Red Thread

Red Thread
Yang Terkubur Oleh Waktu


__ADS_3

Suara guntur mulai terdengar dari langit. Awan hitam bergulung-gulung, menelan cahaya jingga yang seharusnya merona di kaki langit barat. Mendung seakan ingin menunjukkan amarahnya. Memberitahu bumi, jika ia bisa menjatuhkan beban kapan saja.


Mendung seakan mewakili perasaan Mika saat ini. Rasa kesal yang sudah berkumpul di ubun-ubun siap untuk meledak kapan saja. Semua itu karena Raga tidak juga menunjukkan batang hidungnya di hadapan Mika. Kedua telapak tangan Mika terkepal. Desisan kesal lolos dari bibirnya. Untuk kesekian kalinya, ia mengentakkan kaki dengan tidak sabar dan perasaan jengkel yang menggebu. Baru sehari, tetapi Raga sudah berhasil memancing amarahnya sebanyak dua kali.


Pertama, cowok itu telah menghancurkan perayaan ulang tahunnya bersama Kai, Raya, dan Anggita di atap sekolah. Raga bahkan tidak mengucapkan permintaan maaf atas kejadian itu. Raga hanya mengantarnya pulang, dan mengatakan bahwa ia harus menjaga jarak dari Kai. Hanya itu. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Sehingga, Mika bisa menyimpulkan jika Raga tengah cemburu. Dan, ia bisa memaklumi itu. Meski, kecemburuan Raga hanya muncul saat ia bersama Kai.


Namun, sekarang Mika sama sekali tidak bisa memberikan toleransi. Ia tidak suka pada kata terlambat, apalagi ingkar janji. Hingga kakinya terasa pegal, dan hari beranjak petang, Raga masih tidak menunjukkan diri di taman itu. Bahkan mungkin tidak lama lagi, hujan pasti akan turun.


Mika mencoba untuk menghubungi nomor Raga, sekali lagi. Namun, panggilan itu kembali berakhir dengan suara operator. Gemuruh guntur kembali terdengar dari awan-awan gelap yang bermuatan berat. Ia harus segera pulang, sebelum hujan. Namun, entah mengapa, kakinya seakan masih enggan pergi sebelum Raga tiba di tempat janjian mereka.


Mika masih belum menyerah. Ia kembali mencoba untuk menghubungi nomor Raga, dan memberikan kesempatan jika barangkali cowok itu akan datang ke tempat janjian mereka. Kali ini tersambung. Selama beberapa detik, hanya terdengar nada tunggu dari seberang sana. Namun untuk kesekian kalinya, Mika harus menelan kekecewaan. Raga tidak menjawab panggilannya.


Akhirnya, dengan mengentakkan kaki, Mika meninggalkan tempat itu. Tidak lagi peduli, jika sebentar lagi Raga datang. Ia sudah terlalu kesal. Cowok itu bahkan sudah terlambat satu setengah jam dari jadwal janjian mereka. Mika tidak habis pikir, bagaimana bisa cowok itu mempermainkannya di hari seperti ini? Selama menjalin hubungan, cowok itu sama sekali tidak pernah ingkar janji. Namun, akhir-akhir ini hal itu berubah. Tepatnya, ketika berita tentang kematian Nagra menyebar ke permukaan.


Mika tidak tahu, apa yang membuat Raga tiba-tiba menghilang. Jika memang tidak bisa datang, bukankah cowok itu bisa memberitahunya terlebih dahulu sebelum ia pergi ke tempat janjian mereka? Bukannya menyuruhnya untuk menunggu di taman seperti orang bodoh. Bukankah ponsel diciptakan untuk keperluan seperti ini? Atau, mungkin cowok itu lupa bagaimana cara mengoperasikan benda canggih berbentuk pipih itu?


Desahan panjang keluar dari bibir Mika. Ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar kesal pada Raga. Sejak kejadian di depan majalah dinding sekolah hari itu, ia bahkan sudah berpikiran untuk memutuskan Raga. Namun, cowok itu justru hadir dengan sikap seakan tidak pernah ada hal buruk terjadi di antara mereka. Raga datang dengan sikap manis yang membuat Mika menjadi bimbang dengan keputusannya.


