Red Thread

Red Thread
Lelaki di Klub Malam


__ADS_3

Sebenarnya, malam Minggu bukanlah ide yang baik untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Terbukti, baru lima menit Mika keluar dari kompleks perumahan tempat tinggalnya, ia dan Kai sudah langsung disambut oleh kemacetan panjang. Banyaknya kendaraan membuat jalanan tidak lagi bisa menampung. Selain karena besok adalah hari libur, kemacetan ini juga disebabkan karena bersamaan dengan jam pulang kerja.


Mika mendesis kesal. Mereka mungkin tidak akan terjebak macet jika saja Kai mengajaknya pergi menggunakan motor, dan bukannya meminjam mobil Anggita.


"Kenapa kamu bisa bawa mobil Anggita?" Karena terlalu fokus dengan kemacetan di depannya, Mika sampai lupa menanyakan hal itu pada Kai.


"Gue nyogok sopir Anggita biar gue boleh pinjem mobilnya. Si Anggita sama Raya sekarang lagi di rumah gue."


"Terus, kenapa lo malah ngajak gue pergi?"


"Ada yang salah?" Kai menaikkan satu alisnya.


"Ngg... nggak, sih." Mika nyengir, membuat Kai mendengkus.


"Sepulang jalan, kita ke rumah gue," putus Kai, menyelesaikan perdebatan kecil di antara mereka.



"Kai, kamu serius ngajak aku ke sini?" Mika membulatkan kelopak matanya saat mengetahui tempat Kai memarkirkan mobil.


Kai melemparkan senyum jahil. "Kita senang-senang malam ini."


"Kamu yang benar aja. Nggak mau! Kamu kira aku cewek nakal?" Mika melipat kedua lengannya di depan dada. Kesal karena mengetahui jalan-jalan yang dimaksud Kai adalah pergi ke klub malam. Seumur-umur, ia tidak pernah menginjakkan kaki di tempat itu. Tapi, ini?


Kai justru tergelak melibat wajah cemberut Mika. "Santai, Ka. Ini nggak seperti yang lo pikirin kok. Gue ngajak lo ke sini karena mau nunjukin sesuatu ke lo."


Ekspresi kesal di wajah Mika perlahan menghilang. Otot wajahnya yang semula tegang pun mulai mengendur. "Apa?"


"Kita bakal cari cowok yang kamu lihat bareng Alana hari itu."


"Tapi, aku nggak tahu wajahnya. Bagaimana kita mau cari dia?"


"Udah, tenang aja." Kai melepaskan sabuk pengamannya, dan turun dari mobil lebih dulu. Sebenarnya, ia pun tidak yakin akan menemukan cowok itu di tempat ini. Ia juga tidak tahu, apakah cowok dalam video itu adalah orang yang sama yang dilihat Mika hari itu. Namun, perasaannya mengatakan bahwa ia memang harus mencari di tempat ini. Bertemu atau tidak, yang penting ia sudah berusaha.


Kai menarik pergelangan Mika untuk memasuki klub malam itu. "Nggak usah khawatir. Gue bakal jagain lo."


Mika hanya mengangguk. Ia berusaha untuk meredakan keragu-raguan dalam hatinya, dan membiarkan Kai menjalankan tugasnya. Jika bukan karena Nagra, ia tidak akan sudi menginjakkan kaki di klub malam.


Baru saja menginjakkan langkah pertamanya di klub itu, Mika sudah menahan napas berkali-kali. Suara bising dari musik yang diputar dan keriuhan para pengunjung langsung menyambutnya, membuat kepalanya seketika pusing. Aroma rokok dan alkohol yang bercampur dengan aroma para pengunjung pun tidak membiarkannya bernapas dengan nyaman. Aroma itu menusuk hidungnya, benar-benar membuatnya mual. Ia menggigit bibir bawah kuat-kuat, menahan diri agar tidak muntah di tempat itu.


Kai masih menggenggam tangan Mika dengan gestur posesif. Cowok itu bahkan semakin mengeratkan genggaman tangannya saat mereka menyeruak di antara para pengunjung.


Mika menjatuhkan pandangan pada orang-orang yang menari di dance floor. Ia tidak mengerti, mengapa mereka bisa sangat sangat menikmati menari di tempat itu dengan pakaian yang kekurangan kain, padahal banyak tatapan mata tertuju pada mereka?


