Red Thread

Red Thread
Pengakuan Kai


__ADS_3

Seharusnya, ini menjadi pagi yang cerah. Jika saja, otak Mika tidak dipenuhi dengan benang-benang kusut yang sulit diuraikan. Seharusnya, ini menjadi pagi yang sejuk. Jika saja, hatinya tidak dipenuhi bara akibat kebohongan Raga.


Mika akhirnya memutuskan untuk menemui Kai, setelah semalaman bertengkar dengan egonya sendiri. Informasi yang ia dapatkan dari Reza, belum menjawab segala pertanyaan dalam kepala. Ia yakin, jika Kai memiliki informasi yang jauh lebih penting. Hanya saja, mengorek informasi dari Kai bukanlah sesuatu yang mudah. Cowok itu masih enggan berbicara dengannya. Sejak sepuluh menit yang lalu, mereka hanya tenggelam dalam keheningan. Kai sibuk dengan ponselnya. Sementara, Mika sibuk memandangi cowok itu. Mencari celah agar bisa mengajak Kai berbicara.


Mika berdeham untuk kelima kalinya dalam sepuluh menit. Ia tidak tahan lagi. Diam yang menyelimutinya dan Kai benar-benar terasa canggung. Apa lagi, Anggita sudah tidak sabar menunggu di luar. Gadis itu bahkan sudah tiga kali mengiriminya pesan.


“Kamu masih nggak mau ngomong sama aku?” Mika bertanya ragu-ragu. Ia sedikit memiringkan kepala, berusaha untuk melihat ekspresi wajah Kai yang tertutup rambut. Mika baru menyadari jika rambut Kai sudah lebih panjang dibanding saat menginap di rumah cowok itu dulu.


“Ada perlu apa?” Kai sama sekali tidak memandang ke arah Mika.


Setelah keheningan membekukan, mendengar suara Kai adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Mika. Meski, nada suara cowok itu masih tetap dingin. Meski, Kai sepertinya masih enggan melihatnya.


“Aku mau minta maaf.” Mika menundukkan kepala. Pandangannya jatuh pada ujung jari kakinya yang hanya berjarak tiga sentimeter dengan ujung jari kaki milik Kai. Telunjuk tangan kanan dan kirinya saling mengikat satu sama lain. Berusaha untuk mengenyahkan kegugupan, yang nyatanya tidak sedikit pun hilang. Mika menahan napas saat menunggu tanggapan dari Kai. Ia benar-benar jujur kali ini. Ia telah menurunkan segala egonya ke titik terendah.


Kai menaikkan satu alisnya. “Kenapa minta maaf?”


Jika tidak dalam situasi seperti ini, Mika pasti sudah mendaratkan jitakan di kepala Kai. Entahlah. Cowok itu berpura-pura tidak mengerti, atau hanya berniat mengerjainya.


“Ya… itu. Karena, gue udah nuduh lo yang… bunuh Nagra.” Mika menggigiti pipi bagian dalam. Kepalanya mendongak. Pandangannya tertuju pada Kai. Memaksakan matanya tetap menatap sepasang iris gelap cowok itu. Walau pun, kakinya sudah gemetar. Baru kali ini ia menyadari jika Kai yang selama ini terlihat jenaka, justru memiliki tatapan yang jauh lebih tajam daripada Raga. Iris mata cowok itu sangat gelap, hingga bagian putihnya seperti kapur yang mewarnai sisi-sisi papan tulis.


Beberapa detik berlalu tanpa ada suara. Kai masih menatap Mika, tanpa berkedip. Mika menahan kakinya untuk tidak melarikan diri. Sekaligus menahan napas. Tiba-tiba saja, dadanya terasa sesak. Ia tidak mampu bernapas dengan normal. Tatapan mata Kai terlalu tajam. Hingga rasanya, ia seperti terlempar pada permukaan tidak mulus yang cukup mengerikan. Keringat mulai membasahi dahinya. Muncul seperti butiran-butiran jagung kecil, meski ruangan ini sama sekali tidak panas.


Beberapa detik yang menegangkan itu berakhir, ketika gelak tawa Kai akhirnya pecah. Mika bingung. Satu alisnya naik, disertai sorot mata tidak mengerti. Kenapa Kai tertawa? Apa ada yang salah dengan ucapannya? Pertanyaan itulah yang semula hadir dalam kepalanya. Sebelum akhirnya tatapan jahil Kai membuatnya sadar bahwa cowok itu sedang mengerjainya.


