Red Thread

Red Thread
Atap Sekolah


__ADS_3

Kai membuka matanya perlahan. Ia meringis karena merasakan seluruh tubuhnya seperti baru saja dipatahkan secara paksa. Kepalanya terasa berdenyut-denyut akibat membentur lantai dengan cukup keras. Pandangannya berputar, seolah bumi terbalik dan semua objek di depan matanya dijungkirbalikkan. Ia mendesah. Dadanya pengap, sehingga membuatnya terbatuk beberapa kali. Ia mengerjapkan mata perlahan untuk menormalkan pandangan, sebelum akhirnya menyadari jika Mika masih berada di atas tubuhnya.


Kelopak mata gadis itu tertutup rapat dengan tubuh gemetar ketakutan. Perlahan, ia meraih telapak tangan gadis itu yang terkepal di depan dadanya. Seperti miliknya, telapak tangan itu terasa sangat dingin. Bukan masalah, setidaknya, ia masih bisa menggenggam tangan gadis itu saat ini. Setidaknya, ia masih bisa menyelamatkan gadis itu. Di tengah rasa pusing dan nyeri yang masihdirasakan Kai, ada kelegaan yang mendera dadanya.


Kai meremas pelan telapak tangan Mika, membuat sepasang mata cokelat itu terbuka lebar. Mika memekik saat menyadari ia masih berada di dalam rangkuman tangan Kai. Ia berusaha untuk bangkit, tetapi seluruh tubuhnya terasa kebas. Ia mati rasa. Tubuhnya menggigil. Bukan dingin, ia ketakutan.


“Lo bego? Atau, memang udah gila?” Kai membentak, tanpa menunggu Mika sadar dari keterkejutan.


Mika tidak menjawab. Ia masih terdiam selama beberapa detik. Kemudian, tanpa isakan, sebutir air meluruh begitu saja dari sudut matanya.


Mika tidak tahu, bagaimana perasaannya saat ini. Ia sedikit menyesal, karena Kai menyelamatkannya di detik terakhir. Namun tidak bisa dimungkiri, ia merasa lega. Ia tidak perlu menghadapi kematian mengerikan itu. Ia tidak perlu melihat tubuhnya yang hancur di tengah lapangan.


Kai menghela napas panjang. Ia tetap bergeming. Kedua lengannya masih melingkar di tubuh Mika yang bergetar, meski tidak sehebat beberapa saat lalu. Dalam rangkuman lengannya, Mika serupa kapas putih yang teramat rapuh.


“Kenapa? Kenapa lo ngelakuin itu?” Kai kembali bertanya. Seketika dadanya terasa nyeri. Ia tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika terlambat datang satu detik saja? Apa ia akan benar-benar kehilangan Mika?


Tanpa disadari, sebutir air mata menetes dari sudut matanya. Kai mengeratkan rangkuman lengannya. Membawa kepala gadis itu ke dada bidangnya. Ia hanya tidak ingin Mika melihatnya menangis, dan berpikir jika ia bukan lelaki kuat yang bias dijadikan sandaran.


Beberapa menit menyakitkan itu akhirnya terlewati. Mika telah kembali tenang. Namun, Kai masih tetap bungkam. Mereka duduk berdua di atap sekolah. Berteduh di bawah bayang-bayang atap, yang sebentar lagi akan menghilang karena pergerakan arah matahari.Tidak ada yang berbicara. Hanya gemerisik dedaunan dan semilir angin yang memecah keheningan.


Mika berdeham. Sesekali ia melirik pada Kai. Wajah cowok itu kaku dengan rahang mengeras. Rambut bagian depan Kai tersibak angin, menyebabkan bekas luka di sudut alis kiri terlihat jelas. Sekarang Mika tahu tentang alasan Kai selalu mengarahkan poni wajah bagian kiri. Bekas luka itu kecil. Sebenarnya, meski tidak ditutup dengan rambut, bekas luka itu tidak mengurangi daya tarik Kai.


