk alasan apa, jantungnya berdegup cepat melihat senyuman itu. Ia terpaku beberapa saat. Tatapannya terkunci pada cowok di hadapannya. Ia bahkan nyaris kehilangan kendali atas diri sendiri, ketika Kai melemparkan tatapan sangat dalam padanya.


Sebelum ia terjebak semakin jauh. Semakin jantung dalam dadanya semakin berdetak tidak karuan, Mika memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Ada satu hal yang tidak bisa ia jelaskan. Setelah pergi dari hadapan Kai, ia merasa hangat. Dari sorot mata Kai, ia seakan menemukan sinar matahari di tengah hidupnya yang gulita. Ia seolah menemukan kehidupan di mata itu. Dan, ia seperti menemukan diri sendiri dari balik tatapan cowok itu.


__ADS_2