
"Alana, maaf karena gue udah bertindak pengecut. Gue nggak pernah berniat untuk melakukan hal itu. Tapi, semua terjadi begitu saja. Hari itu, setelah ulang tahun Raga, lo mabuk. Gue juga. Tapi, masih ada setengah kesadaran yang bertahan dalam diri gue. Entah dorongan dari mana, sehingga gue melakukan itu. Tolong, maafin gue. Gue takut, karena tahu Raga pasti bakal marah banget sama gue. Dan, muka orang tua gue pasti akan tercoreng kalau tahu tentang kejadian itu."
Mika meremas surat itu setelah berhasil membacanya hingga tuntas. Surat itu hanya berisi satu paragraf. Namun, ada tekanan yang membuatnya harus berusaha keras untuk menyelesaikan membaca satu paragraf itu. Pikirannya sesak, dadanya pun sesak oleh kemarahan pada seseorang yang selama ini tidak ia sangka akan menjadi dalang dari semua kerumitan ini.
“Jadi, Beni yang udah ngelakuin itu ke Alana?” Mika mendesis. Ia menggegat giginya sendiri, sehingga setiap kata yang ia keluarkan terdengar penuh tekanan. “Bangsat banget itu cowok! Bisa-bisanya dia bersikap kayak nggak ada apa-apa, waktu kita ketemu hari itu.”
Kai menghela napas. Lalu, ia mengambil selembar kertas yang masih tersisa di amplop, dan menyerahkannya pada Mika. “Mungkin ada petunjuk lain,” katanya.
Mika mengambil selembar kertas itu dari tangan Kai. Bola mata Mika bergerak cepat membaca susunan aksara di kertas tersebut.
"Alana. Gue sayang banget sama lo. Gue nyesel karena udah ngelakuin itu ke lo. Tapi, gue nggak akan ngelepasin lo, Al. Gue nggak akan biarin lo jadi milik siapa pun, termasuk Nagra. Gue akan singkirin siapa pun yang berpotensi ngerebut lo dari gue! Siapa pun, Al. Siapa pun!"
Di bagian bawah surat itu, Mika membaca tulisan lain. Gaya tulisan yang berbeda dari dua surat yang ia baca. Dari bentuknya yang teratur, ia bisa menyimpulkan jika itu tulisan Alana. Alana menuliskan dua kalimat di kertas itu. Dua pertanyaan yang tidak terjawab.
"Kenapa hari itu lo nggak mau tanggung jawab, Beni? Kenapa lo justru membuat seolah-olah Nagra yang melakukan hal itu?"
Mika menggertakkan gigi-giginya. Wajahnya menegang. Otot pelipisnya sudah berdenyut. Umpatan sudah menggantung di ujung lidahnya. Namun, Kai lebih dulu membungkam mulutnya dengan tangan sebelum umpatan itu berhasil lolos. “Nggak usah marah-marah. Simpan tenaga. Kita cari Beni sekarang.”
"Raya sama Anggita kemana?"
"Gue suruh mereka tunggu di mobil. Anggita marah-marah setelah baca surat itu. Jadi, gue meminta Raya untuk mengamankan dia."
Mika mengangguk. Lalu, ia menatap tajam pada Kai. “Raga harus tahu tentang ini. Aku nggak bisa biarin dia terus percaya kalau kak Nagra yang ngelakuin itu. Kak Nagra nggak salah!”
"Nanti, gue akan temui dia untuk ngasih tahu hal ini. Sekarang, mending lo, Anggita, sama Raya gue antar pulang."
"Tapi, Kai—"
Kai menatap tajam pada Mika yang mencoba untuk menolak. "Lo percaya sama gue, kan?"
Mika menelan ludah. Tatapan mata Kai persis seperti hari itu, dan berhasil membuatnya menciut. Hingga akhirnya, Mika terpaksa mengangguk pasrah.
♥
Kai mengotak-atik ponsel Nagra di tangannya. Ia sengaja tidak mengembalikan ponsel itu ke Mika karena masih ingin mengetahui sesuatu yang disimpan sahabatnya itu.
