Red Thread

Red Thread
Dia dan Sebentuk Rahasia


__ADS_3

Rasanya, Mika ingin kembali membenturkan kepalanya ke dinding. Benang panjang seakan terbentuk dalam otaknya. Kemudian, menciptakan rangkaian kusut yang sukar terurai. Ia pikir, setelah menemukan terduga pembunuh, kematian Nagra akan menemukan titik terang. Ternyata, tidak. Masih ada banyak hal yang harus ia selidiki. Termasuk, tentang test pack dengan dua garis merah yang saat ini ada di tangannya.


Suara berisik di ruang kelas sama sekali tidak bisa membuat perhatian Mika teralih dari benda itu. Meski dilihat dari sisi mana pun, benda itu tetap tidak akan mengalami perubahan. Dan dua garis merah di permukaan, tidak akan berubah menjadi satu atau tiga. Baru ketika ponselnya bergetar di dalam laci meja, perhatiannya teralih.


Sebuah pesan dari Kai. Mika mendengkus. Ia ingin mengabaikan pesan itu. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa untuk membuka. Akhirnya, Mika memilih untuk menurunkan ego setelah menimbang-nimbang keputusan selama beberapa detik. Ada puluhan pesan yang dikirim Kai sejak semalam. Bukan ia tidak tahu tentang pesan itu, ia hanya enggan membuka.


Kai_naka Assgf


Ka, tolong kasih tahu dimana salah gue?


Kai_naka Assgf


Gue minta maaf kalau emang ada salah ke lo.


Tapi sampai sekarang, gue nggak tahu apa salah gue?


Kai_naka Assgf


Astaga! Apa susahnya lo baca pesan gue.


Ck! Kenapa gue jadi kyk cewek PMS gini, sih?


Kai_naka Assgf


Ka, lo baik-baik aja?


Kai_naka Assgf


Hei. Lo masih Mika, kan?


Lo dimana? Dengan siapa?


Udah rindu sama gue hari ini?


Dan, masih banyak lagi pesan serupa. Membaca pesan itu, membuat Mika tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Entahlah, di balik semua rasa sakit dan kecewa yang memenuhi hatinya, masih ada ruang di dadanya yang menghangat ketika membaca pesan-pesan itu. Meski dengan segera, ia menepisnya perasaan itu.


Tidak. Ia tidak akan membiarkan Kai kembali masuk ke kehidupannya. Apa lagi, menyentuh hatinya untuk sekali lagi. Ia harus segera menuntaskan kasus Nagra dan membawa Kai ke kantor polisi untuk bertanggung jawab. Lantas, ia bisa menyembuhkan hatinya sedikit demi sedikit.


“Ini punya lo, Ka?” Mika berjengit saat mendengar pertanyaan itu. Anggita berdiri di samping mejanya, diikuti dengan Raga. Mika segera mengambil test pack yang ia letakkan di atas meja begitu saja karena terlalu fokus pada pesan Kai. Lantas, ia menyembunyikan benda itu di tas sebelum ada orang lain lagi yang melihat.


“Bukan!" tegas Mika. “Gue nemu ini di kamar Kak Nagra tadi pagi.”


Anggita mengernyit. Ia tampak tertarik dengan test pack itu. Namun, tidak bisa mengusut lebih jauh karena keberadaan Raga di dekat mereka. Bagaimanapun juga, tidak ada orang lain di sekolah ini—selain Mika, Samuel, dan Abi—yang mengetahui bahwa ia pernah berpacaran dengan Nagra. Akhirnya, Anggita memilih untuk bungkam, dan mengempaskan diri ke kursi di samping Mika. Ia berpura-pura fokus dengan ponselnya, sambil sesekali melirik pada Raga.

__ADS_1


“Kamu nemuin benda itu di kamar Nagra? Kenapa kemarin aku nggak lihat itu di sana?” tanya Raga. Anggita menajamkan pendengaran. Masih berpura-pura fokus pada ponsel.