“Kenapa nyelamatin aku?” tanya Mika, mengakhiri diam yang canggung di antara mereka.


Kai mengembuskan napas berat. Pandangannya masih tertuju pada ujung gedung yang menjulang tinggi di seberang. “Karena, gue nggak mau lo jadi pengecut.”


Mika menundukkan kepala. Ada gejolak dalam hati yang tidak ia mengerti. Ia pikir, semua sikap manis Kai hanyalah sebuah tipuan. Ia pikir, Kai hanya ingin membuat Raga cemburu. Namun, pikiran itu seketika lenyap saat ia melihat betapa pucat wajah cowok beberapa waktu lalu. Hal itu membuat perasaan aneh yang selama ini ia abaikan, muncul kembali ke permukaan. Bahkan, semakin hebat.


“Aku capek.” Mika menundukkan kepala dalam-dalam.


Kai menolehkan kepala, menjatuhkan pandangan pada Mika. Ia mengamati gadis itu dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Mika terlihat sangat kacau. Rambut gadis itu yang setengah basah, terlihat sangat berantakan. Bahkan, ia bisa melihat bercak kemerahan di pakaian gadis itu.


“Di sana ada tempat.” Kai menunjuk salah satu sudut tempat itu. Ada sebuah tumpukan kayu dan meja di sana. “Ganti baju lo dengan seragam gue.”


“Ha?” Mika tidak bisa menutupi keterkejutan.


Tanpa memberikan jawaban lagi, Kai melepaskan seragamnya, menyisakan kaus putih berlengan pendek. Membuat tubuhnya yang tegap berisi terlihat lebih jelas. Ia menyerahkan seragam itu pada Mika. Melalui sorot mata, ia mengisyaratkan agar Mika segera menuruti ucapannya.


Seperti dihipnotis, Mika tidak lagi mengeluarkan bantahan. Ia hanya mengambil seragam itu dari tangan Kai, kemudian berjalan ke balik tumpukan kayu.


Aroma tubuh Kai memenuhi indera penciuman Mika saat seragam cowok itu sudah menempel di tubuhnya. Mika tersipu, saat aroma mint bercampur citrus itu semakin menyengat penciumannya. Hanya dengan menghirup aroma itu saja, jantungnya berdegup tidak karuan.


Namun, perasaan itu lenyap beberapa saat kemudian. Pandangannya jatuh pada lengan kirinya yang penuh dengan luka akibat pecahan kemarin, dan lengan kanannya yang dipenuhi cakaran Anggita. Ia hendak mengenakan kembali jaketnya, tetapi benda itu sudah terlalubasah. Mika mendesah pelan. Lalu, bagaiman ia akan menutupi goresan-goresan itu dari Kai?


“Ka, lo nggak ada niat mau lompat lagi, kan?” suara Kai membuat Mika tersentak. Belum sempat ia menjawab, cowok itu sudah melongok dari ujung tumpukan kayu.


“Apaan sih, Kak? Untung aku sudah ganti baju.”


Kai menggaruk tengkuknya kikuk, sambil mengeluarkan cengiran kecil. Kemudian, ia berjalan menghampiri Mika. Raut wajahnya yang semula biasa, berubah kaku saat pandangannya jatuh pada sepasang lengan Mika. Ia menarik lengan kiri gadis itu, membuat Mika meringis karena cengekramannya yang terlalu kuat.


“Sakit.” Mika merintih. Kai tersadar, dan segera melepaskan cengkramannya.


“Lo ngelakuin ini lagi?”


Mika menggeleng pelan. Namun, kemudian perasaan ragu menyergapnya. Luka itu memang bukan ia yang membuat. Namun, ia menikmatinya. Ia justru sengaja memperdalam goresan akibat pecahan kaca semalam.