"Jaga mata, Ka." Kai mendekatkan bibirnya ke telinga Mika saat mengatakan hal itu. Lalu, ia terkekeh.

__ADS_1


Mika memukul punggung Kai. "Kamu itu yang jaga mata. Banyak cewek cantik di sini, Kai."


"Nggak juga. Di mata gue, cuma lo yang paling cantik."


Tiba-tiba, darah Mika berdesir. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Untungnya, penerangan di ruangan itu remang-remang, sehingga ia tidak perlu khawatir Kai akan melihat wajahnya yang memerah.


Kai mengedarkan pandangan ke setiap sudut tempat itu. Mengamati satu per satu wajah laki-laki yang berada di sana. Namun, tidak seorang pun yang memiliki wajah sama dengan cowok dalam video itu. Apakah mereka memang orang yang berbeda? Namun, Kai tetap enggan menyerah. Hatinya mengatakan bahwa mereka adalah orang yang sama. Entah dari mana keyakinan itu datang.


"Lo masih kuat, kan?" Kai menatap Mika dengan khawatir.


Mika mengangguk. Memaksakan diri untuk terlihat biasa saja, meski dadanya sudah mulai sesak. Aroma alkohol dan asap rokok di tempat ini terlaku pekat, hingga membuatnya kesulitan bernapas.


"Kalau nggak kuat bilang aja. Gue antar lo ke mobil. Gue akan cari orang itu sendiri."


"Nggak, aku baik-baik aja. Kita cari lagi." Kai tidak mendebat, meski tidak yakin dengan jawaban Mika.


Sedikit lagi. Pasti ketemu. Berkali-kali Mika mengulang kalimat itu pada diri sendiri untuk menghidupkan harapan dalam hatinya. Sudah nyaris setengah jam mereka berada di ruangan itu. Bahkan, paru-parunya sudah hampir kehilangan oksigen.


Mika mendesis setiap kali tubuhnya yang mungil harus rela terdorong dan terhimpit oleh para pengunjung. Jika bukan karena Kai di sampingnya, ia pasti tidak akan berani melangkah sejauh ini di tengah para pengunjung yang tidak sepenuhnya sadar.


Kai menghentikan langkah di samping sofa besar, di sudut ruangan. Ada banyak orang di sofa itu. Beberapa laki-laki sedang bermain kartu, dan perempuan penghibur di samping para laki-laki itu.


Kai memutar tubuhnya menghadap Mika, dan berbisik di telinga gadis itu. "Dia di sana, tepat tiga puluh derajat dari tempat gue."


"Bagaimana caranya kita ngajak dia ngobrol?" Mika tidak yakin jika mereka akan bisa membawa laki-laki itu untuk berbicara secara pribadi di luar ruangan.


Kai tersenyum lebar, seolah mengatakan serahkan-ke-gue. Lalu, ia kembali menggandeng Mika lebih dekat pada laki-laki itu. Setelah ia tiba di samping laki-laki itu, Kai menyentuh sopan bahu laki-laki itu.


Laki-laki itu mendongak, memandang Kai dengan wajah heran dan penasaran. "Ada perlu sama gue?"


Tidak hanya lelaki itu yang menjatuhkan pandangan pada Kai, tetapi nyaris semua orang yang menempati kursi itu. Pandangan orang-orang itu membuat Mika rikuh, sehingga ia harus beringsut untuk bersembunyi di belakang punggung Kai.


Kai mengangguk sopan. "Boleh kita bicara sebentar? Hanya beberapa menit."


Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Matanya mengamati Kai dari atas ke bawah, kemudian kembali lagi ke atas. Di belakang punggung Kai, Mika menanti dengan cemas. Entah apa pun jawaban lelaki itu nanti, ia harap tidak akan menimbulkan masalah baru.


Beberapa detik kemudian, lelaki itu mengangguk. Kai dan Mika tidak bisa menyembunyikan ekspresi lega di wajahnya. Mika bahkan bisa merasakan tubuh Kai yang semula kaku, perlahan mengendur.


"Kita bicara di luar saja," kata lelaki itu. Lantas, berjalan lebih dulu menuju luar ruangan.


