Red Thread

Red Thread
Gelang Tali Merah


__ADS_3

Tidak ada yang berbicara di dalam mobil Anggita sejak meninggalkan area rumah sakit. Mereka bertiga tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sedikit pun, mereka tidak pernah berpikir akan bertemu Alana dalam kondisi seperti itu.


Mika hanya menatap kosong jalanan di sampingnya. Cerahnya matahari siang ini, sama sekali tidak mampu melenyapkan mendung di kepala dan sepasang matanya. Ia masih bingung dengan banyaknya kenyataan mengejutkan yang ia temukan akhir-akhir ini. Baru ketika ponselnya berdering nyaring dari dalam tas, Mika mendapatkan kembali kesadarannya.


"Kenapa, Kai?" Dengan malas, Mika mengangkat panggilan itu.


"Lo dimana?"


"Di jalan. Mau pulang. Ada apa?"


"Satu jam lalu, Anggita ngajak gue ketemuan. Tapi sekarang, itu anak gue hubungi nggak dijawab. Lo lagi sama dia?"


Mika menjauhkan ponsel dari telinganya. Lalu, ia menyentuh bahu Anggita. "Lo ngajak Kai ketemuan?"


"Ah, iya. Bilangin, sebentar lagi gue sampai."


Setelah mengatakan sesuai permintaan Anggita, Mika memutuskan sambungan telepon. Ia kembali menghela napas. Berakhirnya sambungan telepon itu, membuatnya kembali teringat pada Alana.


Satu jam setelah kejadian itu, Mika masih belum bisa mengenyahkan Alana dari pikirannya. Setiap tempat yang ia kunjungi, seakan membawanya kembali ke rumah sakit itu. Wajah kusut dan lelah Alana terbayang di mana pun. Teriakan gadis itu menggema di telinganya. Ditambah lagi pernyataan Raga hari ini. Mika terseret pada sebuah tempat yang tidak ia kenali. Di sana, ratusan pertanyaan serupa seakan berteriak lantang di telinganya. Siapa yang sebenarnya bersalah di sini?


Nagra bersalah pada Alana. Raga membela Alana. Dan, ia membela Nagra. Seperti ikatan rantai yang saling berhubungan, dan tidak membuatnya terbebas begitu saja. Mika nyaris gila oleh ikatan ini. Ia terlempar pada dunia asing, yang hanya ada dirinya, Alana, Raga, dan Nagra. Saling membunuh, meski tidak secara harfiah.


Ia bahkan tidak menyadari saat mobil Anggita menepi di area parkir sebuah kafe. Mika tersentak saat Anggita menyikut pinggangnya.


"Ayo, turun." Anggita turun lebih dulu setelah mengatakan hal itu. Mika hanya berjalan di belakang gadis itu tanpa mengatakan apa pun. Kakinya berjalan begitu saja, dengan separuh kesadaran. Setengah kesadarannya seakan masih tertinggal di rumah sakit. Bahkan, keramaian di kafe itu semakin membuatnya hilang. Membuatnya semakin tersingkir ke dunia antah-berantah.


Mika mendudukkan diri di kursi, di ujung ruangan. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan minimalis itu. Cukup banyak pengunjung yang menikmati kegiatan masing-masing. Dentuman musik dan alunan lagu dari seorang penyanyi di sudut yang berseberangan dengannya bersahutan dengan keriuhan dari para pengunjung. Tapi, suara-suara itu seakan tidak tertangkap oleh pendengaran Mika. Ia seperti melihat adegan film bisu. Telinganya mendadak berdengung. Dan, satu-satunya suara yang bisa ia dengar adalah rangkaian pertanyaan dalam kepalanya.


Mika mengalihkan perhatian pada seorang cowok yang berjalan cepat dari arah pintu masuk. Kai melambaikan tangan padanya, yang refleks ia balas dengan senyuman tipis. Cowok itu mengenakan jaket hitam. Persis seperti yang pernah digunakan Kai saat pergi ke apartemen Nagra hari itu.


