
*“Gue bisa bantu lo masuk ke SMA Pelita. Adik Nagra sekolah di sana. Lo bisa balas dendam melalui dia,” kata Beni, tepat satu bulan setelah kematian Nagra.
Raga bimbang. Di satu sisi, Nagra adalah sahabatnya. Namun di sisi berbeda, hasrat untuk balas dendam memenuhi hati dan kepalanya. Nagra sudah merampas kebahagiaan Alana. Gadis itu telah melalui masa-masa sulit karena Nagra. Gadis itu harus dirawat di tempat mengerikan itu juga karena Nagra.
Di tengah kemelut hati yang mendera, keinginan untuk balas dendam dan ego yang akhirnya memenangkan pertempuran batin. Tanpa berpikir panjang, Raga menyetujui tawaran Beni.
Tidak sulit pindah ke SMA Pelita pada pertengahan semester. Orangtua Beni adalah pemilik yayasan itu. Apa lagi, orangtuanya juga merupakan rekan bisnis orangtua Beni. Orang tuanya yang mengurus semua itu. Ia hanya perlu memikirkan cara untuk membalaskan dendamnya.
Tepat sehari setelah ia terdaftar di SMA Pelita, ia mulai menjalankan rencananya. Diawali dengan mendekati Mika, dan menjadikan gadis itu sebagai pacarnya.*
♥
Sehari sebelum Pemasangan Foto Mika dan Nagra di Majalah Dinding Sekolah...
*“Lo yakin ini bakal baik-baik aja, Ben?” tanya Raga.
“Gue yakin. Lo mau cepet balas dendam, kan? Kalau lo udah nggak bisa balas dendam ke Nagra, jalan satu-satunya adalah Mika. Bukannya melihat dia hancur adalah tujuan lo?”
Raga mengangguk. Namun, entahlah. Ada bagian dari hatinya yang menolak tindakan itu. Sesuatu dalam dirinya terus berteriak, jika perbuatannya salah. Mika tidak seharusnya mendapatkan hal itu. Gadis itu tidak mengerti apa pun.
Namun, rasa sakit dan kemarahan terlanjur menguasainya. Sehingga—dengan cara apa pun—ia menekan segala bentuk penolakan itu. Ia hanya mendengarkan rontaan kemarahan dalam dadanya. Ia membulatkan keinginan untuk melihat Mika merasakan hal yang sama dengan Alana.
Jangan bilang, kalau waktu itu lo yang ngirim pesan ke grup SMA Pelita bahwa Nagra meninggal karena dibunuh orang dekat?” tuduh Raga, setelah berperang dengan batinnya.
Beni tergelak. “Itu cuma pancingan, Ga. Biar rencana lo ini berhasil. Mencurigakan banget kalau tiba-tiba ada foto ini, tapi nggak ada kabar apa pun sebelumnya.”
“Gue udah serius nanggepin itu, Kampret! Gue pikir si Nagra memang dibunuh.”
“Kasus Nagra udah selesai. Kita udah sama-sama tahu, kalau dia meninggal karena bunuh diri.” Beni terdiam sejenak. Kemudian, menjatuhkan pandangan serius pada Raga. “Setelah ini berjalan lancar, lo harus berpura-pura bantu Mika buat nyelidikin kasus Nagra. Buat seolah-olah Nagra memang meninggal karena dibunuh. Lo bilang Mika dekat sama Kai, kan? Kalau lo mau hancurin Mika, hancurin hubungan mereka."
“Tapi, gue nggak mau buat Kai kena getahnya, Ben,” Raga mencoba menolak. "Ya, walau pun dia udah berani nguping pembicaraan gue sama lo dulu, sih."
Beni berdecak. “Justru itu. Seharusnya lo nyingkirin Kai lebih dulu. Dia udah tahu rencana kita. Dia akan terus berusaha melindungi Mika. Apa lagi, sekarang mereka udah mulai saling sayang. Bakalan lebih mudah buat ngehancurin keduanya.”