Kai memicingkan mata curiga. Masih menebak-nebak asal luka itu. Beberapa detik kemudian, ia menarik pergelangan tangan Mika menuju tempat mereka semula. Ia mengeluarkan kantong plastik dari saku. Dengan cekatan, tangannya mengeluarkan satu per satu benda dalam plastik itu. Menuangkan cairan alkohol ke kapas, dan


menempelkannya di lengan Mika.


Mika meringis. Rasanya perih saat cairan dingin itu menyentuh lengannya.

__ADS_1


“Tahan sebentar,” kata Kai.


"Kakak nggak takut sama aku?” Pertanyaan Mika ditanggapi Kai dengan menaikkan satu alis. “Mereka bilang, aku pembunuh, psikopat, dan aku nggak pantas ada di sini.”


“Gue nggak percaya. Bukan lo yang bunuh Nagra. Bukan lo juga penyebab Nagra


meninggal,” tandas Kai.


Mika tersenyum. Kehangatan seketika menjalar dalam dadanya. Namun, hilang beberapa detik kemudian. Senyuman di wajahnya lenyap saat menyadari, barangkali Kai hanya sedang ingin menghiburnya. Mika hanya memandang Kai dengan tatapan sayu. Cowok itu baru saja beralih pada lengan kirinya.


“Siapa yang udah buat lo jadi kayak tikus kecebur selokan hari ini?” tanya Kai. Gerakan


tangannya berhenti, dan tatapannya tertuju pada Mika.


Mika gelagapan mencari jawaban untuk pertanyaan tiba-tiba itu. Ia tidak mungkin menjawab, jika itu ulah Anggita.


“Siapa, Mika?” Kai mulai tidak sabar.


Mika menelan ludah susah payah. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, kemudian menjawab lirih. “Anggita.” Kemudian, Mika kembali mendongak. Ia segera menambahi ucapannya, sebelum Kai mulai salah paham. “Ini bukan salah Anggita. Dia punya alasan, kenapa dia ngelakuin itu ke aku.”


“Hanya karena dia mantannya Nagra, dia berhak ngelakuin ini ke lo?” Wajah Kai sudah merah padam. Suaranya mencicit, seakan sedang menahan kesal.


Kening Mika berkerut samar. Bukan kemarahan Kai yang mengusiknya, melainkan ucapan cowok itu. Darimana Kai tahu, jika Anggita dan Nagra pernah berpacaran, padahal ia belum mengatakan tentang hal itu? Apa Kai mendengar pertengkarannya dengan Anggita beberapa jam lalu?


Rangkaian pertanyaan dalam kepala Mika buyar, saat suara pintu didobrak terdengar dari belakang punggungnya. Mika terkejut ketika mendapati Raga berdiri di sana, menatapnya dan Kai secara bergantian.


Raga menghampirinya. Mika berusaha menarik lengannya dari Kai, tetapi Kai tidak peduli. Kai masih fokus membersihkan lukanya. Sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Raga.


“Kamu kenapa?” tanya Raga, membuat Mika melemparkan tatapan bingung. Sorot mata Raga khawatir. Tidak ada sorot dingin di sepasang bola mata gelap itu, bahkan ketika mengetahui Kai masih memegang lengannya.


Apa yang terjadi dengan Raga? Bukankah sejak kemarin, cowok itu bersikap sangat dingin, bahkan berusaha untuk menjauh? Hanya itu yang ada dalam kepala Mika saat ini. Ia bahkan tidak menyadari ketika jemari Raga mendarat di pipinya yang terkena cakaran Anggita.


Mika menahan napas. Ia tidak tahu, mengapa sentuhan jemari Raga di wajahnya membuatnya risi. Tidak ada kehangatan, seperti ketika bersama Kai. Tidak ada perasaan nyaman, seperti ketika ia berada dalam rangkuman lengan Kai beberapa saat lalu. Mika masih terdiam, ketika Raga menariknya dalam pelukan.