Mika melengos. Kesal karena merasa Kai sudah mempermainkannya. Namun, ada perasaan lega yang saat itu pula menyusup ke dalam hatinya. Tanpa sadar, alih-alih mendaratkan jitakan sebal, Mika justru tersenyum senang. Kecanggungan yang semula menyelimuti, sudah hilang sepenuhnya. Mika akhirnya bisa bernapas lega.


“Udah nggak usah dibahas.” Kai menggerakkan tangannya di depan wajah. Memberi isyarat bahwa ia tidak ingin lagi membahas hal itu. “Gue laper. Sebagai permintaan maaf, tolong buatin gue mi instan, ya.”


Mika melongo. Sorot matanya memandang takjub pada Kai. Cowok itu benar-benar ajaib. Semudah itukah Kai memaafkannya? Bahkan, setelah ia mengabaikan cowok itu?


“Kenapa? Lo nggak mau gue maafin?” Pertanyaan Kai menyadarkan Mika dari ketakjubannya. Cowok itu menatap Mika dengan mata sedikit menyipit.


“Ah, bukan," jawab Mika, cepat. Kemudian, ia ingat pada hari saat ia bertemu Kai di minimarket. Cowok itu membeli begitu banyak mi instan. Lalu, sebuah anggapan muncul dalam kepalanya, Kai pasti sudah terlalu banyak makan mi instan. “Gue beliin makan di luar aja ya. Nggak baik makan mi instan terus.”


Selain alasan itu, Mika juga ingin segera melarikan diri dari Kai. Ia tidak bisa berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan cowok itu. Akan sangat berbahaya bagi jantungnya. Tanpa menunggu jawaban dari Kai, Mika beranjak dari tempatnya. Berlari kecil menuju pintu kamar. Tepat sebelum membuka pintu, ia masih bisa mendengar Kai tertawa pelan di belakangnya.



Mika tidak berhenti menggerutu selama tiga puluh menit terakhir. Hari ini, Kai benar-benar sengaja membuatnya kesal. Ia pikir, tugasnya akan selesai setelah membelikan cowok itu makanan. Ternyata, tidak. Kai justru memintanya untuk menyuapi cowok itu. Kai bahkan merengek, seperti anak kecil meminta permen. Dan, Mika harus menuruti jika masih ingin telinganya selamat. Tentu saja, tujuan utamanya agar cowok itu bersedia memberikan informasi tentang Nagra.


“Lo nggak ikhlas nyuapin gue, nggak, sih?” Kai memanyunkan bibir saat melihat wajah Mika berulang kali menggerutu selama menyuapinya.


"Kenapa baru tanya sekarang?" Mika meletakkan piring yang sudah kosong ke atas meja, dengan sedikit keras. Lalu, ia melipat tangan di depan dada. Memasang wajah dan tatapan mata kesal.

__ADS_1


Namun, alih-alih meminta maaf, Kai justru tergelak. Cowok itu menjulurkan lidah untuk meledek Mika. Sebelum Mika sempat melontarkan kalimat kesalnya, Kai sudah lebih dulu mendaratkan satu tangannya di puncak kepala Mika. Cowok itu mengacak-acak gemas rambut Mika.


"Gue kangen lihat lo ngambek, gini. Udah lama, ya, kita nggak berantem kayak gini."


Sepulang dari tempat ini, sepertinya Mika harus mampir sebentar di rumah sakit. Jantungnya mulai tidak normal. Organ kecil itu sudah melompat-lompat dalam dadanya. Seketika, sesuatu seperti kupu-kupu berterbangan memenuhi ulu hatinya.


"Tapi, Ka. Gue seneng. Seenggaknya, gue jadi nggak perlu khawatir kalau misalnya gue sakit waktu kita udah nikah nanti. Kan, ada lo yang nyuapin gue." Kai terkekeh.


Mika bisa merasakan wajahnya memanas. Segera, ia menolehkan kepala ke arah lain. Dalam hati, ia berharap Kai tidak akan melihat perubahan warna wajahnya.


Rasanya, Mika ingin membenturkan kepalanya ke dinding sekarang. Ia tidak habis pikir dengan isi kepala Kai. Bisa-bisanya cowok itu membuatnya salah tingkah di saat seperti ini. Ketika pikiran tentang Nagra, Nagra, dan Nagra tengah memenuhi kepalanya.