“Gue telat. Sorry.” Napas cowok itu terengah-engah. Kai duduk di kursi kosong, di hadapan Mika. Cowok itu langsung meminum es soda milik Anggita, tanpa meminta persetujan. Sehingga membuat Anggita mencak-mencak, dan meminta Kai untuk membelikan yang baru.


"Iya iya, gue beliin. Astaga, kenapa lo jadi kayak bini muda yang nggak dikasih jatah bulanan, sih?"


"Sialan lo, ya!" Anggita menoyor kepala Kai, dengan kesal.


Tidak sampai lima menit, pesanan Anggita tiba. Suasana meja yang semula dipenuhi perdebatan tidak penting Kai dan Anggita seketika senyap. Kai menjatuhkan pandangan pada Mika. Sebab, hanya Mika yang sejak tadi membisu.


"Lo kenapa, Ka? Kesambet setan penunggu pohon cabai?" Kai melambaikan tangan di depan wajah Mika.


"Kita tadi ketemu sama Alana." Pernyataan Raya menjawab rasa penasaran Kai atas sikap bisu yang ditunjukkan oleh Mika.


"Serius lo? Dia dimana?" Kai membeliak tidak percaya.


Raya mengangguk. Ia mencondongkan kepalanya ke depan sedikit. Lalu, berkata dengan setengah berbisik. "Dia ada di rumah sakit jiwa."

__ADS_1


“Ha? Ngapain dia di sana? Dia kerja di sana? Atau, sekarang pacarnya tinggal di sana?” Raya merasa gemas dengan pertanyaan Kai. Ia menginjak kaki cowok itu dengan sepatunya, membuat Kai meringis sambil mengusap-usap ujung kakinya.


“Dia lagi—” Anggita membuat isyarat dengan telunjuknya. Gadis itu memiringkan telunjuknya empat puluh lima derajat, dan menempelkan di dahi.


"Nggak mungkin." Kai tertawa tidak percaya. "Kalian pasti bercanda, kan? Nggak baik tahu nuduh orang sembarangan."


"Kai, menurut lo, apa untungnya bohong ke lo tentang Alana buat kita? Lo juga nggak akan ngasih kita komisi, kan?" Anggita mulai kesal karena Kai tidak kunjung percaya.


Kai diam. Matanya melemparkan sorot menyelidik pada Anggita dan Raya. Mika menjadi pengecualian, karena sejak awal pembahasan gadis itu sana sekali tidak mengikuti pembicaraan mereka.


“Lo tahu, apa yang terjadi antara Alana dan Nagra? Kenapa Alana sampai seperti itu?” tanya Anggita.


Kai mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Tampak sedang berpikir keras. Namun, sorot matanya tertuju pada Mika yang masih berdiam diri. Berusaha meminta izin pada gadis itu untuk menceritakan sesuatu yang telah terjadi antara Alana dan Nagra.


“Gue udah tahu, kalau Alana pernah hamil anak Nagra. Mika udah cerita. Yang mau gue tanyakan, apa yang terjadi sebelumnya? Setahu gue, Nagra nggak pernah cinta sama Alana.” Anggita mengetahui sorot keraguan di sepasang mata Kai. Akhirnya, ia mengatakan hal itu ketika Kai tidak juga membuka mulut selama satu menit. Meski terdengar santai, suaranya sedikit bergetar ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu.


“Gue yakin, ini ada hubungannya dengan kejadian di villa,” gumam Kai.


"Villa?" Anggita dan Raya sontak berteriak, membuat Kai harus mengeluarkan desisan karena sekarang nyaris seluruh pasang mata menatap tidak suka ke arah mereka.


Kemudian, Kai kembali menjatuhkan pandangan pada Mika. “Lo kemarin habis nyari sesuatu di apartemen Nagra, kan? Apa yang lo temuin di sana?”


Tanpa mengatakan apa pun, Mika mengeluarkan buku harian Nagra yang selalu ia bawa. Ia menyerahkan buku itu pada Kai.


Kai membuka lembar demi lembar buku itu. Meski sudah melihat isinya, Raya dan Anggita tetap berusaha untuk mengintip. Barangkali, ada sesuatu yang mereka lewatkan.