Hujan turun deras, tepat ketika Mika menginjakkan kaki di teras rumahnya. Mika membuka pintu rumah, dan hanya sepi yang menyambutnya. Sudah biasa. Meski papanya sedang berada di rumah, lelaki itu masih saja sibuk bergelung di ruang kerja.


Terkadang Mika berpikir, kapan keluarganya akan kembali hangat seperti dulu. Kapan mamanya akan menyambut kedatangannya dengan hangat lagi? Kapan ia bisa melihat acara kuis di televisi bersama Papanya lagi? Kapan mereka bisa berhenti untuk melarikan diri dari kejadian menyedihkan hari itu?


Langkah kaki Mika yang hendak menuju kamar terhenti, ketika mendengar suara mamanya di ruang tengah. Ia tidak bisa menuju kamar, tanpa melewati ruangan itu. Sehingga, ia memutuskan untuk menunggu sambil bersandar di dinding yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah.


“Kamu belum bilang apa-apa sama Mika, kan?” tanya Martin. Mika mengerutkan dahi, saat mendengar namanya disebut.


“Belum. Tapi, aku sudah nggak kuat untuk menyembunyikan ini lebih lama lagi.”


“Kenapa? Bukankah kita sudah menyembunyikan ini dari Mika selama hampir lima belas tahun, dan tidak ada yang keberatan.”


“Justru itu. Karena kita sudah terlalu lama menyembunyikan kenyataan itu, dia jadi tidak mengerti apa pun. Aku sudah muak berpura-pura, Martin!”


"Kamu nggak perlu berpura-pura. Kamu hanya perlu memperlakukan Mika seperti anak kita sendiri.” Martin berucap dengan pelan. Tetapi, Mika masih bisa mendengar dengan jelas.


Berpura-pura apa? Apa maksudnya seperti anak sendiri?


“Bukan. Mika bukan anak kandungku. Dia anak panti asuhan yang dengan terpaksa kita angkat sebagai anak karena permintaan Nagra!” teriak Yulia.

__ADS_1


Mika membekap mulutnya. Menahan pekikan agar tidak keluar dari bibirnya. Namun, ia gagal. Pernyataan Yulia membuatnya limbung, hingga tanpa sengaja menabrak vas bunga di atas meja. Vas bunga itu pecah berserakan. Menimbulkan suara nyaring yang seketika membuat Yulia dan Martin menoleh ke arahnya.


Nggak mungkin. Nggak mungkin gue anak angkat mama dan papa. Jadi, surat dari panti asuhan yang gue temuin hari itu adalah—


Mika tidak mampu melanjutkan kesimpulannya. Tubuhnya sudah bergetar hebat. Bahkan, persendiannya terasa sangat lemas. Pandangannya sudah kabur oleh lapisan transparan yang menggenang di pelupuk mata. Namun, ia masih bisa melihat ketika Martin berjalan menghampirinya.


Lelaki itu berusaha untuk menggapainya. Namun, ia lebih cepat menghindar.


"Jangan dekati aku!” teriak Mika. Suaranya bergetar penuh dengan kemarahan terpendam.


“Mika, tolong dengarkan papa dulu,” kata Martin.


"Apa lagi yang mau papa jelaskan? Aku udah tahu semuanya! Kenapa mama sama papa nggak pernah ngasih tahu aku?” Mika menggigit bibirnya kuat-kuat. Menahan air mata dan isakan yang hendak keluar. Namun, gagal. Air mata sudah meluruh satu per satu di pipinya.


“Kamu tenang dulu ya. Papa akan jelaskan semuanya.” Martin berkata dengan nada memohon.


Belum sempat Mika menjawab, Yulia sudah lebih dulu menyela. “Kamu sudah tahu semua, kan? Kalau begitu, untuk apa lagi kamu ada di sini? Silakan pergi.”


Mika terkesiap. Tidak menyangka jika Yulia akan mengatakan hal itu sedemikian tenang. Seakan, ia memang tidak pernah diharapkan untuk ada di rumah itu—di tengah keluarga itu.


“Yulia! Jaga omongan kamu! Mika itu anak kita. Kamu nggak bisa usir dia seenaknya!” bentak Martin.