“Jadi, lo ada perlu apa ke sini?” Tidak ada lagi raut selengean. Kai mengubah wajahnya menjadi ekspresi serius hanya dalam waktu beberapa detik. Mika bahkan curiga, jika Kai memiliki gangguan kepribadian ganda.


Tanpa membuang waktu lagi, Mika mengeluarkan ponselnya dari tas. Kemudian, memutar video rekaman CCTV yang ia dapat dari Raga.


“Ini kamu, kan?” Mika menunjuk seseorang dalam video itu.


Kai mengerutkan kening, kemudian mengangguk. Mika memutar video yang lain. Video rekaman ketika Kai memukul Nagra hingga bertubi-tubi.


“Kenapa kamu mukulin kak Nagra?” tanya Mika. Kali ini, ia sudah lebih bisa mengontrol emosi pada sesuatu yang berkaitan dengan Nagra.


Kai terdiam selama beberapa saat. Melihat video ini, memaksanya untuk kembali pada kejadian hari itu di apartemen Nagra. Kejadian yang hingga saat ini masih ia sesali. Kejadian yang membuatnya selalu beranggapan, bahwa itulah yang menyebabkan Nagra meninggal.


“Video kedua terjadi beberapa hari sebelum video pertama. Maaf, Ka. Hari itu gue benar-benar nggak tahan buat nggak mukulin Nagra. Di mata gue, dia benar-benar pengecut.”


“Lo yakin mau dengar cerita ini?”


Mika mengangguk bersemangat. Semenyedihkan apa pun cerita itu, ia sudah menyiapkan diri. Hatinya sudah jauh lebih kuat sekarang.


Kai menarik napas panjang, sebelum memulai cerita. “Gue nggak tahu yang awalnya terjadi. Tiba-tiba saja, satu bulan sebelum kejadian dalam video kedua, Nagra datang ke rumah gue. Dia bilang kalau Alana hamil anak dia. Hari itu, gue lihat kalau Nagra benar-benar kacau. Dia sempat bilang ke gue, kalau dia nyuruh Alana buat gugurin kandungannya. Tapi, gue tetap nyuruh dia buat tanggung jawab. Bagaimanapun juga, itu tetap kesalahan dia.


Berulang kali gue ingetin dia tentang Alana. Gue nggak bisa diam aja. Nagra sahabat gue, tapi Alana juga teman gue. Dua minggu sebelum kejadian pemukulan itu, gue ketemu Alana. Dia bahkan lebih kacau dibanding Nagra. Kandungannya udah mulai terlihat. Dia sampai harus sembunyi di villa milik keluarganya.


Gue nggak tega. Gue akhirnya menemui Nagra di apartemen. Awalnya, gue cuma mau nyuruh dia buat segera menyelesaikan masalah sama Alana. Gue cuma nggak mau dia jadi pengecut. Tapi yang gue lihat, dia justru nyoba buat bunuh diri. Untungnya, gue datang tepat sebelum dia lompat dari jendela apartemen.


Gue gelap mata. Gue bilang ke dia, kalau lebih baik gue yang bunuh dia daripada mati karena bunuh diri. Gue nggak sadar apa yang udah gue lakuin. Tiba-tiba aja, gue udah lihat Nagra babak belur di lantai.”


Kai menundukkan kepala dalam-dalam. Mika tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi cowok itu. Namun dari cara Kai menarik napas yang terkesan sangat berat, ia tahu kejadian itu juga amat berat untuk Kai.


Mika tercengang. Dari seluruh cerita yang diutarakan Kai, hanya ada satu kalimat yang memantul-mantul dalam kepalanya. Menghantamnya, hingga melumpuhkan sebagian saraf otaknya.


Alana hamil anak Nagra.

__ADS_1


Ia tidak ingin percaya. Tetapi, suara itu terdengar sangat nyata. Ia ingin mengelak. Hanya saja, tidak menemukan satu alasan pun untuk menyangkal. Namun, bukankah selama ini Nagra adalah cowok baik-baik? Cowok itu bahkan tidak pernah menyentuh rokok, sebelum pindah ke apartemen. Lalu, kenapa bisa hal itu terjadi?


Serangkaian ketidakpercayaan dan pertanyaan dalam kepala, membuat Mika menjatuhkan tuduhan pada Alana. Ia tidak pernah mengenal Alana sebelumnya. Namun dari cerita Anggita dan penglihatannya di klub hari itu, kesimpulannya pada Alana semakin membulat. Gadis itu memang bukan gadis baik-baik. Maka bisa dipastikan, kejadian itu juga ulah Alana.