Bukan hanya Mika yang terkejut melihat hal itu, melainkan juga Kai. Cowok itu bahkan menjatuhkan kapas beralkohol di tangannya, tanpa melepaskan pandangan pada Raga.


Sialan! Kai mengepalkan tangan kirinya yang bebas, dengan sangat kuat. Ada kemarahan yang bersarang di dirinya. Dadanya memanas, saat mengetahui Mika tidak mengelak dari pelukan itu.


“Kita pulang ya,” ucap Raga, tepat setelah melepaskan rangkuman tangannya dari tubuh


Mika.


Mika melihat jam tangannya. Ia bahkan tidak menyadari, jika jam pelajaran telah berakhir lima belas menit lalu. Apa bersama Kai bisa membuatnya lupa waktu?


“Mika pulang bareng gue,” kata Kai, yang terdengar seperti geraman.


“Mika cewek gue. Gue yang seharusnya nganter dia pulang.”


“Kenapa tiba-tiba lo perhatian sama dia? Bukannya kemarin lo sama sekali nggak peduli. Lo bahkan nggak tahu, kalau hari ini dia hampir ma—”


Mika membekap mulut Kai dengan tangannya, sebelum cowok itu menyelesaikan kalimat. Raga menaikkan satu alisnya. Menuntut penjelasan dari pernyataan Kai.


“Lo apaan sih, Ka? Cowok lo ini perlu tahu yang sebenarnya,” tandas Kai, setelah melepas paksa bekapan tangan Mika di mulutnya. Ada nada tidak terima dalam suaranya.


Mika menggeleng pelan. Memberi isyarat pada Kai melalui tatapan mata, agar cowok itu


menutup mulut dan menuruti keinginannya.


Kai mengembuskan napas, dan akhirnya memilih untuk mengalah. Dengan terpaksa, ia memasukkan kembali beberapa obat luka di dekatnya ke kantong plastik.


“Kabari gue kalau ada apa-apa.” Kai berucap lirih. Ia beranjak dari tempatnya, setelah Mika memberikan anggukan pelan. Tanpa menghiraukan keberadaan Raga, ia meninggalkan atap.

__ADS_1


Mika mengalihkan perhatian pada Raga. Hampa. Tidak ada yang terjadi pada jantungnya ketika bersama cowok itu. Tidak ada degup jantung hebat, seperti saat ia bersama Kai. Tidak ada gejolak yang membuat wajahnya memerah, ketika tatapan Raga mengunci sepasang bola matanya. Hingga akhirnya ia menyadari satu hal, perasaannya untuk Raga memang telah berubah.


“Kenapa kemarin kamu nggak ada kabar? Aku berkali-kali ngirim pesan, berkali-kali nelpon. Tapi, nggak ada yang kamu tanggapi.”


“Aku butuh waktu untuk menenangkan diri,” jawab Raga.


Mika tertawa sinis. “Kamu egois banget, ya. Saat aku butuh, kamu ngilang. Saat aku nggak butuh, tiba-tiba kamu datang.”


Kening Raga berkerut samar. Tatapannya tajam, tertuju pada Mika. “Apa maksudnya kamu nggak butuh? Kamu nggak suka aku ada di sini?”


“Ternyata, Kai jauh lebih bisa buat aku nyaman daripada kamu. Dia jauh lebih bisa diandalin!” Mika berteriak, nyaris frustrasi menghadapi Raga dan perasaannya sendiri.


Raga berdecak, tidak terima. Wajahnya kaku, dan tatapannya menghunus pada sepasang bola mata Mika. Tanpa membuang waktu, ia menarik tangan gadis itu meninggalkan atap. Ia tidak peduli pada Mika yang berusaha melepaskan diri. Ia pun tidak peduli, jika sekarang Kai jauh lebih bisa membuat gadis itu nyaman.


“Kamu itu pacar aku. Nggak seharusnya kamu ngomong gitu di depanku!” tegas Raga.


Bagi Raga, Mika adalah miliknya. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan gadis itu.