“Kayaknya, Kak Nagra nyembunyiin ini di dalam buku hariannya. Tapi, aku nggak yakin kalau ini ada kaitannya dengan Kak Nagra. Dia itu nggak pernah macam-macam. Apa lagi sampai—” Mika mendesah. Ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Terlalu sulit baginya membayangkan kemungkinan yang telah terjadi di balik benda mungil dengan dua garis itu.


“Kalau nggak ada hubungannya dengan Nagra, kenapa benda itu ada sama dia?” Raga mengerutkan dahi. Matanya memandang penuh selidik pada Mika.


“Mungkin nggak sih, kalau ada berniat menjebak Kak Nagra?” Mika menyatakan kemungkinan lain, yang ia sendiri pun tidak yakin. Sayangnya, itu adalah satu-satunya dugaan yang muncul di kepalanya. Dugaan yang tidak memperburuk nama baik Nagra. “Mungkin, ini cuma akal-akalan si pembunuh?”


Raga terdiam sejenak. Pandangannya menerawang dan tertuju pada tas Mika. “Kalau ini hanya akal-akalan si pembunuh, untuk apa dia naruh itu di buku harian Nagra? Bukannya buku harian Nagra ada di dalam laci? Aku nggak yakin, kalau si pembunuh tahu letak kunci laci itu.”


Raga benar. Ia saja tidak mengetahui letak kunci laci itu pada awalnya. Nagra menyembunyikan benda itu di tempat yang tidak sedikit pun terlintas dalam pikiran orang lain. Jika si pembunuh tahu letak kunci itu, berarti orang itu benar-benar dekat Nagra. Lebih dekat daripada dirinya dengan cowok itu.


“Kenapa jadi ribet gini, sih?” Mika mengacak rambutnya sendiri. Mulai frustrasi dengan segala hal tentang Nagra yang ia temui. Kasus ini tidak kunjung terpecahkan, justru membuat kepalanya nyaris pecah.


“Jangan-jangan itu punya lo, Ka?” celetuk Anggita, yang langsung ditanggapi Mika dengan pelototan tajam.


“Sembarangan kalau ngomong! Gue masih anak polos ini,” sahut Mika, tidak terima. Sementara, Anggita hanya cengengesan.


Karena merasa tidak menemukan jawaban atas keberadaan test pack itu, Raga memutuskan untuk beranjak dari kelas Mika.



“Jadi, lo nuduh Kai yang bunuh Kak Nagra?” Anggita terkejut mendengar cerita Mika tentang hasil penyelidikan.


Mika mendesis, menyuruh Anggita untuk mengecilkan volume suara. Meski sekarang mereka berada di atap, tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang mencuri dengar. “Gue nggak nuduh dia. Tapi semua bukti yang gue temuin, mengarah ke dia. Mulai dari rekaman CCTV di kamar Kak Nagra hari itu—gue yakin, dia sengaja matiin kamera CCTV karena setelah itu rekaman terputus, gelang yang sama, foto mereka bareng Alana, dan terakhir rekaman CCTV waktu Kai mukulin Kak Nagra. Satu lagi, dia sengaja ngehapus video rekaman di apartemen Kak Nagra, tepat saat gue sama Raga mau nyelidikin itu. Menurut lo, buat apa lagi dia ngehapus rekaman video CCTV itu kalau nggak untuk menghilangkan jejak?"


"Ngawur gimana, sih, Git? Gue ngambil kesimpulan dari apa yang gue lihat. Raga juga punya pemikiran yang sama kayak gue." Mika tidak terima karena Anggita justru menyebut dugaannya ngawur.


"Lo narik kesimpulan cuma dari satu sisi. Lo belum tanya secara langsung ke Kai, kan?"


Kali ini, Mika tidak mendebat. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.


“Terus, sekarang rencana lo apa?” tanya Anggita.