Kai membuka galeri foto di ponsel Nagra. Telunjuknya bergerak pelan untuk mengusap layar ponsel yang menampilkan fotonya, Nagra, dan Raga. Di bagian bawah foto itu terdapat tulisan kecil "Tiga Serangkai". Saat itu mereka masih mengenakan seragam putih-biru. Mereka mengambil foto itu pada hari perpisahan setelah pengumuman kelulusan. Di belakang mereka, siswa lain sedang saling bertukar tanda tangan dan mencoret-coret seragam. Hanya seragam mereka bertiga yang masih bersih, tanpa noda. Mereka memang sudah sepakat untuk tidak mengikuti tradisi yang menurut mereka sama sekali tidak menguntungkan itu.
Senyum kecil tersungging di bibir Kai. Rasa rindu yang hebat seketika bersarang di dadanya. Banyak hal yang berubah setelah hari kelulusan itu. Mereka melanjutkan sekolah di SMA yang berbeda. Sehingga, mereka hanya bisa bertemu pada akhir pekan. Namun, ketika ibunya menikah lagi, Kai terpaksa pindah ke kota lain untuk tinggal bersama ibu dan ayah barunya. Itulah awal semuanya dimulai.
Ia tidak lagi bisa berkumpul dengan Nagra dan Raga, setiap akhir pekan. Ia kehilangan kontak dengan dua sahabatnya itu. Hingga pada akhirnya, ia mendapat kabar tentang kematian Nagra. Ia tidak sengaja menemukan berita itu dari explorer instagram-nya. Hal itu yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk pindah ke sekolah Nagra dan mencari tahu yang terjadi di balik kematian Nagra. Tanpa disangka, ia pun bertemu Mika di sana.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, hanya dua hari setelah pindah ke sekolah baru, Kai mendengar Raga berbicara dengan seseorang di telepon. Ia mendengar tentang rencana mendekati Mika. Tidak terlalu jelas memang, tetapi ia bisa mendengar jika Raga hanya memanfaatkan Mika.
*"Kai?" Raga terkejut begitu melihat Kai berdiri tidak jauh darinya.
"Sejak kapan lo pacaran sama Mika?"
"Lo dengar semuanya, kan?"
"Hanya saat lo bilang, kalau lo cuma manfaatin Mika. Kenapa, Ga?"
"Ada banyak hal terjadi selama lo nggak di sini."
"Gue nggak akan biarin lo lakuin rencana jahat lo, Ga!"
"Gue peringatkan sama lo ya, Kai. Jangan pernah ikut campur urusan gue!"*
Dan, itu adalah awal mula perseteruan Kai dan Raga. Perseteruan yang membuat hubungan mereka perlahan renggang. Hingga saat ini, Kai bahkan tidak tahu, siapa yang salah di sini. Ia yang tidak ada ketika Raga dan Nagra butuh, atau Raga yang diam-diam merencanakan perbuatan jahat itu pada Mika?
Ingatan Kai tentang hari itu lenyap saat jemarinya membuka sebuah video di layar ponsel Nagra. Kai yang awalnya tidak tertarik, kini justru melihat video itu dengan penuh konsentrasi saat melihat nama Raga Angkasa menjadi pembuka video itu.
Kai bungkam. Seketika, dadanya sesak setelah video itu berhenti berputar.
♥
"Bi, temenin gue ketemu Raga!" Tanpa basa-basi, Kai langsung mengatakan itu begitu Abi membukakan pintu.
"Ngapain? Ini udah malam, Kai."
"Buruan! Penting!"
Abi berdecak, tetapi juga tidak menolak. Setelah mengambil jaket di dalam kamar, ia segera menghampiri Kai yang sudah duduk di atas motor.
"Motor lo nggak bisa lebih cepat sedikit?" Abi mulai tidak sabar karena sejak tadi mereka terus disalip oleh kendaraan-kendaraan lain.
Kai berdecak. "Motor tua, Bi. Bisa encok kalau dipaksa jalan cepet."
Abi mendengkus. Akhirnya nyaris setengah jam kemudian, dengan motor butut berkecepatan siput, mereka tiba di depan rumah Raga. Kai segera turun dan berlari kecil menuju pintu rumah. Tidak peduli jika sekarang jam sudah menunjukkan nyaris pukul sembilan malam.
"Lo? Ngapain ke sini?" Raga membulatkan mata saat melihat Kai berdiri di depannya.