Mika akhirnya bisa bernapas lega ketika udara segar kembali memenuhi paru-parunya. Dentum musik dan hingar-bingar di dalam ruangan tidak lagi terdengar memekakan telinga. Sepertinya, Mika harus segera pergi ke THT jika berada di tempat itu lebih lama lagi. Buktinya, sekarang saja, telinganya langsung berdenging begitu berada di luar ruangan.


“Ada perlu apa?” tanya lelaki itu. Tangannya tengah mencari-cari sesuatu di dalam saku. Kemudian, pandangannya beralih pada Kai. “Lo punya korek?”


Kai mendengkus. Lantas, mengeluarkan korek dari dalam saku. Tidak ingin berbasa-basi, Kai langsung menembak lelaki itu dengan pertanyaan inti. “Apa lo kenal Alana?”

__ADS_1


Lelaki itu melirik ke arah Kai sekilas, sebelum pandangannya terfokus pada ujung rokok yang bertemu nyala api. Lalu, ia berkata dingin setelah mengembalikan korek api itu pada Kai, "Untuk apa lo tanya tentang dia?"


"Kita lagi berusaha untuk mengungkap kasus kematian seseorang. Dan, itu ada hubungannya dengan Alana." Kai mencoba untuk menjelaskan.


"Maksud lo, Alana yang bunuh dia, gitu?"


"Bu-bukan begitu." Mika menyahut cepat, meski tergagap. "Kita yakin kalau Alana tahu tentang siapa dalang di balik kasus kematian itu. Jadi—"


"Jadi, kalian mencoba untuk mengorek informasi tentang Alana dari gue, gitu?" Mata lelaki itu menyipit, memandang ke arah Mika. "Kalian tahu tentang gue dari mana?"


"Dari video yang dikirimkan Alana."


Lelaki itu menaikkan alisnya heran mendengar jawaban Kai. Melihat hal itu, Kai segera mengeluarkan ponsel dari saku dan memutar video yang sudah ia salin dari flash disk Nagra. Kemudian, ia menunjukkan video itu pada lelaki di depannya.


"Alana yang ngirim video ini ke teman gue."


"Oh, jadi kalian temannya Nagra?" Lelaki itu manggut-manggut. Lalu, ia mengajak Mika dan Kai untuk duduk di bangku panjang, tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


"Alana itu sepupu gue."


"Ha?" Mika berteriak tidak percaya. "Jangan-jangan kamu juga yang aku lihat bareng Alana di klub waktu itu?"


"Gue di sini hampir setiap hari. Kapan lo lihat gue sama Alana?"


Mika menyebutkan jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun saat ia bertemu Alana bersama seseorang memasuki klub ini. Dugaan itu akhirnya bersambut dengan anggukan dari lelaki.


"Jadi, hari itu, gue yang salah?" Mika berkata lirih. Lebih pada diri sendiri. Pantas saja, hari itu Nagra langsung memarahinya. Ternyata, memang ia yang salah. Ia yang sudah menuduh Alana sembarangan.


"Jadi, kalian bukan pasangan kekasih?" Mika masih berusaha untuk memastikan.


           


Lelaki itu tertawa geli. “Lo pikir, gue mau pacaran sama sepupu sendiri?”


Kai mengabaikan keterkejutan Alana. Ia kembali fokus pada sesuatu yang harus ia ketahui hari ini. “Kalau gitu, lo pasti tahu tentang Nagra?”


"Nagra?" Lelaki itu bertanya pada diri sendiri. Pandangannya menerawang, mencoba untuk mengingat sesuatu. "Ah, iya. Gue ingat. Alana pernah bilang kalau dia suka sama cowok yang namanya Nagra. Memangnya kenapa?"


"Nagra meninggal. Kematiannya masih jadi misteri. Makanya, sekarang kita nyoba buat nyari informasi dari lo."


Lelaki itu sama sekali tidak terkejut mendengar penjelasan Kai. Sepertinya, lelaki itu sudah tahu tentang kematian Nagra. "Apa yang mau kalian cari tahu dari gue?"


"Tentang kehamilan Alana. Nagra masih jadi satu-satunya tertuduh atas kejadian itu. Apa benar kalau Nagra penyebabnya?" Tangan Kai bergerak di dalam saku jaketnya. Menyalakan alat perekam yang sudah ia siapkan di sana.


"Alana memang hamil, tapi bukan sama Nagra. Ada orang lain nggak bertanggung jawab yang udah ngelakuin itu ke dia."

__ADS_1


__ADS_2