“Cukup, Ma! Cukup!” Mika berteriak nyaring. Membungkam Yulia dan Martin yang akan melanjutkan perdebatan. “Selama ini aku diam aja, karena aku pikir Mama akan sadar dengan sendirinya. Tapi, aku salah. Mama terlalu buta untuk melihat kenyataan yang ada—”


“Kenyataan apa? Kenyataan bahwa kamu yang sudah membuat Nagra meninggal? Saya sudah tahu. Dan, sekarang kamu mulai berani membentak saya. Dasar anak nggak tahu terima kasih!” Mata merah Yulia melotot pada Mika. Bahunya naik turun cepat, menandakan emosinya yang sudah mencapai puncak.


“Aku nggak pernah bunuh Kak Nagra. Aku cuma nemuin kak Nagra yang udah meninggal hari itu. Mama nggak pernah tahu kejadian hari itu, makanya mama bisa nuduh aku seenaknya, kan? Mama lebih percaya dengan kesimpulan polisi yang mengatakan bahwa Kak Nagra meninggal karena bunuh diri, tanpa berusaha mencari lebih dalam lagi.” Mika lantas tertawa hambar. Ia tahu menjelaskan hal ini adalah sesuatu yang sia-sia. Mamanya tidak akan percaya padanya.


“Dan soal aku yang tidak tahu terima kasih, memangnya aku meminta untuk diadopsi sama keluarga ini? Memangnya aku pernah meminta untuk tinggal di tengah keluarga yang nggak bisa menghargai keberadaanku? Nggak! Sekalipun, aku nggak pernah meminta untuk memiliki keluarga yang hanya menjadikan aku sebagai kambing hitam!”


“Kurang ajar! Berani kamu bicara seperti itu, setelah apa yang selama ini kami berikan? Kalau saja hari itu kamu nggak marah-marah ke Nagra, nggak pernah bilang tentang Alana ke Nagra, Nagra pasti nggak akan bunuh diri! Kamu memang anak tidak tahu diri! Kalau bukan karena Nagra, saya nggak akan pernah sudi untuk mengambil kamu dari panti asuhan. Pergi kamu dari sini! Saya nggak mau lihat muka kamu lagi! Dasar pembunuh!” Yulia menghampiri Mika. Mendorong tubuh Mika hingga gadis itu terjerembab. Yulia bahkan tidak menunggu Mika bangun, dan langsung menyeret gadis itu hingga teras rumah.


“Yulia, hentikan! Mika nggak salah! Selama ini, kita yang terlalu tutup mata. Apalagi kamu! Kamu pikir, saya nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan ke dia selama saya nggak ada? Kamu berulang kali mencoba untuk mencelakai dia, setiap kali mabuk! Saya sudah memasang banyak CCTV tersembunyi di rumah ini.” Martin menarik tangan Yulia yang mencengkeram pergelangan tangan Mika.


Yulia terdiam. Tatapannya tertuju pada Martin. Ada sorot tidak terbaca di sepasang bola matanya. Namun, tatapan itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Kemudian, kembali beralih pada Mika. “Pergi! Dan, jangan pernah kembali lagi! Saya sudah muak dengan kamu!” Yulia mendorong Mika dari teras rumah. Gadis itu jatuh terduduk di halaman depan, di bawah guyuran hujan deras.


Mika menundukkan kepala, selama beberapa saat. Jantungnya seakan tengah dihunjam ribuan anak panah tidak kasat mata. Mengoyak seluruh organ di dadanya, hingga hanya menyisakan sesak.

__ADS_1


Ia lantas kembali mendongak. Sorot matanya sarat akan luka. Dengan lirih—meski dikalahkan oleh suara hujan—ia berkata, “Mika pergi. Tapi sebelum itu, Mama harus tahu satu hal. Mika sayang sama Mama. Sayang banget.”


Setelah itu, ia berlari. Tidak memedulikan Martin yang berteriak menyuruhnya berhenti. Ia menerobos derasnya hujan. Membiarkan tubuhnya dihunjam rintik air yang terasa menyakitkan. Ia membiarkan tubuhnya kuyup dan kedinginan. Setidaknya, ini lebih baik dibanding menghadapi sikap mamanya. Lebih baik dibanding mengetahui kenyataan tentang hidupnya hari ini. Ini lebih baik, dibanding semua rasa sakit yang telah ia lalui.