Kai meraba isi amplop itu, dan menemukan sebuah kunci kecil. Mika mengerutkan dahi. Raya dan Anggita menatap benda itu semakin penasaran. Kai memutar-mutar benda itu di tangannya.


“Lo udah tahu ini?” tanya Kai pada Mika, yang kemudian dibalas Mika dengan gelengan kepala. Mika tidak tahu jika Nagra masih menyimpan satu kunci lagi. “Kalau gitu, kita ke apartemen Nagra. Sekarang!”


Tanpa menunggu perintah kedua, Raya, Anggita, dan Mika mengikuti Kai meninggalkan kafe. Karena terlampau penasaran, Mika akhirnya memilih pergi bersama Kai. Setidaknya, pergi dengan motor bisa memakan waktu lebih cepat di jam-jam sibuk seperti ini. Mereka tidak akan terjebak macet di jalan.



Mika tidak pernah menyangka, jika kunci itu akan membawanya pada sebuah kotak kecil misterius di dalam lemari Nagra. Kotak itu hanya berukuran 20 x 15 sentimeter, dan diletakkan di bawah tumpukan baju. Entah bagaimana cara Kai menemukan kotak itu dengan sangat mudah. Sepertinya, cowok itu memang sudah mengetahui seluk-beluk apartemen Nagra.


“Gue selalu penasaran sama isi kotak ini. Tapi, Nagra nggak pernah mau ngasih tahu,” kata Kai. Tangannya cekatan membuka kunci kotak itu.


Tidak seperti dalam pikiran Mika. Ia pikir, kotak itu berisi berbagai macam rahasia Nagra. Atau paling tidak, berisi benda-benda seharga emas. Nyatanya, kotak itu hanya berisi ponsel milik Nagra. Ia tidak tahu, mengapa Nagra harus menyimpan ponsel itu di dalam kotak yang sulit untuk ditemukan.


Mika segera mengambil benda tipis itu, dan menyambungkannya dengan listrik. Terlalu lama bersembunyi di dalam kotak, membuat benda itu sulit untuk menyala. Mereka harus menunggu selama lima menit, hingga akhirnya ponsel itu bisa kembali menyala.


Mika menahan napas selama menunggu benda itu melakukan boot. Jantungnya berdegup kencang. Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya ia mengutak-atik ponsel Nagra. Selama ini, Nagra tidak pernah mengizinkannya menyentuh benda itu sejengkal pun.


Satu menit kemudian, layar ponsel itu menampilkan foto Nagra dan Anggita. Mereka tengah tersenyum menghadap kamera. Anggita mengenakan seragam biru putih, dan Nagra menggunakan seragam putih abu-abu. Dari latar belakang foto, dapat diketahui bahwa foto itu diambil pada hari penutupan MOS. Terlihat dari rambut Anggita yang sudah digerai. Dulu, para peserta MOS perempuan diharuskan mengenakan pita, kecuali pada hari terakhir.

__ADS_1


Melihat foto itu, rasa sakit kembali menghantam Anggita. Gadis itu langsung berlari ke luar ruangan, setelah melihat foto itu. Mika hendak mengejar, tetapi Raya segera menahannya. Gadis itu meminta Mika untuk melanjutkan penyelidikkan. Sehingga, Raya yang harus menyusul Anggita.


Hanya beberapa detik setelah Anggita meninggalkan ruangan, benda pipih itu bergetar. Beberapa pesan, masuk secara bersamaan. Pesan dari Mika, Mama, Papa, Kai, Raga dan sebuah nomor tidak dikenal. Mika memutuskan untuk membuka pesan dari nomor tanpa nama itu terlebih dahulu.


From: 085232276xxx


*Gue nggak masalah lo jadian sama Alana.


Tapi, gue nggak akan biarin sesuatu terjadi pada dia.


Inget Gra, gue nggak akan tinggal diam kalau sampai terjadi sesuatu sama Alana*


Mika memilih untuk mengabaikan pesan itu, dan segera beralih pada pesan yang dikirim oleh Raga. Cowok itu hanya mengirim pesan satu kali. Hanya lima belas menit, sebelum Mika menemukan Nagra meringkuk di sudut kamar. Pesan itu berisi foto Alana, dengan dua kalimat di bawahnya.