"Lo perlu tahu sesuatu."
__ADS_1
Raga memutar mata. Ia sudah akan menutup pintunya, tetapi tangan Kai segera menahannya. "Kali ini aja. Gue mohon."
Kai tidak tahu, jika ia harus memohon seperti itu di depan Raga. Namun, ini demi sahabatnya. Ini demi Nagra.
"Iya, Ga. Dengerin dulu aja." Abi menyahuti begitu melihat keraguan di wajah Raga.
Raga mendengkus. Namun, akhirnya mengizinkan Kai dan Abi untuk masuk ke ruang tamu.
"Ada apa?" Suara Raga terdengar sangat dingin, dan tidak bersahabat.
"Lo harus lihat ini!" Kai menyerahkan amplop putih di tangannya pada Raga.
Raga membaca surat dalam amplop itu, dengan raut wajah tidak terbaca. Beberapa detik kemudian, tangannya meremas selembar kertas yang sudah kusut itu. Kai bisa melihat otot pelipis Raga berdenyut.
"Jangan dirobek. Ini bisa jadi barang bukti." Kai mengambil kembali kertas itu, sebelum Raga khilaf dan merobek benda itu.
"Berengsek! Kenapa gue bisa percaya dia?" Raga berkata penuh penekanan. Lebih kepada diri sendiri.
"Selama ini lo udah salah paham, Ga. Lo terlalu tutup mata sama semuanya. Lo cuma percaya kalau Nagra yang ngelakuin itu ke Alana. Nyatanya..." Kai menggelengkan kepala. "Temen lo sendiri yang nusuk lo dari belakang."
"Sialan!" Raga menendang meja kayu di hadapannya. Beruntung orang tuanya sedang tidak di rumah, sehingga ia tidak perlu khawatir akan membangunkan siapa pun karena kegaduhan yang ia buat.
"Lo juga harus lihat ini." Kai menyerahkan ponsel Nagra yang mulai menampilkan sebuah video.
Video itu dimulai dengan menampilkan tulisan Raga Angkasa. Lalu, diikuti tulisan Happy Birthday di bagian bawah nama itu. Di detik berikutnya, video itu berlanjut dengan Nagra yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Raga, disertai permintaan maaf Nagra tentang kejadian bersama Alana. Kemudian, dilanjutkan dengan potongan-potongan video kebersamaan mereka.
Tidak hanya isi video itu yang membuat dada Raga sesak, melainkan juga tanggal pembuatan video itu. Video itu dibuat tiga hari sebelum kematian Nagra. Tepatnya, dua minggu sebelum Raga berulang tahun yang ke sembilan belas.
Tanpa sadar, lapisan transparan yang sejak tadi membayang di pelupuk mata Raga, sudah menjadi butiran air mata yang membasahi pipinya. Raga menelan ludah susah payah. Berusaha untuk meredam gejolak rasa sakit dan penyesalan di dadanya.
"Ke—kenapa, Gra? Kenapa lo nggak pernah ngasih tahu yang sebenarnya ke gue?" Suara parau Raga memecah keheningan yang terjadi.
"Karena, lo nggak pernah ngasih dia kesempatan buat ngomong." Kai menyahuti. Abi sudah duduk di samping Raga untuk menenangkan cowok itu.
Raga mengusap kasar wajahnya. Ia menggeram. Tangannya menutup wajah. Bahunya bergerak pelan. Raga menangis.
"Sebenarnya, gue juga mau ngasih tahu lo hal lain. Tapi, karena kayaknya lo syok banget hari ini. Jadi, besok aja deh." Kai menyandarkan punggungnya ke sofa. Pandangannya menerawang pada langit-langit ruang tamu rumah Raga. "Sorry, kalau hari itu gue nggak bisa ada waktu lo butuh. Waktu lo sama Nagra kacau karena kejadian yang menimpa Alana. Tapi, lo tahu, kan, gimana posisi gue hari itu? Keluarga gue juga lagi berantakan."
"Kai, lo bisa antar gue ke makam Nagra besok?" tanya Raga, setelah berhasil menenangkan diri.
Kai mengangguk. "Dengan senang hati. Kebetulan, besok gue juga mau ajak lo ketemu seseorang."
__ADS_1