__ADS_1
Raga terdiam. Ia memikirkan kalimat demi kalimat yang dilontarkan Beni. Ia tidak ingin menarik Kai dalam masalah ini. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan cowok itu terus berusaha menggagalkan rencananya. Apa lagi, sekarang Kai semakin gencar mendekati Mika. Akan lebih berbahaya, jika Kai lebih dulu mengatakan tentang rencana yang ia sembunyikan, sebelum ia berhasil menghancurkan Mika.
Lo yakin, Ben?” tanya Raga. Keraguan semakin jelas membayang di pelupuk matanya.
"Yakin! Gue dukung lo. Alana nggak boleh terluka sendiri!” Beni menepuk bahu Raga. Berusaha memberikan kekuatan serta keyakinan pada cowok itu.*
♥
“Gue pikir, selama ini lo di pihak gue! Ternyata, lo nipu gue. Lo busuk banget ya, Ben!” Raga kembali mendaratkan pukulan di wajah Beni.
Tidak ada raut bersalah di wajah Beni. Cowok itu justru tertawa pelan, dengan mata menyiratkan kemenangan. “Kalian semua yang bego! Kalian pikir, gue akan diam aja setelah kalian gagalin rencana gue buat dapetin Alana? Lo juga, Ga. Kenapa lo nggak pernah kasih gue izin buat pacaran sama Alana? Kalau lo nggak ngebujuk dia buat jauhin gue, gue pasti udah jadian sama dia dari dulu.” Beni meludah ke samping.
“Gue nggak pernah ngasih izin Alana buat jadian sama lo, karena gue tahu lo bukan cowok baik-baik. Harusnya lo sadar diri. Udah berapa banyak cewek yang lo campakin di luar sana? Sialan!” Raga hendak mendaratkan pukulan selanjutnya, tetapi Kai sudah lebih dulu menahan lengannya.
“Cukup, Ga! Kita bawa dia ke kantor polisi. Kita juga udah punya saksi, kalau dia memang dia yang bunuh Nagra hari itu.” Kai melirik seseorang yang berdiri di belakangnya. Dia adalah sepupu Alana yang ditemui Kai dan Mika di klub, hari itu.
"Radit?" Raga berseru saat seorang lelaki memasuki rumah Beni. Lelaki yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu melepaskan kacamata, lantas tersenyum kecil.
“Halo Raga!” Radit mengangkat telapak tangan kanannya, sebagai sapaan. Kemudian, pandangannya beralih pada Beni. “Dan, halo Pecundang. Untung lo langsung manggil gue ke sini, Kai. Jadi, gue bisa lihat langsung pembunuh ini akhirnya tertangkap.”
“Kebanyakan intro lo. Buruan, jelasin!” sela Kai yang mulai kesal.
Radit terkekeh. Kemudian, mengambil ponsel dari dalam saku jaketnya. Ia menunjukkan sebuah video ketika Beni membekap Nagra dengan bantal. “Alana pernah nunjukin wajah lo ke gue, waktu dia cerita bahwa lo yang ngelakuin itu ke dia. Suatu kebetulan, kita ketemu di apartemen Nagra. Gue sengaja ngikutin lo. Ngelihat kata sandi yang lo masukin di pintu apartemen Nagra. Gue sangat berterima kasih karena Tuhan memberikan gue penglihatan dan ingatan yang tajam, sehingga, gue bisa ambil rekaman ini dari ruang tamu apartemen Nagra.”
“Berengsek!” Beni mencoba untuk merebut ponsel itu, tetapi Radit segera menjauhkan benda itu.
“Gue nggak akan biarin lo lari lagi. Selama ini gue diem, karena gue pikir, polisi udah berhasil nangkap lo. Ternyata, lo lebih gesit dari seekor Cheetah. Satu lagi, gue ngelakuin ini demi sepupu gue, Alana.” Radit tersenyum miring. Kemudian, ia menepuk pipi Beni beberapa kali. “Selamat mendekam di penjara, Pecundang.”
Tanpa mereka antisipasi, Beni yang sudah bebas dari cengkeraman Raga, berhasil melarikan diri. Berkat latihannya bermain basket, cowok itu bisa melewati Mika dan Kai yang berjaga di dekat pintu depan. Mereka mencoba untuk mengejar, tetapi jejak Beni sudah tidak lagi terlihat. Mengejar dengan mobil pun percuma. Seperti kata Radit, Beni jauh lebih gesit daripada seekor Cheetah.