Raga Angkasa


Gue tunggu tanggung jawab lo.


Atau, gue nggak segan-segan buat bunuh lo!


Mika mengalihkan pandangan dari layar ponsel kepada Kai. Mereka beradu pandang selama, beberapa detik. Sebelum akhirnya, Mika mengakhiri kebisuan di tengah mereka dengan satu pertanyaan, “Jadi bener, Raga yang udah bunuh Nagra?”


“Kita nggak bisa seenaknya nyimpulin itu. Lo masih inget sama rekaman CCTV yang gue kasih, kan? Lo udah lihat video itu?” Mika menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Kai. “Kalau gitu, kita lihat dulu rekaman itu untuk memastikan satu hal. Lo bawa laptop, nggak?”


“Ada di mobil Anggita.”


Tanpa membuang waktu, mereka segera kembali ke area parkir. Di ruang tamu, Raya masih berusaha menenangkan Anggita. Anggita terlihat sangat kacau. Sepertinya, foto itu benar-benar menghancurkannya. Apa lagi, itu foto terakhir Anggita bersama Nagra, sebelum Alana datang.


Tidak ada waktu untuk menghibur Anggita. Mika menyerahkan urusan itu pada Raya, sementara ia dan Kai pergi ke bawah untuk mengambil laptop. Semakin cepat kasus itu selesai, semakin cepat pelakunya tertangkap, dan semakin cepat perasaannya tenang. Otaknya sudah terlalu kusut karena kasus ini.



Video itu tidak berbeda dibanding video yang ditunjukkan Raga padanya hari itu. Hanya saja jika video Raga berakhir ketika Kai menghadap kamera CCTV, maka video itu masih berlanjut ke adegan selanjutnya. Kai memang sengaja menghampiri CCTV. Cowok itu penasaran tentang alasan Nagra menutup benda itu dengan plastik. Kemudian, Kai berjalan menghampiri Nagra ke arah dapur. Membantu Nagra untuk membuat teh. Tidak ada sesuatu yang terjadi. Namun, tepat setelah mereka putar balik untuk melangkah kembali ke ruang tamu, Kai menjeda video itu. Ia memperbesar tampilan, hingga dua kali lipat. Telunjuknya menunjuk ke arah jendela tepat di belakang Nagra. “Lo lihat, kan? Ada orang lain di sini.”


Mika menajamkan pandangan. Kepalanya maju dua sentimeter untuk melihat video itu lebih jelas. Napasnya tertahan, ketika melihat bayangan seseorang di jendela itu. Ia tidak bisa melihat dengan jelas. Kaca apartemen Nagra terlalu gelap, dan jarak CCTV dengan kaca itu cukup jauh. Ia hanya bisa menangkap pantulan bayangan orang itu. Meski tidak terlalu jelas, Mika bisa menangkap lingkaran merah di pergelangan tangan orang itu.


“Itu gelang yang sama dengan milik Kak Nagra, bukan?” tanya Mika. Pandangannya tidak terlepas dari siluet orang itu.


Kai mengernyit, dengan sorot mata menajam. Kemudian, cowok itu berkata dengan nyaris berteriak, “Bener banget! Nggak salah lagi.”


“Apa?” tanya Mika. Ia memandang Kai dengan tatapan tidak mengerti, sekaligus menuntut.


"Cuma kita yang punya gelang seperti itu."


"Tapi, gelang seperti itu banyak dijual di toko, Kai."

__ADS_1


Kai menggeleng cepat. “Nggak, Ka. Gelang itu nggak pernah dijual di toko. Cuma ada tiga orang yang punya gelang itu. Kita sengaja buat sendiri gelang itu sebagai ikatan persahabatan. Dan yang punya gelang seperti itu cuma gue, Nagra, sama…” Kai menjeda kalimatnya. Ia pun tidak percaya dengan nama yang akan ia ucapkan. Namun, seluruh dugaan kini mengarah ke orang itu. “Raga.”


Seketika, Mika merasakan langit runtuh di atas kepalanya.


__ADS_2