Tidak akan pernah.



Mika seperti berhadapan dengan kepribadian Raga yang lain. Cowok itu seolah bukan lagi seseorang yang ia kenal. Jika kemarin Raga bersikap dingin dan tidak peduli padanya, maka sekarang cowok itu justru bersikap sangat manis. Jika tadi di atap Raga berkata ketus padanya, maka sekarang cowok itu lebih banyak tersenyum padanya. Ia tidak memahami, sebenarnya apa yang membuat sikap Raga berubah-ubah secepat itu?


Saat ini, mereka tengah menghabiskan senja di taman kota. Raga meminjamkan jaketnya pada Mika, sesuatu yang tidak pernah cowok itu lakukan. Alasannya, agar tidak ada yang mengetahui luka di sepanjang lengan gadis itu. Meski pun, Raga tidak bertanya asal luka-luka itu.


“Gimana keadaan kamu?” tanya Raga. Pandangannya tetap tertuju ke arah langit yang mulai memerah.


Mika mengedikkan bahu kanannya, lantas tersenyum masam. “Nggak baik. Tapi, juga nggak buruk.”


"Soal kematian Nagra—”


"Kamu percaya kalau bukan aku yang bunuh dia, kan?” Mika memotong ucapan Raga dengan cepat.


“Aku nggak bilang kalau kamu yang bunuh Nagra. Aku cuma mau bilang, kalau sepertinya dia ada di sekitar kita.”


“Siapa?”


Raga mengedikkan bahu. “Kamu udah cari tahu tentang mantan-mantan Nagra? Siapa tahu salah satu dari mereka? Atau setidaknya, mereka mengetahui sesuatu?”


Anggita? Mika tidak yakin dengan tebakannya. Gadis itu bahkan terlihat tidak tahu apa-apa tentang kematian Nagra. Dan, bukankah Anggita terlihat sangat mencintai Nagra?


“Alana?” Nama itulah yang akhirnya meluncur dari bibir Mika.


“Kamu tahu, dia sekarang dimana?” Raga tampak antusias menyambut tebakan Mika. Ia bahkan sampai menegakkan punggungnya.


“Itu dia masalahnya, Ga. Sejak kematian Nagra, Alana menghilang. Dia bahkan nggak hadir di pemakaman Nagra. Mencurigakan banget, ‘kan?”


Raga mengangguk-anggukkan kepala. “Kita cari tahu tentang Alana. Kita mulai dari apartemen Nagra.”


Alis Mika menyatu saat melihat betapa semangatnya Raga untuk memecahkan kasus Nagra. “Kamu kenapa semangat banget?”


Raga menggaruk tengkuknya, dengan kikuk. “A—aku mau bantu kamu. Aku nggak mau kamu terus dituduh sebagai pembunuh.”


Mika tersenyum tipis. Ia memang sudah berniat sejak lama untuk pergi ke apartemen Nagra. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang masih enggan menginjakkan kaki di sana. Ada nyeri di dadanya, setiap kali mengingat hari kematian Nagra. Ia belum siap untuk kembali ke tempat itu.


Melihat keraguan di wajah Mika, Raga kembali mengucapkan sesuatu, “Bagaimanapun juga, kamu tetap harus ke sana. Kamu harus bisa berdamai dengan ketakutan dan rasa sakit itu.”


Jika saja tidak dalam situasi seperti ini, Mika bisa saja sudah tergelak. Nyaris tidak pernah Raga berkata sepanjang dan selembut itu padanya. Rasanya justru terdengar aneh di telinga.


Diam-diam Raga tersenyum. Ia merasa menang. Setidaknya, kali ini ia masih bisa mempertahankan Mika. Sebab, ia tidak akan pernah membiarkan gadis itu mengambil satu langkah pun untuk menjauh darinya. Apalagi bersama Kai.

__ADS_1


Gue nggak akan pernah biarin lo masuk ke wilayah gue, Kai.


__ADS_2