♥
Kebekuan pekat menyelimuti suasana di dalam mobil Anggita. Tidak ada yang bersuara, hanya helaan napas yang sesekali terdengar memecah keheningan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dalam dugaan demi dugaan yang tidak juga menemukan jawaban, termasuk kemana Beni melarikan diri.
__ADS_1
Keheningan itu akhirnya terpecahkan. Kai membuka suara terlebih dahulu. "Jadi, pemilik username F_23_A itu Beni?" tanyanya, setelah Raga menceritakan tentang rencananya dan Beni pada keempat orang di dalam mobil.
Raga mengangguk. "F itu nama depan Beni—Ferdian. A itu Alana. Angka 23 itu tanggal Beni nembak Alana pertama kalinya. Dan, tanggal kematian Nagra."
"Ah, Beni. Gue baru tahu, kalau ternyata dia segila itu." Kai bergumam. Lalu, ia melirik pada Raga sekilas. “Lo juga, kan, yang hari itu ada di jendela apartemen Nagra?”
Raga hanya menjawab pertanyaan itu dengan satu kata, “Hmm.”
“Ngapain lo manjat di jendela? Mau gantiin Spiderman? Atau, lupa cara jalan di lantai?”
“Lo tahu yang namanya memata-matai, nggak?” tanya Raga ketus. “Gue sering mantau apartemen dia lewat jendela itu. Kebetulan banget hari itu lo datang ke sana.”
“Ngapain?” Mika sontak bertanya. Ada nada tidak terima terhadap ulah Raga dalam suaranya.
“Karena gue penasaran, kenapa dia nggak pernah muncul di depan gue setelah kejadian di villa hari itu,” jawab Raga.
“Lo sengaja memotong video rekaman itu, biar keberadaan lo nggak terlihat oleh Mika? Licik sekali kamu, Sayang.” Kai tertawa sinis pada Raga.
Raga mendengkus. Namun, tanpa sadar ia tersenyum kecil. Entah, sudah berapa lama ia tidak pernah berbicara panjang lebar lagi dengan Kai. Diam-diam, ia rindu saling lempar ucapan penuh sarkasme dengan cowok itu.
“Lo tahu kalau melindungi diri itu perlu, kan? Nah, gue sedang ngelakuin itu.” Raga mencoba untuk membela diri.
“Melindungi diri dengan cara menjatuhkan orang lain itu jahat, Sayang. Lo udah buat gue nyaris gila hari itu karena Mika tiba-tiba ngejauh dan nuduh gue pembunuh. Lo tahu, kan, gue nggak bisa jauh dari dia?” Kai melirik Mika melalui kaca spion tengah. Ia tersenyum kecil ketika mendapati Mika yang salah tingkah di bangku belakang.
“Jadi, sekarang kalian mau balikan?” celetuk Anggita pada Kai dan Raga. “Atau, Kai mau pilih Mika aja?”
Kai tertawa geli. “Gue sama Mika aja. Jangan cemburu ya, Ga. Lo tetep ada di hati gue.”
“Najis, Kai. Najis!” tukas Raga, yang kemudian diikuti tawa mereka berlima.
Untuk pertama kalinya, hidup terasa jauh lebih baik bagi Kai, Raga, dan Mika. Meski keberadaan Beni masih belum diketahui, setidaknya mereka sudah berhasil mengungkap kasus kematian Nagra.
Mika bisa mengembuskan napas lega. Tragedi saling tuduh itu akhirnya usai. Mereka tidak perlu lagi menjatuhkan prasangka pada satu sama lain. Semua bukti sudah mengarah pada Beni. Mereka hanya tinggal menyerahkan kasus itu kepada polisi.
__ADS_1
Memang tidak selalu ada pelangi setelah hujan badai. Namun, matahari masih ada matahari yang bersedia untuk menerangi. Dan, Mika percaya itu.
Ia sudah siap untuk menyambut hidup normalnya. Dan, dua cowok di depannya, juga sudah bisa menjalankan Ujian Nasional yang akan dilangsungkan satu minggu lagi. Tanpa dibebani oleh pikiran tentang Nagra, maupun tentang dendam yang tidak terbalaskan.