Red Thread

Red Thread
Rencana Raga


__ADS_3

“Ini gue yang terlalu ramping atau lo yang kegendutan sih, Git?” Mika menggerutu, ketika mengetahui rok seragam Anggita yang ia kenakan sangat kedodoran.


“Lo aja yang kayak liliput. Ini rok seragam gue yang paling kecil, Ka. Lo pakai sabuk ini aja deh. Kali aja bisa bantu.” Anggita menyerahkan sabuk berwarna hitam dengan gambar singa di bagian tengah.


Mika mendengkus. Ia yakin, itu pasti sabuk milik adik Anggita yang masih kelas empat.


“Gue benar-benar ngerasa kayak anak SD.” Mika masih menggerutu, seraya memasang sabuk itu di pinggangnya.


“Bawel amat lo! Gimana? Bisa, kan?”


Mika nyengir kuda. Tidak terlalu buruk. Meski ia harus mengencangkan rok itu, hingga membentuk kerutan di bagian atas. Setidaknya, tidak akan membuat benda itu jatuh ketika digunakan ke sekolah.


“Lo masih nggak mau pulang?” tanya Anggita, yang dibalas dengan gelengan oleh Mika. “Terus, buku-buku lo gimana?”


“Gue udah pinjem buku kosongnya Kai, sih. Jadi, ntar gue tinggal pinjam buku paket di perpus.”


“Jadi, semalam lo tinggal di rumah Kai?" Sepasang mata Anggita terbelalak, bersamaan dengan teriakan yang memenuhi setiap sudut kamarnya. Membuat Mika harus menutup telinga demi keselamatan pribadi. "Gila! Kalau Raga tahu gimana?”


Mika mengendikkan bahu tak acuh. “Gue udah bilang mau putus ke Raga. Tapi, dia nggak jawab setuju atau nggak.”


“Jangan bilang, lo mau mutusin Raga karena Kai? Jangan bilang, lo udah jatuh cinta sama cowok itu?” Anggita memicingkan mata curiga. Sedikit tidak percaya dengan keputusan Mika.


Mika kembali nyengir. “Perasaan nggak bisa dipaksain, kan, Git. Kalau gue udah nggak sayang sama Raga, mau gimana lagi? Jujur sih, sampai sekarang gue masih bingung sama perasaan sendiri. Apa benar gue pacaran sama Raga karena gue sayang sama dia? Atau, gue cuma jadiin dia sebagai pelarian kesepian?”


“Astaga, Mika! Kenapa lo nggak sadar dari dulu? Kasihan tahu si Raga.” Anggita memasang wajah seakan dia yang terluka.


“Kenapa jadi lo yang heboh, sih?” Mika mengerutkan kening. “Lagian, gue juga nggak tahu alasan Raga tiba-tiba ngomong suka ke gue waktu itu.”


“Cinta nggak butuh alasan, Ka.”


“Cinta memang nggak butuh alasan. Tapi, suka membutuhkan paling tidak satu alasan. Kai yang bilang gitu ke gue. Lagian, hari itu, Raga juga bilang suka ke gue. Bukan cinta.” Mika menambahi, yang seketika membuat Anggita terdiam.


“Daripada lo numpang di rumah Kai dan takutnya nanti timbul gosip yang nggak bener, mending lo nginep di sini aja.”


“Boleh, nih?” Anggita mengangguk untuk menjawab pertanyaan Mika. Lagipula, orangtuanya sedang tidak ada di rumah selama tiga hari ke depan.


“Lo berangkat bareng gue, apa dijemput Kai?” tanya Anggita. Lantas, ia beranjak untuk mengambil kunci motor dari atas nakas dan menyampirkan tas ransel di satu bahu.


“Sama lo. Kai langsung berangkat setelah antar gue ke sini tadi.” Mika bergegas mengambil tasnya dari atas ranjang, dan mengikuti langkah Anggita yang sudah menuju ruang depan terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan ke sekolah, pikiran Mika dipenuhi dengan Raga. Bukan karena ia merindukan cowok itu, melainkan tentang bagaimana cara mengatakan yang sebenarnya pada Raga. Ia sibuk menyusun kalimat yang tepat. Ia tidak ingin menyinggung dan melukai perasaan cowok itu. Walau pun ia tahu, menggunakan kalimat selembut apapun, memutuskan untuk mengakhiri hubungan pasti akan memberikan luka.


“Turun! Udah sampai. Ngelamun aja,” ucap Anggita ketus. Ia jadi dongkol dengan sikap Mika yang beberapa kali ketahuan melamun. “Harusnya, Raga yang gelisah karena mau diputusin. Kenapa jadi lo yang kayak orang bego gini, sih?”

__ADS_1


Untungnya, Mika sudah terbiasa dengan kata-kata Anggita yang terkadang tidak pernah disaring. Ia hanya mengeluarkan cengiran kecil. Ia sendiri tidak mengerti, mengapa justru ia yang kebingungan untuk mengatakan tentang keputusannya.