“Tapi, gue benar-benar yakin kalau Kai pelakunya. Gue akan laporin dia ke polisi. Kalau pun bukan karena kasus pembunuhan, gue akan laporin dia atas tuduhan penganiayaan," kata Mika. Namun, keraguan tiba-tiba melandanya. “Tapi, test pack itu—”


“Lupakan dulu soal test pack.” Anggita memotong ucapan Mika, seketika. “Lo yakin mau nyerahin kasus ini ke polisi? Apa lo udah tahu alasan Kai mukulin Kak Nagra?”


Mika terdiam untuk mencari alasan yang memungkinkan. Namun, tidak ada satu pun kemungkinan jawaban yang melintas dalam kepalanya. Hingga akhirnya, ia hanya bisa kembali menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Anggita.


“Kalau lo nggak tahu alasannya, lo nggak bisa ngelaporin Kai begitu aja. Coba lo tanya dulu ke Kai. Mungkin aja, dia punya alasan lain.”


Tepat setelah Anggita mengatakan hal itu, pintu yang menghubungkan tangga dan atap terbuka. Kai berdiri di sana dengan raut wajah tidak terbaca. Sorot matanya menatap Mika dan Anggita, secara bergantian. Tajam dan dalam.

__ADS_1


Mika menggigit bibir bawah ketika cowok itu mendekat ke arah mereka. Apa Kai mendengar percakapan mereka? Sejak kapan Kai berada di balik pintu itu? Seakan mengerti pertanyaan yang ada dalam kepala Mika, Kai mengucapkan sebuah kalimat.


“Gue udah di sana sejak lima menit yang lalu. Gue dengar semuanya. Termasuk, saat lo nuduh gue pembunuh.” Pandangan mata Kai tertuju pada Mika. Meski bibir cowok itu tersenyum, tetapi tidak dengan matanya. Ada sinar tajam, nanar, dan sesuatu yang tidak terbaca di sepasang iris gelapnya.


Mika yang sempat terpana selama beberapa saat, akhirnya berhasil menguasai diri. Ia tertawa mendengkus. Lantas, bangkit dari posisinya. Ia berjalan menghampiri Kai. Menebas jarak yang terbentang di antara mereka, hingga hanya menyisakan dua langkah.


“Jadi, itu alasan lo ngejauhin gue dari kemarin?” tanya Kai.


Mika tidak ingin menjawab pertanyaan Kai. Ia justru melemparkan pertanyaan lain yang mengganggu pikirannya sejak kemarin. “Apa hubungan lo sama Nagra?”


Tidak ada suara yang terdengar. Kai masih menatap Mika dengan nanar. Ia tidak suka mendengar Mika menggunakan panggilan lo-gue padanya. Mendengar Mika menggunakan panggilan itu, seakan semakin memperjelas jarak yang terbentang di antara mereka.


“Gue nggak bisa jawab sekarang.” Kai berkata lirih. Membuat Mika mengeluarkan tawa hambar dan sinis.


“Lihat, kan, Git? Dia aja nggak mau ngaku. Kenapa? Karena, memang lo yang bunuh Kak Nagra, kan? Lo takut ketahuan, kan? Telat, Kai!”


Kai menelan ludah dengan susah payah. Ia ingin mengelak. Namun, tatapan Mika membuatnya tidak bisa berkutik.


“Bukan gitu, Ka. Gue cuma—”


“Gue nggak mau dengar apa pun lagi dari lo!" Mika memotong ucapan Kai dengan nada tinggi. Kemudian, ia maju satu langkah. Menyisakan jarak yang semakin sempit antara dirinya dan Kai. “Gue nyesel udah percaya sama lo. Gue nyesel karena udah jatuh cinta sama cowok kayak lo. Nyatanya, selama ini lo musuh dalam selimut. Lo itu serigala berbulu domba, Kai! Lo pura-pura bersimpati sama gue, berusaha buat dekatin gue, hanya demi menghilangkan jejak, kan? Lo berharap, dengan begitu, gue nggak akan pernah tahu keterlibatan lo dalam kasus kematian Kak Nagra. Hebat banget, ya, lo!"