Langkah Mika berhenti, setelah merasa cukup jauh dari rumah. Ia mendongakkan kepala, menantang air hujan yang jatuh mengenai wajahnya. Langit di atas hitam kelam, segelap hidupnya saat ini. Lantas, ia tertawa. Tawa yang terdengar menyakitkan. Tawa yang beradu dengan derasnya hujan. Tawa yang seakan menertawakan betapa menyedihkan hidupnya. Tawa yang kemudian berubah menjadi sebuah raungan. Raungan putus asa, berteman segenap kehancuran.


Jadi, ini alasan kenapa mamanya tidak pernah menyayanginya seperti menyayangi Nagra. Ini alasan kenapa mamanya bisa setega itu hampir membunuhnya. Ini alasan kenapa mamanya tanpa keberatan menuduhnya sebagai seorang pembunuh. Karena, ia memang tidak seharusnya ada di tengah keluarga itu. Lalu, kenapa mereka menuruti Nagra untuk mengambilnya dari panti asuhan jika hanya untuk dijadikan sebagai kambing hitam?


*“Terima kasih udah bersedia jadi adik aku.”


“Aku bahagia bisa kenal kamu.”


“Aku bahagia karena kita bisa jadi keluarga.”*


Mika memukul kepala beberapa kali, saat kalimat yang disampaikan Nagra hari itu berputar kembali dalam otaknya. Ia berlari, terus berlari seraya berharap ingatan itu akan menghilang dari kepalanya. Tangannya masih belum berhenti memukul kepala. Akan lebih baik, jika itu membuatnya hilang ingatan saat ini juga.


Ia pikir, itu hanya ucapan terima kasih biasa. Nyatanya, ada makna tersirat di balik kalimat itu. Dan dengan bodohnya, ia sama sekali tidak menyadari hal itu.


Lelah tidak membuatnya lupa dalam sekejap mata. Jika kakinya tidak kebas, ia ingin terus berlari. Seketika ia berharap truk, mobil, atau apa pun akan menabraknya. Dan, membuatnya lupa bahwa ia pernah menjalani hidup yang menyakitkan.


Mika mendaratkan tubuhnya di teras toko yang sudah tertutup. Napasnya sudah satu-satu. Seluruh oksigen seakan direnggut paksa dari paru-parunya. Sesak dan menyakitkan. Ia meringkuk. Menempelkan tubuhnya pada pintu besi, berharap tempias hujan tidak mengenainya yang sudah menggigil. Namun, sia-sia. Percikan air hujan yang memantul dari atas tanah masih mengenai dirinya.


Dengan tangan bergetar, ia mengambil ponsel dari tas selempang. Beruntung benda tersebut kedap air. Sehingga ponselnya masih bisa terselamatkan, meski ia sudah berdiri di bawah hujan nyaris satu jam.


Mika tidak tahu, apa yang ada dipikirannya. Seketika, jarinya menekan ikon bergambar telepon di samping nama Kai.


“Halo, Ka?” Suara berat Kai terdengar menenangkan di telinga Mika.


“T–tolongin a–aku.” Susah payah Mika berkata. Tubuhnya benar-benar menggigil, hingga bibirnya pun sulit untuk bergerak.


“Ka? Halo? Lo dimana?” Kai mulai terdengar panik dari seberang sana.


“A–aku nggak tau. Di sini ge–gelap. D–dingin.”


“Ka, tolong dengerin gue. Sekarang lo share lokasi ke gue. Biar gue bisa ngelacak posisi lo. Dan, jangan matiin telepon ini. Gue berangkat sekarang.”


Pandangan Mika mulai buram saat ia mengirimkan lokasinya kepada Kai. Selama beberapa detik setelah itu, Mika masih bisa mendengar suara Kai yang benar-benar panik, hingga deru mesin motor dari seberang sana. Namun beberapa detik kemudian, telinganya mulai berdengung. Kegelapan di sekitarnya semakin hebat, seiring dengan pandangannya yang kian kabur. Ia tidak bisa lagi merasakan kulitnya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa kebas dan membeku. Ia bahkan tidak bisa merasakan hangat dari napasnya sendiri. Hanya selang beberapa detik, tubuhnya seperti melayang. Sangat ringan. Ia tidak lagi merasakan dingin, tetapi dengungan di telinganya semakin hebat.

__ADS_1


"Cepat datang, Kai." Mika berkata lirih, sebelum ia tidak bisa merasakan apa pun lagi.


__ADS_2