“Gue nggak salah ambil keputusan, kan?” tanya Mika ragu-ragu. Padahal, kemarin ia begitu yakin dengan keputusannya. Ia sudah memikirkan keputusan itu selama satu hari penuh, dan sudah merasa bulat. Tetapi, langkahnya mendadak gentar ketika waktu yang ditentukan akan segera tiba.


“Nggak ada yang perlu dipertahanin, kalau lo emang udah ngerasa nggak cocok. Percuma. Dipertahanin juga akan jadi luka. Diperlambat pun, pasti hasilnya sama aja. Sama-sama sakit. Lo juga nggak mau, kan, kalau tiba-tiba Kai putar balik gegara lo yang nggak punya pendirian sama perasaan sendiri?”


“Tapi, keputusan gue bener, kan?” tanya Mika sekali lagi. Anggita mendesah gemas. Rasanya, ia ingin menjitak kepala Mika sekarang juga.


“Sekarang gue tanya. Lo suka sama Kai?” Pertanyaan Anggita dibalas Mika dengan anggukan. “Lebih suka Kai apa Raga?”


“Kai," ujar Mika tanpa berpikir.


“Lo jatuh cinta sama Kai?” Mika spontan mengangguk.


“Sejak kapan lo jatuh cinta sama dia?”


Kali ini Mika terdiam agak lama. Ia tampak sedang berpikir. Kemudian, ia akhirnya berkata, “Nggak tahu.”


“Dengar, Ka. Kalau lo benar-benar mencintai Raga, lo nggak akan biarin Kai untuk nyentuh hati lo sedikit pun. Kalau lo benar-benar mencintai Raga, lo nggak akan jatuh cinta sama orang lain lagi. Karena bersama Raga, lo udah ngerasa cukup. Tapi, nyatanya apa? Lo jatuh cinta sama Kai. Jadi—” Anggita menjeda kalimatnya sejenak. Bibirnya tersenyum penuh arti pada Mika. “Lo pasti tahu jawabannya.”


Mika terdiam. Dalam hati, ia menimbang-nimbang pernyataan Anggita. Sebelum akhirnya, menyetujui hal itu.


Sekarang ia mengetahui jawaban dari pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalanya. Ia tidak pernah benar-benar mencintai Raga. Barangkali, ia hanya menjadikan cowok itu sebagai sandaran ketika kesepian. Sebagai seseorang yang ia cari, ketika ia membutuhkan pelarian. Bukankah, selama ini Raga memang selalu ada untuk mendengarkan ceritanya. Meski yang dilakukan cowok itu, hanya memberi tanggapan seadanya.


Mika tidak peduli jika nantinya ia dijuluki sebagai seseorang yang tidak tahu terima kasih. Namun, menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak benar-benar dicintai seperti halnya menggenggam bom waktu. Tinggal menunggu waktu hingga bom itu meledak. Tinggal menunggu waktu, hingga ia hancur sendiri karena perasaan yang dipaksakan itu.


“Kalau gitu, gue ketemu Raga dulu ya," ujar Mika. Ia meninggalkan area parkir lebih dulu, dan melambaikan tangan pada Anggita.


“Selamat berjuang. Jangan grogi di depan dia!” Anggita berteriak, yang membuat beberapa siswa menoleh ke arahnya.


Mika berjalan cepat menuju tempat yang telah ditentukan Raga. Langkah kakinya terhenti, ketika melihat cowok itu duduk membelakanginya di kursi taman. Pandangan mata Raga terfokus pada layar ponsel. Tampak tidak sedikit pun terusik dengan lalu lalang siswa di sekitar.


Mika mengembuskan napas panjang. Mencoba meredakan gelisah yang timbul di dadanya. Rasanya, ini jauh lebih sulit dibanding menemui cowok itu di kelas untuk pertama kalinya dulu. Setelah berhasil menguasai diri, ia memantabkan hati untuk menghampiri Raga.


“Ga,” panggil Mika. Raga mendongak, lantas mengulas senyum tipis.


“Aku udah nunggu kamu dari tadi,” kata Raga tenang. Sangat tenang.


Kening Mika berkerut samar. Ia tidak menangkap nada gelisah dalam suara Raga. Cowok itu masih bersikap seperti biasa. Seakan mereka hanya bertemu untuk membahas tentang sesuatu yang terjadi kemarin, seperti biasa.


Ini gue yang terlalu berlebihan? Atau, Raga yang memang terlalu masa bodoh, sih? Mika menggerutu dalam hati.


“Aku mau ngomong sesuatu.” Sekarang, justru Mika yang dibuat gusar oleh pernyataan Raga.

__ADS_1


Apakah Raga akan memutuskannya terlebih dahulu? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Dalam kamus hidup Mika, pantang jika cowok memutuskan suatu hubungan terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, harusnya perempuan yang mengatakan hal itu. Dan, cowok mau tidak mau harus menyetujuinya. Ia tidak peduli, jika ada yang berpandangan berbeda. Namun, ia akan tetap memegang prinsip itu.