Tanpa sadar, air mata meluruh di pipi Mika. “Gue nggak nyangka, lo setega ini ya. Gue yakin, pasti lo juga yang masang foto gue di mading hari itu.” Mika mulai terisak. Kai mengepalkan kedua tangannya. Menahan sekuat hati dorongan untuk memeluk gadis itu. “Gue punya salah apa sama lo? Kak Nagra punya salah apa sama lo?”


“Lo nggak punya salah apa pun. Gue yang salah. Gue nggak bisa ngasih tahu lo yang sebenarnya sejak awal.” Kai berharap bisa mengatakan hal itu. Namun yang terjadi, bibirnya tetap membisu. Terkunci rapat bersama rahasia besar yang ia simpan sendiri.


Mika kembali mempersempit jarak di antara mereka. Hingga, ia berada tepat di depan tubuh Kai. “Dasar pembunuh! Sialan! Bajingan! Gue akan laporin lo ke polisi.” Mika memukul dada Kai, berulang kali. Tanpa ada sedikit pun balasan maupun gerakan mencegah dari Kai.


"Tolong berhenti, Ka. Jangan nangis di depan gue. Jangan buat gue merasa lebih bersalah lagi.” Lagi-lagi, Kai hanya bisa mengatakan itu dalam hati.   


“Gue nggak mau lihat lo lagi! Gue nyesel kenal sama lo!” Mika berteriak. Lantas, berlari meninggalkan Kai dan Anggita yang masih mematung.


“Jangan pergi. Gue mohon. Kembali.” Kai merintih. Namun, ia sama sekali tidak berusaha menahan kepergian Mika. Sekuat hati, ia menahan kakinya untuk tetap berada di tempat. Ia tetap berada dalam posisinya, hingga derap langkah Mika tidak lagi terdengar.


"Gue kecewa sama lo." Ia bahkan tetap tidak berkutik, ketika Anggita mengatakan hal itu. Sebelum akhirnya, gadis itu meninggalkannya.


“Maafin gue, Ka.” Lirih, ia berkata pada desau angin. “Maaf.”


Wajah Mika yang memerah dipenuhi air mata beberapa saat lalu, benar-benar membuat dadanya sesak. Teriakan dan raut wajah frustrasi gadis itu yang dipenuhi penyesalan, membuat jantungnya seperti dihantam palu raksasa. Hancur berkeping-keping.


Kai menelan ludah dengan susah payah. Kedua tangannya terkepal erat. Ia tertawa pelan, seiring sesak yang semakin menghimpit dadanya.


Pembunuh! Kalimat itu terngiang di telinga Kai. Menghantamnya. Menghancurkannya. Membawa kembali kenangan buruk yang selama ini telah berusaha untuk dia lupakan. Barangkali, benar. Memang ia yang telah membunuh Nagra. Seorang pembunuh yang berpura-pura membantu penyelidikan kematian cowok itu.

__ADS_1


Lapisan transparan membayang di sepasang bola matanya. Menyiratkan kehancuran yang tidak terkatakan. Kehancuran yang mengantarkannya pada jurang gelap dan tidak berdasar. Sebentuk penyesalan atas tindakannya pada Nagra, dan atas perginya Mika, membuatnya benar-benar luluh lantak.


Kai jatuh berlutut di atas lantai semen. Membiarkan tubuhnya disiram oleh cahaya matahari. Pandangannya kosong dan hampa. Perasaan ini sama seperti bertahun-tahun lalu. Ketika satu per satu yang ia miliki pergi, tanpa peduli padanya yang menangis dan terluka. Ia kembali sendiri. Ia kembali terjatuh. Kali ini, atas kesalahannya sendiri.


__ADS_2