“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” tanya Mika dengan suara parau.


Kai mendengkus. “Gimana mau cerita kalau lo nggak mau ketemu gue?”


Mika mengepalkan telapak tangan. Ada sesal yang menyusup dalam dadanya. Seandainya hari itu ia tidak mengabaikan Kai, ia pasti sudah mengetahui kenyataan itu sejak awal. Seandainya ia mendengarkan cowok itu, ia pasti tidak akan terlalu lama terjebak dalam kebohongan. Sayangnya, seandainya tetap akan menjadi seandainya.


Raga terlalu pandai memanipulasi pikirannya, hingga menjadikan Kai satu-satunya tersangka. Membuatnya beranggapan bahwa dalam video itu Kai melakukannya karena sebuah dendam yang tidak ia mengerti. Nyatanya, cowok itu hanya ingin menyelamatkan Nagra.


“Terus, kenapa lo ngehapus rekaman CCTV di apartemen Nagra hari itu?”


Kai menautkan sepasang alisnya. Matanya menyorot bingung. “Gue nggak ngehapus apa pun. Gue cuma ngambil salinan rekaman itu.”


“Tapi Raga bilang, ada orang yang ngehapus rekaman itu. Akhirnya, dia harus minta salinannya ke salah satu petugas keamanan di sana.”


“Dan, lo percaya sama gitu aja?” Suara Kai naik satu oktaf dari sebelumnya.


Mika mengangguk lemah. Ia tidak bisa untuk tidak memercayai Raga hari itu. Rekaman CCTV itu memang tidak ada. Ia bahkan sudah mencarinya. Dan, satu-satunya orang yang masuk ke ruangan itu sebelum mereka adalah Kai. Ia bahkan tidak berpikir jika Raga bisa saja menghapus rekaman itu ketika ia lengah. Lantas, cowok itu menuduh Kai pelakunya. Usaha Raga, benar-benar patut diacungi jempol.


Semua hal yang ada di depan matanya kini, sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia dapat beberapa hari lalu. Kepalanya seperti ingin meledak. Pikirannya terbelah menjadi dua kubu yang sama-sama menanyakan, “Siapa yang bisa ia percaya sekarang?”


Kai merogoh saku tas di sampingnya. Ia mengeluarkan sebuah flash disk, dan menyerahkan benda itu pada Mika. “Video yang lo punya nggak lengkap. Gue punya salinan aslinya di sini. Ada satu hal lagi yang perlu lo tahu. Bangunan apartemen itu milik bokap Raga. Dan, petugas keamanan itu anak buah bokap dia. Raga bisa ngelakuin apa pun yang dia mau, termasuk nyuruh petugas keamanan itu memanipulasi video yang sebenarnya.”


Kai terdiam sejenak. Matanya menatap Mika dalam-dalam. Ada ketegasan yang membayang di sepasang iris gelap itu. Lantas dengan suara pelan, Kai berkata, “Dari awal, gue udah nyuruh lo buat hati-hati sama dia.”


“Kenapa kamu sama Nagra saling membenci?”


Kai tersenyum getir. “Karena, gue akan berusaha buat terus ngehalangi dia.”


“Dalam hal apa?” Mika semakin tidak mengerti.


Kai hanya menggeleng pelan, sebagai sebuah jawaban.


"Kamu nggak akan ngejauhin aku, kan, setelah ini?" Mika mengatakan itu dengan terbata. Susah payah ia menelan ludah untuk menutupi kegugupan. Tetapi, suaranya tetap tidak bisa berbohong.


Kai mengedikkan bahu kanannya. "Sesuai janji, gue nggak akan ganggu lo setelah lo dengar penjelasan gue."


Mika menggigit bibir bawahnya. Tidak. Ia tidak akan membiarkan Kai melakukan hal itu. Ia rela melakukan apa pun. Ia rela diganggu setiap hari oleh Kai. Asalkan, cowok itu tetap berada di dekatnya.


"Kenapa muka lo sedih gitu? Takut gue pergi, ya?" Kai mencolek puncak hidung Mika. Senyum menyebalkan telah tersungging di bibir cowok itu.

__ADS_1


"Sialan! Pergi aja sana! Aku nggak peduli." Mika mengentakkan kaki menuju pintu kamar. Kai berhasil membuatnya kesal.


Kai tertawa geli. Tepat sebelum Mika meninggalkan kamar, ia berkata dengan penuh keyakinan. "Gue nggak akan kemana-mana."


__ADS_2