“Ada yang lebih penting daripada membahas tentang pesan konyolmu kemarin.” Sepasang bola mata Mika membelalak tidak percaya. Pesan konyol? Apakah memutuskan suatu hubungan adalah sesuatu yang konyol? Ia tidak bisa terima dengan anggapan itu. Ia ingin mengeluarkan sanggahan, tetapi Raga lebih dulu kembali bersuara.


“Kebetulan, kemarin aku ketemu sama salah satu tetanggaku. Dia bekerja di gedung apartemen, tempat Nagra tinggal dulu, sebagai petugas keamanan. Aku sempat tanya ke dia, apa ada yang mencurigakan dengan Nagra, setelah kamu pergi?” Raga menjeda kalimatnya. Tatapan matanya serius tertuju pada Mika. “Dia bilang, nggak ada. Tapi, ada satu orang lagi yang datang ke apartemen Nagra. Dua menit setelah kamu pergi.”


“Siapa?” Seketika, Mika melupakan tentang tujuannya menemui Raga hari ini. Pembahasan tentang Nagra jauh lebih menarik, dibanding keputusan yang sudah ia pikirkan kemarin.


Raga menggelengkan kepala. “Aku belum bisa mastiin dia siapa. Aku belum lihat rekaman CCTV. Katanya, hari ini dia mau ngasih rekaman CCTV itu. Kapan kamu mau ke apartemen Nagra? Mungkin, kita bisa nemu petunjuk di sana.”


Mika mulai penasaran. Ia yakin, belum banyak yang mengetahui jika cowok itu menempati apartemen. Sepengetahuannya, cowok itu sedikit kesulitan untuk bersosialisasi dan sangat menjaga privasi. Meskipun ada yang berkunjung ke apartemen, itu pasti hanya orang-orang dekat. Mungkin memang benar tentang kabar yang beredar. Pembunuh Nagra memang orang yang dekat dengan cowok itu. Sangat tidak mungkin ada orang lain yang mengetahui Nagra tinggal di apartemen, jika tidak benar-benar dekat dengan cowok itu. Namun, akan berbeda jika orang itu sengaja menguntit Nagra.


“Kita harus cari CCTV di apartemen Nagra,” tegas Mika.


“Kata tetanggaku, sepulang sekolah kita bisa datang ke apartemen Nagra buat lihat video rekaman CCTV.” Raga menunjukkan deretan pesan singkat antara dirinya dengan salah satu petugas keamanan apartemen itu.


“Oke.” Mika mengangguk antusias. Raga tersenyum tipis.


Tidak jauh dari tempat mereka, Kai berdiri di balik pohon akasia. Kedua tangannya berada di dalam saku. Kepalanya menunduk dalam, memandangi ujung sepatu. Napasnya berat, seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Ia baru mendongakkan kepala, ketika Mika sudah tidak lagi berada di bangku taman. Sorot matanya menatap tajam pada Raga. Kemudian, beralih pada ponsel cowok itu. Ia harus bisa mendapatkan ponsel itu, dan mencari tahu tentang seorang petugas keamanan yang sempat dibicarakan Raga.


Kai memutuskan untuk keluar dari persembunyian, beberapa detik kemudian.


“Lo mau ke apartemen Nagra? Gue boleh ikut?” Raga tersentak ketika mendapati Kai berdiri di depannya.


“Sejak kapan lo di situ?”


Kai tersenyum seraya mendengkus. “Nggak penting. Gue cuma mau tanya, gue boleh ikut?”


“Kenapa tiba-tiba lo mau ikut?” Raga memicingkan mata curiga pada Kai.


“Gue harus memastikan, kalau Mika akan baik-baik saja sama lo.”


Raga tertawa lebar. Seakan itu adalah pernyataan paling lucu yang pernah ia dengar. “Lo pikir, gue mau ngapain Mika? Nggak usah seposesif itu. Lo juga bukan siapa-siapanya dia. Dia itu masih pacar gue.”


Kai berdecak. “Sebentar lagi juga bakal jadi mantan. Jadi, gimana? Gue boleh ikut, nggak?”


“Nggak!” tandas Raga.


“Padahal, gue mau bantuin buat mecahin kasus kematian Nagra.” Kai berpura-pura kecewa.


“Nggak perlu repot-repot. Gue yang akan bantu Mika buat pecahin kasus itu.”

__ADS_1


Kai menyipitkan mata. Sorot matanya yang tidak terbaca tertuju pada Raga. Ada sesuatu dalam dada yang membuatnya tidak nyaman. Pelan, ia mendesis. Tangannya terkepal erat di dalam saku untuk mengalihkan kegusaran. Dalam hati, ia berkata tegas.


Gue nggak akan biarin rencana lo berjalan dengan lancar, Ga.


__ADS_2